Raka Adiyaksa adalah definisi nyata dari "Sobat Misqueen". Mahasiswa biasa yang rela makan mie instan diremas setiap akhir bulan demi menabung untuk gebetannya, Tiara. Namun, pengorbanannya dibalas dengan pengkhianatan. Di malam konser yang seharusnya menjadi momen pernyataan cintanya, Raka justru melihat Tiara turun dari mobil mewah milik Kevin, anak orang kaya yang sombong, sementara Raka ditinggalkan sendirian di trotoar GBK dengan dua tiket yang hangus.
Di titik terendah hidupnya, saat harga dirinya diinjak-injak, sebuah suara mekanis berbunyi di kepalanya.
[DING! Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas Telah Diaktifkan!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Penolakan Dingin dan Nasib Penumpang Koper
|Terminal 3 Kedatangan - Bandara Soekarno-Hatta|
"Yuk, masuk. Keburu macet," ajak Raka lagi.
Vania masih terpaku sejenak. Otaknya berusaha memproses transformasi Raka. Terakhir kali dia melihat Raka di panggung konser, Raka memang terlihat keren, tapi tetap terasa humble dan sederhana.
Hari ini? Di hadapannya bukan lagi sekadar "fans yang beruntung". Di hadapannya adalah seorang "Pangeran Muda" dengan kereta kencana seharga 10 Miliar Rupiah.
Sementara itu, di belakang mereka, Doni kini berdiam kaku di samping mobilnya. Wajahnya pucat pasi, seolah darahnya tersedot keluar oleh raungan mesin McLaren.
Mata Doni bergerak gelisah, membandingkan kedua kendaraan itu.
Jaguar XF miliknya. Sedan mewah, iya. Tapi... rasanya biasa saja. Mobil yang sering dipakai bapak-bapak pejabat eselon menengah atau pengusaha properti kelas tanggung. Harganya mungkin 1 Miliar lebih dikit (itu pun beli bekas).
Di depannya McLaren 720S. Supercar murni. Aerodinamis ekstrim, chassis serat karbon, pintu sayap kupu-kupu yang terbuka ke atas dengan dramatis. Harganya? Bisa buat beli 10 biji Jaguar miliknya.
"Anjir..." batin Doni hancur. "Jauh banget bedanya. Ini mah langit sama kerak bumi."
Doni merasa kerdil. Egonya yang tadi melambung tinggi saat menggoda Vania, kini jatuh bebas tanpa parasut. Dia sadar, dia baru saja mencoba merebut "mangsa" dari singa jantan yang sebenarnya.
Raka menoleh sedikit, menatap Doni yang bengong.
"Bro," panggil Raka santai.
Doni tersentak kaget, bahunya naik. "Y-ya, Bos?"
"Lo siapa tadi? Supir taksi?" tanya Raka, pura-pura lupa.
Doni menelan ludah. Keringat dingin mengalir di punggungnya. Dia tidak berani lagi mengaku sebagai "pengusaha muda" atau tebar pesona. Di depan predator puncak, dia harus merendah.
"I-iya, Bos..." jawab Doni terbata-bata, tubuhnya refleks membungkuk hormat, gestur ketakutan yang alami. "Saya... saya cuma driver GrabCar Luxe. Tadi cuma mau nawarin Mbaknya naik, kirain belum ada jemputan. Nggak tau kalau... kalau Bos yang jemput."
"Maaf ya, Bos. Lancang saya tadi. Ganggu banget ya?" Doni mundur selangkah demi selangkah, berusaha menghilang dari pandangan Raka. "Saya permisi dulu, Bos. Ada orderan lain. Mari, Bos... Mari, Neng..."
Doni buru-buru masuk ke dalam Jaguar-nya, menutup pintu dengan pelan (takut bikin Raka marah), lalu melajukan mobilnya pergi secepat mungkin. Dia bahkan lupa mematikan aplikasi driver-nya saking paniknya.
Kejadian itu mungkin akan menjadi memori paling memalukan dalam hidup Doni. Ditampar oleh realita bahwa di atas langit, masih ada McLaren.
Raka terkekeh pelan melihat Doni kabur terbirit-birit. Tau diri juga dia.
Sementara itu, Vania akhirnya melangkah mendekat. Dengan hati-hati, dia menunduk untuk masuk ke dalam mobil ceper itu.
Masuk ke supercar dengan rok atau dress pendek adalah seni tersendiri. Vania, dengan pengalamannya sebagai artis yang sering turun dari mobil mewah di Red Carpet, melakukannya dengan anggun. Dia memegang pinggiran pintu, duduk terlebih dahulu, lalu memutar kedua kakinya yang jenjang masuk ke dalam secara bersamaan.
Gerakan itu elegan, sopan, namun tetap sexy.
Begitu duduk di kursi bucket seat yang terbuat dari Alcantara dan kulit premium, Vania langsung diselimuti aroma interior mobil baru yang mahal. Campuran bau kulit asli dan parfum maskulin Raka.
"Nyaman?" tanya Raka.
"Lumayan... rendah banget ya duduknya," komentar Vania sambil memasang sabuk pengaman. Jantungnya masih berdegup kencang, bukan karena posisi duduknya, tapi karena jaraknya dengan Raka kini hanya terpaut konsol tengah yang sempit.
Di trotoar, kerumunan orang masih menonton. Para wanita menatap Vania dengan tatapan yang bisa membakar besi.
"Gila... hoki banget tuh cewek." "Udah cantik, dijemput Pangeran. Dunia nggak adil woy!" "Liat cowoknya, ganteng banget anjir. Itu artis siapa sih?"
Iri. Dengki. Kagum. Semua bercampur menjadi satu.
Raka baru saja hendak menekan tombol untuk menutup pintu butterfly di sisi Vania, ketika tiba-tiba...
Tok! Tok!
Seseorang mengetuk kaca jendela di sisi pengemudi yang masih terbuka setengah.
Raka menoleh. Seorang wanita berdiri di sana. Rambutnya panjang bergelombang, dicat warna coklat pirang. Wajahnya full makeup, bulu mata anti badai, dan mengenakan atasan tanktop ketat yang memamerkan belahan dada dengan sangat... generous.
Skor wajahnya mungkin sekitar 85. Cantik, tapi tipe cantik buatan oplas yang agresif.
Wanita itu membungkuk, sengaja menekan dadanya ke bingkai jendela mobil agar Raka bisa melihat "pemandangan" dengan jelas.
"Hai, Ganteng..." sapa wanita itu dengan suara dibuat-buat manja dan serak basah.
Raka mengerutkan kening. "Ya? Kenapa Mbak? Ban saya kempes?"
Wanita itu tertawa kecil, mengibaskan rambutnya. "Ih, si Ganteng bisa aja becandanya. Ban McLaren mana bisa kempes."
Dia menggigit bibir bawahnya, menatap Raka dengan tatapan menggoda yang eksplisit.
"Boleh minta WA-nya nggak? Siapa tau nanti malem kamu butuh temen ngopi... atau temen ngapa-ngapain..."
Wanita itu mengedipkan sebelah mata. Maksudnya jelas. Sangat jelas. Dia menawarkan diri untuk menjadi teman tidur, teman main, atau apapun istilahnya, asalkan bisa nempel sama pemilik McLaren.
Di kursi sebelah, Vania yang mendengar itu langsung menegang. Naluri wanitanya menyala. Ada alarm bahaya berbunyi di kepalanya.
Vania menatap wanita itu dengan tatapan tajam. Berani-beraninya dia godain Raka di depan muka gue?!
Ada rasa panas yang menjalar di dada Vania. Bukan marah, tapi... cemburu? Posessif? Vania ingin sekali bilang: "Heh, Tante! Ada orang di sini!" tapi dia menahan diri demi image.
Raka menatap wanita agresif itu. Dia melihat belahan dada yang disodorkan di depan matanya. Sistem Raka memberi notifikasi.
[Scan Target...] [Skor Wajah: 82/100 (Operasi Plastik Terdeteksi)] [Status: Gold Digger Profesional / Open BO] [Peringatan: Potensi Penyakit Menular 15%]
Raka tersenyum tipis. Senyum yang sopan namun mematikan.
"Maaf ya, Mbak," jawab Raka tenang. "Saya nggak punya waktu buat main-main. Dan saya... agak pemilih soal temen ngopi."
Kalimat itu halus, tapi tamparannya keras. Saya pemilih. Dan kamu nggak masuk kriteria.
Tanpa menunggu respon, Raka menekan tombol di dashboard.
Wuuush.
Jendela mobil naik penuh, menutup akses wanita itu. Lalu Raka menekan tombol lain.
Ziiiing.
Pintu butterfly di sisi Vania turun perlahan dan menutup rapat, mengurung mereka berdua dalam privasi kabin yang kedap suara.
Di luar, wanita itu ternganga. Wajah menggodanya luntur seketika, digantikan oleh rasa malu dan amarah. Dia menghentakkan kakinya ke aspal.
"Cih! Sombong banget! Mentang-mentang bawa McLaren!" gerutunya kasar. "Dasar cowok sok jual mahal! Awas aja lo!"
Meski mulutnya memaki, matanya tetap menatap mobil itu dengan tatapan iri yang tak terbendung. Dia tahu dia baru saja melewatkan ikan paus terbesar di lautan.
Di dalam mobil, Vania diam-diam menghembuskan napas lega. Dia melirik Raka.
"Galak banget kamu," komentar Vania, pura-pura santai. "Padahal cantik loh mbaknya."
"Cantikan juga yang di sebelah saya," jawab Raka cepat, tanpa menoleh.
Blush. Pipi Vania merona lagi. Sialan, jago banget dia nge-gombalnya.
"Udah siap?" tanya Raka.
"Udah."
Raka memasukkan gigi D.
Tiba-tiba, dari arah trotoar, Sarah berlari mendekat sambil melambai-lambaikan tangan dengan heboh.
"Woy! Tunggu! Tunggu!"
Raka menurunkan kaca jendela sedikit.
"Kenapa lagi, Sar? Duit taksi kurang?" tanya Raka.
Sarah ngos-ngosan. Dia menatap Raka dan Vania yang duduk nyaman di dalam kokpit futuristik itu dengan tatapan "Anak Tiri".
"Jahat banget kalian!" rengek Sarah dramatis. "Masa aku ditinggal sendirian naik taksi? Aku kan juga pengen ngerasain duduk di McLaren! Sekali seumur hidup woy!"
Sarah mencoba membuka pintu, tapi tentu saja terkunci.
"Van! Geser dong! Pangku-pangkuan kita!" usul Sarah ngawur.
Vania tertawa, membuka kaca jendelanya sedikit. "Sarah... sadar diri dong. Liat nih, kursinya bucket seat sempit banget. Mana muat berdua? Kamu mau duduk di mana? Di mesin?"
"Di pangkuan Raka boleh nggak?" canda Sarah nekat.
"Heh!" Vania melotot.
Raka tertawa. "Udah, Sar. Lo pesen *Silver Bird aja gih. Nyaman, bisa tidur, bisa selonjoran. Di sini suspensinya keras, nanti encok lo kambuh."
"Tapi kan gengsinya beda, Ka!" Sarah cemberut.
"Koper-koper Vania juga ada di lo kan? Nah, jagain tuh harta karun Vania. Itu tugas mulia manajer," tambah Raka. "Nanti sampe hotel gue traktir makan sepuasnya deh."
Mendengar kata "traktir makan", mata Sarah langsung berbinar lagi.
"Oke! Deal! Awas ya kalau bohong!"
Sarah akhirnya pasrah. Dia mundur dari mobil.
"Dah, babe! Hati-hati bawa Vania! Jangan diculik ke KUA dulu!" teriak Sarah sambil melambai.
Raka menutup kaca jendela.
"Siap berangkat?"
"Siap, Pak Sopir," canda Vania.
Raka menginjak pedal gas.
BLAR!
Mesin V8 itu meraung marah, melemparkan tubuh mereka ke sandaran kursi karena akselerasi instan. Mobil itu melesat meninggalkan area penjemputan, menjadi pusat perhatian terakhir sebelum menghilang di tikungan jalan tol.
Di belakang, Sarah berdiri sendirian di trotoar bersama dua koper besar, menatap lampu belakang McLaren yang menjauh dengan tatapan nanar.
Di sebelahnya, Jaguar hitam milik Doni baru saja lewat lagi (muter balik cari penumpang lain). Doni melihat Sarah. Sarah melihat Doni.
Mereka saling bertatapan canggung.
"Cih," Sarah membuang muka, lalu membuka aplikasi di HP-nya. "Mending gue naik Alphard. Lebih lega."