NovelToon NovelToon
Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kontras Takdir / Anak Genius / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Mata Batin / Fantasi Wanita
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.

Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.

Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.

Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peka Terhadap Hal-hal Ghaib

Makan malam di rumah keluarga Hidayat berlangsung lebih senyap dari biasanya. Insiden Siska tadi siang masih menyisakan canggung di udara.

Sulastri—atau yang akrab dipanggil Nduk Lastri—duduk diam di kursinya. Mata bulatnya yang jernih menyapu wajah orang-orang dewasa di sekeliling meja.

Meski baru berusia lima tahun, bocah ini memiliki kepekaan yang melampaui usianya.

Setelah piring-piring licin tandas, Mak Sari memberi isyarat mata pada Kang Jaka. Paham maksud ibunya, Jaka segera bangkit dan menuntun istrinya, Mira, yang masih tampak murung.

"Dek, istirahat di kamar dulu, ya. Biar pikiranmu tenang," bisik Jaka lembut.

Sementara para wanita membereskan dapur, Abah Kosasih memilih duduk santai di bale-bale bambu di halaman samping, menikmati angin sepoi-sepoi.

Ia melambaikan tangan pada cucu kesayangannya.

"Lastri, sini sama Abah Kung. Seharian ini cucu Abah main apa saja, to?"

Perut kenyang dan hati yang senang melihat cucu montok sehat membuat Abah enggan tidur siang. Terlintas di benaknya, Lastri sudah waktunya dikenalkan pada aksara.

Di desa ini perempuan memang jarang sekolah tinggi, tapi cucu Kosasih Hidayat tidak boleh buta huruf.

Lastri berlari kecil, lalu naik ke pangkuan kakeknya. "Tadi Lastri liat semut, Abah! Kasihan, mereka muter-muter nggak nemu makan."

"Jadi Lastri kasih remah kue sedikit, eh, mereka langsung baris bawa makanannya!"

Lastri bercerita dengan semangat. Tanpa sadar, jemari mungilnya mengusap lengan kursi bambu tua itu.

Ajaib, bilah bambu yang tadinya kusam dan mulai retak karena panas matahari, perlahan seratnya merapat kembali, warnanya berubah lebih segar dan mengkilap seolah baru ditebang dari kebun.

Tentu saja, tak ada mata manusia yang menyadari perubahan halus itu.

Abah Kosasih tersenyum, menampakkan guratan keriput yang hangat. "Cucu Abah memang hatinya mulia."

"Semut itu pinter ya, Bah. Mereka kompak banget, baris rapi. Nggak rebutan." Lastri menopang dagu, matanya menerawang.

"Kenapa ya semut bisa barengan terus? Nggak kayak..."

Lastri tak melanjutkan kalimatnya, tapi Abah tahu ke mana arah pikiran bocah itu. Ingatan tentang keluarga Wibowo—keluarga ayah kandung Lastri yang kaya tapi gila hormat—pasti masih membekas.

"Nduk mau tahu rahasianya?" Abah Kosasih terkekeh, mengelus rambut cucunya yang hitam legam.

"Kalau mau tahu, Abah ajari menulis satu kata dulu. Kalau dalam tiga hari Lastri bisa nulis ini tanpa nyontek, Abah kasih tahu rahasia semut."

Mata Lastri berbinar. "Mau! Lastri mau!"

Abah mengambil ranting pohon jambu yang jatuh, lalu menggoreskan satu kata di tanah halaman yang agak berdebu.

R U K U N

"Ini bacanya 'Rukun', Nduk. Artinya damai, bersatu, saling bantu. Lihat ya bentuk hurufnya."

Lastri memperhatikan dengan serius. Di rumah mewah bapaknya dulu, kakeknya—Kakek Aji—bahkan tak sudi menatapnya, apalagi memangkunya seperti ini.

Ternyata begini rasanya dipangku kakek sendiri. Hangat. Bau tembakau linting dan minyak kayu putih yang menguar dari baju koko Abah terasa menenangkan, jauh lebih mewah dari parfum impor.

Saking senangnya, Lastri menggeliat manja di pelukan Abah.

"Hahaha! Abah Kung, kumisnya geli kena pipi Lastri!" tawanya renyah memecah kesunyian sore.

"Ajarin lagi dong, Bah! Kali ini Lastri pasti hapal!"

Di dapur, Kinar yang sedang mengelap piring mendengar tawa putrinya. Hatinya menghangat, sekaligus terenyuh.

"Mak, sekarang Kinar paham kenapa Mak sama Abah baik banget sama Mbak Mira," ujar Kinar pada ibunya.

Mak Sari yang sedang menata gelas menoleh sambil tersenyum bijak. "Gusti Allah itu Maha Adil, Nduk."

"Mak sama Abah baik sama kakak iparmu itu itung-itung ngunduh wohing pakarti. Kami perlakukan anak orang dengan baik, harapannya anak perempuan kami—kamu ini—juga diperlakukan baik oleh mertuanya di sana."

Kinar terdiam. Harapan ibunya memang mulia, meski kenyataannya keluarga Wibowo tak pernah membalas kebaikan itu.

"Banyak orang lupa, Nduk. Menantu itu nanti yang ngurus kita kalau tua. Kalau hatinya sakit, apa ya ikhlas nyuapin kita pas kita lumpuh?"

"Mending hidup sederhana tapi ayem tentrem, daripada kaya tapi rumah kayak neraka," lanjut Mak Sari dengan logat desa yang kental.

"Makasih ya, Mak," mata Kinar berkaca-kaca.

"Sudah, sana bawa Lastri tidur siang. Anak kecil harus banyak istirahat biar cepet gede."

Kinar mengangguk, melepas celemeknya, lalu menghampiri ayah dan anaknya di halaman. "Abah, sudah dong mainnya. Nanti Abah capek. Lastri ayo bobok siang."

"Iya, ini juga udah selesai belajarnya," sahut Abah, lalu menatap Lastri dengan wajah pura-pura galak.

"Ingat ya, Nduk. Tiga hari lagi Abah tagih tulisannya. Kalau nggak bisa, nanti Abah sentil, lho."

Lastri terkekeh, tangan mungilnya iseng menarik ujung kumis putih Abah.

"Heh, Nduk! Nggak boleh narik kumis Abah Kung, pamali!" tegur Kinar kaget.

Abah justru tertawa lepas. "Biarin, Nar. Namanya juga anak kecil. Dulu kamu pas kecil juga gitu."

"Masak Abah marah sama cucu sendiri?"

Abah menatap Lastri dengan penuh kasih sayang. Anak ini cerdas, sorot matanya hidup.

"Lastri sayang Abah. Lastri janji bakal pinter nulisnya!" ucap Lastri sungguh-sungguh.

Bagi Lastri, tantangan ini enteng. Sebagai titisan Dewi Sri, masa menulis kata "Rukun" saja tidak bisa?

Tiga hari? Nanti malam juga dia sudah jago!

Sore berganti senja. Matahari mulai condong ke barat, mengubah langit desa menjadi jingga keemasan.

Lastri yang baru bangun tidur langsung lari ke halaman. Ia mengambil ranting, berniat pamer kemampuan menulisnya.

Tapi, alis kecilnya tiba-tiba berkerut.

"Huruf keduanya tadi kayak gelas apa kayak ular ya?" gumamnya bingung sambil menggaruk kepala yang tak gatal.

Aduh! Baru tidur sebentar kok memorinya hilang? Apa ada yang iseng yang mencuri ingatannya?

Setelah berpikir keras dan tak kunjung ingat, Lastri menghela napas pasrah. "Ah, sudahlah. Besok saja!"

Ia kembali ke pojokan halaman, mencari teman-teman semutnya.

Tak lama, para lelaki pulang dari sawah. Aroma asap kayu bakar mulai tercium dari dapur-dapur tetangga.

Saat Kinar dan Mira sedang sibuk di dapur, terdengar suara ketukan di pintu depan.

Lastri berlari kecil membukakan pintu. Seorang ibu-ibu paruh baya dengan kebaya lurik berdiri di sana.

Itu Bu Yati, tetangga desa sebelah.

"Eh, Cah Ayu. Ibu sama Bapak ada?" tanya wanita itu ramah.

Lastri berlari ke dapur memanggil ibunya. Tak lama kemudian, Kinar dan Mira keluar.

Mira membawa sepiring ikan asin goreng tepung yang baru matang, aromanya menggoda selera.

"Mbak Yati? Tumben mampir," sapa Mira ramah, meski hatinya sedikit was-was.

Jarang ada tamu di jam segini kecuali membawa kabar penting.

Bu Yati melirik situasi sebentar, lalu berkata dengan nada prihatin. "Begini Mir, aku tadi dimintain tolong sama tetangganya Bulikmu, Yu Marsih."

"Katanya Bulikmu sakit keras, udah tiga hari nggak masuk nasi. Dia pengen banget ketemu kamu. Takutnya... yah, takutnya nggak umur panjang."

Dunia Mira serasa runtuh. Wajahnya pucat pasi.

"Tugasku cuma nyampain pesan ini. Ya sudah, aku pamit ya, mau ke rumah besan dulu," lanjut Bu Yati buru-buru, tak enak hati melihat perubahan wajah Mira.

"Lho, Mbak, makan dulu. Ini bawa ikan asin buat lauk di jalan," Kinar dengan sigap membungkus beberapa potong ikan asin dengan daun pisang.

"Eh, nggak usah repot-repot, Nar!"

"Udah bawa aja, rezeki nggak boleh ditolak!" paksa Kinar sambil menyelipkan bungkusan itu ke tangan Bu Yati.

Budaya di desa ini, tamu tak boleh pulang dengan tangan kosong.

Setelah tamu pergi, Mira terduduk lemas di kursi kayu. Lastri yang sedang mengunyah ikan asin di sampingnya tiba-tiba merasakan hawa dingin menusuk tulang.

Firasatnya sebagai 'Dewi' bergetar hebat. Bayangan gelap menyelimuti aura Mira, seolah ada kabut hitam yang mencekik.

Lastri menarik ujung kebaya Mira. "Budhe... jangan sedih. Budhe sama Pakdhe pasti selamat kok."

"Asal Pakdhe hati-hati sama makanan dan minuman di sana. Jangan minum yang..."

"Sssttt!"

Tiba-tiba tangan Kinar membekap mulut mungil Lastri. Kinar tampak panik, keringat dingin muncul di pelipisnya.

"Lastri sayang, sudah ya. Jangan ngomong macem-macem," bisik Kinar gemetar.

Lastri terdiam. Ia baru sadar, setiap kali ia keceplosan meramal masa depan, dadanya akan sesak dan tubuhnya lemas.

Tanaman cabai di pot dekat jendela dapur tiba-tiba layu seketika, daunnya menguning dan rontok satu per satu, seolah menyerap efek buruk dari energi ramalan Lastri yang tertahan paksa.

Tak ada yang melihat tanaman itu mati mendadak.

"Maaf ya, Mbak Mira. Lastri cuma asal ngomong," ujar Kinar cemas.

"Tapi... omongan anak kecil kadang ada benernya. Mbak hati-hati ya."

Mira mengangguk pelan, masih syok. "Iya, Nar. Aku bakal inget pesannya Lastri."

Malamnya, saat semua berkumpul makan malam, Mira menyampaikan kabar tersebut dengan suara bergetar.

"Cring!"

Kang Jaka membanting sendoknya ke piring. Emosinya meledak.

"Ini pasti akal-akalan mereka! Kemarin anaknya diusir, sekarang ibunya pura-pura sakit biar kamu balik terus disuruh kerja rodi lagi!"

"Nggak usah pulang, Mir. Biar aku aja yang ke sana besok pagi. Aku labrak sekalian kalau bohong!"

Abah Kosasih mengangguk setuju, wajah tuanya tampak keras. "Bener kata suamimu. Kita sudah cukup sabar dihina keluarga sana."

"Biar Jaka yang nengok. Kalau sakit beneran, kita bawa ke mantri. Kalau bohong, biar Jaka yang urus."

Mira bimbang. Hatinya ingin menuruti suami, tapi rasa baktinya sebagai anak juga besar.

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Glek."

Lastri menelan nasi dengan susah payah. Ia tak tahan lagi. Energinya bergejolak, mendesak ingin keluar.

"Nggak boleh!" seru Lastri tiba-tiba, suaranya melengking membuat semua orang menoleh kaget.

"Pakdhe Jaka nggak boleh pergi sendirian! Itu jebakan!"

Kang Jaka mengerutkan kening, emosinya mereda berganti bingung. "Lho, Nduk? Kok ngomong gitu?"

Abah Kosasih mengangkat tangan, memberi isyarat agar Jaka diam. Abah menatap cucunya dengan serius.

Orang tua zaman dulu peka terhadap hal-hal ghaib, apalagi ia sudah merasakan keanehan pada Lastri sejak awal.

"Lastri, coba sini bilang sama Abah Kung. Kenapa Pakdhe nggak boleh sendiri?"

Lastri menatap mata Abah, lalu beralih ke Jaka. Matanya berkaca-kaca, seolah melihat adegan mengerikan terputar di udara kosong di hadapannya.

"Lastri... Lastri lihat Pakdhe dikasih kopi. Terus Pakdhe tidur pules banget."

"Terus... terus orang-orang jahat itu mukulin Pakdhe. Budhe nangis kenceng banget. Semuanya sedih..."

Suasana ruang tengah mendadak hening mencekam. Angin malam berhembus kencang, membuat api lampu petromaks bergoyang liar.

Melempar bayangan panjang yang menakutkan di dinding anyaman bambu.

Abah Kosasih merinding. Ini bukan celotehan anak biasa. Ini wangsit.

"Jadi..." suara Abah memberat, menatap menantunya. "Budhe Mira harus ikut?"

Lastri mengangguk mantap. Wajahnya serius, jauh lebih dewasa dari umurnya, seolah ada jiwa tua yang bicara lewat bibir mungilnya.

"Budhe harus ikut. Cuma Budhe yang bisa nyelamatin Pakdhe."

1
mom SRA
mengikuti alur nya dr awal upah segitu untuk buruh tani kemahalan Thor..itu upah buruh tani di desaku sekarang
Lala Kusumah
😭😭😭😭😭😭
Enah Siti
suami edan pngen ku baco tu suryo 😡😡😡😡😡😡😡
gina altira
untung Abahnya Tari itu pinter, cerdas dan bijaksana
gina altira
dibikin lumpuh aja si suryo ini
gina altira
Suryo pengecut
Ebhot Dinni
ayo semangat kinar
Allea
ka Author aku boleh titip nanya ga ma Tari tolong terawang anting2 dan gelang aku keselip apa ada yg ambil soalnya raib dari tempatnya 😁
Allea: paham ka
ke 1 9,900
ke 2 99.000
ke 3 999.000 kan y 🤭
total 2 replies
Kusii Yaati
kasian keluarga kinar, mantan suami tak tahu diri itu ngusik terus.nggak ada yang belain.kirimkan pahlawan yang bisa membantu dan melindungi kinar dan keluarganya Thor 😟
Sribundanya Gifran
lanjut
Aretha Shanum
bingung ko ga kelar2 tuh si suryo ma antek2, pdhal karna udah jalan y tpi ga sadar2, malsh makin jadi, jangan stak alurnya nanti bosen🙏
Pawon Ana
pada masa lampau banyak orang2 yang Waskita karena hati mereka bersih,sekarang mencari orang benar2 berhati bersih seperti mencari jarum ditumpukan jerami 😔
Sribundanya Gifran
lanjut thor
mom SRA
baru mampir..bagus bgt ini...
Lili Aksara
Bagus sekali cerita ini, suka banget deh, udah gitu sering update.
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
membaca ceritamu sambil flashback kenangan masa lampau, dulu dibelakang rumah bapak jug nanam buah juwet yng rasnya asem2 sepet tapi kadang juga ada rasa manisnya,ada juga buah salam.✌️🤭
Pawon Ana: wayang kakak bukan walang kekek🤭
ditempatku ada yng namanya suket teki,suketnya panjang cuma satu tangkai,sama anak2 biasanya dibentuk serupa wayang buat mainn🤭✌️
total 4 replies
🌸nofa🌸
Asli ketawa ngakak🤣🤣
Lili Aksara
Tari, ancurin aja lah tuh pak Halim, udah salah juga, tapi masih bilang tapi kan dia nggak tahu rumah kita.
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, tambah seruuuuu nih, semangat sehat ya 💪💪🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!