NovelToon NovelToon
Gerhana Sembilan Langit 2

Gerhana Sembilan Langit 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Fantasi Timur / Transmigrasi
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Kokop Gann

(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)

Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.

Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taruhan Sang Jendral

Pagi di Pulau Naga disambut dengan sorak-sorai ratusan ribu penonton yang memadati tribun melingkar. Di tengah-tengah mereka, terbentang arena yang tidak biasa.

Bukan panggung batu, melainkan sebuah danau buatan raksasa berdiameter satu kilometer. Airnya jernih, namun dasarnya tidak terlihat, seolah terhubung langsung dengan palung samudra terdalam. Di atas permukaan air, puluhan pilar batu hitam menyembul sebagai satu-satunya pijakan.

Arena Air.

Di ruang tunggu peserta, ketegangan bisa diiris dengan pisau. Tiga puluh tim yang lolos dari babak penyisihan saling menatap dengan penuh curiga.

Han Luo (Tuan Mo) duduk dengan tenang, menyeka debu dari kipas lipatnya. Long Tian (Hei Long) berdiri di sampingnya seperti patung algojo, sementara Su Qingxue bersandar di dinding, memainkan belatinya.

"Aturan babak ini adalah 'Raja Puncak'," jelas Han Luo pelan pada timnya. "Ada sepuluh pilar utama di tengah danau. Tim yang bisa menduduki dan mempertahankan pilar itu sampai matahari tepat di atas kepala akan lolos ke babak Final."

"Di air, Pangeran Hiu Biru dan Putri Naga punya keuntungan mutlak," kata Su Qingxue. "Mereka bisa menyerang dari bawah permukaan."

"Biarkan ikan-ikan itu bermain air," Han Luo menutup kipasnya. "Target kita bukan pilar. Target kita adalah orang itu."

Han Luo melirik ke sudut ruangan.

Di sana, Jenderal Wu 'Pedang Gila' duduk sendirian di atas peti senjata. Tidak ada yang berani berdiri dalam radius lima meter darinya. Aura Jiwa Baru Lahir yang dia pancarkan secara pasif membuat udara di sekitarnya terdistorsi.

Tiba-tiba, Jenderal Wu membuka matanya. Mata yang merah menyala seperti darah mendidih.

Dia berdiri dan berjalan lurus ke arah Han Luo.

Setiap langkah kakinya meninggalkan jejak retakan di lantai batu. Suasana ruang tunggu menjadi hening seketika. Peserta lain menyingkir, takut terkena imbas.

Jenderal Wu berhenti tepat di depan Han Luo. Tingginya yang lebih dari dua meter membuat Han Luo harus sedikit mendongak.

Jenderal Wu mengendus udara dengan keras, seperti anjing pelacak.

"Baunya menyengat," suara Jenderal Wu berat dan bergemuruh. "Bau dari sesuatu yang sudah lama kucari. Sesuatu yang seharusnya menyatu dengan pedangku."

Di dalam Cincin Penyimpanan Han Luo, Gagang Pedang Darah bergetar hebat. Han Luo harus menggunakan Sutra Hati Es Abadi secara maksimal untuk menekan resonansinya agar tidak meledak keluar.

Han Luo tidak berdiri. Dia tetap duduk, menatap Jenderal Wu di balik topeng emasnya.

"Penciuman Anda sangat tajam, Jenderal. Apakah Anda kehilangan anjing peliharaan?" jawab Han Luo santai.

Long Tian memegang gagang pedangnya, siap mencabutnya kapan saja. Su Qingxue menyipitkan mata, bersiap menggunakan sihir bayangan.

Jenderal Wu tertawa. Tawa yang kasar dan kejam.

"Bocah bertopeng. Kau punya nyali. Di Kekaisaran Pusat, orang yang bicara seperti itu padaku biasanya lidahnya sudah kucabut."

Jenderal Wu mencondongkan tubuhnya.

"Aku tahu apa yang kau sembunyikan. Dan kau tahu apa yang aku bawa di punggungku," Jenderal Wu menepuk pedang besar yang terbungkus kain di punggungnya. "Ini adalah turnamen. Mari kita buat ini lebih menarik. Sebuah taruhan."

Han Luo akhirnya berdiri. "Saya seorang pedagang, Jenderal. Saya suka taruhan. Apa taruhannya?"

"Jika timmu bisa bertahan hidup melawanku di arena nanti, atau jika kalian bisa menduduki pilar lebih lama dariku... aku akan memberikan apa pun yang kau minta. Tapi jika kau kalah... aku akan mengambil nyawamu, dan benda yang bersembunyi di cincinmu itu."

Han Luo menyeringai di balik topengnya. Ikan besar sudah memakan umpannya.

"Sepakat," kata Han Luo. "Tapi permintaan saya mungkin sedikit rakus. Jika saya menang, saya ingin pedang di punggung Anda... dan Mata Iblis Es yang Anda beli di pasar gelap."

Mata Jenderal Wu menyipit berbahaya. "Kau tahu tentang Mata itu? Heh. Menarik. Baiklah. Aku setuju. Lagipula, orang mati tidak bisa menagih hutang."

Jenderal Wu berbalik dan berjalan menuju gerbang arena.

Su Qingxue mendesis pelan. "Kau gila? Bertaruh nyawa dengan Jiwa Baru Lahir? Kita bahkan belum menyusun formasi untuk menahannya!"

"Siapa bilang kita akan menahannya secara adil?" Han Luo merapikan jubahnya. "Kita akan menggunakan arena ini untuk menguburnya."

TENG! TENG! TENG!

Gong berbunyi. Gerbang ruang tunggu terbuka.

Para peserta berlarian keluar, melompat ke atas pilar-pilar batu yang tersebar di danau buatan itu.

"MULAI!" teriak Wasit Agung.

Seketika, Arena Air berubah menjadi zona perang berdarah.

Beberapa peserta langsung didorong jatuh ke air. Dan ternyata, air danau itu tidak kosong. Ratusan Hiu Lapar dan Gurita Duri telah dilepaskan ke dalamnya. Jeritan peserta yang jatuh ke air dan dicabik-cabik monster terdengar mengerikan.

Han Luo, Long Tian, dan Su Qingxue melompat ke sebuah pilar batu di sisi timur.

Baru saja mereka mendarat, sebuah gelombang air raksasa menghantam pilar mereka.

Dari dalam air, Pangeran Hiu Biru melompat naik dengan Trisula-nya.

"Mati kau, Topeng Emas! Ini balas dendamku atas penghinaan di babak penyisihan!" teriak Pangeran Hiu.

Han Luo menguap bosan. Dia bahkan tidak melihat ke arah Pangeran Hiu.

"Hei Long. Ada lalat basah."

Long Tian maju selangkah. Dia membuang sarung pedangnya. Zirah hitamnya berkilat.

"Menyingkir, Ikan," geram Long Tian.

Teknik Naga: Tebasan Pemecah Laut.

Long Tian mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh, tanpa trik, hanya otot murni dan Qi padat.

BAM!

Pedang Long Tian menghantam Trisula Pangeran Hiu. Kekuatan fisiknya yang setara monster langsung mematahkan gagang trisula itu menjadi dua.

Pangeran Hiu terbelalak. "T-Tunggu—"

Long Tian menendang dada Pangeran Hiu dengan keras. Sang Pangeran muntah darah dan terlempar kembali ke dalam danau, menjadi santapan hiu-hiunya sendiri. Satu unggulan turnamen gugur dalam lima detik.

Penonton ternganga. "Tim Gerhana... kuat sekali!"

Tapi Han Luo tidak merayakannya. Matanya terkunci pada satu sosok di tengah arena.

Jenderal Wu tidak melompat ke pilar. Dia berdiri di atas permukaan air. Qi-nya begitu padat hingga air menolak untuk menenggelamkannya.

Dia memandang ke arah pilar Han Luo.

"Pemanasan selesai," kata Jenderal Wu.

Dia perlahan membuka bungkusan kain di punggungnya.

Sebilah pedang besar berwarna merah darah terekspos. Pedang itu tidak memiliki gagang yang utuh, hanya dililit dengan rantai besi agar bisa dipegang. Itu adalah Bilah Tengah dari Pedang Darah Iblis.

Saat bilah itu terbuka, langit di atas arena tiba-tiba berubah mendung. Hawa haus darah yang pekat membuat peserta lain muntah-muntah dan kehilangan akal sehat mereka.

"Dia melepaskan segelnya," bisik Su Qingxue, wajahnya pucat. "Tekanan ini... kita tidak bisa bernapas!"

"Topeng Emas!" teriak Jenderal Wu, suaranya menggelegar ke seluruh penjuru. "Serahkan gagang itu padaku sekarang, dan aku akan membiarkanmu mati dengan utuh!"

Jenderal Wu tidak membuang waktu. Dia mengangkat tangannya yang lain.

Di telapak tangannya, sebuah bola kristal es yang berisi "Mata" biru menyala. Mata Iblis Es.

"Membekulah!"

Jenderal Wu memompa Qi Jiwa Baru Lahir-nya ke dalam Mata Iblis Es itu.

ZING!

Sinar biru meledak dari mata itu, menyapu seluruh permukaan danau.

Dalam kedipan mata, danau raksasa berdiameter satu kilometer itu... membeku sepenuhnya hingga ke dasarnya. Hiu-hiu dan peserta yang ada di dalam air membeku menjadi patung es abadi. Suhu anjlok hingga mencapai titik nol mutlak.

"Gila! Dia ingin membunuh semua orang!" teriak penonton di tribun, beberapa mulai lari ketakutan melihat kekuatan sedahsyat itu.

Pilar batu tempat Han Luo berdiri mulai retak karena tekanan es.

Tapi Han Luo tersenyum.

Inilah yang dia tunggu.

Mata Iblis Es adalah milik Iblis Es Kuno. Jika energinya dilepaskan dalam skala masif di atas tempat ini...

GRUMBLE...

Gempa bumi dahsyat mengguncang Pulau Naga.

Bukan karena serangan Jenderal Wu. Tapi karena resonansi.

Arena danau beku itu tiba-tiba retak di tengah-tengahnya. Retakan itu memanjang, membelah arena menjadi dua, menampakkan sebuah jurang gelap di bawahnya. Cahaya biru kuno memancar dari dalam jurang itu.

Wasit Agung di udara memucat. "Tidak mungkin! Segel Jantung Naga yang Tidur... terbuka?!"

Jenderal Wu juga terkejut. Dia melihat ke bawah kakinya yang kini berada di ambang jurang yang terbuka.

"Apa ini...?" Jenderal Wu mengerutkan kening.

Han Luo melompat dari pilar yang hancur, melayang di udara menggunakan Sutra Hati Es Abadi untuk menangkal hawa dingin Jenderal Wu.

"Terima kasih telah membukakan pintunya untukku, Jenderal," kata Han Luo, suaranya menggema penuh kemenangan. "Dan taruhan kita... berlanjut di bawah sana!"

Han Luo menukik ke bawah, sengaja membiarkan dirinya jatuh ke dalam jurang gelap itu. Long Tian dan Su Qingxue tanpa ragu melompat menyusulnya.

Jenderal Wu menggeram marah. Dia merasa diperalat.

"Kau tidak akan bisa lari!"

Jenderal Wu membawa pedang besarnya dan melompat menyusul mereka ke dalam kegelapan Reruntuhan Keempat.

Babak utama turnamen hancur berantakan, digantikan oleh perburuan harta karun dan maut di bawah tanah.

1
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Dpt budak pertama 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Ceritanya muantebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink 🌽🔥
Irman
mantap banget
Irman
kasih bonus besok Thor... 🙏🙏🙏
alexander
bagus ceritanya rekomen untuk di baca
Budi Wahyono
jahat juga han luo...
tpi gw demen....
Budi Wahyono
good
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
Dianrp
secangkir kopi nikmat
Budi Wahyono
vote minggu ini untuk tabib qiu
izar
mntpp
Mamat Stone
tetap semangat dan terus berkarya
Mamat Stone
sehat dan sukses selalu Thor
Mamat Stone
👻
Mamat Stone
🤭
Mamat Stone
/Casual/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!