Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Noah sontak beranjak menuju pintu. Dan begitu pintu terbuka, beberapa petugas keamanan perusahaan masuk dengan wajah tanpa ekspresi. Sebenarnya mereka bukan benar-benar petugas keamanan, melainkan anak buahnya yang tengah menyamar. Tidak hanya itu, mereka juga membawa orang-orang yang seharusnya duduk di kursi kosong yang ada di sana dengan keadaan babak belur.
Seorang direktur keuangan mendadak pucat. “T-Tuan Kay… ini bisa dibicarakan—”
“Dibicarakan?” Kay memotong tanpa meninggikan suara. “Anda bahkan sudah memindahkan dana ke perusahaan cangkang milik saudara ipar Anda. Itu bukan kesalahan. Itu pengkhianatan. Lalu apa yang perlu dibicarakan sekarang?”
Keringat membasahi pelipis pria itu. Kay berdiri perlahan. Tatapannya menyapu ruangan. “Aku pernah berkata kepada seseorang bahwa aku akan memberi belas kasihan pada mereka yang tersesat… jika masih ada sedikit loyalitas. Namun, jika sampai akhir tidak ada hal seperti itu, maka aku akan membereskan mereka tanpa ampun lagi.”
Bayangan Spencer muncul sesaat dalam ingatannya. Dimana permintaan bantuan yang dulu ia terima, janji bahwa ia tak akan ragu menyingkirkan orang yang menjadi pemicu masalah dalam perusahaan. Sekaligus pengakuan bahwa ia akan menjadikan orang-orang ini sebagai tempat pelampiasan dirinya yang tengah frustasi, entah karena tak kunjung menemukan wanita itu, atau tentang gejala kehamilan yang harus ia lalu dan sekarang ditambah lagi dengan perasaan aneh yang muncul kepada pengawal bernama Axlyn.
Namun hari ini, perasaan kesal dan kemarahannya malah semakin menjadi karena penyerangan yang harus ia lalui untuk bisa sampai di perusahaan dengan selamat. Serangan musuh yang membuat Axlyn terluka, hingga Kay merasa khawatir, ketakutan dan marah disaat yang bersamaan. Ia bahkan tidak mengganti kemeja yang terkena darah itu untuk menunjukkan bahwa ia serius kali ini.
“Sayangnya,” lanjut Kay, suaranya kini lebih dingin, “yang aku lihat di ruangan ini hanya keserakahan.”
Kay memberi isyarat kecil. Petugas keamanan segera mendekat, mengamankan beberapa orang yang sudah terbukti terlibat. Kursi-kursi berderit, napas tertahan, beberapa orang nyaris gemetar. Mereka mulai meneriakkan kata-kata seolah tak bersalah dan mengaku sebagai korban.
“Tuan Kay, tolong—”
“Semua bukti sudah saya serahkan ke pihak berwenang,” potongnya tegas. “Perusahaan ini dibangun dengan darah dan kepercayaan. Siapa pun yang merusaknya akan aku singkirkan. Tanpa pengecualian.”
Tatapannya menyapu ruangan sekali lagi. Tak ada amarah di sana, tetapi hanya keputusan yang sudah ia tentukan dengan mantap. Dan kedinginan raut wajahnya membuat semua orang sadar bahwa ia tidak sedang mengancam. Ia sedang melakukan eksekusi terhadap para pengkhianat di perusahaan itu tanpa pengampunan sedikit pun. Para pengkhianat itu segera dibawa pergi ke penjara atau lebih tepatnya penjara khusus yang sudah mereka persiapkan sebelumnya
Beberapa menit kemudian, ruang rapat kembali sunyi. Beberapa kursi kosong itu menjadi saksi pelampiasan kemarahan Kay yag seharusnya ditunjukan kepada orang lain. Kay duduk kembali, melipat kedua tangan di atas meja.
Kemudian Noah mendekat dan berbisik, “Kau sepertinya sedang kesal? Apa yang membuatmu sampai sekesal ini? Bahkan kau tidak ragu lagi melampiaskannya kepada mereka.”
“Apa kau ingin menggantikan mereka?” balas Kay dengan tatapan tajamnya.
“Sial, kau semakin mengerikan saja semenjak hamil,” celetuk Noah tanpa sadar.
“Apa katamu?” sentak Kay jelas tidak terima.
“Tidak… maksudku kau semakin sensitif sejak tahu kemungkinan wanita itu sedang hamil anakmu,” Noah dengan cepat menjelaskan. “Itu yang sebenarnya ingin aku katakan tadi.”
“Ck, Rapat dilanjutkan,” ucap Kay yang tidak ingin mempermasalahkannya lebih jauh. “Mulai penunjukkan untuk posisi yang telah kosong dan lanjutkan penyelidikan lebih lanjut terhadap karyawan yang lainnya.”
Tak ada yang berani menolak, Noah sendiri bahkan memilih diam dan menjalankan apa yang Kay perintahkan begitu saja. Sebab jika Noah semakin meledek atau mengerjainya, bisa-bisa ia sendiri yang akan menderita di tangan Kay yang sedang dalam masa gejala kehamilan.
...****************...
Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, KAY berdiri di balik jendela kantornya. Kota terbentang di bawahnya, dimana ia menutup mata sejenak. Aneh… Di tengah kerasnya keputusan hari ini, yang justru terlintas dalam pikirannya adalah wajah Axlyn yang pucat di ranjang rumah klinik… dan suara Hezlyn yang entah sejak kapan mulai memanggilnya dengan panggilan Papah.
Panggilan yang terasa tidak asing baginya dan situasi yang tidak asing, seakan ia pernah mengalami hal yang serupa. Namun, Kay tidak tahu kapan dan dimana itu terjadi. Perasaannya seolah terasa terbelah, antara perasaan tidak asing dan ingatan yang kosong.
Di dunia bisnis, ia tak memberi ampun. Namun setiap kali menyangkut Axlyn, ada sesuatu dalam dirinya yang melembut meski ia tak tahu mengapa. Tak lama kemudian, Noah masuk membawa berkas yang ia minta sebelumnya.
“Kay, ini semua berkas yang kau inginkan. Aku sudah mengaturnya agar lebih memudahkanmu untuk memeriksanya,” ujar Noah sembari meletakan setumpuk berkas itu di meja kerjanya.
“Hmm, aku akan memeriksanya nanti,” jawab Kay pelan. “Lalu bagaimana keadaannya?”
“Siapa yang kau maksud?” Noah tidak langsung menangkapnya.
“Axlyn!” Kata Kay akhirnya. “Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia sudah sampai di Mansion dengan aman?”
“Aaah… jadi sepanjang hari ini kau masih mengkhawatirkannya. Aku pikir kau sedang memikirkan wanita yang menghabiskan malam denganmu di Praha.” Muncul lagi sifat tengil Noah yang hobi memancing emosi Kay.
“Noah, kau ingin cari mati atau cari masalah denganku?” geram Kay dengan tatapan tajamnya.
“Heheee… Pakmil masih sensi rupanya,” gumam Noah dengan senyuman canggungnya. “Mereka sudah sampai dengan aman di Mansion sejak tiga jam yang lalu. Sesuai yang kau perintahkan, Axlyn akan dibebas tugaskan sampai keadaannya benar-benar pulih.”
“Perintahkan Dokter untuk memeriksa keadaannya setiap hari,” ujar Kay.
“Baiklah, aku mengerti!” Noah tidak ingin mengerjainya lebih jauh. “Ouhya, Spencer menghubungiku kalau malam ini kita diminta untuk membantunya menyelidiki sesuatu. Mungkin, dua hari ini kita akan sangat sibuk karena dia sudah mendapatkan petunjuk tentang musuh utama ayahnya.”
“Baguslah, kita juga harus mulai melakukan interogasi kepada para pengkhianat itu,” perintahnya.
“Kau tidak ingin menanyakan tentang perkembangan pencarian terhadap wanita itu? Atau kau sudah mulai melupakan tentangnya karena Axlyn?” celetuk Noah yang membuat Kay langsung merubah raut wajahnya.
Bersambung….
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌