NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Unstoppable Ripples

Kediaman Utusan Kerajaan Kairo — malam hari

Ruangan itu sunyi, terlalu sunyi.

Putri Sophia Karin Kairo berdiri di dekat jendela, menatap cahaya istana Araluen yang berkilau di kejauhan. Gaun birunya masih rapi, wajahnya tetap anggun—namun sorot matanya tidak lagi tenang.

“Jadi… benar,” ucapnya pelan.

“dia memilih bangsawan mereka sendiri.”

Utusan senior Kairo menunduk.

“Archduke Cedric Aurelius secara resmi mengambil alih tanggung jawab politik,” lapornya.

“Lamaran kita… ditolak sepenuhnya.”

Sophia memejamkan mata sejenak.

Bukan karena malu.

Bukan karena patah hati.

Melainkan karena ia tahu arti keputusan itu.

“Araluen sedang menyatakan sikap,” katanya lirih.

“Mereka memilih kemandirian… bukan aliansi.”

Kesatria pengawalnya melangkah maju, suaranya tertahan amarah.

“Yang Mulia, ini penghinaan. Izinkan kami—”

“Tidak,” potong Sophia lembut namun dingin.

“Pedang tidak akan menyelesaikan ini.”

Ia berbalik, senyum tipis kembali terukir—namun kali ini penuh perhitungan.

“Sampaikan pada Ayahanda,” katanya tenang,

“bahwa Kerajaan Kairo akan menarik diri dengan terhormat.”

Ia berhenti sejenak.

“Namun Araluen… baru saja menciptakan musuh yang diam.”

Istana Araluen — ruang permaisuri

Permaisuri Lunara duduk dengan dahi berkerut. Tumpukan laporan terbuka di hadapannya.

“Bangsawan timur mulai gelisah,” ucapnya pada Kaisar.

“Mereka takut pembalasan ekonomi dari Kairo.”

Kaisar menghela napas berat.

“Aku tahu,” gumamnya.

“Namun begitu Ayahku turun tangan… aku tak punya ruang.”

Permaisuri terdiam sejenak.

“Bagaimana dengan Anthenia?”

Kaisar menoleh.

“Dia kini bukan hanya Putri Blackwood,” katanya pelan.

“Dia simbol keputusan William.”

Kediaman Blackwood — malam yang sama

Anthenia duduk di kamar pribadinya.

Lilin menyala, gaun pertunangannya tergantung di sudut ruangan—belum disentuh.

Satu minggu pikirnya.

Semuanya berubah dalam satu minggu.

Ketukan pelan terdengar.

“Anthenia,” ucap suara Duke Kaelen dari balik pintu.

Anthenia bangkit cepat.

Ayahnya masuk, menatapnya lama—wajah seorang bangsawan, tapi mata seorang ayah.

“Kau takut?” tanyanya langsung.

Anthenia terdiam… lalu mengangguk pelan.

“Aku takut bukan karena menikah,” jawabnya jujur.

“Aku takut karena dunia akan menarikku ke arah yang tidak bisa kupilih lagi.”

Duke Kaelen mendekat.

“Dengarkan aku,” katanya rendah.

“Mulai hari ini, setiap langkahmu akan diperhatikan.”

Ia menatap putrinya dalam-dalam.

“Tapi jika kau ragu… aku akan berdiri di depanmu.”

Anthenia menggeleng.

“Tidak, Ayah,” katanya pelan namun tegas.

“Aku memilih ini.”

William — sendirian di ruang strategi

William berdiri menatap peta besar Araluen.

Laporan Kairo sudah sampai di tangannya.

Menarik diri dengan terhormat…

Ia tersenyum tipis.

“Artinya mereka tidak akan lupa,” gumamnya.

Langkah kaki mendekat.

Archduke Cedric berdiri di ambang pintu.

“Kau sudah resmi menjadi sasaran,” katanya dingin.

William menoleh, tatapannya mantap.

“Aku tahu.”

Archduke mengangguk kecil.

“Bagus,” ucapnya.

“Karena pernikahan ini bukan akhir.”

Ia menatap cucunya tajam.

“Ini awal ujianmu sebagai calon Kaisar.”

Beberapa jam setelah kabar pertunangan mengguncang istana,

sebuah paviliun tenang di sisi barat Araluen justru dipenuhi ketegangan.

Selir Heilen menghembuskan napas panjang.

Untuk pertama kalinya sejak lama, wajahnya tak lagi menyimpan senyum tipis penuh kemenangan—melainkan kehati-hatian.

“Syukurlah…” gumamnya pelan.

“Beberapa waktu lalu kita masih aman.”

Putranya—anak kedua Kaisar—berdiri di dekat jendela, rahangnya mengeras.

“Namun sekarang berbeda, Ibu.”

Heilen menoleh.

Tatapannya tajam.

“Benar,” ucapnya dingin.

“Anthenia Blackwood bukan lagi bangsawan biasa.”

Ia menggenggam ujung lengan bajunya.

“Dia calon permaisuri.”

Kata itu terasa pahit di lidahnya.

“Artinya,” lanjut Heilen pelan,

“setiap langkah kita akan diawasi.

Setiap bisikan bisa berubah menjadi hukuman.”

Alistair menelan ludah.

“Lalu… apa yang akan kita lakukan?”

Heilen tersenyum—bukan senyum hangat, melainkan senyum penuh perhitungan.

“Rencana tetap ada,” katanya.

“Namun kali ini harus disusun lebih rapi.”

Lorong dalam istana — malam

Putra Heilen melangkah cepat, pikirannya dipenuhi kekhawatiran.

Namun langkahnya terhenti.

Seseorang berdiri di ujung lorong.

William Whiston.

Pencahayaan obor membuat bayangannya panjang, sorot matanya dingin dan tenang—terlalu tenang.

“Kakak…” ucap Alistair ragu.

William tidak tersenyum.

Ia melangkah mendekat, suaranya rendah namun jelas.

“Aku tahu,” katanya pelan,

“apa yang kalian lakukan selama ini di balik punggungku.”

Jantung Alistair berdentum keras.

William berhenti tepat di hadapannya.

“Dan aku berharap,” lanjutnya, suaranya makin dingin,

“rencana selanjutnya tidak sampai aku ketahui.”

Bukan teriakan.

Bukan ancaman terang-terangan.

Namun justru itu yang membuat bulu kuduk Alistair merinding.

Ia mundur setengah langkah, napasnya tercekat.

“Ba… baik,” jawabnya tergagap.

William menatapnya sesaat lagi—lalu berbalik pergi tanpa menoleh kembali.

Langkahnya tenang.

Seolah ia sudah menyatakan segalanya.

Kembali ke paviliun Heilen

Putranya masuk dengan wajah pucat.

“Ibu…” suaranya bergetar.

“William… dia tahu.”

Heilen memejamkan mata sejenak.

Bukan kaget.

Bukan marah.

Melainkan sadar.

“Kalau begitu,” katanya akhirnya,

“kita tidak boleh membuat satu pun kesalahan.”

Ia membuka mata, sorotnya tajam.

“Karena sekarang,” lanjutnya pelan,

“kita tidak hanya berhadapan dengan Putra Mahkota.”

Heilen tersenyum tipis.

“Kita berhadapan dengan calon permaisurinya.”

Di balik pesta dan persiapan pernikahan,

bayangan bergerak lebih hati-hati.

Ancaman tak lagi diucapkan dengan pedang,

melainkan dengan tatapan.

Dan sejak hari itu, semua orang di istana tahu—

Anthenia Blackwood

bukan hanya dipilih oleh mahkota,

tetapi telah menjadi pusat dari permainan kekuasaan yang sesungguhnya.

Malam semakin larut di Kediaman Blackwood

Di balik dinding batu yang megah, kegelisahan justru tumbuh tanpa suara.

Kamar Anthenia

Anthenia berdiri di depan jendela terbuka. Angin malam menyentuh pipinya yang masih terasa hangat. Dari kejauhan, ia bisa melihat cahaya obor penjaga yang berpatroli—lebih banyak dari biasanya.

Keamanan diperketat.

Bukan untuknya sebagai bangsawan.

Melainkan untuknya sebagai calon permaisuri.

Tangannya perlahan menutup tirai.

“Aku benar-benar sudah sampai sejauh ini…” gumamnya.

Pikirannya kembali pada tatapan William di aula—tatapan yang tidak meminta, tidak memaksa, hanya menunggu jawabannya.

Namun sejak kata aku terima terucap, dunia tak lagi memberinya ruang untuk ragu.

Ketukan pelan terdengar.

“Masuk,” ucapnya.

Seorang dayang senior melangkah masuk dengan hormat.

“Tuan putri,” katanya pelan,

“mulai besok, Anda akan dipindahkan ke paviliun timur. Atas perintah Archduke.”

Anthenia terdiam.

Paviliun timur.

Tempat yang biasanya disiapkan untuk calon permaisuri.

“Aku mengerti,” jawabnya akhirnya.

Saat dayang pergi, Anthenia duduk perlahan di tepi ranjang.

Dadanya terasa berat.

Bukan karena takut pada William—

melainkan karena ia mulai menyadari sesuatu yang jauh lebih besar.

Cinta tidak pernah berdiri sendiri, pikirnya.

Ia selalu diikuti konsekuensi.

Ruang strategi — larut malam

William masih terjaga.

Ia menatap laporan-laporan terakhir yang masuk—pergerakan bangsawan, sikap netral yang mulai goyah, dan bisikan tentang selir Heilen yang mendadak lebih pendiam dari biasanya.

Ia tersenyum tipis.

Diam bukan berarti menyerah.

Seorang ksatria mendekat dan berlutut.

“Yang Mulia, Duke Blackwood telah kembali ke kediamannya. Tidak ada pergerakan mencurigakan.”

“Bagus,” jawab William singkat.

Ksatria itu ragu sejenak sebelum berbicara lagi.

“Dan… selir Heilen tidak meninggalkan paviliunnya sejak sore.”

William mengangguk.

“Biarkan,” katanya.

“Ketika seseorang terlalu berhati-hati… biasanya mereka sedang menunggu kesempatan.”

Ia berdiri, menatap peta Araluen sekali lagi.

“Aku tidak akan membiarkan Anthenia menghadapi ini sendirian.”

Paviliun Heilen — malam yang sunyi

Heilen duduk di depan cermin perunggu, memandang bayangannya sendiri.

Di wajahnya tidak ada lagi keanggunan santai—yang tersisa hanyalah perhitungan dingin.

“Calon permaisuri…” bisiknya.

“Siapa sangka gadis Blackwood itu akan sampai ke titik ini.”

Ia menutup mata sejenak.

“Namun permainan belum selesai.”

Tangannya mengepal perlahan.

“Selama mahkota belum benar-benar berpindah.”

Malam itu, Araluen tampak tenang.

Namun di balik ketenangan itu— ambisi, kecemburuan, dan ketakutan mulai berkelindan.

Pertunangan telah diumumkan.

Tanggal pernikahan ditetapkan.

Dan setiap orang kini bertanya dalam diam:

apakah satu minggu cukup

untuk menjaga mahkota tetap utuh—

atau justru cukup

untuk menghancurkannya?

1
Liu Su
buat yang lain dung
Liu Su
😚
Liu Su
mantap Thor, lanjutan teroos
Jukyung_22
aku suka tata bahasanya,, sangat elegan dan membuat imajinasiku bergerak kearah zaman kerajaan eropa
AinaAsila: terimakasih 🤭👍
total 1 replies
🌺_Emiko_🌺
macam sok dramatis ??? tp biasa saja 🤧
AinaAsila: 🤭 terimakasih sudah mampir, maaf baru balas🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!