NovelToon NovelToon
Fattah Possessive Badboy

Fattah Possessive Badboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kapten cantik

DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!

"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.

Ngerti?"

"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"

"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________

Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.

Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.

Kecuali satu...

Aqqela Calista.

Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.

Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Club

Sudah hampir satu jam, tetapi Fattah masih melakukan olahraga di ruangan gym apartemennya. Tubuhnya yang hanya bertelanjang dada, telah di banjiri peluh keringat, sementara tangannya terus-menerus memukuli samsak di depannya.

BUGH!!

"Anjing!"

Mood-nya benar-benar buruk sekarang.

Fattah berhenti. Dia melangkah ke arah jendela dengan napas menderu kasar.

Sambil meneguk minumannya, matanya menatap gedung-gedung tinggi di luar sana.

"Suatu saat nanti, bakalan ada cewek lain yang bisa buat lo jatuh cinta lagi. Bakalan ada yang gantiin Sandrina di hati lo. Tapi gue? Gue nggak akan nemuin pengganti papa gue."

PYAR!!!

"Brengsek!" umpat Fattah sambil membanting gelas kacanya.

Ucapan Aqqela kembali terngiang. Jelas menempatkan Fattah pada rasa bersalah.

Fattah merunduk seraya meremas rambut hitamnya yang basah.

"Tapi beneran bukan gue yang bunuh bokap lo..." ucapnya serak.

Ting!!!

Fattah mengambil ponselnya saat ada notifikasi masuk.

Jefan: Gue sama anak-anak mau main ke Jakpus. Ikut nggak?

Fattah diam sebentar. Matanya melirik jam dinding yang menunjuk ke angka tujuh malam.

Fattah: Ikut.

***

Entah sudah ke-berapa kalinya Aqqela harus mondar-mandir mengantar minuman ke meja para pengunjung tempatnya bekerja sebulan ini.

Setelah ayahnya meninggal, Aqqela harus rela bekerja di salah satu club malam di Jakarta Pusat demi untuk mencukupi kebutuhan hidup dan sekolahnya.

Aqqela bingung harus bekerja dimana, yang sekiranya tidak menganggu jam sekolahnya.

Dan hanya di club ini yang menerimanya, setelah Aqqela mengajukan beberapa lamaran ke banyak tempat. Jarang ada yang mau menerima anak sekolah sepertinya.

"Qell, antar minuman ini ke ruangan tujuh, ya! Jangan sampai salah, loh! Ini tamu VIP soalnya," ujar Axel-bertender di sini, menyodorkan nampan wiski kepadanya.

"Tujuh, ya? Oke kak, siap."

Aqqela meraih nampan itu membuat Axel tersenyum kecil.

Sepanjang langkah, Aqqela jujur agak takut.

Beberapa kali harus bersenggolan dengan orang-orang mabuk dan tak jarang mereka akan menggodanya.

"Permisi!" Pintu di ketuk olehnya.

Ceklek!

"Eh, minum pesanan kami, ya?"

"Iya, pak." Aqqela mengangguk kecil melihat pria tampan 27 tahunan yang sedang berdiri di depannya.

"Bawa masuk!"

Aqqela bergegas masuk ke dalam. Diam-diam merinding memandangi perempuan-perempuan sexy sedang mencumbu bibir para pria di ruangan itu.

Dia menaruh nampan di atas meja.

"Sudah, pak. Saya permisi!"

"Eh, tunggu!" Pria itu merogoh saku, "Nih, tip buat kamu!"

"Eh, nggak usah, pak!"

"Ambil aja, nggak papa!" Dia tersenyum membuat Aqqela meraihnya.

"Terimakasih, pak!"

"Saya Adit. Kamu?"

Aqqela mendelik saat pria itu menyodorkan tangannya mengajak berjabat tangan.

Meski agak ragu, Aqqela membalasnya, "Saya Aqqela."

Adit mengulum bibir menahan senyum, "Oke. Aqqela, ya? Salam kenal kalau gitu!"

"Dit, buruan anjir. Elo mau main nggak? Mumpung banyak cewek cakep nih," seru temannya.

Adit mendecak dan menoleh sebal, "Kalian aja, gue nggak mau!"

"Saya permisi!" ucap Aqqela yang tak di dengar oleh Adit.

Karena saat Adit menoleh lagi, dia sudah kebingungan tidak menemukan Aqqela di sana.

"Sayang, ayo dong! Ngapain kamu ke sini kalau nggak main?" Wanita penghibur menghampiri dan memeluk lengannya.

Adit berdecak dan menepis tangan perempuan itu kasar.

Meski diam-diam, dia tersenyum samar mengingat gadis tadi.

Aqqela...

Namanya Aqqela.

Cewek yang menarik. Adit harus mendapatkannya.

***

Seventeen Club adalah tempat yang di pilih anak-anak Levian malam itu. Salah satu club terbaik di Jakarta Pusat yang jadi langganan mereka, terlebih pemilik club ini adalah kakaknya Noel.

Suara dentuman musik yang keras dari dalam club masih terdengar, meski agak tersamarkan karena mereka sedang berada di ruangan Billiard di sisi kiri club.

"Muka lo kusut amat dah Ka akhir-akhir ini? Kenapa?" tanya Jefan sambil menegak minuman ber-alkohol di tangannya.

"Mikirin Aqqela kali," ledek Noel.

"Enggak. Siapa juga yang mikirin dia?" kesal Fattah mengancam akan memukulnya dengan stick billiard-nya.

"Weissssantai aja bos, buset. Makin kelihatan nih kalau beneran mikirin. Ciyee!"

"Elo semua nggak usah bacot!" kata Fattah kasar sambil membungkuk untuk menyodok bola billiard yang jadi target.

"Tapi kalau emang bener, mending lo mundur aja deh, Ka! Makin ribut lo entar sama Oliver. Tau sendiri dia bucin mampus sama Aqqela."

"Gue kemarin lihat snapgram-nya Oliver, lagi kencan di bioskop sama Aqqela."

Fattah menoleh kaget, "Masa?"

"Iya, dong. Terus snapgram-nya ada tangan Oliver sama Aqqela yang lagi gandengan pakai gelang couple. Ugh, romantis banget. Kasihan deh nggak tau," kata Noel meledek, membuat Matthew terkekeh pelan.

Fattah mendengus tak peduli sambil meraih sebatang rokok dan menyelipkannya di ujung bibir, lalu menyalakannya dengan korek api.

"Elo follow instagram-nya Oliver? Bego lo, bikin malu," omel Jefan.

"Aman, gue pakai akun fake. Jaga-jaga aja sih kalau si kampret jelek-jelekin Levian di sosmed-nya, jadi gue tau."

"Widih, pinter juga lo?" puji Matthew.

"Ya-iyalah, namanya juga Noel," katanya menepuk dadanya sombong.

Fattah memilih mendekat ke sofa, menghentikan permainan billiard-nya. Dia duduk sambil menghisap rokoknya dan menegak birnya dengan hembusan napas panjang.

Tuh cewek gimana ya kabarnya sekarang?

Sudah satu bulan penuh, Fattah tak pernah bertemu dengannya lagi.

"Elo kalau beneran naksir, kejar aja, Ka! Bodo amat udah punya cowok juga," kata Noel.

diri. "Gue nggak naksir," kata Fattah membela

"Dasar aligator! Elo mau ngajarin temen lo jadi PHO?" omel Matthew menonyor Noel.

"Ya daripada dia nge-galau nggak jelas," kata Noel tak terima.

"Gue nggak galau, cuma penasaran..." ucap Fattah.

"Soal?"

Fattah menghembuskan napas panjang sambil meneguk bir-nya lagi.

"Entahlah. Gue juga bingung. Gue emang mikirin Aqqela-"

"Nah kan anjing, si bos beneran naksir tuh cewek," heboh Noel membuat Fattah menendangnya kesal.

Dia kemudian merunduk kecil, meremas rambutnya sesaat.

"Udah gue bilang nggak naksir, goblok. Gue cuma penasaran, dia lagi ngapain sekarang, dia baik-baik aja atau enggak, dia udah makan apa belum dan dia punya uang atau enggak. Gue kepikiran," kata Fattah, lalu tersentak karena omongannya sendiri.

Tiga temannya sampai melongo.

"B-bos? Are you okay? Ini beneran seorang Fattah Andara yang ngomong?"

"Elo segitu kangennya Fatt sama dia?"

"Ck, anjir lah!" Fattah mengusap wajahnya, merasa putus asa, "Gue beneran ngerasa bersalah sama dia..."

"Kenapa? Elo habis bikin salah sama dia? Cih, emang lo masih punya hati sampai ngerasa bersalah segala?" tanya Jefan.

Fattah melirik sinis ke Jefan, "Kesalahan gue terlalu fatal, sampai dia benci banget sama gue."

Matthew mengulum bibirnya, "Kalau lo penasaran, mending chat aja!"

"Percuma. Gue baru ngirim DM di instagram dia aja, langsung di block. Tuh cewek batu banget sialan," kata Fattah menghirup rokoknya dengan emosi.

"Itu namanya elo di tolak bos. Udahlah, ingat kata tukang parkir. Mundur ege, mundur!" kata Noel tanpa dosa.

Teman-temannya tidak mengerti. Fattah itu tidak suka Aqqela. Dia hanya merasa khawatir karena terlalu merasa bersalah.

Iya, pasti karena itu.

"Atau lo samperin rumahnya aja? Mumpung lagi di Jakpus nih, bukan di Jaksel."

Fattah tersentak dan menoleh ke Matthew.

"Oh, iya-ya bener," katanya baru sadar.

"Ya udah sana samperin! Kami tungguin sini."

"Gue duluan kalau gitu," kata Fattah berdiri meraih ponsel dan kunci motornya.

Fattah melangkah memasuki area club lagi jika ingin ke parkiran. Tapi cowok itu terkejut menemukan Aqqela di club ini.

Fattah mengerutkan kening saat melihat Aqqela bertengkar dengan seseorang di salah satu sofa club.

PLAK!!!

"Gue udah bilang, nggak usah kurang ajar brengsek!" umpat Aqqela melayangkan tamparan ke pemuda di depannya.

Pemuda di depannya tampak shock dengan tamparan itu. Walau tak lama setelahnya, dia terkekeh sinis.

"Lo siapa berani nampar gue?" Dia mencengkram tangan Aqqela kuat.

"Elo juga siapa berani ngelecehin gue dengan omongan sampah lo?"

Pemuda itu makin geram dan berniat melayangkan pukulan, "Nih cewek..."

BUGH!!!

Dia tersentak saat menerima pukulan tiba-tiba dari seseorang.

"Keparat lo!" sentaknya murka dan berdiri hendak melayangkan pukulan balik.

Tapi sialnya, Fattah justru menghantamkan kepalan tangannya ke rahang cowok itu dan menendang perutnya keras sampai terjungkal ke meja, membuat gelas, botol bir jadi berjatuhan dan pecah.

Aqqela membulatkan mata kaget saat melihat Fattah Fernandez yang kini muncul di depannya dengan wajah marah.

"Nggak usah berani cuma sama perempuan!" murka Fattah

Dalam kesakitannya, pemuda tadi menatap Fattah tajam.

"Elo siapanya, sih? Nggak usah ikut campur urusan gue sama dia!"

"Gue cowoknya, lo mau apa?" sentak Fattah membuat cowok itu terkejut kaget. Aqqela sendiri ikut melongo.

Cowok itu kembali terkena pukulan dan merasa sudah babak belur sekarang.

"So-sorry-sorry bro, gue nggak tau."

"Lo kurang ajar sekali lagi sama dia, habis lo sama gue!" ancam Fattah tak main-main sambil menarik cepat tangan Aqqela dan menyeretnya pergi.

"Ck, paan sih lo? Lepasin gue!" Aqqela menghempas tangan Fattah kasar dari tangannya.

Fattah mengeraskan rahang dan menatap cewek itu dingin.

"Jadi lo kerja di sini?"

"Bukan urusan lo!" jawabnya singkat sambil berbalik pergi.

Fattah mendecak dan segera mengejarnya.

"Aqqela, gue belum selesai ngomong, ya!" Dia menarik tangan gadis itu kasar, membuat tubuh Aqqela sampai berputar menghadapnya.

"Apa sih lo? Udah gue bilang, stop gangguin gue! Ngomong sama lo harus pakai bahasa apa lagi sih biar ngerti?"

"Jawab dulu, lo kerja di sini?" tanya Fattah.

"Iya, gue kerja di sini. Lo mau apa?"

BRAK!!

"ANJING!" Fattah menendang meja di sampingnya kasar membuat Aqqela terkejut kaget.

"Lo tuh kenapa, sih?" tanya Aqqela.

"Gue nggak suka," kata Fattah marah membuat Aqqela makin heran.

"Nggak suka? Apa urusannya sama lo mau gue kerja dimana?"

"Stop kerja di sini! Gue bisa kirimin lo uang berapapun yang lo mau. Asal lo nggak kerja di sini lagi."

Aqqela terkekeh pelan dan menatap cowok tampan itu sengit, "Makasih tawarannya!" katanya sinis dan beranjak pergi.

"Aqqela!" bentak Fattah menarik kesal tangannya.

"Apa lagi, sih?" Aqqela menatapnya lelah.

"Jangan keras kepala! Gue nggak suka lo kerja di sini."

"Serius, elo kenapa segininya? Kalau lo kayak gini karena lagi ngerasa bersalah sama gue, sorry, gue nggak butuh."

"Terserah lo mau benci gue kayak gimanapun, tapi berhenti buat-"

"Aqqela, kamu ngapain? Nggak anterin minum buat tamu yang lain?" tanya Dilan-pemilik club ini.

Tatapan Fattah menyorot tajam ke pria 26 tahun itu.

"Loh Fatt? Elo ternyata? Bareng Noel jug-"

BUGH!!!

Devan tersentak merasakan sudut bibirnya di hantam kepalan tangan Fattah yang mengeras.

Aqqela sampai terkaget-kaget melihatnya.

"Lo gila, ya?" tanya Aqqela.

"Elo brengsek apa gimana, sih? Gimana bisa lo izinin anak SMA kerja di club lo kayak gini?" murkanya.

"Lo kenal Aqqela?" tanya Devan.

"Nggak penting buat gue jawab pertanyaan lo sekarang."

"Sorry-sorry! Karyawan gue out waktu itu, jadi butuh orang cepet. Aqqela kebetulan butuh kerja, jadi gue langsung terima."

"Bangsat lo emang!" kata Fattah meradang.

"WEHHH SANTAI BOS, SANTAI!" Matthew berlarian mendekat, di susul Noel dan Jefan.

"Ingat kata pak ustad bos, istighfar!" kata Noel lebay.

Fattah menatap Devan serta Noel tajam.

"Lo bilangin sama kakak lo ya, kalau Aqqela masih di izinin kerja di sini lagi, gue bakar club ini. Ngerti lo?"

Tanpa banyak kata, Fattah langsung menarik kasar tangan Aqqela dan menyeret cewek itu pergi dari sana, membuat Aqqela terseok-seok mengikuti langkah Fattah yang lebar.

***

1
Amanda Safira
Mirip cerita Natusa&Rhysaka di pf sebelah kak, Aku termasuk followers penulisnya 😂
Langit Biru
kamu terinspirasi dari sinet agz ya? semangat menulis nya, ntar kalau udh tamat aku kemari lagi😍
Kapten Cantik: Terima kasih kk suportnya🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!