Setelah lulus SMA, Syafana menikah siri dengan kekasihnya yang baru saja lulus Bintara TNI-AD. Sebagai pengikat bahwa Dallas dan Syafana sudah memiliki ikatan sah. Pernikahan itu dirahasiakan dari tetangga maupun kedinasan.
Baru beberapa hari pernikahan siri itu digelar, terpaksa Dallas harus mengikuti pendidikan selama dua tahun. Mereka berpisah untuk sementara.
"Nanti setelah Kakak selesai pendidikan dan masa dinas dua tahun, kakak janji akan membawa pernikahan kita menjadi pernikahan yang tercatat di secara negara," janji Dallas.
"Kak Dallas janji, harus jaga hati," balas Syafana.
Namun baru sebulan masa pendidikan, Dallas tiba-tiba saja menalak cerai Syafana. Syafana hilang kata-kata, sembari melepas Hp nya ke ubin, tangan Syafana mengusap perutnya yang kini sudah ditumbuhi janin. Tangis Syafana pecah seketika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Sosok Di Balik Cerita Bidan Dista
"Kebohongan, maksudnya?" tanya Syafana akhirnya bersuara.
"Iya, kami khususnya saya sudah menjebak mantan suami saya supaya menerima saya dengan alasan balas budi. Di sebalik hutang budi, sebenarnya ada sesuatu yang paling inti, yaitu mantan suami saya tidak mungkin menolak saya karena hutang budi, padahal perempuan yang dinikahinya justru perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan untuknya."
"Setelah dia tahu kami bohongi dan mereka mampu membayar hutang budi, mantan suami saya meminta bercerai dengan penuh permohonan. Sebetulnya dia laki-laki yang baik, sudah berusaha mencintai saya, tapi tetap saja cintanya hanya pada perempuan yang pertama kali dinikahinya secara siri, bahkan mungkin juga sampai sekarang dia masih menduda, karena cintanya pada perempuan itu masih selalu ada."
"Akhirnya saya mengalah dan menyesal karena telah menjebak atau istilah lain memenjarakan dia di samping saya dengan sebuah pernikahan yang penuh kebohongan. Dia tidak lagi bisa menahan perasaannya setelah kebohongan yang dilakukan keluarga kami terbongkar. Kami sangat menyesal, ternyata pernikahan paksa itu tidak membuat satu sama lain bahagia, terutama dia."
Deg, jantung Syafana tiba-tiba saja berdegup kencang. Dia seolah sedang mendengarkan kisah seseorang yang dulu sangat begitu dekat.
"Apakah Bu Bidan ini yang dijodohkan dengan Kak Dallas, kenapa kisahnya seperti mengarah pada sosok Kak Dallas. Apakah aku tanyakan saja mantan suaminya itu profesinya apa. Tapi bukankah Bu Bidan sudah mengatakan tadi bahwa mantan suaminya itu saat ditunangkan adalah siswa bintara yang baru pendidikan?" Syafana membatin, tiba-tiba saja dia ingin tahu apa profesi mantan suaminya itu, padahal tadi jelas sudah diceritakan bahwa suaminya siswa bintara, yakni seorang anggota TNI.
"Ya Allah, sungguh sedih mendengar kisah Bu Bidan. Ngomong-ngomong kalau boleh tahu, apakah mantan suami Bu Bidan masih nakes juga?" tanya Syafana pura-pura tidak ngeuh dengan profesi mantan suaminya Bidan Dista.
"Bukan, dia seorang prajurit TNI. Bahkan saat kami ditunangkan, dia baru saja pendidikan bintara. Dia masih sangat muda saat itu, usianya belum 22 tahun waktu itu. Setelah masa pendidikan dan masa dinas dia terpenuhi, lima tahun kemudian kami menikah. Saat itu memang semua seakan dipaksakan apalagi usia saya sudah hampir kepala tiga. Saya tiga tahun lebih tua darinya kala itu," jelas Bidan Dista.
Syafana mengangguk, dalam hatinya merasa yakin bahwa pria yang dimaksud itu adalah Dallas.
"Apakah Kak Dallas?" batinnya lagi masih belum yakin.
"Saya sungguh menyesal dengan pernikahan pertama saya. Sampai kini kami, terutama saya, merasa berdosa pada mantan suami saya. Karena telah menjebaknya dalam kebohongan. Sehingga ia merasa terus dikungkung balas budi sepanjang pernikahan kami." Bidan Dista melanjutkan kembali ceritanya.
"Setelah tiga tahun bercerai dan hidup saya dalam penyesalan, akhirnya seseorang tiba-tiba datang menghampiri saya dan berusaha menyembuhkan perasaan bersalah saya pada masa lalu. Dia suami saya yang sekarang, meskipun tahu kalau saya tidak bisa memberikan keturunan, tapi dia mau menerima saya apa adanya," pungkasnya dalam. Di sudut matanya terlihat kaca-kaca yang siap jatuh.
"Saya sungguh terkesan dengan kisah Bidan, ternyata di balik sosok yang terlihat kuat, ternyata Bu Bidan punya cerita yang cukup membuat saya mengelus dada. Kalau menimpa saya, bisa saja saya tidak kuat seperti Bu Bidan," tanggap Syafana memperlihatkan simpatiknya.
"Sebenarnya yang lebih kasihan adalah mantan suami saya. Setelah dikungkung oleh pernikahan yang penuh kebohongan, sampai sekarang dia belum menikah lagi. Dengar-dengar dia masih mencari mantan istri sirinya. Saya sungguh merasa berdosa jika ingat mantan saya itu. Dia sampai kini belum mendapatkan kebahagiaan karena ulah keluarga kami. Saya harap mantan suami saya bisa memaafkan kesalahan kami, terutama saya," tuturnya lagi penuh penyesalan yang dalam.
Syafana merasa terenyuh melihatnya. "Aamiin, semoga mantan suami Bu Bidan bisa memaafkan."
"Iya, betul, Mbak. Hanya itu yang selalu saya minta sama Allah, kemaafan mantan suami saya. Karena dulu, kami begitu sangat menjahatinya," ungkapnya lagi masih diliputi sesal.
Sepanjang Bidan Dista bercerita, Syafana tidak henti membatin. Kenapa ceria Bidan Dista mengarah pada Dallas.
Kalau yang dimaksud Bidan Dista adalah Dallas, berarti alasan kenapa ia menalaknya sudah jelas. "Sepertinya posisi Kak Dallas saat itu sangat tertekan dan serba salah. Sampai dia tega menalak aku," batinnya menduga kuat bahwa yang diceritakan Bidan Dista adalah Dallas.
Karena waktu semakin bergulir siang, akhirnya Syafana terpaksa berpamitan pada Bidan Dista. Apalagi rencananya setelah ini, Syafana akan mampir ke rumah orang tuanya di kota Bdg.
"Sayang sekali Mbak Syafana harus pulang, padahal saya masih senang bercerita kepada Mbak. Saya seperti mendapat teman baru yang enak diajak ngobrol. Saya minta maaf ya, Mbak. Mbak datang kemari justru hanya puas mendengar obrolan saya yang tiak berguna."
"Tidak apa-apa Bu Bidan. Kalau saya tidak ada rencana mau ke rumah orang tua saya, bisa jadi kita masih ngobrol. Dengan berat hati saya harus pamit. Insya Allah lain kali kita bertemu lagi," balas Syafana seraya bangkit dan menuju pintu.
"Aduh, saya merasa tidak enak dengan Mbak Syafana. Terimakasih banyak Mbak Syafana sudah mau mendengar cerita saya. Ngomong-ngomong kaki Mbak Syafana sudah tidak sakit lagi?" Bidan Dista mengalihkan pada kaki Syafana yang dulu saat pertama kali datang terpincang-pincang saat jalan.
"Alhamdulillah, sudah sembuh Bu Bidan. Ini semua juga berkat salep dari Bu Bidan itu."
Bidan Dista senang. Sebelum Syafana benar-benar pamit, Bidan Dista memberikan sebuah buah tangan untuk dibawa Syafana, katanya sebagai rasa terimakasihnya selama ini pada Syafana.
"Ini oleh-oleh untuk orang rumah. Meskipun bukan buatan tangan saya sendiri," ucapnya terdengar malu.
Syafana terpaksa menerima kotak bolu yang masih terasa panas itu untuk dibawanya pulang.
"Jadi merepotkan. Kalau begitu terimakasih banyak Bu Bidan. Saya pamit, ya. Assalamualaikum." Syafana akhirnya berpamitan dan pulang dari kediaman Bidan Dista yang ramah itu.
Motor Syafana keluar dari pintu gerbang rumah Bidan Dista. Kini motornya ia arahkan menuju rumah kedua orang tuanya di kota Bandung.
"Semoga saja saat lewat di simpang empat itu, aku tidak bertemu dengan Kak Dallas," doanya dalam hati. Syafana seakan masih trauma apabila dipertemukan kembali dengan Dallas, meskipun sedikit banyak dia sudah mengetahui cerita di balik kata talak Dallas. "Tapi, cerita Bidan Dista belum tentu juga orang yang sama. Bisa jadi cerita hampir sama tapi orangnya ternyata beda," sangkalnya dalam hati.
Syafana membelokkan motornya menuju belokan ke kota Bdg. Namun, motornya terpaksa harus berhenti, karena tiba-tiba saja ada seorang ibu-ibu yang akan menyebrang.
Syafana dan ibu-ibu itu sama-sama terkejut. Syafana menuruni motornya dan mendekati ibu itu.
"Apakah ibu mau nyebrang? Maafkan saya, ya, Bu. Saya tidak tahu kalau ada orang yang mau nyebrang," sesal Syafana merasa bersalah.
"Saya juga minta maaf Neng, ibu yang salah, tadi tidak lihat-lihat ke kanan dulu. Kalau begitu saya nyeberang dulu, ya," ujar ibu itu sembari melihat kiri kanan untuk menyebrang.
"Sebaiknya saya antarkan saja ya, Bu. Ayo, Bu." Dengan cepat Syafana meraih tangan ibu itu dan membawanya menyebrang dan meninggalkan dulu motornya yang kuncinya masih menggantung.
"Padahal jangan repot-repot Neng. Saya sebetulnya mau menghampiri mobil anak menantu saya di parkiran sana. Saya tadi tidak bilang ke anak saya kalau keluar dari mobil, sepertinya anak saya sedang mencari."
"Begitu, ya, Bu. Baiklah, sudah ya, Bu. Lain kali hati-hatinya," ucap Syafana seraya membalikkan badan dengan cepat.
"Neng. Terimakasih. Ohh, ya ampun, si Neng nya juga sudah nyebrang lagi," sesal ibu tua itu sembari menatap kepergian Syafana menuju motornya.
"Mama, kenapa Mama keluar dari mobil? Ya ampun Mama, Mama selalu saja bikin khawatir. Mama memangnya beli apa dari toko sebrang itu?" tegur seorang perempuan sekitar 42 tahun, terdengar khawatir.
"Mama beli bolu kesukaan Dallas di toko itu. Dia paling suka bolu pandan ini."
"Ya ampun Mama. Hanya demi bolu untuk Als, Mama rela sembunyi-sembunyi keluar mobil dari kami," ucap perempuan itu seraya meraih tangan ibu itu yang ternyata mamanya menuju mobil.
Sakala nunggu apa lagi tdk usa ego