Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.
Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Nana Pergi
Nenek Rita membuka mata perlahan, menoleh ke arah Jordan yang masih tegang di balik kemudi.
“Jordan,” katanya lembut tapi mantap.
“Kamu itu kebanyakan mikir.”
Jordan mendesah.
“Bukan kebanyakan mikir, Nek. Ini realistis. Nana jelas belum move on. Aku lihat sendiri ekspresinya kalau ditanya soal masa lalunya.”
Nenek Rita tersenyum tipis.
“Justru itu. Kamu jangan datang sebagai orang yang mau ‘mengganti’ siapa pun di hidupnya. Datanglah sebagai orang baru. Sebagai Jordan.”
Jordan melirik sekilas.
“Gampang ngomongnya.”
“Dengar,” lanjut Nenek Rita.
“Setiap manusia punya masa lalu. Ada yang manis, ada yang pahit. Kalau semua orang nunggu sampai masa lalu orang lain bersih sempurna, gak ada yang bakal nikah sampai tua.”
Jordan terdiam.
“Kamu gak perlu cemburu sama bayangan orang yang sudah pergi,” kata Nenek Rita tenang.
“Kamu cuma perlu jujur. Terus terang sama Nana soal perasaanmu. Sisanya… biar waktu yang kerja.”
Jordan menghela napas panjang.
“Aku ini orangnya gak suka bikin masalah, Nek. Takut kalau salah langkah, malah bikin dia tambah tertekan.”
Nenek Rita menatapnya lama.
“Masalah itu bukan datang karena kejujuran. Masalah datang karena asumsi dan diam terlalu lama.”
Jordan menelan ludah.
“Kalau kamu suka sama dia, bilang. Kalau kamu mau ada di hidupnya tanpa maksa, bilang. Jangan sok kuat dengan pura-pura biasa aja,” lanjut Nenek Rita.
“Itu bukan dewasa. Itu pengecut.”
Jordan terkekeh kecil, getir.
“Nenek jahat banget.”
“Biar kamu cepat sembuh dari overthinking,” balas Nenek Rita santai.
Jordan hendak menjawab saat ponselnya yang tergeletak di konsol tengah bergetar.
Nama rumah sakit muncul di layar.
Ia langsung mengangkat.
“Halo, Jordan di sini.”
Suara perempuan terdengar di ujung sana, sopan dan sedikit tergesa.
“Dok Jordan? Ini Suster Rina dari lantai tiga.”
Jordan otomatis menegakkan punggung.
“Iya, Sus. Ada apa?”
“Maaf mengganggu, Dok. Nana minta pulang lebih cepat hari ini. Kondisinya stabil, hasil observasi juga baik.”
Jordan mengernyit.
“Pulang? Bukannya rencananya besok pagi?”
“Iya, tapi Nana bilang ada urusan pribadi yang harus dia selesaikan hari ini,” jawab suster itu.
“Dia juga titip pesan… pamit pada dokter. Dia bilang tolong disampaikan.”
Jordan terdiam sepersekian detik.
______
Sementara itu ...
Pintu mobil tertutup pelan saat Nana masuk ke kursi penumpang. Tubuhnya masih terasa ringan-lemas sisa infus, tapi kepalanya jauh lebih penuh dari biasanya. Tangannya menggenggam tas kecil di pangkuan, jemarinya dingin.
Tasya langsung menghidupkan mesin.
“Sabuk pengaman,” katanya refleks.
Nana menurut tanpa banyak bicara. Mobil melaju pelan keluar dari area rumah sakit.
Beberapa detik hening.
Tasya melirik Nana dari sudut mata. Alisnya mengerut tipis.
“Na…”
Nada suaranya pelan, hati-hati.
“Aku masih gak percaya orang tua kamu segitunya sama kamu Na. Apalagi ayahmu. Edan dia mah, masa ibumu baru dikubur udah nikah lagi? Terus... bisa-bisanya kamu gak jadi nikah sama Dimas...dan sekarang kamu masuk ke pusat rehabilitasi. mereka kira kamu gila apa?"
Nana menatap lurus ke depan. Bibirnya melengkung kecil, tapi bukan senyum.
“Biarin aja sya, aku gak papa," jawabnya datar.
"Serius? Aku gak liat tuh kamu begitu. Kamu kek orangnya pemikir. Gak mungkin kalau gpp." Mobil melaju, Nana cuma diam. Lalu menatap sang sahabat."Sya, apa aku bundir aja ya? Aku udah capek hidup kek gini!"
***
Bersambung...