NovelToon NovelToon
RITUAL PUJON BAYI

RITUAL PUJON BAYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Tumbal / Romansa pedesaan / Iblis
Popularitas:360.5k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.

Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.

Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35 : Menyamar

“Acaranya harus meriah ya, pak, bu. Agar status sosial kita dimata masyarakat lebih disegani lagi. Terlebih ini cucu pertama keluarga terpandang Sugianto,” nadanya biasa saja, tapi lirikan matanya menatap mengejek sang adik.

“Kamu tenang saja, nduk. Tak ada para undangan yang tidak berdecak kagum, mengelu-elukan keluarga kita begitu pulang dari acara syukuran kehamilanmu nanti,” dengan bangganya sang kepala keluarga menjanjikan sesuatu.

Ainur cuma terdiam, duduk tenang sambil mengunyah keripik pisang buatan pelayan.

“Sayang banget ya, seandainya saja Ainur juga hamil setelah tiga tahun lebih pernikahannya dengan Daryo – maka lengkap sudah kebahagiaan keluarga kita,” ucap bu Warti, mimiknya penuh empati.

Sugianto, Dayanti menatap kasihan pada wanita terlihat biasa saja, malah tersenyum layaknya orang bodoh.

“Jangan berkecil hati, bu. Mungkin belum waktunya serta rezekiku saja,” katanya membesarkan hati sang ibu tiri.

Ketiga pasang mata itu saling lirik, merasa ada yang salah dengan kalimat Ainur. Seharusnya itu tertuju pada diri sendiri, kenapa seakan dia tak lagi peduli – minimal mata berkaca-kaca seperti biasanya setiap kali membahas keturunan.

“Kamu baik-baik saja, Inur?” tanya Sugianto penuh perhatian.

“Sae, pak. Aku mboten nopo-nopo (aku tidak kenapa-kenapa). Sudah mulai ikhlas serta memupuk rasa sabar. Belajar meyakini kalau semua akan indah pada waktunya.” Ainur tersenyum lembut, mengusap jemari tangan terasa lengket oleh bumbu dan minyak keripik pisang.

“Syukurlah, kalau dirimu telah menerima, ndak lagi sering berhalusinasi tengah mengandung – kemungkinan besar kehamilan nyata itu akan lebih cepat datengnya, dek,” begitu perhatian ia, padahal hatinya kesal karena tidak melihat raut menyedihkan Ainur.

“Semoga saja.” Ainur manggut-manggut, lalu beranjak dari ruang santai. Menatap sebentar pada jam dinding yang menunjukkan pukul setengah sembilan malam.

"Bu, pak, mbak … aku tak istirahat duluan nggeh. Semoga acara syukuran mba Dayanti minggu depan berjalan lancar.” Ainur menyuguhkan senyum bersahabat, lalu berbalik badan, melangkah menuju tangga.

Dayanti menepuk paha ibunya. Mereka duduk bersebelahan, lalu berbisik. “Ibu perhatikan nggak sih? Ada yang aneh sama dia. Biasanya ndak doyan makan, tapi tadi habis nasi satu piring beserta lauk dan sayur. Habis itu masih kuat ngemil … masa seorang Ainur sama sekali tidak terlihat sedih, murung kala kita provokasi tentang keturunan. Aneh kan, bu?”

Bu Warti memperhatikan Ainur yang sudah menjejak anak tangga paling atas, lalu menghilang dari pandangan. “Lagi kerasukan demit mungkin dia,” jawabnya sekenanya.

“Warti,” panggil Sugianto, meminta perhatian sang istri. “Suruh para pelayan wanita memeriksa ulang seluruh pintu dan jendela. Pinta mereka mengunci dengan benar … sekarang lagi marak perampokan.”

“Nggeh, mas.” Bu Warti memanggil pelayan wanita yang sudah lama bekerja dihuniannya.

Dayanti pun berlalu, masuk ke dalam kamarnya sendiri di lantai satu.

Pak Sugianto masih menikmati sebatang cerutu – sorot matanya kosong, pikiran sedang berkelana.

Banyak kejanggalan yang dirasakannya, setelah mendengar kronologi kejadian di rumah keluarga Tukiran. Namun, semakin jauh dipikirkan, bukannya mendapatkan jawaban, pencerahan, malah jalan buntu.

***

Pada pukul sepuluh malam, ketika seluruh penghuni rumah keluarga Sugianto sudah dibuai mimpi – ada seseorang asik menatap dirinya pada cermin meja rias.

Ainur menelisik penampilan yang jauh berbeda dari kesehariannya. Dia memakai kemeja batik lurik coklat muda polos, bawahannya kain jarik berwarna lebih gelap. Rambut disanggul sederhana – wajah yang biasa natural, kini memakai riasan.

Berkat tangan ahli Kinasih, wajah Ainur sedikit mirip dengan ibu kandungnya, yang menurun gen mendiang istrinya ki Daru. Sedangkan mba Neng mewarisi wajah sang nenek.

Ainur sendiri mirip sang kakek, ki Daru. Mereka bak pinang dibelah dua.

Gen Sugianto nyaris tidak ada pada diri Ainur. Karenanya, terkadang … sang ayah kandung itu sering terkejut bila putri bungsunya tiba-tiba berdiri di depannya. Seakan dia melihat reinkarnasi ki Daru – penjaga hutan yang dibunuhnya.

“Sempurna, Ndoro. Sekilas ndoro mirip ibu Larasani,” Kinasih memperhatikan dari samping. Kemudian membaca mantra penyamaran, agar kemiripan Ainur dengan ibunya lebih nyata lagi.

Ainur bergeming, hatinya terasa ngilu membayangkan nasib tragis sang ibu selama beliau hidup.

Kinasih memejamkan mata, ia sedang melakukan telepati, lalu mengerjap pelan. “Sudah waktunya, Ndoro.”

“Iya.” Ainur berbalik, sorot matanya tegas. Ia melangkah mantap, keluar dari dalam kamar.

Bertepatan dengan itu – kabut tebal mengelilingi hunian megah keluarga Sugianto. Pusara angin meliuk-liuk masuk ke ventilasi setiap kamar – menghantarkan rasa kantuk, membuat siapa saja yang dikehendaki terlelap layaknya orang mati.

Di luar, terdengar bunyi nyaring, pintu pagar tembok belakang terbuka sendiri – suara-suara seperti dengkuran orang tidur, berisiknya ranting pohon bergesekan, berbondong-bondong masuk. Tanpa aba-aba langsung menyerbu bangunan besar berisi harta karun bagi hewan Babi hutan, Monyet, Ayam, burung hama, Landak.

Ratusan hewan beda jenis itu berlari menuju lumbung padi yang juga menyimpan hasil panen jagung, singkong, dan kacang tanah. Lusa baru akan dijual, tapi sudah keduluan disatroni maling berkaki dua dan empat.

Angin kencang menghantam pintu digembok – sekali tabrakan langsung terhempas. Tampaklah tumpukan puluhan karung.

Kawanan binatang penghuni hutan berbatasan dengan gua desa Alas Purwo – berpencar mencari makanan kesukaan mereka. Duri landak mengoyak karung, membuat lubang.

Giliran para Monyet menyobek, agar isi wadah tumpah ruah.

Di dalam hunian mewah, manusianya tengah tertidur pulas. Sementara di lumbung padi … sedang terjadi pesta pora.

***

"Kenapa tenggorokanku gatal sekali? Padahal ndak ada makan gorengan hari ini.” Warti mendengus, dia malas bangun dari peraduan.

Rasa gatal itu semakin menjadi. Mau tak mau Warti terbangun. Kesabarannya pun diuji kala air minum di dalam ceret habis.

Warti beranjak, sama sekali tidak merasa aneh. Terlebih tengah menahan rasa gatal sampai rasanya ingin disogok batang tenggorokannya.

Sebelum keluar kamar, ia menoleh menatap sang suami yang terlelap. Tanpa menutup pintu, melangkah menuju dapur bersih.

Bu Warti mengusap lengannya, malam ini terasa lebih dingin, sunyi. Seketika rasa takut perlahan merayap merasuki pikiran serta hati.

Kepalang tanggung, ia tetap berjalan dengan perasaan cemas.

Hah!

Matanya membulat, lalu menyipit, kemudian membesar lagi. Tubuhnya bergeming, sulit digerakkan serta lidah keluh.

“Ndoro ….”

“Ndak mungkin.” Bu Warti menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak mempercayai penglihatan di depan mata. “Kamu sudah mati! Iya, wes dipendem (sudah dikubur).”

Ainur yang menyamar menjadi ibunya, tersenyum manis sekali – lalu pelan-pelan rautnya berubah sinis dengan seringai keji. “Jika saya sudah tiada, lalu siapa yang berdiri di depan Ndoro, ini?”

Wanita paruh baya itu mulai kehilangan kepercayaan diri, dia mengedip-ngedip berharap sosok wanita yang dulu sering membakar rasa cemburunya lenyap.

Namun, Larasani dalam wujud masih muda, seolah tak termakan oleh waktu – perlahan melangkah.

“Aku cuma mimpi! Iya, hanya bunga tidur.” Ia mundur, keringat dingin mulai bermunculan di wajahnya.

Ainur menyambar pisau, menggenggam kuat tangkainya, lalu mengacungkan tinggi-tinggi. “Ndoro … saya ingin bermain-main dengan anda. Sebagaimana dulu ndoro Warti suka sekali mencambuk diri ini tanpa alasan. Bolehkah?”

“Mas! Mas Sugianto!” Warti berbalik badan, dan langsung berteriak lantang kala langkahnya dihadang oleh ….

.

.

Bersambung.

1
Ayudya
akhir yg selalu menyedihkan buat keturunan wara🤣🤣🤣
imau
giliran siapa nih?
imau
bukannya menyesali dosa, tapi malah menyesali nasib
Shee_👚
nah sekarang waktunya tukiran, habiskan sampai tak tersisa.
para iblis berwujud manusia tak layak untuk hidup atau di maafkan.

kekejian mereka semasa hidup dah bukan lagi harus di maafkan, nyawa di bayar nyawa baru adil
Shee_👚
aku bayangin ngilu plus sakit tak tertahan😬😬
Astiana 💕
ini sih lebih parah sadis nya dari cerita KK cublik yg lain😱, aku malah gak kepikiran loh cerita beginian
Dew666
🪻🪻🪻🪻🪻
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
tinggal si daryo kemana tuh di sandera nya 🤣
Mawar Hitam
satu persatu kena hukumannya yà kak
Al Fatih
Mantab mbak Ainur....,, pelan2 saja menghukum mereka...,, biar mereka merasakan kesakitan yang nyata
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
ahhahahaha kek mana rasanya enak kannn
ilham gaming
lanjut
Salim ah
tinggal nunggu ajalnya Tukiran seperti apa gerangan 🤔
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
hadehh dasar sombong ttp saja sombong nyawa sudah di ujung tanduk saja masih bisa mengumoat dasar iblis berkedok manusia
Kaka Shanum
satu persatu tumbang akibat dari perbuatannya sendiri,tak menyesal sama sekali.hanya karena harta tahta keserakahan akan haus pujian menutup mata menutup hati berbuat keji.sekalipun nyawa kalian hilang tak pernah akan sepadan membayar nyawa yang sudah kalian ambil secara paksa...
FLA
sabar, tenang lah kalian jangan berebut ntar ada kok giliran kalian😏
imau
lebih baik dikasih singkong daripada nasi basi
imau
dilarang pingsan kamu, Sas 😄
imau
beeeh rameee
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
hukum karma berlaku
bukan hukum rimba yg terjadi di alas purwo tapi karma datang menjemput kalian Krn dosa2 kalian sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!