Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 : Sandiwara
Daun pintu dibuka oleh Daryo, dia membaca tulisan tangan sang pelayan yang diketahui juga simpanan ayahnya.
“Sebentar lagi kami keluar.” Pintu ditutup lagi.
Mba Neng pergi keluar rumah, mau mengabarkan ke sang kusir agar bersiap-siap.
“Sayang, bangun dek.” Sangat lembut jemarinya mengelus pipi, sorot matanya pun mendamba.
Ainur mengerang lirih, lalu mengerjap. Rautnya natural, dari linglung tiba-tiba tersentak. Ia pandangi Daryo dengan berurai airmata, mimik takut. “Mas, tadi itu … ada orang mengikat_”
Cup.
Ciuman Daryo meleset, bukan hinggap dibibir melainkan pipi dikarenakan Ainur menoleh ke samping.
“Jangan takut, ada mas. Kamu sekarang aman, baik-baik saja. Para penjahat itu telah mati mas tumpas.” Ia peluk tubuh ringkih Ainur yang menangis pelan.
“Benarkah?” Ainur memundurkan wajahnya. Ia pura-pura menelisik sekeliling. “Ini dimana?”
"Hunian ki Ageng. Semalam, mas bawa kamu kesini, biar diobati. Dek ….” Aryo menjepit pelan dagu Ainur. Mengusap lelehan air matanya.
“Ya?” Ainur menatap penuh rasa hormat manik hitam Daryo, dalam hati mengumpat.
“Untuk sementara waktu, cuma tiga hari saja, kamu tinggal dulu dirumah ibu Warti, ya? Banyak hal harus mas kerjakan, yang pasti mencari orang terlatih, supaya keamananmu lebih terjaga. Nggak tiap bentar didatangi bahaya. Mas takut banget kamu kenapa-kenapa, sayang ….”
Ainur menahan muak, mual. Ia tersenyum tulus. “Terima kasih, mas. Kamu memang suami sempurna, tak ada cacatnya.”
Demi tetap memuluskan sandiwara, Ainur terpaksa membalas pelukan erat Daryo.
“Aku bebersih badan di rumah ibu saja, mas. Sarapan di sana juga. Sungkan di tempat asing, sedikit kurang nyaman,” alasannya masuk akal.
Daryo tidak mempermasalahkan, dia menggandeng tangan Ainur. Bersama-sama keluar dari dalam kamar.
“Mba Neneng!” Ainur memekik sampai membekap mulut. Menatap pura-pura terkejut pada jejak luka diolesi ramuan tumbuhan obat. “Wajah mba Neng kenapa luka-luka?”
Bu Mamik yang menjelaskan. Sang pembantu menunduk seraya menautkan kedua tangan.
“Semalam dia dicelakai para penjahat saat mau menolong kamu, Inur. Pada saat itu dirimu sudah pingsan. Kalau ndak ada Neneng, bisa jadi para bandit itu menculik dirimu,” nada dan rautnya sangat meyakinkan, sedih.
Ainur mendekati mba Neng, menunduk sedikit membungkuk. “Terima kasih banyak, mbak. Kalau saja ndak ada kamu, entah bagaimana nasibku.”
“Itu sudah tugasnya, Inur. Nyawa pun dipersembahkan demi melindungi kamu. Karenanya ... dia dan para pelayan lainnya digaji tinggi,” timpal Tukiran memainkan dramanya.
“Terima kasih, pak, bu. Kalian sangat murah hati, sudi menyayangi aku, menganggap diri ini layaknya putri kandung.” Ainur menatap haru, lalu menunduk hormat.
Bu Mamik memeluk Ainur, mengusap lembut punggung kurus seraya berucap. “Kami sudah menyayangimu sedari kamu masih sangat, sangat kecil, Inur.”
Pelukan pun dilerai, drama memuakkan itu diakhiri. Ainur digandeng Aryo keluar dari dalam rumah ki Ageng.
Langkah Ainur terhenti saat dia melihat sosok yang pernah mematahkan hatinya, serta memupuskan harapan.
Aryo mengikuti pandangan Ainur, tanpa gugup dia menjelaskan. “Semalam, mas yang memanggil dokter Basma untuk memeriksa kamu, sayang. Dikarenakan sudah larut, ki Ageng memintanya menginap disini.”
“Oh ….” Ainur manggut-manggut, menunduk singkat membalas sapaan tanpa suara dari seorang dokter di puskesmas. Tenaga medis yang mengatakan sampai dua kali kalau dia hamil palsu. Pada kehamilan pertama, dan keduanya.
‘Tunggu ya, dirimu pun akan mendapatkan giliran juga!’ Ainur naik ke kereta Kuda. Dia melambaikan tangan kepada pria yang pernah dikira suami, dan keluarga dianggap mertua.
Mba Neng juga naik ke atas kabin, duduk berseberangan dengan Ainur.
Sang kusir mengendalikan Kuda agar melaju. Kereta mulai jalan, keluar dari halaman luas nan asri.
Ainur memperhatikan tanpa seperti berminat pada hunian ki Ageng. Ada tiga bangunan terpisah, salah satunya sanggar terbuka beratap genteng. Tadi dia tidak melihat sang pemilik, entah dimana dukun terkutuk itu.
Perjalanan menuju hunian Sugianto, akan melewati tempat pembibitan. Namun baik Ainur dan mba Neng tidak ada yang berniat singgah. Sangat hati-hati mereka bertindak.
Kala sudah jauh dari rumah ki Ageng, dan laju kuda sedikit kencang, Ainur memandang sang bibi. Sorot matanya penuh tanda tanya, tapi sungkan ingin mengatakannya.
Mba Neng memandang lurus pada hutan yang dilewati. “Dia lemah syahwat. Bisa terangsang tapi tak mampu melakukan penyatuan.”
Kalimat itu menohok hati Ainur, sebisa mungkin tetap menjaga ekspresi tenang. Sedikit demi sedikit mulai bisa menebak kepribadian wanita berumur tiga puluhan tahun ini. Anti dikasihani.
“Terkadang apa yang didengar, belum tentu sama dengan gambaran dalam khayalan,” lanjutnya penuh kata-kata terselubung.
Ainur mengangguk, dia paham kemana arah pembahasan ini.
“Jika kamu ingin mendapatkan sesuatu lebih besar, maka harus rela kehilangan hal lainnya. Semua butuh pengorbanan, bahkan kesempurnaan tak lagi berarti disaat ambisimu telah menguasai.” Mba Neng menoleh, menatap tepat netra keponakannya.
“Ya.” Ainur mengangguk mengerti. ‘Aku harus belajar tega, tak lagi berpegangan pada norma-norma yang ada. Toh, diriku wanita tanpa jati diri. Bodohnya pernah begitu mempercayai kala mereka mengajari tentang tata krama. Bagaimana menjadi wanita terhormat.’
Kereta Kuda mulai memasuki jalan tempat pembibitan – Ainur memandang hamparan bunga, bibit sayuran, dan polybag tanaman hias, serta kolam ikan.
‘Apa dia masih di desanya?’ netranya mencari sosok yang telah menikahinya. Dwipangga tak ada disana, cuma para pekerja dan beberapa orang pembeli.
Helaan napasnya sedikit panjang, entah kenapa dia ingin melihat seseorang.
Kemudian delman melewati tempat usaha pembibitan paling besar di wilayah tugu Ireng.
***
Lima belas menit kemudian, kereta Kuda berhenti di jalan yang kanan dan kirinya ditumbuhi rumput dipangkas rapi.
Ainur turun, dia sudah sampai di rumah masa kecilnya. Hunian Sugianto terbilang paling modern mengikuti perkembangan zaman. Tingkat dua, sepenuhnya batu bata.
“Loh, putri ibu pulang? Kok ndak kasih kabar dulu? Mengapa kamu hanya mengenakan pakaian tidur? Ada apa, nduk?” Warti yang sedang merawat pohon bonsai, benar-benar terkejut. Dia melangkah terburu-buru mendekati Ainur, langsung memeluk hangat.
"Bu, aku masih bau loh. Belum sempat bebersih badan, dan ceritanya panjang. Boleh ndak tak mandi sebentar?” pintanya lembut seraya menepuk pelan punggung Warti.
“Kamu ini.” Bu Warti melerai pelukan, berdecak kurang suka. “Ini juga rumahmu, ngapain pakai izin segala. Sana masuk ke dalam, mandi biar wangi. Ibu sabar menunggu penjelasan, biar punya waktu menyuguhkan minuman kesukaanmu.”
Ainur terkekeh, dia usap lembut lengan bu Warti. “Buatkan yang paling enak ya, bu. Kebetulan aku belum sarapan dan ngeteh.”
Bu Warti memeluk lengan Ainur. Mereka melangkah bersisian, layaknya ibu dan anak saling mengasihi.
Mba Neng mengikuti dari belakang. Setiap kali memasuki hunian ini, kebenciannya bertambah saja. Di rumah inilah sang kakak dijadikan pelayan sekaligus pemuas nafsu dan dibuat layaknya orang bodoh. Janinnya direnggut paksa, cuma Ainur yang selamat.
Ainur dan bu Warti berpisah. Satu naik ke lantai atas, satunya lagi pergi ke dapur.
“Kebetulan sekali dia datang diwaktu aku sedang datang bulan. Dasar anak bodoh!”
.
.
Bersambung.
ainur gak di bawa jalan jalan ke desanya dwipa lagi ya kak,,,biar dia lihat aktivitas warga di sana juga