NovelToon NovelToon
MENAKLUKAN HATI SI JENIUS DINGIN

MENAKLUKAN HATI SI JENIUS DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Idola sekolah / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:126
Nilai: 5
Nama Author: alfphyrizhmi

"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB — 10

BAB 10 — Undangan Pesta

Pagi itu, kelas X-1 riuh rendah. Bukan karena ulangan dadakan, tapi karena kedatangan sebuah kotak besar beludru merah muda di meja Vivie.

Vivie berdiri di depan kelas seperti ratu yang membagikan sedekah. Di tangannya ada tumpukan amplop tebal berwarna emas. Hardcover. Diikat pita satin.

“Save the date, ya!” seru Vivie dengan senyum lebar yang memamerkan deretan gigi putih hasil veneer puluhan juta. “Sabtu malam. Ballroom Hotel Mulia. Sweet Seventeen gue.”

Satu per satu nama dipanggil. Setiap siswa yang menerima undangan itu bersorak, membuka amplop, dan mengagumi desainnya yang elegan. Di dalamnya ada kartu akses chip dan dress code spesifik.

“Vino!” panggil Vivie dengan nada suara yang berubah menjadi manja.

Vino tidak menoleh dari bukunya. Vivie berjalan ke meja Vino, meletakkan undangan itu pelan-pelan di atas buku teks Fisika Vino. Undangan untuk Vino beda sendiri: pitanya warna biru tua, warna favorit Vino.

“Datang ya, Vin. Nggak ada lo, pestanya batal,” bisik Vivie.

Vino melirik undangan itu. “Gue usahakan. Kalau nggak ada jadwal les piano adik gue.”

Alasan klise. Vino tidak punya adik yang les piano. Adiknya di asrama militer. Tapi Vivie pura-pura tidak tahu. “Pokoknya harus datang.”

Vivie melanjutkan pembagian. Dia melewati meja demi meja. Sampai akhirnya, tersisa satu undangan di tangannya.

Dia berjalan menuju meja belakang.

Kelas mendadak hening. Mereka tahu siapa yang duduk di sana.

Mayang sedang menghapus papan tulis (piket hari ini). Dia berbalik, mendapati Vivie berdiri di depannya dengan senyum yang sulit diartikan.

“Mayang Sari,” kata Vivie. Suaranya terdengar ramah. Terlalu ramah.

Mayang menatap Vivie waspada. Dia masih ingat jelas insiden tinta dan fitnah di ruang TU. Kebaikan mendadak dari musuh adalah tanda bahaya terbesar.

“Ini buat lo,” Vivie menyodorkan undangan itu.

Mayang ragu. Dia mengelap tangannya yang berdebu kapur ke roknya sebelum menerima.

“Aku diundang?” tanya Mayang datar.

“Diundang dong. Kan kita teman sekelas. Gue nggak mau ada yang merasa tersisih,” kata Vivie, melirik teman-temannya yang menahan tawa.

Mayang menerima amplop berat itu. Teksturnya kasar dan mahal. Ada emboss inisial V emas di depannya.

“Tapi, ada syaratnya,” lanjut Vivie.

Mayang mengangkat alis.

“Itu pesta Black and White. Tamu undangan pake baju putih. Tapi khusus buat lo... gue mau lo pake baju hitam.”

“Kenapa?”

“Karena tema pestanya Angel and Devil. Gue butuh karakter kontras. Lo cocok banget jadi... sisi gelap yang misterius,” Vivie tertawa kecil. “Lagian, baju putih lo kan udah kena noda buah naga kemarin. Pasti belum punya ganti, kan?”

Sindiran halus.

“Datang ya. Makanannya enak lho. Kapan lagi makan Steak Wagyu gratis? Bisa bungkus buat Budhe lo juga.”

Vivie menepuk bahu Mayang pelan—seperti menepuk hewan peliharaan—lalu berbalik pergi dengan langkah ringan.

Mayang menatap undangan di tangannya. Dia membukanya.

DRESS CODE: BLACK (FOR SPECIAL GUEST).

Di seberang ruangan, Naufal mengacungkan jempol. “Asik! Kita berangkat bareng ya, May!”

Tapi di barisan depan, Vino melihat pantulan kejadian itu dari layar ponselnya yang mati. Matanya menyipit.

Hitam? batin Vino. Semua tamu pakai putih. Pelayan hotel biasanya pakai rompi hitam.

Vino paham skenarionya. Vivie ingin Mayang berbaur dengan pelayan. Menjadikannya babu tak kasat mata di tengah kemewahan.

Jebakan klasik.

Perpustakaan, jam istirahat.

Mayang duduk di sudut, memegang undangan itu. Dia berniat membuangnya ke tong sampah begitu sampai di rumah. Dia tidak butuh pesta. Dia butuh tidur.

Seseorang menarik kursi di depannya.

Vino.

Dia duduk, meletakkan kaleng kopi dingin di meja.

“Jangan datang,” kata Vino. Langsung. Tanpa pembukaan.

Mayang menutup undangan itu. “Kenapa? Kakak takut saya malu-maluin sekolah?”

“Bukan. Gue takut lo buang-buang waktu.”

Vino membuka kaleng kopinya. Ctrek.

“Lo tahu kenapa dia minta lo pake baju hitam?”

“Katanya tema Angel and Devil.”

“Bohong,” potong Vino. “Tema pestanya White Swan. Semua tamu wajib pake putih atau silver. Yang pake hitam cuma dua jenis manusia di sana: Security dan Pelayan Katering.”

Mayang terdiam. Jari-jarinya mencengkeram ujung amplop.

“Dia mau lo jadi pelayan?” tanya Mayang pelan.

“Dia mau lo terlihat kayak pelayan. Biar lo sadar posisi. Biar lo menyatu sama tembok dan nampan kotor, sementara dia dansa di tengah ruangan.”

Vino menatap Mayang lurus.

“Vivie itu strategis. Dia nggak nyerang lo fisik lagi karena takut gue laporin. Jadi dia nyerang psikis. Dia undang lo ke 'kandang'-nya, tempat di mana dia punya kuasa penuh, dan lo cuma alien.”

“Jadi Kakak nyaranin saya kabur?” tanya Mayang. Ada nada menantang di suaranya.

“Mundur bukan berarti kalah, Mayang. Itu taktis. Ngapain masuk ke kandang buaya kalau nggak bawa senapan?”

“Kalau saya nggak datang, dia menang,” bantah Mayang. “Dia bakal bilang ke semua orang kalau saya minder. Saya pengecut.”

“Terus lo mau datang dan dipermalukan? Logikanya di mana?”

“Logikanya ada di harga diri, Kak.”

Mayang berdiri. Dia memasukkan undangan itu ke saku blazernya.

“Bapak saya pernah bilang, kalau diundang orang, wajib datang. Itu adab. Mau dia niat jahat atau baik, itu urusan dia sama Tuhan. Urusan saya adalah menghormati undangan.”

Vino menatap gadis keras kepala itu. Idealisme Mayang kadang membuat Vino frustasi, tapi juga kagum.

“Oke. Terserah,” kata Vino dingin. Dia memutar tubuhnya, kembali membaca buku.

Saat Mayang hendak pergi, Vino bicara lagi.

“Kalau lo nekat datang... jangan pake baju hitam polos. Cari aksesoris. Bros, syal, apapun. Pembeda. Jangan biarkan diri lo didefinisikan sama warna baju.”

Mayang menoleh. “Kakak datang?”

“Gue diundang sebagai VIP. Gue harus datang demi hubungan bisnis bokap gue sama bokap Vivie.”

“Berarti kita ketemu di sana.”

“Mungkin. Kalau lo bisa masuk melewati satpam yang bakal ngira lo pelamar kerja part-time.”

Sarkasme Vino tajam seperti biasa. Tapi Mayang tersenyum. Itu peringatan yang berguna.

Hari Sabtu. Pukul 18.30.

Rumah kontrakan Mayang sempit, tapi rapi. Di atas kasur kapuk, terhampar sebuah gaun hitam sederhana.

Itu gaun bekas peninggalan ibunya. Model tahun 90-an. Bahannya beludru hitam, panjang selutut, dengan kerah sabrina yang agak kuno. Tidak ada payet, tidak ada kristal Swarovski.

“Cantik, Nduk,” kata Budhe Sumi sambil menyisir rambut Mayang. “Ibumu dulu pake ini waktu kondangan sama Bapakmu. Kamu persis Ibumu.”

Mayang menatap cermin retak di lemari. Dia memoleskan bedak tipis dan lipstik warna nude murah meriah. Dia tidak punya alat make-up lengkap.

“Budhe, Mayang takut,” aku Mayang tiba-tiba. Pertahanannya retak sedikit di depan satu-satunya keluarganya.

“Takut apa? Takut sama orang kaya?”

“Takut salah tempat. Takut nggak nyambung.”

Budhe memutar bahu Mayang, menatap matanya lewat cermin.

“Dengerin Budhe. Emas itu mau ditaruh di lumpur, mau ditaruh di istana, tetep emas. Yang bikin kamu berharga bukan bajumu, bukan pestanya. Tapi hatimu.”

Budhe mengambil sebuah kotak kecil dari laci. Sebuah kalung perak tua dengan liontin mutiara air tawar kecil. Mutiara asli, tapi ukurannya kecil sekali.

“Pake ini. Biar lehermu nggak kosong.”

Mayang memakai kalung itu. Mutiara kecil itu bersinar redup di kulit sawo matangnya yang eksotis.

“Makasih, Budhe.”

Suara klakson motor terdengar di depan.

Tin! Tin!

Naufal sudah datang.

Mayang menarik napas panjang. Dia mengambil tas tangan kecil (pinjaman tetangga), memakai sepatu hak hitam 3 cm (satu-satunya sepatu formal yang dia punya, yang biasanya dipakai untuk upacara bendera hari besar).

“Bismillah.”

Mayang keluar rumah.

Naufal terpana sejenak. Dia terbiasa melihat Mayang dengan seragam kedodoran atau kaos oblong bau asap bubur. Malam ini, Mayang terlihat... klasik. Elegan dalam kesederhanaan.

Naufal sendiri memakai setelan jas putih (sesuai dress code umum) dengan dasi kupu-kupu hitam. Dia terlihat seperti pangeran Disney.

“Wow,” komentar Naufal. “Lo beda banget, May.”

“Aneh ya?” tanya Mayang gugup.

“Nggak. Cantik. Serius. Lo kayak artis film jadul.”

“Ayo jalan. Nanti telat.”

Mereka naik ke mobil Honda Jazz milik Naufal (malam ini dia bawa mobil karena dilarang ibunya naik motor pake jas).

Hotel Mulia Senayan. Grand Ballroom.

Kemewahan langsung menampar wajah Mayang begitu dia turun di lobi. Lampu kristal raksasa menggantung setinggi tiga lantai. Lantai marmer berkilauan memantulkan cahaya. Orang-orang berjalan dengan gaun malam seharga motor dan jas seharga mobil.

Semua tamu memakai putih. Putih gading, putih mutiara, silver. Seperti lautan angsa.

Mayang satu-satunya titik hitam di sana.

Dia merasa mencolok. Sangat mencolok. Dia ingin bersembunyi di balik punggung Naufal.

“Santai aja, May. Gandeng tangan gue,” kata Naufal, menyodorkan lengannya.

Mereka berjalan menuju pintu Ballroom.

Di depan pintu, ada meja resepsionis dan security. Vivie berdiri di sana menyambut tamu, mengenakan gaun putih megah berekor panjang dengan tiara kecil di kepalanya.

Vivie melihat Naufal datang. Senyumnya merekah. Tapi begitu melihat siapa yang digandeng Naufal—dan warna baju yang dipakainya—senyum Vivie berubah menjadi seringai puas.

“Hai, Naufal! Hai... Mayang,” sapa Vivie.

Mayang mengangguk sopan. “Selamat ulang tahun, Vivie.”

“Makasih. Wah, lo beneran pake hitam ya. Penurut banget,” kata Vivie.

Dia melirik ke arah security.

“Pak, tolong arahkan teman saya yang baju hitam ini ke pintu samping ya. Lewat jalur service.”

Naufal mengernyit. “Lho? Kenapa lewat samping? Kita kan tamu undangan.”

“Aduh, Fal. Ballroom utamanya lagi steril buat sesi foto keluarga. Yang pake baju non-putih instruksinya lewat samping biar nggak ngerusak tone warna foto nanti. Iya kan, Pak?” Vivie mengedipkan mata pada satpam.

Satpam itu bingung tapi mengangguk. “Iya, Mbak. Sesuai instruksi EO.”

“Tapi gue sama Mayang bareng!” protes Naufal.

“Naufal, lo kan pake putih. Lo masuk lewat depan dong. Masa lo mau lewat dapur? Bau lho,” bujuk Vivie. Dia menarik lengan Naufal. “Ayo, masuk. Fotografer udah nunggu lo.”

Naufal bimbang. Dia melihat Mayang.

“Nggak apa-apa, Fal,” kata Mayang cepat. Dia tidak mau Naufal ribut di pesta orang. “Aku lewat samping aja. Nanti ketemu di dalam.”

“Beneran?” tanya Naufal ragu.

“Iya. Masuklah.”

Naufal akhirnya ditarik masuk oleh Vivie. Vivie menoleh sekilas ke Mayang, memberikan tatapan kemenangan. Welcome to hell.

Mayang diarahkan satpam ke lorong kecil di sebelah kiri. Lorong yang suram, bau makanan katering, dan penuh dengan pelayan yang berlalu-lalang membawa nampan kotor.

Mayang berjalan sendirian. Sepatu haknya berbunyi tack-tack di lantai semen.

Para pelayan yang lewat menatapnya bingung. Mereka semua memakai seragam: Kemeja putih, rompi hitam, celana hitam.

Mayang memakai gaun hitam.

Secara visual, dari jauh, dia terlihat seperti... koordinator pelayan.

Mayang akhirnya sampai di pintu akses yang tembus ke ballroom. Dia mendorong pintu itu pelan.

Dunia di balik pintu itu berkilauan. Musik orkestra mengalun lembut. Ratusan tamu sedang bercengkrama sambil memegang gelas champagne (yang isinya sirup apel untuk anak di bawah umur).

Mayang berdiri di pojok ruangan, dekat meja prasmanan. Dia mencoba mencari Naufal di lautan manusia berbaju putih itu.

Sulit. Semua orang terlihat sama.

Tiba-tiba, seorang ibu-ibu sosialita dengan sanggul tinggi dan kipas bulu mendekati Mayang.

“Mbak,” panggil ibu itu ketus.

Mayang menoleh. “Ya, Bu?”

Ibu itu menyodorkan gelas kosong yang kotor ke tangan Mayang.

“Ini tolong dibawa. Meja di sana penuh gelas kotor.alian kerjanya lambat banget sih. Saya mau minta tisu juga nggak ada yang bawain.”

Mayang terdiam memegang gelas kotor itu.

Darahnya berdesir. Vino benar. Baju hitam. Pojok ruangan. Dianggap pelayan.

“Maaf, Bu, saya bukan—”

“Aduh, nggak usah banyak alasan. Cepat ambilkan tisu! Gaun saya kena saus nih!” potong ibu itu galak.

Mayang menggigit bibir. Dia melihat sekeliling. Orang-orang mulai menoleh. Beberapa teman sekelasnya—geng Vivie—tertawa-tawa kecil sambil menunjuk ke arahnya.

Mereka menikmati tontonan ini.

Mayang menarik napas. Ingat kata Budhe. Emas tetap emas.

Mayang mengambil gelas itu. Bukan karena dia takut, tapi karena dia tidak mau ribut dengan orang tua.

“Baik, Bu. Sebentar saya ambilkan,” kata Mayang sopan.

Dia meletakkan gelas itu di nampan kotor terdekat. Lalu dia berjalan mencari tisu.

Saat dia berjalan, semakin banyak orang yang mengira dia pelayan.

“Mbak, minta minum.” “Mbak, ini piringnya diangkat dong.” “Mbak, AC-nya panas.”

Mayang terus berjalan, mengabaikan mereka. Kepalanya mulai pusing. Dia merasa seperti semut hitam yang diinjak-injak di sarang angsa putih.

Di mana Naufal? Naufal sedang dikerubungi teman-temannya di tengah ruangan, dipaksa foto bareng Vivie. Dia tidak melihat Mayang.

Mayang mundur perlahan. Dia ingin keluar. Dia tidak kuat. Atmosfer ini terlalu mencekik.

Dia berjalan mundur sampai punggungnya menabrak seseorang.

Seseorang yang kokoh. Wangi Sandalwood dan Citrus.

Mayang menoleh cepat.

Vino.

Vino berdiri di sana. Memakai setelan jas tuxedo putih gading yang sangat pas di badannya, membuatnya terlihat seperti aktor Hollywood di karpet merah. Rambutnya ditata rapi ke belakang.

Tapi ada satu yang beda.

Vino tidak memakai dasi kupu-kupu putih atau hitam. Dia memakai syal sutra kecil di lehernya. Berwarna hitam pekat.

Dia menatap Mayang. Lalu menatap ibu-ibu sosialita yang tadi membentak Mayang (yang kebetulan lewat lagi).

Vino mengambil gelas jus dari nampan pelayan yang lewat.

“Tante Siska,” panggil Vino pada ibu itu.

Ibu itu menoleh, wajahnya langsung cerah melihat Vino. “Eh, Vino sayang! Kamu ganteng sekali. Datang sama Papa?”

“Tante,” kata Vino datar. “Tante tadi minta tisu ke teman saya?”

“Teman?” Ibu itu bingung, menunjuk Mayang. “Oh, dia teman kamu? Tante kira pelayan. Bajunya hitam sih. Lusuh lagi.”

Vino tersenyum miring. Senyum yang berbahaya.

“Ini Vintage, Tante. Classic Noir. Tren fashion Paris tahun ini emang balik ke gaya minimalis 90-an. Sayang ya, Tante mungkin kurang update majalah Vogue, jadi nggak paham bedanya baju vintage sama seragam.”

Wajah Tante Siska memerah padam. Dibilang "kurang update" oleh anak muda di depan umum adalah penghinaan besar bagi sosialita.

“Oh... begitu ya? Maaf Tante nggak tahu,” katanya kikuk, lalu buru-buru pergi dengan alasan mencari suaminya.

Vino berbalik menghadap Mayang.

Mayang menatap Vino dengan mata berkaca-kaca. Bukan karena sedih, tapi karena lega.

“Kakak...”

“Gue bilang apa,” kata Vino. “Jangan datang. Ngeyel.”

“Saya diundang.”

“Undangan perangkap.”

Vino melihat sekeliling. Tatapan-tatapan mengejek masih ada. Vivie di panggung sedang memegang mic, siap memulai acara pemotongan kue.

Vivie melihat ke arah mereka. Dia melihat Vino berdiri di sebelah Mayang. Wajah Vivie mengeras.

“Oke,” kata Vino. Dia melepas syal hitam di lehernya.

“Sini.”

Vino melingkarkan syal sutra hitam itu ke leher Mayang. Dia mengikatnya dengan simpul sederhana tapi elegan di samping leher.

Syal itu mahal. Sangat kontras dengan gaun beludru tua Mayang. Tapi entah kenapa, perpaduan itu justru terlihat high fashion. Gaun Mayang yang tadinya terlihat "pelayan", kini terlihat seperti gaun desainer berkonsep.

“Aksesoris,” kata Vino, membenarkan letak simpulnya. Jari-jarinya menyentuh kulit leher Mayang yang dingin. “Gue bilang cari aksesoris pembeda. Karena lo nggak bawa, gue pinjemin.”

Mayang memegang syal itu. Halus. Hangat bekas leher Vino.

“Sekarang lo bukan pelayan,” bisik Vino. “Lo partner gue. Dan partner gue nggak ngambilin gelas kotor.”

Vino menekuk siku lengannya. Gestur mengajak bergandengan.

“Pegang. Kita ke depan panggung. Gue mau kasih selamat ke Vivie. Dan gue mau dia liat lo berdiri di samping gue pake syal gue.”

Mayang ragu. “Nanti Kakak digosipin.”

“Biarin. Saham gosip lagi naik daun.”

Mayang tersenyum kecil. Dia menyelipkan tangannya ke lengan Vino. Lengan itu keras dan berotot di balik jas mahalnya.

Mereka berjalan membelah kerumunan.

Lautan baju putih terbelah. Semua mata tertuju pada pasangan ganjil itu. Pangeran Es dengan jas putih. Dan Upik Abu dengan gaun hitam kuno yang lehernya terikat syal sutra sang pangeran.

Naufal, yang sedang berdiri di dekat panggung, melihat mereka. Gelas di tangannya hampir jatuh. Ada rasa nyeri yang menusuk di dadanya melihat Mayang menggandeng Vino.

Vivie di atas panggung memegang pisau kue dengan tangan gemetar saking marahnya. Rencananya menjadikan Mayang pelayan gagal total. Mayang justru menjadi pusat perhatian.

Vino berbisik pada Mayang saat mereka berjalan.

“Kepala tegak. Jalan lurus. Jangan liat kiri kanan. Anggap mereka semua cuma angka statistik.”

Mayang menegakkan kepalanya. Dia menatap lurus ke depan.

Malam ini, di tengah pesta mewah yang dirancang untuk menghancurkannya, Mayang justru merasa... tak terkalahkan.

Bersambung.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!