NovelToon NovelToon
ORBIT TAK TERENCANA

ORBIT TAK TERENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Dosen / Pernikahan Kilat / One Night Stand
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Sidang "Sabotase" di Kediaman Bagaskara

Fajar baru saja menyingsing di atas langit Jakarta ketika jet pribadi keluarga Bagaskara mendarat dengan mulus di landasan pacu Halim Perdanakusuma. Di dalam kabin mewah itu, suasana jauh dari kata tenang. Zea tertidur lelap dengan wajah pucat di kursi first-class, sementara Antares duduk tegak di sampingnya, menatap sebuah kantong plastik transparan berisi tiga alat uji kehamilan yang menunjukkan hasil yang sama: dua garis merah yang sangat tegas.

Rahang Antares mengeras setiap kali ia mengingat rekaman CCTV yang dikirimkan asisten pribadinya saat mereka masih di Norwegia. Rekaman yang menunjukkan ibunya sendiri, Ny. Sofia, menyelinap ke ruang kerjanya dengan langkah mencurigakan beberapa jam sebelum mereka berangkat.

"Tuan, kita langsung ke apartemen?" tanya sang supir saat mereka sampai di lobi kedatangan.

"Tidak," suara Antares terdengar dingin dan rendah. "Ke rumah utama. Sekarang."

Zea menggeliat kecil, kelopak matanya terbuka perlahan. "Mas... ciloknya?" suaranya serak dan sangat lemah. Rasa mual yang ia rasakan selama penerbangan 15 jam benar-benar menguras energinya.

Antares mengusap dahi istrinya dengan lembut, namun matanya tetap memancarkan kilat amarah. "Sabar, Sayang. Ada satu perhitungan yang harus saya selesaikan dengan pelakunya. Setelah itu, saya sendiri yang akan mencari abang cilok itu sampai ke ujung dunia."

Sidang di Ruang Utama

Mobil Rolls-Royce hitam itu berhenti tepat di depan pintu jati raksasa kediaman Bagaskara. Antares keluar lebih dulu, lalu menggendong Zea yang masih lemas masuk ke dalam rumah. Ia tidak peduli dengan sapaan para pelayan. Tujuannya hanya satu: ruang tamu utama.

Di sana, seolah sudah memprediksi kedatangan mereka, Tuan Baskoro Bagaskara dan Ny. Sofia sudah duduk manis sambil menyesap teh pagi. Tak disangka, Papa Zea pun sudah ada di sana, tampak sedang berbincang akrab dengan besannya.

"Selamat pagi, anak-anakku! Wah, kepulangan yang sangat mengejutkan!" Ny. Sofia berdiri dengan senyum yang sangat lebar, senyum yang biasanya menandakan bahwa ia telah memenangkan sebuah lotere besar.

Antares meletakkan Zea di sofa panjang dengan hati-hati, memastikan istrinya nyaman dengan bantal di punggungnya. Setelah itu, ia berbalik. Tanpa kata-kata, Antares membanting kantong plastik berisi testpack itu ke atas meja marmer.

Brak!

Suara dentuman plastik itu memecah kesunyian ruangan. "Bisa Mama jelaskan ini?" tanya Antares dengan nada yang membuat bulu kuduk siapapun merinding. "Atau Mama mau saya putarkan rekaman CCTV di mana Mama menusuk properti pribadi saya dengan jarum?"

Papa Zea tersentak, menatap menantunya dengan bingung. "Antares? Apa maksudnya? Properti apa?"

Antares menoleh ke arah mertuanya dengan tatapan meminta maaf. "Maaf, Pa. Tapi Ibu saya baru saja melakukan sabotase tingkat tinggi. Dia mencampuri urusan privasi saya dan Zea dengan cara yang sangat rendah. Dia menusuki kondom saya dengan jarum supaya Zea hamil secepat mungkin tanpa persetujuan kami!"

Suasana mendadak hening. Antares mengira ibunya akan merasa malu atau membela diri. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Ny. Sofia terdiam sesaat, lalu tiba-tiba ia menjerit kecil dan menyambar testpack itu dari atas meja. "YA AMPUN! PA! LIHAT! GARISNYA DUA! JARUMNYA MANJUR!"

Tuan Baskoro langsung bangkit dari kursinya, melihat alat itu dengan kacamata bacanya. "Benar! Garis merahnya sangat jelas! Wah, Sofia, kamu memang jenius dalam urusan strategi rumah tangga!"

Antares melongo. Ia merasa seperti sedang berada di dimensi lain. "Mama! Papa! Ini bukan soal berhasil atau tidak! Ini soal hak Zea! Dia masih kuliah! Dia punya cita-cita! Kalian tidak bisa melakukan ini!"

Ny. Sofia mengabaikan amarah anaknya. Ia langsung menghambur ke arah Zea yang masih duduk lemas di sofa. "Zea sayang! Menantuku yang paling cantik! Oh Tuhan, terima kasih! Akhirnya ada kehidupan di rahim Bagaskara!"

Papa Zea, yang awalnya kaget mendengar cara "sabotase" itu, kini ikut mendekati putrinya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Kemarahan soal cara kehamilan itu mendadak hilang digantikan oleh fakta bahwa ia akan segera menjadi kakek.

"Zea... kamu beneran hamil, Nak?" tanya Papa Zea dengan suara gemetar.

Zea mengangguk pelan, air matanya mulai menetes. "Iya, Pa... tapi Zea takut. Zea belum lulus. Zea takut mengecewakan Papa karena hamil sebelum wisuda."

"Mengecewakan apa?" seru Tuan Baskoro dengan suara menggelegar penuh kegembiraan. "Kamu adalah pahlawan keluarga ini, Zea! Urusan kuliah? Biar Papa yang urus. Kalau dosen-dosenmu ada yang berani mempersulit mahasiswi hamil, Papa akan beli universitas itu dan jadikan kamu direkturnya!"

"Papa jangan berlebihan!" potong Antares frustrasi. "Ini soal beban fisik Zea! Dia baru saja pingsan di Norwegia, dia mual setiap sepuluh menit, dan kalian merayakannya seolah ini adalah kemenangan bisnis?"

Ny. Sofia berdiri, menatap Antares dengan tatapan "ibu-ibu" yang tak terkalahkan. "Antares, dengar. Mama melakukan ini karena Mama tahu kamu itu terlalu kaku. Kamu akan menunggu sampai Zea S3 baru mau punya anak. Sementara kami ini sudah tua! Kami ingin melihat cucu kami sebelum kami hanya tinggal nama di nisan!"

"Tapi tidak dengan cara menusuki pengaman saya, Ma!" bentak Antares. "Itu konyol! Itu menjijikkan!"

"Yang penting hasilnya, Antar!" balas Tuan Baskoro tak mau kalah. "Lagipula, Zea sendiri tidak keberatan, kan? Liat, dia sekarang butuh nutrisi, bukan butuh perdebatan etikamu yang membosankan itu!".

Zea yang tadinya menangis, tiba-tiba memegang perutnya. "Mas... aku mual lagi... tapi aku lapar banget..."

"Mau makan apa, Sayang? Bilang sama Mama. Mau lobster? Mau wagyu A5? Mama panggil koki sekarang," ucap Ny. Sofia penuh semangat.

Zea menggeleng lemas. "Zea mau cilok, Ma... Cilok abang-abang yang di depan kampus. Yang bumbunya banyak micin, teksturnya kenyal, terus pakai plastik dikenyot..."

Ny. Sofia dan Tuan Baskoro terdiam sejenak. Mereka saling pandang. Selera menantu mereka benar-benar sangat jauh dari standar Bagaskara.

"Cilok?" tanya Tuan Baskoro. "Apa itu sejenis truffle?"

"Bukan, Pa. Itu tepung kanji rebus," jawab Antares datar. "Dan abangnya lagi pulang kampung ke Jawa Barat. Itu kenapa Zea menangis sepanjang jalan dari Norwegia."

Tuan Baskoro langsung mengambil ponsel satelitnya. "Halo? Tim logistik Bagaskara? Cari pedagang cilok yang biasa mangkal di depan Fakultas Arsitektur. Namanya... siapa Ze?"

"Abang Jaja, Pa..." cicit Zea.

"Cari Abang Jaja! Kalau dia di kampung, jemput pakai helikopter! Bawa gerobaknya sekalian! Saya mau dia ada di halaman belakang rumah ini dalam dua jam! Jangan ada alasan!" Tuan Baskoro menutup teleponnya dengan tegas.

Papa Zea hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kegilaan besannya. "Pak Bagaskara, apa tidak terlalu berlebihan sampai pakai helikopter?"

"Pak Ahmad, untuk cucu pertama kita, tidak ada kata berlebihan!" jawab Baskoro mantap.

Melihat betapa bahagianya ketiga orang tua itu, amarah Antares perlahan mulai surut, berganti dengan rasa lelah yang luar biasa. Ia duduk di samping Zea, menarik kepala istrinya untuk bersandar di bahunya.

"Mas... Mas masih marah sama Mama?" bisik Zea pelan.

Antares menghela napas panjang, mengecup puncak kepala Zea. "Saya masih marah soal caranya, Zea. Tapi melihat mereka sebahagia ini... dan melihat ada sesuatu yang tumbuh di dalam perutmu... saya rasa saya tidak punya pilihan selain menerima takdir gila ini."

Ny. Sofia mendekat membawa segelas air jahe hangat. "Minum ini dulu, Zea. Biar mualnya berkurang. Maafin Mama ya kalau caranya agak... ekstrem. Mama cuma mau yang terbaik untuk kelangsungan keluarga kita."

Zea menerima gelas itu dan meminumnya perlahan. "Zea nggak marah kok, Ma. Zea cuma kaget aja. Zea cuma takut nggak bisa bagi waktu sama kuliah."

"Tenang saja, Sayang," ucap Ny. Sofia sambil mengusap tangan Zea. "Antares kan dosenmu. Kalau dia tidak bisa membimbing istrinya sendiri yang sedang hamil sampai lulus, berarti dia bukan profesor jenius yang Mama kenal."

Antares hanya memutar bola matanya. "Bimbingan skripsi sambil mengganti popok. Benar-benar skenario yang luar biasa, Ma."

Meskipun diawali dengan ketegangan dan kemarahan, pagi itu di kediaman Bagaskara berakhir dengan tawa dan rencana-rencana besar untuk sang jabang bayi. Antares sadar, mulai hari ini, dunianya tidak akan lagi hanya berputar di sekitar bintang dan satelit, melainkan di sekitar Zea dan "bintang kecil" yang baru saja memulai orbitnya di dalam rahim istrinya.

Dan yang paling penting, dalam dua jam lagi, sebuah helikopter akan mendarat di halaman belakang hanya untuk mengantarkan satu porsi cilok bumbu kacang demi meredakan ngidam sang Ny. Muda Bagaskara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!