Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10: Kota Bayangan
Di dunia kultivasi, di mana ada cahaya, pasti ada bayangan.
Jika Kota Awan Putih adalah wajah resmi yang megah dari wilayah Sekte Langit Biru, maka Pasar Hantu Ngarai Hitam adalah perutnya yang busuk. Terletak di celah ngarai sempit yang tertutup kabut abadi, tempat ini adalah zona bebas hukum. Pembunuh, pedagang budak, kultivator liar, dan murid sekte yang korup berkumpul di sini untuk bertransaksi tanpa bertanya asal-usul barang.
Seorang sosok berjubah hitam dengan topi bambu lebar menutupi wajahnya melangkah masuk ke jalanan pasar yang becek.
Itu adalah Li Wei.
Ia telah menggunakan teknik penyamaran sederhana: mengubah postur tubuhnya menjadi sedikit membungkuk dan melumuri pakaiannya dengan getah pohon untuk menyamarkan bau khas manusia/murid sekte.
Di balik jubahnya, jantung Li Wei berdegup kencang, tapi ia menahannya. Di sini, rasa takut adalah undangan untuk dirampok.
Ia berjalan melewati kios-kios yang menjajakan barang mengerikan: janin binatang spiritual, racun terlarang, hingga jimat kutukan.
Li Wei berhenti di sebuah bangunan batu bertuliskan "Paviliun Harta Sunyi".
Ia masuk. Seorang lelaki tua bermata satu duduk di balik meja kasir, sedang membersihkan belati dengan kain sutra.
"Jual atau beli?" tanya lelaki tua itu tanpa mendongak. Suaranya seperti gesekan dua batu kasar.
"Jual," jawab Li Wei. Ia menekan suaranya agar terdengar serak dan berat.
Li Wei meletakkan sebuah bungkusan di atas meja.
Lelaki tua itu membukanya dengan malas. Namun, saat melihat isinya, gerakan tangannya terhenti.
Sebuah Inti Binatang Raja Serigala yang masih memancarkan aura angin liar, dan tiga batang Rumput Embun Kristal yang daunnya berkilauan.
"Inti Tingkat 2... dan Rumput Roh yang dibesarkan dengan Qi murni," gumam lelaki tua itu, mata satunya menatap Li Wei tajam. "Barang bagus. Jarang ada kultivator liar yang bisa mendapatkan rumput semurni ini tanpa merusaknya."
"Beri harga," potong Li Wei dingin.
"60 Batu Roh," tawar lelaki tua itu.
"80," balas Li Wei. "Atau aku bawa ke Paviliun Seribu Wajah di seberang jalan."
Lelaki tua itu terkekeh. "Anak muda yang tahu pasar. Baiklah, 75. Itu tawaran terakhir."
"Sepakat."
Transaksi selesai cepat. Li Wei menerima kantong berisi 75 Batu Roh. Jumlah yang fantastis. Sebagai perbandingan, gaji bulanan murid pelayan hanya 2 Batu Roh. Dalam semalam, Li Wei menjadi orang kaya baru.
Tapi ia tidak langsung pulang. Ia butuh informasi.
Li Wei berjalan ke Kedai Arak Jiwa di sudut pasar. Tempat ini remang-remang, penuh asap spiritual, dan bising dengan percakapan para kultivator liar yang sedang mabuk.
Li Wei memesan poci teh termurah, duduk di sudut paling gelap, dan memasang telinga.
Awalnya hanya percakapan sampah: tentang siapa membunuh siapa, atau harga budak wanita yang naik. Tapi kemudian, percakapan di meja sebelah menarik perhatiannya.
Tiga orang pria kekar dengan tato ular di lengan sedang berbisik serius. Aura mereka kuat, setidaknya Qi Condensation Lapis 7.
"Kalian dengar berita dari Perbatasan Selatan?" tanya salah satu pria yang memiliki bekas luka bakar. "Sekte Darah Merah mulai bergerak lagi."
"Cih, sekte sesat itu selalu bergerak," jawab temannya. "Apa bedanya kali ini?"
"Kali ini beda. Mereka tidak menjarah desa untuk harta. Mereka menculik orang-orang yang lahir di saat gerhana bulan. Dan yang lebih gila... mereka mencari Pecahan Langit."
DEG.
Di balik jubahnya, Giok Dao Abadi di dada Li Wei tiba-tiba menjadi panas menyengat.
"Fragmen Langit?" teman ketiganya bertanya bingung. "Itu cuma dongeng anak-anak tentang perang dewa zaman dulu, kan?"
"Bukan dongeng," pria berbekas luka itu merendahkan suaranya, tapi pendengaran tajam Li Wei menangkapnya jelas. "Seorang temanku yang bekerja sebagai pengawal karavan melihatnya. Di sebuah reruntuhan kuno di Selatan, langit di sana... retak."
Li Wei menahan napas.
"Retak?"
"Ya. Seperti kaca pecah. Dan dari retakan itu, aura hitam merembes keluar. Orang-orang Sekte Darah menyebutnya 'Napas Ibu'. Mereka bilang Pecahnya Langit (Heaven's Fracture) sudah dimulai. Segel yang memisahkan Alam Tianyuan dengan Alam Bawah (Nether Realm) sedang menipis."
Giok di dada Li Wei bergetar semakin hebat, mengirimkan rasa sakit yang menusuk. Sebuah visi singkat melintas di benak Li Wei:
Langit yang terbakar. Lautan darah. Dan sebuah tangan raksasa hitam yang merobek awan, turun untuk menghancurkan segalanya.
Visi itu hanya berlangsung sedetik, tapi Li Wei merasa seolah baru saja tenggelam dalam es. Keringat dingin membasahi punggungnya.
Giok ini... tahu tentang Pecahnya Langit, batin Li Wei ngeri. Apakah giok ini berasal dari sana?
"Sudahlah, jangan bicara soal itu," kata pria bertato itu gugup, seolah takut didengar dewa. "Itu urusan sekte-sekte besar. Kita cuma ikan kecil. Lebih baik kita fokus pada misi besok."
Pembicaraan beralih, tapi Li Wei sudah mendengar cukup.
Li Wei segera menghabiskan tehnya dan keluar dari kedai. Ia merasa tidak aman.
Sebelum pulang, ia mampir ke toko senjata. Ia membeli
Pedang Baja Hitam (Senjata Tingkat Menengah, tajam dan bisa mengalirkan Qi).
Satu Set Bendera Formasi Kabut Ilusi Kecil. (Untuk menutupi Ladang Herbalnya dari mata-mata dan binatang buas).
Total belanja 50 Batu Roh. Sisa 25.
Saat ia berjalan keluar dari Ngarai Hitam, langit sudah gelap. Bintang-bintang berkelip di atas.
Li Wei menatap langit itu.
"Langit yang retak..." gumamnya.
Ia teringat kata-kata bandit yang membunuh orang tuanya: "Kelemahan adalah dosa asal."
Jika rumor itu benar, jika bencana besar akan datang, maka menjadi "kuat" saja tidak cukup. Ia harus menjadi monster yang bisa berdiri di atas langit yang runtuh.