NovelToon NovelToon
Kita Yang Tidak Pernah Diundang

Kita Yang Tidak Pernah Diundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Mengubah sejarah
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Timotius Safari

Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang Tidak Direncanakan

Yanto tidak merencanakan hari itu sebagai hari yang penting.

Ia hanya menuruni tangga kapal dengan langkah cepat, membawa tas kecil berisi botol air, peta lipat, dan jaket tipis. Cuaca panas. Pelabuhan itu tidak masuk brosur wisata. Tidak ada toko suvenir. Tidak ada pemandangan yang layak difoto. Ia membawa dua turis asing pagi itu… transit singkat, permintaan mendadak. Uang tambahan. Itu saja.

Pelabuhan selalu membuat Yanto gelisah.

Bukan karena bahaya, tapi karena ritmenya berbeda. Tidak ada jeda untuk refleksi. Semua bergerak karena perlu. Karena lapar. Karena tenggat. Karena tubuh harus terus dipakai sebelum tidak lagi berguna.

Ia berdiri di dekat pagar besi, mengawasi dua kliennya yang sedang berbicara dengan petugas kapal. Ia tidak ikut campur. Bahasa mereka cukup. Ia hanya perlu memastikan semuanya berjalan.

Di sisi lain pelabuhan, Kusuma sedang mengangkat karung.

Punggungnya basah oleh keringat. Kaosnya menempel di kulit. Tangannya kasar, kapalan lama bertumpuk dengan luka kecil baru. Ia tidak melihat Yanto. Tidak ada alasan untuk melihat siapa pun selain karung berikutnya.

“Sum.”

Suara itu datang tanpa aba-aba. Tidak keras. Tidak asing.

Kusuma berhenti bergerak.

Ia menoleh perlahan, seperti seseorang yang tidak yakin ingin menemukan apa yang ia lihat. Di balik pagar, di antara lalu-lalang orang dan barang, berdiri Yanto—hoodie hijau kebesaran, kacamata, ekspresi yang sulit ditebak.

Butuh beberapa detik bagi otaknya untuk menyambung wajah itu dengan ingatan lama.

“Yanto?” katanya akhirnya, suaranya parau.

Yanto mendekat, melewati celah pagar yang terbuka. Mereka berdiri berhadapan, canggung, seperti dua orang yang tidak pernah membayangkan pertemuan ini terjadi di tempat seperti ini.

“Gue kira salah lihat,” kata Yanto.

Kusuma tersenyum tipis. “Gue juga.”

Mereka tidak berjabat tangan. Tidak saling menepuk bahu. Keduanya terlalu berkeringat untuk gestur semacam itu. Mereka hanya berdiri, mengamati perubahan masing-masing dengan kejujuran yang tidak diucapkan.

“Koq lo di sini?” tanya Yanto.

“Kerja,” jawab Kusuma singkat. Ia melirik ke arah karung-karung di belakangnya, seolah itu cukup menjelaskan segalanya.

Yanto mengangguk. Ia tidak bertanya lebih jauh. Ia sudah tahu jawabannya akan panjang dan tidak nyaman.

“Lo?” balas Kusuma.

“Ngantar orang,” kata Yanto. “Sementara.”

Kata itu melayang di antara mereka. Sementara. Terlalu sering muncul akhir-akhir ini.

Seorang mandor berteriak memanggil Kusuma. Ia mengangkat tangan sebentar, memberi isyarat tunggu. Mandor itu mengangguk singkat.

Mereka bergeser ke sisi yang sedikit lebih teduh. Bau laut, solar, dan keringat bercampur tanpa kompromi.

“Lo kelihatan beda,” kata Yanto.

“Beda gimana?” Kusuma mengangkat alis.

“Lebih… kurus,” jawab Yanto hati-hati.

Kusuma tertawa pendek. “Itu pujian baru?”

Yanto tersenyum kaku. “Enggak. Cuma pengamatan.”

Kusuma menyandarkan punggung ke pagar. “Hidup gue juga jadi pengamatan akhir-akhir ini. Setiap hari ngecek, masih bisa lanjut apa nggak.”

Yanto terdiam. Ia ingin mengatakan sesuatu yang tepat. Kalimat yang tidak menggurui. Tidak sok paham. Tapi pelabuhan bukan tempat untuk pidato kecil.

“Gue denger dari grup,” kata Yanto akhirnya. “Tentang kerjaan lo.”

Kusuma mengangguk. “Iya. Bukan pilihan ideal.”

“Pilihan jarang ideal,” kata Yanto refleks.

Kusuma menatapnya lama. “Lo masih pemandu tur yang sama?”

Pertanyaan itu bukan sindiran. Lebih seperti pemeriksaan.

“Kurang lebih,” jawab Yanto. “Tapi sekarang turisnya nanya hal-hal aneh.”

“Kayak apa?”

“Kayak apakah semua orang setuju.”

Kusuma tersenyum tanpa humor. “Dan lo jawab apa?”

Yanto menghela napas. “Tergantung hari.”

Mereka tertawa kecil, bukan karena lucu, tapi karena kelelahan yang sama. Tawa singkat itu pecah, lalu hilang.

Di kejauhan, klakson kapal berbunyi. Aktivitas meningkat. Waktu mereka menyempit.

“Lo aman di sini?” tanya Yanto, pertanyaan itu keluar begitu saja.

Kusuma tidak langsung menjawab. Ia melirik sekeliling… mandor, truk, orang-orang yang lalu-lalang. “Aman itu relatif,” katanya. “Gue belum jatuh. Tapi gue juga nggak berdiri di tanah yang rata.”

Yanto mengangguk. Ia mengenali kalimat itu. Bukan dari pengalaman tubuh, tapi dari percakapan, dari catatan, dari arsip yang mulai bergerak.

“Lo masih punya motor itu?” tanya Yanto.

Kusuma tersenyum lebih tulus kali ini. “Masih. Satu-satunya yang nggak nanya apa-apa sebelum jalan.”

Mandor memanggil lagi, kali ini lebih keras. Kusuma mengangkat tangan, lalu menoleh ke Yanto.

“Gue harus balik,” katanya.

“Gue juga,” jawab Yanto.

Ada jeda aneh di antara mereka. Bukan perpisahan, bukan kelanjutan. Seperti dua jalur yang bersinggungan sebentar sebelum kembali berpisah.

“Kita ketemu lagi?” tanya Yanto.

Kusuma mengangkat bahu. “Kalau dunia nggak makin sempit.”

Yanto tersenyum, pahit. “Iya.”

Kusuma berbalik, kembali ke karung-karung. Tubuhnya kembali ke ritme kerja, seolah pertemuan itu hanya gangguan kecil.

Yanto berdiri sebentar, menatap punggung Kusuma yang menjauh. Ada rasa berat di dadanya… bukan kasihan, bukan bersalah. Lebih seperti menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan yang ia bawa ke turis-turis asing kini berdiri nyata di hadapannya, berkeringat dan terbungkus debu.

Ia kembali ke kliennya, menyapa dengan senyum profesional. Dunia luar menuntut perannya tetap utuh.

Namun di dalam kepalanya, sesuatu telah bergeser. Percakapan singkat itu menolak disederhanakan menjadi cerita. Ia terlalu fisik. Terlalu nyata.

Yanto tahu, pertemuan ini tidak akan tinggal sebagai kebetulan. Ia sudah masuk ke daftar hal-hal yang tidak bisa lagi ia abaikan, betapapun ia ingin tetap berdiri di posisi antara.

Yanto menyelesaikan tugasnya seperti biasa.

Ia mengantar dua klien itu naik kapal, memastikan tiket mereka benar, menjawab satu-dua pertanyaan ringan tentang jadwal. Senyumnya tetap terpasang, bahasanya tetap netral. Tidak ada yang tahu bahwa beberapa meter dari situ, hidup seorang teman lama sedang digantung di antara karung-karung dan kata sementara.

Ketika kapal berangkat, Yanto berdiri di dermaga lebih lama dari yang perlu. Ia menatap air laut yang beriak pelan, mencoba menenangkan pikirannya. Tapi bayangan punggung Kusuma… basah, tegang, bergerak otomatis… tidak mau pergi.

Ia membuka ponsel, berniat menulis di Random, lalu membatalkannya. Kalimat apa pun terasa tidak cukup. Terlalu teoritis. Terlalu jauh dari keringat dan debu.

Akhirnya, ia hanya mengetik satu baris di catatan pribadinya:

Beberapa pertanyaan tidak bisa dijawab dari jarak aman.

Ia menyimpan ponsel, menyalakan motor, dan meninggalkan pelabuhan.

Sementara itu, Kusuma kembali ke ritme kerja.

Karung demi karung diangkat. Teriakan mandor menjadi latar. Tubuhnya bergerak tanpa banyak pikir. Namun ada satu hal yang berbeda: pikirannya tidak lagi kosong. Pertemuan singkat itu membuka sesuatu yang selama ini ia tekan, kesadaran bahwa hidupnya kini terlihat dari luar, dari mata orang yang pernah duduk semeja dengannya.

Menjelang sore, pekerjaan selesai. Kusuma menerima upah hari itu, jumlah yang lebih kecil dari yang ia harapkan. Tidak ada penjelasan. Tidak ada protes. Ia memasukkan uang ke saku dan pergi.

Di perjalanan pulang, ia mengendarai motor lebih cepat dari biasanya. Angin memukul wajahnya, memaksa matanya berair. Ia menyukai sensasi itu. Setidaknya, ada sesuatu yang bisa ia rasakan dengan jelas.

Beberapa kilometer dari rumah kontrakan, ia melihat kerumunan kecil di pinggir jalan. Sebuah truk berhenti, pintunya terbuka. Dua orang berdiri di dekatnya, memeriksa dokumen seseorang. Tidak ada sirene. Tidak ada pita garis pembatas. Hanya pemeriksaan biasa.

Kusuma memperlambat motor.

Ia tidak punya alasan untuk takut. Surat-suratnya lengkap. Motornya terdaftar. Tapi tubuhnya bereaksi lebih cepat dari logika. Bahunya menegang. Napasnya pendek.

Salah satu petugas melirik ke arahnya. Tatapan singkat. Netral.

“Lanjut,” kata petugas itu pada orang yang diperiksa.

Kusuma melaju pelan melewati mereka. Tidak ada yang menghentikannya. Tidak ada yang bertanya.

Namun setelah beberapa meter, ia menyadari tangannya gemetar.

Ia berhenti di pinggir jalan, mematikan mesin. Duduk di atas motor, menunduk, menunggu tubuhnya kembali patuh. Ia teringat Yanto… cara bicaranya hati-hati, pertanyaannya sederhana tapi tepat.

Lo aman di sini?

Kusuma tertawa kecil. Pertanyaan itu kini terasa seperti cermin. Aman bukan lagi kondisi. Ia sudah menjadi perhitungan.

Malam datang. Kusuma sampai di rumah, mandi cepat, lalu duduk di lantai dengan ponsel di tangan. Ia membuka Random. Pesan-pesan terbaru terbaca perlahan. Tidak ada yang mendesak. Tapi ia merasa perlu mengatakan sesuatu, bukan sebagai laporan, melainkan sebagai pengakuan kecil.

Kusuma:

Hari ini gue ketemu Yanto.

Nggak direncanain.

Dan entah kenapa,

itu bikin gue ngerasa hidup gue

nggak sepenuhnya tersembunyi lagi.

Pesan terkirim.

Ia meletakkan ponsel, bersandar ke dinding. Ada rasa tidak nyaman yang menetap… bukan karena ia takut diketahui, tapi karena ia sadar: selama ini ia mengira hidupnya menyempit sendirian.

Ternyata tidak.

Di tempat lain, Yanto sampai di rumah kontrakannya. Ia duduk di teras, membuka sebotol bir beralkohol rendah, meneguk pelan. Malam Bali terasa lebih sunyi dari biasanya. Ia membaca pesan Kusuma di Random, mengangguk kecil tanpa sadar.

Ia membalas singkat, tanpa metafora.

Yanto:

Kalau lo butuh orang buat ngobrol

tanpa solusi,

gue ada.

Ia menaruh ponsel, menatap gelap. Tidak ada niat menyelamatkan. Tidak ada rencana besar. Hanya kesediaan untuk tidak berpaling ketika hidup orang lain bersinggungan langsung dengan keyakinannya sendiri.

Pertemuan hari itu menghapus satu ilusi yang selama ini ia rawat: bahwa ia bisa memahami segalanya dari jarak aman, dari cerita, dari pertanyaan orang luar.

Sekarang ia tahu, ada hal-hal yang hanya bisa dimengerti ketika berdiri terlalu dekat… cukup dekat untuk mencium bau keringat, cukup dekat untuk merasakan getar tangan sendiri.

Dan jarak itu, sekali terlampaui, tidak pernah benar-benar bisa dipulihkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!