Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Bayang-Bayang Satria
Pagi itu, Mansion Valerius terasa sedikit lebih ringan setelah kepergian Bianca, namun bagi Aruna, beban di dadanya justru semakin berat. Rencana Dante untuk membawanya pergi dari negara ini terdengar seperti mimpi indah, sebuah pelarian menuju surga yang selama ini ia idamkan. Namun, kenyataan pahit selalu punya cara untuk menariknya kembali ke bumi.
Dante sedang duduk di ruang kerjanya yang luas, dikelilingi oleh layar monitor yang menampilkan berbagai data logistik. Kondisi fisiknya membaik dengan kecepatan yang mengagumkan, meski ia masih harus bergerak dengan hati-hati. Di atas meja kerjanya, terdapat sebuah amplop cokelat tua yang tampak kusam, kontras dengan perabotan mewah di ruangan itu.
Aruna masuk dengan membawa nampan berisi sarapan sehat. Ia melihat wajah Dante yang tampak lebih tegang dari biasanya.
"Enzo menemukan ini di brankas pribadi Bianca semalam," ucap Dante tanpa basa-basi saat Aruna meletakkan nampan. Ia menunjuk ke arah amplop cokelat itu. "Bianca menyimpannya selama dua tahun. Dia tidak pernah memberitahuku, karena dia tahu informasi ini bisa menghancurkan kendaliku atas organisasi."
Aruna meletakkan tangannya di atas meja, firasatnya mulai bekerja. "Apa itu, Dante? Tentang Marco lagi?"
Dante menggeleng pelan. Ia membuka amplop itu dan mengeluarkan beberapa lembar foto serta dokumen yang tampak seperti laporan intelijen internal. "Ini tentang suamimu, Satria Kirana."
Jantung Aruna berdegup kencang. Ia mengambil salah satu foto. Itu adalah foto Satria, namun bukan Satria yang ia kenal sebagai penjahit atau pekerja serabutan. Dalam foto itu, Satria mengenakan seragam taktis hitam, berdiri di samping seorang pria yang sangat dikenal Aruna: Marco.
"Apa... apa ini?" suara Aruna bergetar. "Satria tidak pernah mengenal Marco. Dia orang baik-baik, Dante. Foto ini pasti rekayasa."
"Aku juga berharap begitu, Aruna," Dante berdiri, mendekati Aruna dan memegang bahunya agar wanita itu tetap tenang. "Tapi Bianca bukan orang yang menyimpan sampah. Dokumen ini membuktikan bahwa Satria Kirana bukan hanya kebetulan menemukan disket itu di pelabuhan. Dia adalah salah satu kurir terbaik Marco sebelum dia bertemu denganmu."
Aruna menggeleng keras, air mata mulai menggenang. "Tidak mungkin. Kami hidup sederhana, bahkan sering kekurangan. Jika dia bekerja untuk mafia, kenapa kami harus berhutang pada rentenir?"
Dante mengambil dokumen lain, sebuah laporan pengkhianatan. "Karena dia mencoba keluar. Satria jatuh cinta padamu, Aruna. Dia ingin memberimu kehidupan yang bersih. Dia mencuri disket itu bukan untuk memeras Marco, tapi sebagai 'asuransi' agar Marco membiarkannya pergi dan memulai hidup baru bersamamu di Jalan Kenanga. Dia menyembunyikan identitas aslinya darimu selama bertahun-tahun untuk melindungimu."
Aruna terduduk di kursi kerja Dante, merasa seolah seluruh fondasi hidupnya runtuh. Pria yang ia cintai, pria yang ia tangisi selama dua tahun, ternyata adalah seorang pria yang hidup dalam kebohongan besar. Satria yang lembut, yang selalu pulang membawa bunga dan mencium kening Bumi, ternyata memiliki tangan yang mungkin pernah berlumuran darah.
"Jadi... kematiannya..." bisik Aruna.
"Kematiannya adalah hukuman karena dia melanggar kode etik Marco," sambung Dante dengan suara rendah. "Dan alasan kenapa disket itu tidak pernah ditemukan sampai sekarang adalah karena Satria tidak pernah menyembunyikannya di pelabuhan. Dia menyembunyikannya di suatu tempat yang hanya kau yang tahu."
Aruna menatap Dante dengan tatapan kosong. "Aku tidak tahu apa-apa, Dante. Dia tidak pernah menitipkan apa pun padaku."
"Pikirkan lagi, Aruna. Sesuatu yang dia berikan padamu tepat sebelum dia meninggal. Sesuatu yang tampak tidak berharga, tapi dia bersikeras agar kau menjaganya."
Aruna mencoba memutar kembali memorinya ke malam tragis dua tahun lalu. Satria pulang dengan tergesa-gesa, wajahnya cemas namun ia mencoba tersenyum. Ia memberikan sebuah hadiah ulang tahun untuk Bumi lebih awal—sebuah boneka beruang tua yang ia beli dari pasar loak, katanya. Satria bilang boneka itu istimewa karena memiliki "jantung" yang kuat.
"Boneka beruang Bumi," bisik Aruna. "Dia bilang boneka itu punya jantung."
Dante segera memanggil Enzo melalui interkom. "Enzo! Bawa Bumi dan semua mainannya ke ruang kerja sekarang!"
Beberapa menit kemudian, Bumi masuk dengan wajah ceria, memeluk boneka beruang lusuhnya yang berwarna cokelat. Aruna segera mengambil boneka itu dari tangan Bumi, membuat bocah itu sedikit bingung.
"Ibu? Kenapa Beruang dibawa?" tanya Bumi polos.
Aruna menatap Dante, lalu dengan tangan gemetar, ia meraba bagian dada boneka itu. Ada sesuatu yang keras di dalamnya, terbungkus rapi di antara kapas-kapas tua. Dengan menggunakan gunting kecil dari laci meja Dante, Aruna merobek jahitan di punggung boneka itu.
Sebuah flashdisk kecil berwarna perak terjatuh di atas meja.
Dante segera mengambilnya dan memasukkannya ke dalam laptop. Ruangan itu menjadi sunyi senyap saat ribuan baris data mulai muncul di layar. Itu bukan hanya daftar pengiriman senjata. Itu adalah daftar semua pejabat pemerintah, polisi, dan bahkan petinggi mafia—termasuk beberapa orang di dalam organisasi Valerius—yang berada di bawah kendali Marco.
"Ini adalah bom waktu," gumam Dante, matanya bergerak cepat membaca nama-nama di layar. "Satria menyimpan daftar ini sebagai jaminan. Jika dia mati, dia ingin daftar ini jatuh ke tangan yang tepat untuk menghancurkan seluruh kekaisaran Marco."
"Tapi dia tidak pernah memberitahuku cara menggunakannya," ucap Aruna pedih. "Dia membiarkanku hidup dalam ketakutan selama dua tahun tanpa tahu bahwa aku memegang kunci kehancuran mereka."
"Dia melakukannya karena dia tidak ingin kau menjadi target, Aruna," Dante menutup laptopnya. "Tapi sekarang, rahasia ini sudah keluar. Bianca sudah tahu, dan itu artinya Marco juga sudah tahu melalui jaringan yang Bianca hubungi sebelum dia mati."
Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah gerbang depan mansion, diikuti oleh suara rentetan tembakan. Sistem keamanan mansion mulai mengeluarkan suara peringatan yang melengking.
"Tuan! Mereka menyerang gerbang utama!" suara Enzo terdengar panik dari pengeras suara. "Ini bukan serangan kecil. Mereka membawa tentara bayaran!"
Dante meraih senjatanya, wajahnya kembali menjadi topeng kematian. "Aruna, bawa Bumi ke ruang bawah tanah yang paling dalam. Sekarang!"
"Dante, bagaimana denganmu?" Aruna memegang tangan Dante, ketakutan luar biasa menyergapnya.
"Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Mereka menginginkan flashdisk ini. Selama mereka pikir aku memegangnya, mereka tidak akan mencarimu," Dante memberikan flashdisk itu kembali pada Aruna. "Simpan ini. Jika terjadi sesuatu padaku, berikan ini pada detektif bernama Miller. Dia satu-satunya polisi yang jujur di kota ini."
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu lagi!" tangis Aruna.
Dante mencium kening Aruna dengan cepat dan penuh perasaan. "Kau harus hidup untuk Bumi, Aruna. Pergilah!"
Enzo muncul dan menarik Aruna serta Bumi menuju lorong rahasia di balik rak buku. Aruna menatap punggung Dante untuk terakhir kalinya sebelum pintu rahasia itu tertutup. Dante berdiri di tengah ruang kerja, memegang dua pistol, siap menghadapi badai yang datang karena dosa masa lalu suaminya.
Di dalam terowongan bawah tanah yang gelap, Aruna memeluk Bumi erat-erat. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan: suaminya, Satria, adalah orang yang memulai semua kekacauan ini, dan Dante—pria yang seharusnya menjadi musuhnya—adalah orang yang harus membayar harganya.
Suara tembakan di atas sana semakin gila. Aruna bisa mendengar kaca-kaca mansion yang pecah dan teriakan orang-orang. Di tangannya, ia menggenggam flashdisk perak itu—sebuah benda kecil yang telah merenggut nyawa suaminya dan kini mungkin akan merenggut nyawa pria yang baru saja ia cintai.
"Ibu, apakah Paman Robot akan menang lagi?" tanya Bumi di tengah kegelapan, suaranya gemetar.
Aruna tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa berdoa agar monster yang ia selamatkan di depan pintunya waktu itu benar-benar tidak bisa mati. Namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa malam ini, hutang darah tidak akan bisa dibayar dengan emas atau perlindungan. Malam ini, seseorang harus memberikan segalanya agar yang lain bisa melihat matahari esok pagi.
Sementara itu, di lantai atas, Dante berdiri di tengah kepulan asap. Di depannya, pintu ruang kerja hancur berkeping-keping. Seseorang melangkah masuk dari balik debu. Bukan Marco, melainkan seseorang yang jauh lebih berbahaya: saudara laki-laki Satria yang selama ini dianggap sudah meninggal, yang kini bekerja sebagai algojo nomor satu Marco.
"Di mana hartaku, Valerius?" suara pria itu terdengar mirip dengan Satria, membuat bulu kuduk Dante meremang.
Perang keluarga telah dimulai, dan Aruna terjebak di tengah-tengah rahasia yang lebih gelap dari malam itu sendiri.