Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Aku Ikuti Cara Mainnya
Abel menggelengkan kepalanya kuat-kuat, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya. "Nggak... ini nggak mungkin, Kak. Kakak pasti edit foto ini, kan? Kakak jago IT, Kakak bisa bikin apa aja buat misahin aku sama Arslan!"
Suaranya bergetar hebat. Ia ingin menolak kenyataan bahwa pelukan hangat dan ciuman lembut di gudang tadi hanyalah sebuah transaksi senilai 30 juta rupiah. Baginya, Arslan adalah satu-satunya orang yang melihat dirinya, bukan hanya tumpukan buku kalkulusnya.
Reno menghela napas panjang, meredam amarahnya agar tidak meledak di depan adiknya yang sedang hancur. Ia menutup laptopnya pelan dan menatap Abel dengan tatapan yang kini lebih tenang namun sangat serius.
"Abel, gue bisa aja seret cowok itu sekarang juga dan bikin dia cacat. Tapi itu nggak bakal bikin lo sadar," Reno mengusap wajahnya. "Sekarang gue kasih lo dua pilihan. Pilihan ini bakal nentuin seberapa besar lo menghargai diri lo sendiri, dan seberapa pantas dia untuk lo."
Reno mengacungkan dua jarinya.
"Lo blokir nomornya, lo anggep dia nggak pernah ada, dan lo balik jadi Abel yang dulu. Gue bakal urus sisanya. Gue bakal pastiin dia nggak bakal berani liat muka lo lagi di sekolah, apalagi nyentuh lo." Reno menjeda ucapannya dan menatap Abel lekat-lekat.
"Lo tetep pura-pura jadi 'si culun' yang tergila-gila sama dia. Ikuti permainannya, tapi kali ini lo adalah spy gue. Kita bakal cari tahu kapan tepatnya dia mau narik taruhan itu, dan di ,detik dia pikir dia udah menang, kita bakal hancurin dia, dan buat dia menyesal atas apa yang dia lakuin ke lo. Lo paham, kan?"
Reno menatap mata Abel yang sembab. "Kalau lo nggak percaya sama bukti digital gue, maka lo harus denger sendiri dari mulut dia saat dia ngerasa udah di atas angin. Pilih mana, Bel?"
Abel terdiam. Isaknya perlahan mereda, digantikan oleh rasa sesak yang luar biasa di dadanya. Kecewa, marah, dan malu bercampur menjadi satu. Ia menatap kacamata bulatnya yang tergeletak di meja—kacamata yang tadi dilepas oleh Arslan dengan penuh kepalsuan.
"Aku pilih nomor dua, Kak," bisik Abel, suaranya kini terdengar dingin dan tajam. "Aku mau liat seberapa jauh dia bisa akting. Aku mau liat wajahnya saat dia tahu kalau 'debu' yang dia remehin ini bisa bikin dia kehilangan segalanya."
Reno tersenyum tipis, sebuah senyum penuh rencana. "Pilihan yang cerdas. Besok di sekolah, lo tetep jadi Abel yang 'manut'. Tapi inget satu hal, Bel: jangan kasih hati lo lagi. Hati itu mahal, nggak bisa dibeli cuma pakai 30 juta."
Keesokan paginya, Abel berangkat ke sekolah dengan skenario baru. Di dalam tasnya, bukan hanya ada buku pelajaran, tapi ada alat perekam kecil yang sudah disiapkan Reno.
Saat melewati lapangan basket, Arslan melambai padanya dengan senyum karismatik yang biasa. Abel membalasnya dengan senyum malu-malu yang dibuat-buat, persis seperti Abel yang dulu.
Arslan berbisik pada Bimo di sampingnya, "Liat kan? Makin nempel. Gue rasa minggu depan gue udah bisa klaim uangnya."
Abel mendengar itu samar-samar. Ia mengepalkan tangannya di balik buku ensiklopedia. Permainan dimulai, Arslan, batinnya.
Seperti biasa, Arslan mengirimkan sebuah pesan singkat pada Abel untuk menemuinya di tempat biasa. Abel tersenyum, senyumnya kali ini bukan karena senang atau rasa kagum, melainkan sebuah senyuman yang akan membalaskan rasa sakit hatinya.
Angin di atap gedung sekolah sore itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Abel berdiri mematung, menatap punggung Arslan yang sedang melihat ke arah lapangan basket di bawah. Jika dulu pemandangan ini membuatnya berdebar kagum, kini yang ia rasakan hanyalah rasa sesak di dada. Perasaan kecewa dan tak percaya.
"Abel, lo datang," ujar Arslan sambil berbalik, memasang senyum paling menawan yang ia miliki. Ia melangkah mendekat, mencoba meraih tangan Abel, namun Abel dengan halus menghindar dengan pura-pura merapikan kacamatanya.
"Ada apa lagi, Arslan? Aku nggak bisa lama-lama, takut Kak Reno curiga," ucap Abel, suaranya tetap lembut dan bergetar—sebuah akting yang sempurna untuk menutupi api kemarahan di dadanya.
Arslan menghela napas dramatis, seolah ia adalah pahlawan dalam novel romansa yang teraniaya. "Gue cuma mau bilang... jangan dengerin apa pun yang Kak Reno bilang soal gue. Dia cuma mau misahin kita karena dia nggak mau lo dewasa. Gue janji, Bel, setelah lulus nanti, gue bakal buktiin ke dia kalau gue serius sama lo. Gue bakal bawa lo keluar dari 'penjara' kakak lo itu."
Abel tersenyum. Sebuah senyuman yang Arslan artikan sebagai tanda takluk, padahal itu adalah senyum penghinaan. 'Penjara?' batin Abel. Justru Kak Reno yang berusaha menyelamatkan aku dari pemangsa kayak kamu.
"Kamu beneran sayang sama aku, Lan? Bukan karena aku pintar atau culun... Atau karena hal lain?" tanya Abel, memancing. Di balik saku kardigannya, ponselnya sedang aktif melakukan panggilan suara ke ponsel Reno yang sedang merekam segalanya.
"Tentu saja, Sayang. Lo itu unik. Lo beda dari cewek-cewek lain yang cuma mentingin gaya hidup dan gosip. Gue butuh cewek kayak lo di samping gue," jawab Arslan lancar, tanpa tahu bahwa setiap kata manisnya adalah paku yang memantapkan Abel untuk menghancurkannya.
Tiba-tiba, ponsel Arslan bergetar. Sebuah pesan masuk dari grup tim basketnya. Arslan sedikit menjauh untuk membacanya, tak menyadari Abel mengintip dari pantulan kaca jendela di dekat mereka.
Bimo (PG): Lan, ntar malem perayaan juara di rumah Dion. Lo bawa si culun ya? Kita mau rayain kemenangan tim sekaligus 'kemenangan' taruhan lo. 30 juta udah cair nih!
Arslan mengetik balasan dengan cepat: "Beres. Dia udah makin 'jinak'. Gue bawa dia malem ini sebagai trofi kemenangan gue."
Arslan kembali menoleh ke Abel dengan wajah tanpa dosa. "Abel, nanti malam ada acara makan-makan sama anak tim basket. Lo mau ikut gak? Sekalian gue mau ngenalin lo secara resmi ke mereka. Gue mau semua orang tahu kalau lo punya gue."
Abel merasakan hatinya perih, bukan karena cinta, tapi karena tidak menyangka ada manusia sejahat ini. "Acara resmi? Boleh, aku ikut."
"Bagus. Gue jemput jam 7 ya. Pakai baju yang paling cantik," ucap Arslan sambil mengacak rambut Abel, dan hendak pergi meninggalkan Abel.
"Gak usah, kalo kamu jemput aku, Kak Reno pasti gak akan izinin."
Arslan menghentikan langkahnya dan berbalik tersenyum pada Abel. "Oke, nanti gue share lok." Arslan mengusap kepala Abel dengan lembut dan berjalan meninggalkan Abel yang menatap tajam punggung pria itu.
Begitu Arslan menghilang di balik pintu, Abel mengeluarkan ponselnya. "Kak... kamu denger semuanya?"
"Gue denger setiap detiknya, Bel," suara Reno dari seberang telepon terdengar sangat dingin dan berbahaya. "Siapkan gaun terbaik lo. Malam ini, kita bakal bikin pesta perayaan itu jadi malam pemakaman buat reputasi Arslan Raendra."
Abel menatap langit yang mulai jingga. Air matanya jatuh satu tetes, tapi kali ini bukan karena sedih. Itu adalah tetes air mata terakhir yang ia berikan untuk Arslan. Mulai detik ini, "gadis kutu buku" itu sudah mati, digantikan oleh seseorang yang siap memberikan pelajaran tentang arti rasa sakit.
"Selamat tinggal, Arslan. Semoga kita tidak bertemu lagi. Asinglah seperti dulu,"