"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Kehangatan di Balik Badai
Layar laptop yang berubah menjadi merah menyala dengan tulisan [I SEE YOU, CLARISSA] membuat napas Clarissa tercekat. Jantungnya berdentum kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Kamar mewah di Villa Black Diamond yang tadinya terasa seperti tempat perlindungan, kini mendadak terasa seperti kotak mematikan yang terkunci.
"Paman Hendrawan... bagaimana bisa?" bisik Clarissa dengan bibir bergetar.
Pria itu adalah sahabat ayahnya, orang yang membimbing Clarissa di dunia bisnis sejak ia masih remaja. Ternyata, di balik senyum bijaksananya, pria itu adalah ular yang menunggu waktu untuk menelan seluruh kekayaan keluarga Wijaya.
KLIK.
Tiba-tiba, seluruh lampu di mansion itu padam. Kegelapan total menyelimuti ruangan. Sunyi, hingga suara gesekan ranting pohon di luar terdengar seperti bisikan iblis.
BRAK!
Pintu kamar Clarissa didobrak dari luar. Clarissa secara insting mengambil lampu meja dari keramik dan mengangkatnya tinggi-tinggi, siap menghantam siapa pun yang masuk.
"Ini aku!" suara berat Devan terdengar di tengah kegelapan.
Clarissa menurunkan lampu itu saat bayangan tubuh jangkung Devan mendekat. Devan segera menarik Clarissa ke dalam dekapannya, satu tangannya membekap mulut Clarissa agar tetap diam, sementara tangan lainnya memegang sebuah pistol semi-otomatis.
"Jangan bersuara. Sistem keamanan kita diretas dari luar. Ada penyusup di dalam hutan," bisik Devan tepat di telinga Clarissa.
Tubuh Clarissa menempel rapat pada dada bidang Devan. Ia bisa merasakan detak jantung pria itu yang tenang namun waspada, serta hawa panas yang terpancar dari tubuh Devan. Dalam kondisi hidup dan mati ini, entah kenapa, pelukan Devan adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa masih berpijak di bumi.
"Ikut aku. Kita tidak bisa tetap di kamar ini," Devan menarik Clarissa menuju sebuah pintu tersembunyi di balik lemari besar.
Mereka masuk ke dalam sebuah ruang aman (panic room) yang sempit. Ruangan itu hanya berisi sebuah monitor CCTV cadangan, satu tempat tidur kecil, dan persediaan medis. Begitu pintu tertutup, Devan menguncinya secara elektronik.
"Kita terjebak?" tanya Clarissa dengan suara parau.
"Hanya sampai tim keamananku dari kota datang. Frekuensi ponsel kita sedang diacak, tapi alarm darurat sudah terkirim secara otomatis," Devan meletakkan senjatanya di meja dan melepas dasinya dengan kasar, tampak frustrasi.
Clarissa duduk di pinggiran tempat tidur yang sempit. Ia gemetar, bukan hanya karena takut, tapi karena adrenalin yang mulai menurun meninggalkan rasa lemas yang luar biasa. Devan memperhatikannya. Pria dingin itu menghela napas, lalu duduk di samping Clarissa.
"Kau melihat sesuatu di laptop tadi, bukan?" tanya Devan tanpa menoleh.
Clarissa mengangguk pelan. "Hendrawan. Dia dalang di balik semua ini. Dia bekerja sama dengan Angelica. Mereka ingin menghancurkan K-Corp dan... menyingkirkanku sepenuhnya."
Devan terdiam sejenak, lalu ia meraih tangan Clarissa yang dingin. Ia menggenggamnya erat, menggosokkan jempolnya di punggung tangan Clarissa untuk memberikan kehangatan. "Aku sudah menduganya. Hendrawan terlalu bersih selama ini, dan itu mencurigakan. Tapi sekarang, kau tidak perlu memikirkannya sendirian."
Clarissa menatap Devan. Di bawah cahaya remang-remang lampu darurat yang berwarna kemerahan, wajah Devan tampak sangat tampan dan rapuh di saat yang bersamaan. "Kenapa kau begitu peduli, Devan? Aku hanya jiwa yang meminjam tubuh seorang pelayan."
"Berhenti mengatakan itu!" Devan tiba-tiba memutar tubuhnya, memegang kedua bahu Clarissa dan memaksanya untuk menatap matanya. "Kau pikir aku peduli pada tubuh ini? Sejak pertama kali kau menatapku di lorong kantor itu, aku tahu itu kau. Tatapan sombong itu, cara kau menantangku... hanya ada satu wanita di dunia ini yang berani melakukannya padaku."
Mata Devan berkilat penuh emosi. "Aku menyesal, Clarissa. Aku menyesal karena selama lima tahun kita bersaing, aku tidak pernah mengatakan padamu bahwa aku mengejarmu di dunia bisnis hanya agar kau selalu melihat ke arahku. Aku rivalmu karena itu satu-satunya cara agar aku tetap ada di radarmu."
Clarissa tertegun. "Devan..."
"Sekarang setelah kau kembali, meskipun dalam tubuh yang berbeda, aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi. Bahkan jika aku harus membakar seluruh dunia untuk melindungimu," ucap Devan dengan suara dalam yang bergetar.
Tanpa sadar, Clarissa mendekatkan wajahnya. Rasa rindu yang selama ini ia tekan, rasa kesepian saat ia berjuang sendirian sebagai CEO, tiba-tiba meledak. Ia membutuhkan pegangan, dan Devan ada di sana.
Devan tidak menunggu lagi. Ia menangkup wajah Clarissa dan mendaratkan ciuman yang intens dan penuh perasaan. Kali ini bukan di dahi, tapi di bibir. Sebuah ciuman yang berisi pengakuan, kerinduan, dan janji perang terhadap siapa pun yang berani menyentuh miliknya.
Clarissa membalas ciuman itu, tangannya merayap ke tengkuk Devan, menjambak pelan rambut pria itu. Di ruang sempit yang dingin itu, hanya ada panas dari napas mereka yang saling memburu.
Setelah beberapa saat, Devan melepaskan ciumannya, namun tetap menempelkan dahinya pada dahi Clarissa. "Malam ini, tempat tidur ini hanya satu. Dan kau tidak akan tidur sendirian. Aku tidak akan membiarkanmu lepas dari jangkauanku, bahkan saat kau memejamkan mata."
Clarissa mengangguk pelan. Ia merasa aman dalam dominasi Devan. Mereka berbaring di tempat tidur sempit itu dengan posisi berpelukan. Kepala Clarissa bersandar di dada Devan, mendengarkan detak jantung pria itu yang menjadi nina bobo baginya.
"Devan," bisik Clarissa saat ia mulai terbuai kantuk.
"Hmm?"
"Lestari... tubuh ini memiliki luka di punggungnya. Ayahnya meninggal karena kecelakaan di gudang Kenzo. Aku ingin kau mencari berkas kecelakaan itu lima tahun lalu."
Devan mengeratkan pelukannya. "Apapun untukmu, Ratu. Besok pagi, dunia akan tahu bahwa singa yang tidur telah bangun. Kita akan menghancurkan mereka satu per satu."
Keesokan paginya, cahaya matahari menyusup melalui celah kecil di ruang aman. Clarissa terbangun karena suara alarm di monitor. Ia melihat Devan sudah berdiri di depan layar dengan wajah yang sangat gelap.
"Ada apa?" tanya Clarissa sambil duduk dan merapikan rambutnya yang berantakan.
"Lihat ini," Devan menunjuk ke arah berita pagi di layar monitor yang tersambung ke internet.
"Skandal Baru: Gadis Pelayan yang Dekat dengan Devan Mahendra Diduga Sebagai Pelaku Pengeboman Mobil CEO K-Corp. Polisi Menemukan Jejak Sidik Jari Lestari di Lokasi Kejadian."
Wajah Clarissa membeku. "Sidik jari? Bagaimana mungkin? Aku bahkan tidak mendekati mobil itu!"
"Hendrawan bergerak lebih cepat dari yang aku kira. Dia memalsukan bukti," Devan mengambil jasnya dan memeriksa senjatanya. "Kita harus pergi dari sini sekarang. Mansion ini sudah tidak aman lagi."
Tepat saat itu, suara helikopter terdengar di atas villa. Bukan helikopter bantuan, tapi helikopter hitam tanpa logo.
"Mereka datang untuk menjemputmu, atau membunuhmu," Devan menarik Clarissa berdiri. "Pakai sepatu ini. Kita akan melakukan pelarian yang sesungguhnya."
Namun, saat mereka hendak keluar, sebuah suara dari interkom ruang aman menggema. Suara Angelica yang melengking dan penuh kemenangan.
"Kakak... atau haruskah aku panggil Lestari? Keluarlah. Paman Hendrawan ingin menyapa konsultan baru Tuan Devan. Jika kau tidak keluar dalam tiga menit, kami akan meledakkan seluruh villa ini bersama Tuan Devan tercintamu!"
Clarissa menatap Devan dengan tatapan tajam. "Aku tidak akan membiarkanmu mati bersamaku, Devan."
"Jangan berani-berani berpikir untuk menyerahkan diri, Clarissa!" ancam Devan.
Clarissa tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh rencana. "Siapa bilang aku akan menyerah? Aku hanya akan memberikan mereka 'pertunjukan' yang mereka inginkan."
Clarissa mengambil sebuah pisau lipat kecil dari meja medis dan menyembunyikannya di balik gaunnya. "Devan, percayalah padaku kali ini. Buka pintunya."