💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞
______________________________________________
"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?
Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.
Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.
Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.
Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Cia mempercepat langkahnya, mengabaikan keberadaan Aksa. Kepala terangkat, sorot mata lurus ke depan, tapi setiap sel tubuhnya terasa panas oleh tatapan Aksa yang membuntutinya. Sedikit salah tingkah, ia berusaha mati-matian menyembunyikannya di balik tembok sikap dingin. Jantungnya berdebar tak karuan. "Apasih, nih cowok! Gak ada kerjaan apa, ya?" gerutunya dalam hati, mencoba fokus pada langkah kakinya.
Di koridor, Vano baru saja keluar dari toilet ketika matanya menangkap sosok Aksa mengekori Cia. Naluri protektif seorang kakak langsung menyala. Bukan karena curiga, tapi karena ia tahu betul adiknya itu benci diganggu. Ia hanya ingin memastikan Cia nyaman.
Dengan langkah santai namun penuh perhitungan, Vano menarik lengan Aksa, menghentikan langkah pemuda itu. Kening Aksa berkerut bingung, sementara Vano menatapnya datar, tanpa ekspresi yang bisa dibaca.
"Lo mau apa? Ngapain narik-narik gue?" tanya Aksa, nada suaranya tenang, namun tegas. Ia tak ingin cari masalah, hanya butuh penjelasan Vano.
Vano mengangkat sebelah alis. "Gue cuma mau ingetin lo aja, jangan ganggu Cia. Dia gak suka di ganggu," balasnya, dengan nada memperingatkan yang membuat Aksa sedikit tersentak.
Aksa menghela napas. "Kayaknya lo kenal banget sama Cia? Lo suka sama dia juga?" pancing Aksa, mencoba membaca situasi.
Vano terdiam sejenak, sorot matanya berubah. "Itu bukan urusan lo!" jawabnya, lalu tersenyum misterius.
"Jelas itu urusan gue! Karena gue suka sama dia!" aku Aksa, berharap Vano akan mundur.
Vano sama sekali tak terkejut. Ia bisa melihat ketertarikan Aksa pada adiknya. "Gue gak peduli sama perasaan lo. Gue cuma gak mau lo ganggu dia! Kalau sampai lo berani macam-macam, lo berurusan sama gue!" tegas Vano, matanya menyiratkan keseriusan yang tak main-main.
"Gue juga gak peduli sama ancaman lo. Gue bakal buktiin kalau gue pantas buat Cia. Kalau lo juga suka sama dia, silakan, kita bisa bersaing secara sehat. Siapa pun yang Cia pilih nanti, harus terima dengan lapang dada, dan menerima ke kalangannya." tantang Aksa, tanpa sadar telah mengajak calon kakak iparnya berduel untuk memperebutkan adik kembarnya sendiri.
"Dia kembaran gue, bodoh!" batin Vano, menahan senyum geli.
"Oke! Siapa takut? Tapi gue gak yakin Cia bakal milih cowok kayak lo!" balas Vano, dengan senyum mengejek.
"Kita lihat aja nanti!" desis Aksa penuh percaya diri. Ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Vano yang tertegun.
Vano memperhatikan Cia dari balik jendela, ia sedang duduk di bangkunya, asyik mengobrol dengan Varo. Seolah tak menyadari ketegangan yang baru saja terjadi. Ia tersenyum tipis, bangga pada adiknya yang selalu bisa mengatasi masalahnya sendiri.
"Dasar gadis Bar-bar!" batin Vano, sebelum akhirnya beranjak menuju kelasnya.
Di dalam kelas, Viona yang baru selesai menjalani hukuman membersihkan toilet, menyeringai sinis. Ia sempat melihat Aksa dan Vano berdebat dan akhirnya Akasa pergi dengan wajah kesal. "Rasain lo, Cia! Gak akan gue biarin lo tenang," gumamnya pelan.
Tiba-tiba, Cia menoleh ke belakang, ke arah Viona dan teman-temannya yang berbisik-bisik sambil menatapnya sinis.
Cia menghela napas dalam hati, merasa muak dengan kehadiran Viona yang selalu mengganggu ketenangannya. Ia mencoba mengabaikannya dan kembali fokus pada percakapannya dengan saudara kembarnya, Varo.
Namun, Viona tak membiarkannya begitu saja. Ia berdiri dan menghampiri Cia dengan langkah angkuh, di ikuti tiga temannya.
"Hai, Cia," sapa Viona, dengan nada sok akrab "Kok diem aja? Lagi mikirin apa?"
Cia mendengus sinis. "Bukan urusan lo," jawabnya ketus.
Viona terkekeh pelan. "Santai aja dong, gak usah ngegas gitu," balasnya mengejek. "Gue cuma mau bilang, lo jangan terlalu seneng dulu. Ini belum berakhir."
Cia menatap Viona dengan tatapan menantang. "Mau Lo apa sih?" tanyanya dingin.
Viona menyeringai licik. "Lo bakal tau nanti," jawabnya, sebelum berbalik dan kembali ke bangkunya.
Cia menatap punggung Viona yang menjauh, merasa waspada. Ia tahu, Viona tak akan menyerah begitu saja. Ia harus siap menghadapi segala kemungkinan.
"Lo gak apa-apa?" tanya Varo, dengan nada khawatir. Ia melihat Cia tegang setelah berbicara dengan Viona.
Cia menghela napas dan mencoba tersenyum meyakinkan. "Gue gak apa-apa," jawabnya. "Cuma kesel aja sama Viona yang selalu cari masalah."
Varo mengangguk mengerti. Ia tahu Cia kembarannya itu bukanlah gadis lemah, yang begitu mudah di tindas, tapi ia tak akan membiarkan adiknya dalam bahaya, ia siap melindunginya.
Bel masuk berbunyi, memecah ketegangan. Cia dan Varo bertukar pandang, lalu bersiap memulai pelajaran.
_______&&_______
Di sudut koridor, Senja menunduk dalam-dalam. Hatinya perih mendengar percakapan Vano dan Aksa. Ia tak bisa memungkiri, ia menyimpan perasaan pada Vano teman pertamanya itu. Tapi ia sadar, Vano tak mungkin menyukainya.
Ia hanyalah gadis biasa, tak secantik, seberani, dan semenarik Cia. Ia merasa tak pantas bersanding dengan Vano yang sempurna.
"Mungkin gue emang cuma pantes jadi temennya aja," gumam Senja lirih. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia berusaha menahannya, tak ingin terlihat lemah.
Tiba-tiba, sebuah suara lembut menyapa telinganya. "Senja?"
Senja tersentak kaget dan mendongak. Ia melihat Vano berdiri di hadapannya, menatapnya dengan tatapan khawatir.
"Lo kenapa? Kok malah di sini?" tanya Vano lembut. "Bukannya udah bel masuk, lo gak ke kelas?"
Senja tergagap, tak tahu harus menjawab apa. Ia tak mungkin mengatakan bahwa ia patah hati karena percakapannya dengan Aksa.
"Gue ... gue cuma lagi gak enak badan," jawab Senja, berbohong. "Ini gue mau ke UKS."
Vano mengerutkan kening, menunjukkan rasa khawatir. "Sakit apa?" tanyanya khawatir sambil menelisik gadis di hadapannya dengan teliti, lalu tangannya terulur menyentuh kening Senja dengan punggung tangannya. "Iya badan lo sedikit hangat! Ayo gue antar ke UKS."
Senja merasakan jantungnya berdebar kencang karena sentuhan Vano. Ia berusaha mengabaikan perasaannya dan fokus pada kebohongannya.
Senja terkejut mendengar tawaran Vano. Ia tak menyangka Vano akan begitu perhatian padanya. Ia merasa senang, tapi juga merasa bersalah karena berbohong.
"Nggak usah," tolak Senja gugup. "Gue bisa sendiri kok. Lo kan harus ikut pelajaran."
"Nggak apa-apa," balas Vano meyakinkan. "Gue bisa minta izin sama guru. Kesehatan lo lebih penting."
Tanpa menunggu jawaban Senja, Vano langsung menggandeng tangannya dan membawanya menuju UKS. Senja hanya bisa pasrah mengikuti langkah Vano, merasakan kehangatan telapak tangannya yang menyentuh kulitnya.
Di dalam hati, Senja bertanya-tanya, apakah Vano benar-benar peduli padanya atau hanya merasa kasihan?
Namun, ia segera menepis pikiran-pikiran itu. Ia sadar diri, ia tak mungkin bisa bersaing dengan Cia untuk mendapatkan hati Vano. Cia terlalu sempurna untuknya.
Senja hanya bisa berharap, Vano akan selalu menjadi temannya. Ia tak ingin kehilangan teman seperti Vano, Varo dan juga Cia mereka sangat baik padanya.
Bersambung ...
🤭🤭
kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,