NovelToon NovelToon
Sang Penguasa Dan Pelayan Jelata

Sang Penguasa Dan Pelayan Jelata

Status: tamat
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Obsesi / Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:564
Nilai: 5
Nama Author: Alzahraira Nur

Di bawah kuasa Kaisar Jian Feng yang dingin dan tak terpuaskan, Mei Lin hanyalah pelayan jelata yang menyembunyikan kecantikannya di balik masker. Namun, satu pertemuan di ruang kerja sang Kaisar mengubah segalanya. Aroma jasmine dan tatapan lugu Mei Lin membangkitkan hasrat liar sang Penguasa yang selama ini mati rasa. Kini, Mei Lin terjebak dalam obsesi berbahaya pria yang paling ditakuti di seantero negeri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

danau kematian yang tenang

​Sinar matahari sore menembus celah jendela kamar Mei Lin, menyinari debu-debu yang beterbangan seiring dengan kesunyian yang mencekam. Tiba-tiba, pintu terbuka. Jian Feng melangkah masuk tanpa pengawalan. Tidak ada darah di jubahnya hari ini; ia mengenakan pakaian sutra biru tua yang membuatnya tampak lebih tenang.

​Ia mendekati Mei Lin yang sedang duduk di tepi ranjang. Dengan tangan yang biasanya menghunus pedang, ia perlahan mengangkat dagu Mei Lin dan menggunakan ibu jarinya untuk mengusap air mata yang membasahi pipi gadis itu.

​"Jangan menangis lagi, Tian-Zhi-Bao," bisik Jian Feng, suaranya terdengar luar biasa lembut, hampir seperti permohonan. "Keluargamu sudah aman. Aku sudah memberikan mereka rumah, kebun, dan emas. Mereka hidup sangat baik sekarang, lebih baik daripada saat mereka di desa kumuh itu."

​Mei Lin menatap mata Jian Feng, mencari kebohongan, namun yang ia temukan hanyalah kegelapan yang dalam. Jian Feng kemudian menunduk, bibirnya mendekat ke telinga Mei Lin. "Aku meminta maaf... atas rasa sakit yang kuberikan malam itu. Tapi kau harus mengerti, itu semua kulakukan agar kau tetap menjadi milikku."

​Mei Lin hanya bisa terdiam, tubuhnya masih sedikit gemetar. Namun, kelembutan itu segera berubah menjadi nada dingin yang mematikan.

​"Aku sudah mendengar desas-desus yang beredar di istana," lanjut Jian Feng. "Pria asing yang menolongmu itu sudah mati, bukan? Kau melihatnya sendiri saat aku menghabisinya. Atau... apakah kau ingin aku memburu setiap pria di negeri ini yang berani melirikmu dengan mata kotor mereka?"

​Mei Lin menggeleng cepat, ketakutan mulai merayap kembali. Jian Feng tersenyum tipis, lalu menarik tangan Mei Lin. "Ayo, ikut denganku. Kau butuh udara segar. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan ke tepi danau."

​Mereka berjalan menuju Danau Teratai, sebuah tempat yang biasanya menjadi simbol kedamaian di istana. Jian Feng menggenggam tangan Mei Lin dengan erat, seolah tak ingin melepaskannya barang sedetik pun. Sesampainya di tepi danau, suasana tampak indah, namun ada barisan prajurit yang berdiri tegak mengelilingi sebuah area.

​"Lihatlah pertunjukan itu, Mei Lin," ucap Jian Feng sambil menunjuk ke tengah danau.

​Mata Mei Lin membelalak ngeri. Di sana, tiga orang pelayan wanita—yang ternyata adalah kaki tangan Ibu Suri dan mereka yang menyebarkan fitnah bahwa Mei Lin merindukan pria lain—sedang diikat di atas papan kayu yang berat. Dengan aba-aba singkat dari Jian Feng, papan itu dibalik, menenggelamkan para pelayan itu hidup-hidup ke dalam air danau yang dingin.

​Suara deburan air dan teriakan yang teredam air memenuhi udara sebelum akhirnya semuanya menjadi sunyi. Permukaan danau kembali tenang, seolah tidak pernah terjadi pembunuhan di sana.

​"Mereka harus tahu dengan siapa mereka berurusan," desis Jian Feng, matanya tetap tertuju pada permukaan air yang tenang. "Siapa pun yang berani mengotori namamu dengan fitnah rendahan, atau membicarakan pria lain di hadapanmu, akan berakhir di dasar danau ini. Aku tidak akan membiarkan lidah mereka merusak milikku."

​Mei Lin merasa lututnya lemas. Kelembutan yang ditunjukkan Jian Feng di kamar tadi ternyata hanyalah cara untuk menunjukkan bahwa ia memiliki kuasa atas hidup dan mati. Jian Feng berpaling padanya, mengelus rambut Mei Lin dengan kasih sayang yang menyimpang.

​"Sekarang, tidak akan ada lagi yang berani bicara buruk tentangmu. Kau tenang saja," ucap Jian Feng dengan senyum yang tidak mencapai matanya.

​Di kejauhan, dari balik pilar paviliun, Lin Hua menyaksikan kejadian itu dengan jantung yang berdegup kencang. Ia menyadari bahwa Jian Feng jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Namun, alih-alih takut, ambisi Lin Hua justru semakin membara. Ia tahu ia harus lebih berhati-hati dalam bermain api dengan sang naga, sementara Ibu Suri Aurora yang mendengar kabar itu hanya tersenyum dingin, menunggu saat yang tepat untuk memasukkan Putri Isabella dari Negeri Timur ke dalam permainan berdarah ini.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!