NovelToon NovelToon
Api Jatayu Di Laut Banda

Api Jatayu Di Laut Banda

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kutukan / Dokter / Romansa Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga / Harem
Popularitas:395
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Altar di Bawah Ombak

Pulau tersembunyi itu bukan pulau biasa. Dari kejauhan, ia tampak seperti batu karang raksasa yang muncul dari laut dengan paksa, permukaannya hitam mengkilap seperti obsidian basah, dikelilingi kabut tebal yang bergerak seperti napas makhluk hidup. Ombak di sekitarnya tidak mengikuti pola biasa—ia berputar melingkar, membentuk pusaran kecil yang menolak perahu mendekat, seolah laut sendiri menjaga rahasia di dalam.

Banda berdiri di haluan perahu, bola cahaya emas dari empat kristal melayang di depannya seperti lentera yang tak pernah padam. Angin laut membawa bau garam, belerang samar, dan sesuatu yang lebih tua—bau lumpur kering yang pernah basah oleh darah. Dadanya terasa sesak, bukan karena kutukan yang berbisik lagi, melainkan karena ingatan yang muncul tanpa diundang: Garini yang melahirkan di tengah badai, api Phoenix-nya membara di atas ombak yang mengamuk, dan ayahnya yang memeluk bayi kecil sambil menangis.

“Kita hampir sampai,” kata Jatayu pelan dari belakang. Suaranya tenang, tapi tangannya yang memegang tali layar gemetar sedikit. “Kabut itu… seperti penghalang terakhir. Kalau kita lewati, tidak ada jalan kembali sebelum kutukan selesai.”

Bayu mengemudikan perahu dengan hati-hati, mata terus memandang pusaran air. “Aku tidak suka ini. Ombaknya seperti… bernapas. Seperti ada yang hidup di bawah sana.”

Banda tidak menjawab. Ia hanya menatap bola cahaya yang semakin berputar cepat, seolah merespons kedekatan pulau. Cahaya itu sekarang berwarna emas penuh, tapi di dalamnya ada kilau hijau kecil—seperti mata Kirana yang masih tersenyum dari kejauhan.

Perahu akhirnya menembus kabut. Udara di dalam terasa lebih berat, lembab, dan panas seperti napas makhluk raksasa. Pantai hitam menyambut mereka—pasirnya bukan pasir, melainkan serpihan batu vulkanik yang berkilau seperti kaca pecah. Di tengah pantai, mulut gua besar terbuka, gelap, tapi dari dalamnya cahaya samar berkedip seperti denyut nadi.

Mereka mengikat perahu ke batu karang tajam, lalu berjalan menuju gua. Langkah mereka bergema di pasir hitam, setiap jejak meninggalkan bekas yang segera tertutup oleh pasir bergerak pelan—seolah pulau ini hidup dan bernapas.

Di dalam gua, udara semakin panas. Dinding batu dipenuhi ukiran kuno: naga dan phoenix saling melingkar, tapi di antara mereka ada retakan hitam yang mengalir seperti darah kering. Di ujung gua, altar batu putih berdiri—sama seperti visi yang pernah dilihat Banda. Di atas altar, kristal cahaya asli sudah ada di sana, lebih besar dari yang dibawa Naga Cahaya, berdenyut putih murni seperti jantung yang tertidur.

Tapi altar itu tidak sendirian.

Dari retakan di lantai, kegelapan luar mulai merembes—bayang hitam cair yang bergerak seperti asap, membentuk bentuk-bentuk samar: tangan, wajah tanpa mata, mulut yang terbuka lebar tanpa suara. Bayang itu tidak menyerang langsung. Ia hanya mengelilingi altar, seperti penjaga yang menunggu perintah.

Banda maju pelan, bola cahaya emas di depannya menyala lebih terang. “Ini tempatnya. Di sini Garini melahirkan aku. Di sini kutukan pertama kali aktif.”

Jatayu menggenggam goloknya. Api Phoenix menyala samar di bilahnya. “Kristal itu… kalau kita satukan dengan empat kristal lain, mungkin kita bisa mematahkan kutukan. Tapi kegelapan ini… ia menunggu kita melakukan itu.”

Bayu memegang tombak ikan tua. “Kalau kita satukan, apa yang terjadi? Apa kutukan benar-benar hilang?”

Banda menatap kristal cahaya asli. “Aku tidak tahu. Tapi aku merasakan… kalau kita tidak lakukan sekarang, kegelapan ini akan menelan kita semua. Dan dunia di luar pulau ini.”

Ia mengeluarkan tiga kristal lain dari tas. Merah, biru, abu-abu—semuanya berdenyut selaras dengan kristal putih di altar. Saat ia mendekat, bola cahaya emas melebur ke dalam kristal putih. Cahaya putih meledak lembut, menyelimuti ruangan.

Dan saat itu, kegelapan luar bergerak.

Bayang hitam meluncur seperti cambuk, menyambar ke arah Jatayu. Jatayu menghindar, goloknya berayun—api Phoenix membakar bayang itu, tapi bayang hanya surut sejenak lalu muncul lagi, lebih besar.

Bayu berteriak. “Mereka datang dari segala arah!”

Tentakel bayang muncul dari retakan lantai, dinding, bahkan dari langit-langit gua. Mereka menyambar ke arah Banda, tapi bola cahaya emas membentuk perisai tipis yang menahan mereka—tapi perisai itu mulai retak.

Jatayu berlari ke depan Banda. “Lindungi kristal! Aku tahan mereka!”

Ia melompat ke tengah ruangan, api Phoenix meledak penuh. Badai api merah menyala, membakar tentakel-tentakel itu. Lumpur hitam mengering dan retak, tapi kegelapan terus datang—seperti samudra tanpa dasar.

Bayu menusuk salah satu tentakel dengan tombaknya. Bayang itu menyerap tombak dan menariknya ke dalam. Bayu terjatuh, tapi ia bangkit lagi, mengambil batu besar dan melemparnya ke tentakel lain.

Banda berlutut di depan altar. Ia mengangkat tiga kristal ke arah kristal putih. Cahaya mulai menyatu—merah, biru, abu-abu, dan putih berputar menjadi satu bola cahaya yang menyilaukan.

Tapi kegelapan luar meraung—suara yang bukan suara, tapi getaran yang mengguncang jiwa.

“Kau pikir cahaya bisa mengalahkanku? Aku lahir sebelum cahaya ada. Aku adalah kekosongan yang menunggu. Dan kau… kau hanyalah percikan kecil yang akan padam.”

Tentakel terbesar muncul dari retakan di lantai altar—tebal seperti pohon raksasa, ujungnya membentuk mulut yang penuh gigi kegelapan. Mulut itu mengarah ke Jatayu, siap menelan.

Jatayu tidak mundur. Ia melemparkan goloknya ke mulut itu—api Phoenix meledak di dalam kegelapan, menerangi ruangan dengan cahaya merah terang. Tentakel itu meraung, tapi tidak hancur. Ia malah menarik Jatayu ke dalam.

“JATAYU!” teriak Banda.

Ia melepaskan kekuatan Naga Laut penuh. Ombak raksasa naik dari dasar kuil, menghantam tentakel itu. Air bertabrakan dengan kegelapan—uap hitam meledak, tapi tentakel tetap menarik Jatayu lebih dalam.

Bayu berlari ke depan, melemparkan tubuhnya ke tentakel itu. Ia memukul dengan tangan kosong, berteriak, “Lepaskan dia!”

Tentakel itu bergerak—satu ujungnya menyambar Bayu, melemparnya ke dinding batu. Bayu jatuh dengan suara keras, tubuhnya tak bergerak.

Banda berteriak lagi. Air mata mengalir di wajahnya. Ia mengangkat tangan ke arah kristal cahaya asli.

“Cukup!”

Cahaya putih meledak dari kristal—bukan cahaya biasa, tapi cahaya yang membawa semua emosi: duka Kirana, cinta Garini, kesetiaan Bayu, dan cinta Banda pada Jatayu. Cahaya itu menyelimuti ruangan, menembus kegelapan luar seperti matahari yang terbit di malam hari.

Tentakel-tentakel surut. Mulut kegelapan meraung terakhir, lalu runtuh menjadi abu hitam yang menghilang ke retakan.

Jatayu terlepas, jatuh ke pelukan Banda. Napasnya tersengal, tapi ia hidup.

Bayu bangkit pelan dari dinding, memegang lengan yang memar. “Aku… aku baik-baik saja.”

Banda memeluk Jatayu erat. “Kau selamat.”

Jatayu tersenyum lemah. “Kita selamat.”

Kristal cahaya asli sekarang bersinar stabil di tangan Banda. Cahaya itu membentuk lingkaran sempurna di sekitar mereka bertiga—cahaya yang tidak lagi terancam kegelapan.

Tapi di dalam cahaya itu, visi terakhir muncul: kegelapan luar mundur, tapi tidak hilang. Ia menunggu di luar dunia ini, di celah antara cahaya dan kegelapan asli, menunggu saat kutukan benar-benar dipatahkan.

Banda menatap Jatayu dan Bayu. “Kita punya semua kristal. Sekarang… kita harus menyatukannya sepenuhnya. Di sini. Di altar ini.”

Jatayu mengangguk. “Tapi kalau kita lakukan… mungkin salah satu dari kita tidak akan selamat.”

Bayu tersenyum kecil. “Kalau itu harga untuk mengakhiri kutukan… aku siap.”

Banda menatap kristal cahaya. “Tidak ada yang mati lagi. Kita cari cara yang tidak memerlukan pengorbanan.”

Cahaya itu berputar lebih cepat, seolah menjawab: “Cinta adalah pengorbanan tertinggi. Tapi cinta juga adalah kekuatan yang tidak bisa dipatahkan.”

Mereka bertiga berdiri di altar, tangan saling bergenggaman.

Dan di luar kuil, ombak Laut Banda berhenti mengamuk.

Seolah tahu bahwa akhir sudah sangat dekat.

1
Sibungas
Alur cerita mudah d mengerti dan mengalir lancar.
Sibungas
patahkan kutukan emang perlu perjuangan.. semngat💪💪💪
Kashvatama: semangat 💪
total 1 replies
Sibungas
mantab thor ceritane lanjutttt. 👍
Kashvatama: makasih supportnya🙏
total 1 replies
Sibungas
alur cerita nya bagus. 👍
Kashvatama: terimakasih banyak. semoga bisa kasih karya yg konsisten menarik 🙏
total 1 replies
Sibungas
cerita cukup menarik utk d ikuti.. lanjutt thor🤭
Kashvatama: terimakasih supportnya 😍
total 1 replies
Kashvatama
kisah fantasi petualang dan romansa antara Jatayu dari kaum Phoenix dan Banda sang reinkarnasi Naga Laut 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!