Dua Benua. Satu Darah Campuran. Sebuah Takdir yang Terbuang.
Maria Joanna adalah kesalahan terindah dalam sejarah kerajaan. Terlahir dari perpaduan darah Kekaisaran China dan Kerajaan Spanyol, identitasnya adalah rahasia yang lebih mematikan daripada perang itu sendiri. Ia dibuang, disembunyikan, dan diasah menjadi senjata rahasia.
Namun, kesunyian itu berakhir ketika Adrian, bangsawan haus kekuasaan, menculik sosok paling berharga dalam hidupnya.
Di puncak Montserrat yang diselimuti kabut, Maria Joanna melepaskan amarahnya. Dengan Shadow Step dari Timur dan Estocada dari Barat, ia menumpahkan darah demi keadilan. Di tengah dentingan pedang dan intrik pengkhianatan yang melibatkan ayah kandung yang tak pernah dikenalnya, Maria harus memilih: menjadi pion dalam permainan takhta, atau menjadi Ratu sejati yang menyatukan dunia di bawah kekuatannya.
Siapapun yang berani mengusik kedamaiannya, akan merasakan amukan Sang Ratu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBANGKITAN SANG NAGA EMAS
POV Maria Joanna
Pagi ini, Jakarta terasa sangat berbeda dari biasanya. Dari jendela jendela kaca besar penthouse lantai teratas hotel milik ayahku, kemacetan di bawah sana tampak seperti barisan semut yang tak berarti. Aku berdiri mematung di depan cermin besar setinggi langit-langit, menatap sosok wanita yang hampir tidak kukenali.
Pelayan istana yang dibawa ayah langsung dari Madrid telah merawatku selama sisa malam tadi dengan sangat telaten. Luka memar di sudut bibirku yang didapat dari tamparan Adrian telah ditutupi dengan riasan tipis yang sangat halus. Aku kini mengenakan gaun couture sutra berwarna putih tulang yang dipesan khusus dalam hitungan jam, lengkap dengan bros berlambang Singa Spanyol yang bertahtakan berlian di dada kiri. Rambutku yang dulu sering dijambak oleh Evelyn kini tertata rapi dalam sanggul modern, berkilau sehat di bawah cahaya lampu kristal yang mewah.
"Yang Mulia Putri Maria, kakek Anda—Kaisar Bisnis dari Beijing—ingin berbicara melalui sambungan video terenkripsi," Sebastian masuk dengan langkah tanpa suara, membawakan sebuah tablet berbahan titanium.
Jantungku berdegup kencang. Jika Ayah adalah penguasa Spanyol, maka Kakek adalah matahari di Asia yang mengatur arus modal dunia. Aku menerima tablet itu dengan tangan yang kini tak lagi gemetar seperti kemarin. Di layar, muncul sosok pria tua dengan tatapan mata yang sangat tajam namun mendadak melembut saat melihat wajahku.
"Cucuku..." suaranya berat, penuh otoritas namun ada nada haru yang tertahan. "Maafkan kakekmu yang tua ini karena baru bisa menjangkaumu sekarang. Ibumu, Julia, adalah permata tercantik di keluarga kami yang hilang karena pengkhianatan masa lalu. Melihatmu sekarang, rasanya seperti melihat naga kecilku kembali hidup ke tengah-tengah kami."
"Terima kasih, Yang Mulia... maksudku, Kakek," ucapku kaku, masih mencoba membiasakan diri dengan sebutan itu.
"Jangan panggil aku Yang Mulia. Di hadapanku, kau adalah pewaris tunggal," ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang diperlihatkan kepada publik menurut Forbes Asia. "Arthur telah memberitahuku apa yang dilakukan tikus bernama Adrian itu. Jangan khawatir, cucuku. Kekaisaran China telah menarik seluruh investasi dari mitra-mitra bisnis Adrian di seluruh dunia. Mulai hari ini, tidak akan ada satu bank pun yang mau menyimpan satu sen pun uangnya. Dia akan menjadi pengemis selamanya, merangkak di jalanan yang dulu ia sombongkan."
Aku mengangguk pelan. Ada rasa puas yang aneh menjalar di hatiku, namun bukan sekadar dendam pribadi. Ini adalah rasa puas karena akhirnya keadilan yang selama ini kucari melalui doa-doa panjang di gubuk pengap keluarga angkatku, akhirnya terjawab. Namun, di balik rasa puas itu, ada satu hal yang mengganjal di hatiku. Kotak hitam misterius yang kuterima semalam, berisi pesan bahwa ayahku mungkin membohongiku tentang kematian Ibu.
Sebastian memperhatikan Maria dari sudut ruangan dengan penuh pengamatan. Ia melihat perubahan pada raut wajah sang Putri—ada keberanian yang mulai tumbuh menggantikan ketakutan, namun juga ada kegelisahan yang tersembunyi di balik matanya yang indah. Sebastian tahu tentang kotak hitam itu, namun ia memiliki perintah khusus dari Raja Arthur untuk mengawasi setiap gerak-gerik Maria tanpa terkecuali.
"Sebastian," panggil Maria tiba-tiba, suaranya kini terdengar lebih jernih dan tegas.
"Hamba, Putri?" Sebastian membungkuk secara formal.
"Berapa lama sebenarnya Ayah mencari Ibu setelah ia dibuang oleh istri pertama Ayah? Aku ingin tahu kebenarannya, bukan sekadar cerita indah," tanya Maria sambil menatap kalung singa emas yang melingkar di lehernya.
Sebastian terdiam sejenak, menimbang-nimbang seberapa banyak kebenaran diplomatik yang boleh ia ungkapkan tanpa memicu konflik internal di dalam Istana Kerajaan Spanyol. "Raja Arthur tidak pernah berhenti sedetik pun, Putri. Namun, permaisuri pertama memiliki jaringan intelijen yang sangat gelap di Eropa. Beliau memalsukan dokumen kematian Ibu Anda agar Raja Arthur berhenti mencari dan fokus pada urusan negara. Barulah setelah permaisuri pertama wafat dua tahun lalu, dokumen asli tentang pelarian Julia ditemukan di brankas rahasia, dan pencarian global dimulai kembali."
Maria menyipitkan mata, seolah sedang mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Sebastian. "Lalu, apakah ada kemungkinan Ibu... sebenarnya masih hidup saat dokumen itu ditemukan? Ataukah laporan kematian di Indonesia itu juga bagian dari kepalsuan?"
Sebastian menundukkan kepala, enggan menatap mata Maria. "Secara medis, laporan menyatakan beliau meninggal. Namun, intelijen kami memang menemukan beberapa ketidakkonsistenan yang mencurigakan."
Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka dengan suara dentuman pelan. Raja Arthur masuk dengan langkah lebar yang mendominasi seluruh ruangan. Wajahnya yang biasanya kaku dan dingin kini tampak berseri-seri melihat Maria yang sudah tampak seperti seorang putri sejati dari dinasti paling berpengaruh.
POV Maria Joanna
"Maria, naga kecilku! Konferensi pers internasional akan dimulai sepuluh menit lagi," Arthur merangkul bahuku dengan hangat. "Seluruh dunia akan tahu siapa kau sebenarnya. Dan setelah urusan di Jakarta selesai, kita akan segera pulang ke Madrid. Tapi sebelum itu, aku punya kejutan yang sudah kusiapkan sejak aku mendarat."
Arthur memberikan isyarat pada pengawalnya. Pintu terbuka kembali, dan dua orang tua masuk dengan wajah bingung sekaligus takut, seolah mereka baru saja dibawa melewati perjalanan yang sangat mewah dan asing. Air mataku tumpah seketika saat melihat mereka. Itu adalah Pak Bambang dan Ibu Siti—orang tua angkatku yang telah menyelamatkanku dari jalanan.
"Ayah! Ibu!" aku berlari ke arah mereka, mengabaikan gaun mahalku yang menyapu lantai.
Pak Bambang menangis tersedu-sedu sambil memegang bahuku dengan tangan tuanya yang gemetar. "Maria... benarkah ini kau, Nak? Kami dengar dari orang-orang berseragam itu kalau kau adalah... seorang putri dari negeri yang jauh?"
"Aku tetap Maria kalian, Ayah. Tidak ada yang berubah meski aku memakai gaun ini," bisikku di telinganya, mencium tangan pria yang dulu bekerja serabutan demi memberiku makan.
Arthur melangkah mendekat, lalu ia melakukan sesuatu yang mengejutkan semua orang di ruangan itu. Ia membungkuk sedikit di hadapan Pak Bambang dan Ibu Siti—sebuah tindakan penghormatan tertinggi dari seorang Raja Spanyol. "Terima kasih telah merawat putriku dengan cinta yang tulus saat aku tidak ada di sampingnya. Sebagai rasa terima kasih, aku telah memulihkan seluruh bisnis Anda yang dihancurkan Adrian dan memberikan dana hibah yang akan menjamin kehidupan tujuh turunan keluarga Anda."
Ibu Siti hanya bisa menangis haru, ia memelukku erat seolah tak ingin melepaskanku ke dunia baruku. Namun, di tengah kebahagiaan itu, aku melihat ke arah layar monitor pengawas yang terpasang di dinding. Di sana, aku melihat Adrian sedang diseret keluar gedung oleh aparat kepolisian. Wajahnya tampak hancur, namun tatapannya sempat tertuju pada kamera, seolah ia tahu aku sedang melihatnya. Ia menggerakkan bibirnya tanpa suara, mengucapkan satu kata yang membuat bulu kudukku berdiri: "Hati-hati."
Hati-hati? Apa maksudnya? Apakah Adrian tahu sesuatu yang tidak diketahui Ayahku? Apakah istri pertama Ayah benar-benar sudah meninggal, atau ada tangan gelap lain dari masa lalu Julia yang sedang mengincarku dari balik bayangan?
Aku menarik napas panjang, menepis rasa takut itu, dan menatap kamera konferensi pers yang sudah mulai menyala di ruangan sebelah. Aku bukan lagi gadis lemah yang bisa ditindas dan dijadikan kontrak. Jika ada naga lain yang mencoba menyerangku, aku akan menunjukkan bahwa perpaduan darah Singa Spanyol dan Naga China adalah kekuatan yang tak bisa dihancurkan.
"Ayo, Ayah," ucapku mantap pada Arthur. "Mari kita tunjukkan pada dunia siapa Maria Joanna yang sebenarnya."
"Aku baru saja hendak menyapa dunia sebagai Putri Kerajaan, saat kilatan merah laser tiba-tiba muncul di dada gaun putihku—tepat di atas jantungku. Di depan jutaan kamera yang menyiarkan secara langsung, maut hanya berjarak satu tarikan pelatuk dariku."