Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Tak Terlupakan
Pagi menyapa dengan kabut tipis yang menyelimuti gedung-gedung pencakar langit Jakarta, namun di dalam sel isolasi yang dingin dan berbau apek, waktu seolah berhenti bagi Dimas. Wajahnya yang dulu angkuh kini dipenuhi lebam keunguan, sisa dari amukan Gio malam itu. Ia duduk di pojok ruangan, menatap dinding beton dengan tatapan kosong, hingga suara dentingan kunci besi yang diputar mengejutkannya.
Pintu sel terbuka pelan. Bukan sipir penjara yang masuk, melainkan seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam yang tampak terlalu mahal untuk berada di tempat kotor seperti ini. Gio melangkah masuk dengan tenang, tangannya terlipat di depan dada. Ia tidak membawa senjata, namun kehadirannya sendiri sudah cukup untuk membuat bulu kuduk Dimas meremang.
"Bagaimana tidurmu, Dimas? Apakah kasur semen ini cukup nyaman untuk seorang mantan pewaris Wijaya?" suara Gio terdengar rendah, nyaris seperti bisikan namun tajam seperti sembilu.
Dimas mendongak, mencoba tertawa meski bibirnya yang pecah terasa perih. "Kau... kau pikir kau sudah menang? Pengacaraku sedang mengurus jaminan. Aku akan keluar dari sini, dan saat itu terjadi, aku akan memastikan kau dan Sasha membusuk."
Gio tersenyum tipis—jenis senyum yang tidak menyentuh matanya. Ia mengeluarkan sebuah ponsel dari sakunya dan memutar sebuah rekaman video. Di sana, terlihat pengacara pribadi Dimas sedang duduk di sebuah kursi listrik di gudang antah berantah, menangis memohon ampun sambil menyerahkan semua bukti transaksi ilegal yang pernah dilakukan Dimas.
"Pengacaramu baru saja mengundurkan diri," kata Gio datar. "Bukan hanya itu, semua aset yang kau sembunyikan di rekening luar negeri sudah dipindahkan. Secara teknis, kau sekarang adalah orang termiskin di gedung ini."
Dimas gemetar hebat. Ia mencoba menerjang Gio, namun dengan satu gerakan cepat, Gio mencengkeram leher Dimas dan menekannya ke dinding beton yang kasar. Cengkeraman itu begitu kuat hingga Dimas kesulitan bernapas, wajahnya perlahan membiru.
"Dengarkan aku baik-baik," desis Gio tepat di depan wajah Dimas. "Sasha adalah napasku. Jika kau mencoba menyentuhnya lagi, bahkan hanya dalam pikiranmu, aku akan memastikan kematian adalah sesuatu yang kau dambakan setiap detik, tapi tak akan pernah kau dapatkan. Kau akan tetap hidup di sini, menyaksikan dari balik jeruji bagaimana aku mencintai dan memiliki wanita yang sangat kau inginkan itu."
Gio melepaskan cengkeramannya, membiarkan Dimas jatuh terduduk sambil terbatuk-batuk mencari udara. Tanpa menoleh lagi, Gio melangkah keluar, meninggalkan Dimas yang kini menangis dalam kehancuran yang mutlak.
Sore harinya, Gio kembali ke kantor Wijaya Group. Ia mendapati Sasha sedang berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya, menatap matahari terbenam. Wanita itu tampak sangat cantik dalam balutan gaun sutra berwarna zamrud, namun ada gurat kelelahan di wajahnya.
Gio mendekat dan memeluknya dari belakang, menenggelamkan wajahnya di antara rambut Sasha yang harum. "Dimas sudah tidak akan menjadi masalah lagi, Sha. Aku sudah memastikan semua pintunya tertutup."
Sasha berbalik dalam dekapan Gio, menyentuh rahang pria itu dengan lembut. "Sebenarnya apa yang kau rencanakan?"
"Aku tak melakukan apapun hanya memberinya sedikit pelajaran saja," jawab Gio tenang.
Sasha menatap Gio sambil mengernyitkan dahi, ia tahu Gio telah melakukan hal-hal yang mungkin melanggar aturan demi dirinya, dan kenyataan itu bukannya membuat Sasha takut, justru membuatnya merasa sangat berharga.
"Gio, apakah aku merepotkanmu dengan semua ini? Menjadi pelindungku, sekaligus menjadi bayanganku?" tanya Sasha pelan.
Gio menarik Sasha lebih dekat lagi hingga tak ada jarak di antara mereka. Ia menatap bibir Sasha yang merah alami sebelum memberikan ciuman yang dalam, sentuhan yang penuh kelembutan dan sebuah ciuman yang menuntut kepatuhan sekaligus menjanjikan pengabdian tanpa batas.
"Aku tidak pernah merasa terbebani oleh apa yang menjadi tujuanku hidup, Sasha. Kau adalah pusat dari segalanya bagiku. Jika dunia menentangmu, maka aku akan menghancurkan dunia itu untukmu," bisik Gio di sela-sela ciuman mereka.
Malam itu, mereka tidak kembali ke penthouse. Gio membawa Sasha ke sebuah vila pribadi di puncak bukit yang jauh dari jangkauan siapa pun. Tempat itu sunyi, hanya ada suara jangkrik dan angin malam yang berhembus melalui pepohonan pinus. Di sana, di bawah cahaya bulan yang masuk melalui jendela kamar yang luas, ketegangan beberapa hari terakhir akhirnya mencair.
Sasha merasa tubuhnya kembali terbakar, namun kali ini bukan karena obat buatan Dimas, melainkan karena gairah murni yang terpancar dari tatapan Gio. Pria itu melepaskan pakaiannya dengan gerakan yang penuh otoritas, seolah sedang membuka hadiah yang paling berharga dalam hidupnya.
"Malam ini, hanya ada aku dan kau," gumam Gio sambil menindih tubuh Sasha di atas ranjang yang lembut.
Sentuhan Gio begitu intens, setiap inci kulit Sasha seolah merespons dengan ledakan sensasi yang luar biasa. Gio memimpin setiap gerakan dengan dominasi yang membuat Sasha merasa kecil namun sangat terlindungi. Ia mencintai cara Gio mengendalikan napasnya, cara pria itu menatapnya seolah ia adalah satu-satunya wanita di alam semesta.
Setelah badai gairah itu mereda, mereka berbaring dalam diam, saling berpelukan di bawah selimut tebal. Sasha menyandarkan kepalanya di dada bidang Gio, mendengarkan detak jantung pria itu yang kuat dan stabil.
"Gio," panggil Sasha lirih.
"Ya, Sayang?"
Sasha mendongak, menatap mata hitam suaminya yang masih berkilat dengan sisa-isa gairah.
"Kau tahu, Dimas pernah bilang bahwa aku hanya akan menganggapmu sebagai pengawal. Dia salah besar."
Gio mengusap pipi Sasha dengan ibu jarinya, memberikan senyum yang sangat jarang ia tunjukkan kepada siapa pun—senyum yang penuh dengan kemenangan dan cinta yang posesif.
"Biarkan dia memikirkan apa pun yang dia mau di selnya yang sempit itu, Sha. Karena pada akhirnya, dialah yang kehilangan segalanya, sementara aku..."
Sasha memotong kalimatnya dengan tatapan menantang. "Sementara kau apa?"
Gio menarik dagu Sasha, menatapnya dengan intensitas yang membuat napas Sasha kembali tertahan.
"Sementara aku mendapatkan hadiah terbesar yang pernah diinginkan pria mana pun: melihat ratu yang paling angkuh di dunia ini bertekuk lutut dan mendesah hanya untukku."
Sasha tertawa kecil, melingkarkan lengannya di leher Gio dan menariknya kembali untuk sebuah ciuman yang menandakan bahwa malam mereka masih sangat jauh dari kata berakhir.
"Kalau begitu, pastikan ratumu ini tidak akan pernah ingin pergi ke mana pun, Gio."
"Itu janji yang tidak perlu kau ragukan, Sasha. Kau milikku, sampai maut pun merasa takut untuk menjemput kita."
Sasha menarik napas dalam, membiarkan aroma maskulin Gio menenangkan jiwanya yang sempat koyak. Di tengah keheningan vila yang terisolasi itu, ia menyadari bahwa ia tidak lagi membutuhkan tahta Wijaya untuk merasa kuat. Cukup dengan keberadaan pria ini di sisinya, ia merasa sanggup menaklukkan dunia yang paling kejam sekalipun.
Gio mengecup bahu Sasha yang polos, memberikan sensasi hangat yang menjalar hingga ke ujung jari. "Istirahatlah, Sha. Besok adalah hari baru, dan aku pastikan tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang berani menyentuhmu."
Sasha tersenyum, lalu berbisik tepat di telinga Gio dengan nada yang menggoda namun penuh penyerahan.
"Kenapa harus istirahat jika aku punya pria sehebat kau yang bisa membuatku terjaga sepanjang malam?"
Gio terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar di dada Sasha. "Kau benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti menantang bahaya, Ratu."