NovelToon NovelToon
Selayaknya Cinta

Selayaknya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Keluarga
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏

Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.

Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.

Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.

Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.

Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Sakit

"Gede juga perut lo. Yakin itu isinya bayi? Bukan penyakit lagi?" cibir Tamara berbisa. "Atau jangan-jangan itu anak haram hasil lo 'main' sama orang lain pas Devan sibuk kerja?"

"Jaga mulut Kakak!" seru Rian, langsung pasang badan di depan Putri. "Jangan ngomong jahat sama Kak Putri!"

Tamara menatap adiknya dengan jijik. "Heh, bocah pengkhianat. Minggir lo! Gara-gara lo gue sama mama jadi susah! Lo itu anak durhaka, tau nggak?!"

Tamara mendorong bahu Rian hingga anak itu terhuyung ke samping.

"Rian!" pekik Putri. Ia menarik Rian ke sisinya. "Jangan sentuh Rian, Kak! Kakak boleh hina aku, tapi jangan sakiti Rian. Dia adik Kakak juga!"

"Gue nggak punya adik pengkhianat kayak dia! Dan gue nggak punya adik pelakor kayak lo!" bentak Tamara, suaranya menggema di parkiran yang agak sepi itu.

"Oh ya! Denger ya, Kak. Aku enggak pernah rebut mas Devan dari Kakak, tapi Kakak sendiri yang ninggalin dia dan pergi sama Reno," jawab Putri membela diri.

Pembelaan Putri malah tidak digubris Tamara, dia maju selangkah, menunjuk-nunjuk wajah Putri.

"Denger ya, Put. Lo jangan seneng dulu mentang-mentang lo hamil. Devan itu masih cinta sama gue! Dia cuma kasihan sama lo! Tunggu aja tanggal mainnya, gue bakal rebut Devan lagi dan lo bakal ditendang ke jalanan sama anak haram lo itu!"

Tamara tertawa sinis, melampiaskan segala frustasinya pada Putri. Ia merasa menang karena tidak ada Devan di sana, ia merasa bebas menindas Putri seperti dulu.

Namun, Tamara tidak menyadari satu hal...

Di balik pilar besar, sekitar sepuluh meter dari tempat mereka berdiri, dua pasang mata sedang menyaksikan kejadian itu dengan ekspresi tak percaya.

Reno dan Nindi...

Reno baru saja memarkirkan mobilnya, mobil yang sering dipinjam Tamara, dan kebetulan berpapasan dengan Nindi yang baru saja keluar dari apotek rumah sakit.

Mereka sempat canggung sejenak, sebelum akhirnya melihat perdebatan antara Tamara dan Putri.

Suara cempreng Tamara masih menggema di area parkir, memantul-mantul di telinga Reno dengan kejujuran yang menyakitkan.

"Devan itu masih cinta sama gue! Tunggu aja tanggal mainnya, gue bakal rebut Devan lagi..." Kalimat itu bagaikan palu yang menghantam harga diri Reno. Baru kemarin Tamara menangis di pelukannya, bersumpah bahwa Devan adalah masa lalu dan Reno adalah satu-satunya masa depannya. Tapi sekarang? Di depan adiknya sendiri, Tamara mengakui rencananya untuk kembali mengejar Devan.

Nindi, yang berdiri di samping Reno, menatap pria itu dengan pandangan iba bercampur miris. Ia melihat rahang Reno mengeras, tangannya mengepal hingga kuku-kukunya memutih.

"Ren..." panggil Nindi pelan, suaranya tenang namun menusuk. "Lo denger sendiri kan?"

Reno tidak menjawab. Matanya masih terpaku pada sosok Tamara di kejauhan yang sedang menunjuk-nunjuk wajah Putri.

"Dia bilang dia mau rebut Devan lagi," lanjut Nindi, memberanikan diri menyentuh realita yang dihindari Reno. "Dia bahkan nggak nyebut nama lo sedikit pun di sana. Sekarang gue tanya... lo masih yakin kalau Tamara cinta tulus sama lo? Atau lo cuma dijadikan tempat singgah sementara karena dia lagi susah?"

Hening.

Reno diam seribu bahasa, napasnya terdengar berat dan kasar. Hatinya bergejolak hebat antara rasa malu, marah, dan penyangkalan. Mengakui ucapan Nindi berarti mengakui bahwa dirinya adalah laki-laki bodoh yang jatuh ke lubang yang sama dua kali, dan bagi Reno yang arogan, mengakui kebodohan adalah hal yang mustahil.

Tiba-tiba, Reno menoleh cepat ke arah Nindi. Bukannya wajah sedih atau marah pada Tamara, Reno justru memasang seringai sinis yang meremehkan.

"Maksud lo ngomong gitu apa?" tanya Reno ketus.

Nindi terkejut. "Maksud gue? Gue cuma mau lo sadar, Ren. Dia manfaatin lo!"

"Halah, basi!" potong Reno sambil mendengus kasar. Ia menatap Nindi dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan angkuh. "Lo ngomong kayak gitu bukan karena lo peduli sama gue, Nin. Tapi karena lo iri."

"Iri?" Nindi mengernyit tak percaya. "Gue iri sama cewek jahat kayak dia?"

"Lo iri karena gue pilih dia, bukan lo," tuduh Reno dengan percaya diri yang salah tempat. "Kenapa lo sibuk banget ngurusin hubungan gue? Kenapa lo selalu ada di mana gue ada? Jangan-jangan pertemuan kita ini juga skenario lo?"

Reno maju selangkah, memojokkan Nindi.

"Ngaku aja, Nin. Lo sebenernya masih nyimpen cinta kan sama gue? Lo belum bisa move on dari gue, makanya lo seneng banget cari-cari kesalahan Tamara. Lo berharap kalau gue benci Tamara, gue bakal balik deket ke lo, kayak dulu lagi. Iya, kan?"

Nindi ternganga, ia kehabisan kata-kata melihat betapa tebalnya tembok penyangkalan Reno. Pria ini baru saja mendengar pacarnya berselingkuh hati, tapi malah menuduh Nindi yang cemburu.

Nindi tertawa kecil, tawa yang penuh rasa kasihan.

"Wow," gumam Nindi sambil geleng-geleng kepala. "Gue kasihan sama lo, Ren. Sumpah. Ego lo itu udah nutupin akal sehat lo. Gue udah move on, Ren. Gue cuma mau nyelamatin lo sebagai temen lama, tapi kalau lo lebih milih hidup dalam kebohongan... silakan!"

Nindi mundur selangkah, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Terserah lo mau mikir apa soal gue. Tapi fakta di depan mata lo itu nggak bisa bohong, cewek lo itu penipu."

Setelah mengucapkan itu, Nindi berbalik badan, berniat meninggalkan Reno. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara teriakan Tamara yang semakin menjadi-jadi di kejauhan.

"Minggir lo anak durhaka! Gue mau kasih pelajaran ke kakak lo biar dia sadar posisinya!"

Reno, yang meski mulutnya menyangkal namun hatinya terbakar panas, akhirnya tidak tahan lagi, ia tidak mengejar Nindi. Ia berbalik, melangkah lebar keluar dari persembunyiannya menuju tempat Tamara berdiri, langkahnya panjang dan penuh emosi.

"TAMARA!"

Teriakan Reno menggelegar di parkiran.

Tamara, yang tangannya baru saja hendak menjambak rambut Putri tersentak kaget. Tubuhnya membeku seketika saat mengenali suara itu, ia menoleh pelan-pelan.

Wajahnya yang tadi garang penuh kebencian, langsung berubah pucat pasi seputih kapas saat melihat Reno berjalan mendekat dengan wajah gelap gulita, dan di belakang Reno... ia melihat Nindi yang berdiri menatapnya dengan pandangan dingin.

"Re-Reno...?" gagap Tamara. Tangannya yang terangkat di udara turun perlahan, gemetar hebat.

Putri, yang sedang memeluk Rian untuk melindunginya, menatap bingung kedatangan Reno.

Reno berhenti tepat dua langkah di depan Tamara, napasnya memburu.

"Ren, sayang... ka-kamu ngapain di sini?" tanya Tamara gugup, mencoba memasang senyum manis, namun gagal total. "Aku... aku bisa jelasin. Si Putri ini dia duluan yang—"

"Diem," potong Reno datar.

"Ren, dengerin aku dulu..."

"AKU BILANG DIEM!" bentak Reno keras, membuat Tamara terlonjak mundur.

Reno menatap Tamara dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara cinta yang berubah jadi benci, dan harga diri yang terluka parah.

"Aku denger semuanya, Tam," ucap Reno dingin, "aku denger kamu bilang mau rebut Devan lagi, aku denger semuanya yang kamu ucapin tadi."

Tamara menggeleng panik, air mata buayanya mulai keluar. "Enggak! Kamu salah denger! Aku nggak ngomong gitu! Mereka ngejebak aku, Ren! Nindi pasti ngehasut kamu, kan?!"

Tamara menunjuk Nindi di kejauhan.

Reno tertawa hambar. "Nindi nggak perlu ngomong apa-apa. Kuping aku masih berfungsi normal, kamu pikir aku tuli?"

Reno mencengkeram lengan Tamara kasar, menariknya menjauh dari Putri dan Rian.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
ujian menuju kebahagiaan ada aja
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
gak tau malu banget Reno
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
ditunggu pesta pernikahan kalian arga nindi .
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
karena Devan harapan satu satu nya untuk putri agar hidup nya lebih baik
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
iy kenapa mereka terlalu cepat jatuh cinta
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Apa kali ini keputusan yang putri ambil tepat 🤔
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Penyakit hati memang sulit disembuhkan, apalagi kalo ego nya tinggi
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
sifat putri yang tenang membuat dia semakin elegant
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kadang sikap buruk tidak harus dibalas sama sikap buruk jg kan put?
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tamara kena batu nya juga akhir nya /Facepalm/
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tipu daya wanita emang dahsyat /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
lanjutkan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
salah satu sifat manusia yang merugikan adalah sifat pendendam dan ambisius.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
awalnya aku bingung judulnya Rumah sakit, apa kaitannya. Aq baca lgi dari atas mksd judulnya kiranya drama Tamara yg ketauan Reno di rumah sakit.
🥑⃟Rɪᴀᷨɴͤᴀͤ: Iya Va...🤣🤣🤣
total 1 replies
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Reno korban nya dimana mana /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kapok mu kapan Tamm?
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
apa Mc nya bakal mati
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Jangan lemah put !
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Cerita nya bikin emosi.
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Ada ya cowok kayak gitu, parah !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!