NovelToon NovelToon
Wanita Amnesia Itu Istriku

Wanita Amnesia Itu Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Amnesia
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.

"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."

Bara memohon dengan mata memelas.

Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.

Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.

Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.

"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.

Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?

Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PAMIT

Malam itu, panti asuhan terasa begitu hening. Hanya suara jangkrik dan embusan angin yang sesekali mengetuk jendela kamar Aira.

Bara duduk di kursi kayu di samping tempat tidur, menatap wajah istrinya yang kini terlihat begitu rapuh dengan balutan perban di sudut bibir dan memar yang mulai membiru di pipi.

​Aira perlahan membuka matanya. Rasa pening masih menyerangnya, namun saat melihat Bara, ia mencoba untuk duduk.

​"Mas..." bisiknya parau.

​"Jangan banyak gerak dulu, Aira."

Bara membantu menyangga punggung Aira dengan bantal. Tangannya gemetar saat menyentuh jemari Aira.

​Aira menunduk, ia melihat map cokelat yang tergeletak di atas pangkuan Bara. Ia tahu apa itu.

"Mas sudah bertemu Ibu?"

​Bara mengangguk pelan. Ia tidak ingin menceritakan betapa hancurnya hatinya setelah konfrontasi tadi. Ia hanya ingin fokus pada wanita di depannya.

​"Aku sudah memikirkannya, Aira. Semalaman. Sepanjang jalan dari rumah Ibu ke sini."

Bara menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya. Ia mengambil pulpen dari saku kemejanya, lalu dengan tangan yang masih gemetar, ia membubuhkan tanda tangan di atas kertas di dalam map itu.

​Aira tertegun. Air matanya jatuh tanpa permisi. Inilah yang ia minta sejak sadar dari pingsan akibat demam tinggi beberapa waktu lalu, tapi kenapa saat melihat tanda tangan itu, hatinya justru terasa seperti diiris sembilu?

​"Mas..."

​"Dengarkan aku dulu, Aira," potong Bara lembut.

Ia menggenggam kedua tangan Aira, menatap langsung ke dalam matanya yang basah.

"Aku menandatangani ini bukan karena aku berhenti mencintaimu. Bukan karena aku setuju bahwa kamu adalah beban."

​Bara mengusap air mata di pipi Aira dengan ibu jarinya, sangat hati-hati agar tidak menyentuh bagian yang lebam.

​"Aku melepaskanmu karena aku sadar, mencintaimu berarti harus menjagamu. Dan saat ini, musuh terbesarmu adalah Ibuku sendiri. Aku tidak bisa membiarkanmu terluka lagi hanya karena egoku yang ingin memilikimu. Kamu berhak hidup tenang. Kamu berhak bangun pagi tanpa rasa takut akan ada orang yang datang dan menghinamu."

​"Tapi Mas tidak harus melakukan ini... mas bisa ajukan mutasi," isak Aira.

​Bara tersenyum pahit, sebuah senyum penuh pengorbanan.

"Jika kita lari, Ibu akan terus mencarimu. Dia tidak akan berhenti sebelum dia merasa menang. Tapi jika aku melepaskanmu secara resmi, kamu akan bebas. Kamu bukan lagi menantunya. Kamu bukan lagi urusannya."

​Bara mengeluarkan sebuah amplop coklat dan meletakkannya di tangan Aira.

" Gunakan ini untuk pengobatanmu, untuk panti ini, atau untuk apapun yang kamu butuhkan. Aku sudah meminta Bu Siska untuk menjagamu."

​Aira menggeleng kuat-kuat.

"Aku tidak butuh uangnya, Mas. Aku hanya..."

​"Terima ini sebagai permintaan maafku karena gagal menjadi pelindung yang baik," sela Bara.

Ia kemudian berdiri, mengecup kening Aira sangat lama. Sebuah kecupan yang terasa seperti pamitan abadi.

​"Mulai hari ini, kamu bebas, Aira. Kamu bukan lagi istri Bara. Kamu adalah Aira yang mandiri, seperti saat pertama kali kita bertemu di panti ini dulu."

​Bara melangkah menuju pintu. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.

​"Mas Bara!" panggil Aira lirih.

​Bara tidak menoleh. Ia tahu jika ia menoleh sekali saja, pertahanannya akan hancur dan ia tidak akan sanggup melangkah keluar dari kamar itu. Ia menutup pintu dengan pelan, meninggalkan Aira yang terisak hebat di balik pintu.

​Malam itu, Bara meninggalkan panti asuhan tanpa membawa apa-apa selain luka di hatinya, sementara Aira mendekap map cokelat itu. Sebuah kebebasan yang terasa lebih menyakitkan daripada penjara manapun.

***

Malam semakin larut. Aroma minyak kayu putih dan sisa isak tangis masih menggantung di udara kamar Aira. Siska masuk dengan membawa segelas susu hangat, duduk perlahan di pinggir ranjang, lalu membelai kepala Aira.

​Aira menatap map cokelat di atas nakas dengan tatapan kosong.

​"Dia sudah pergi, Bu," bisik Aira.

Suaranya kering, seolah seluruh tenaganya telah terkuras habis. Siska mengangguk kecil.

"Bara menitipkanmu padaku, Aira. Sepenuhnya."

​Aira memejamkan mata, air matanya merembes di sudut mata yang lebam.

"Ibu tahu? Sejak aku bangun dari koma dan melihat wajahnya yang asing bagiku, aku terus memaksanya untuk cerai. Aku merasa menjadi beban. Aku merasa dia pantas mendapatkan wanita yang lebih 'utuh' daripada aku yang tidak punya siapa-siapa dan ingatan yang hilang."

​Ia menjeda kalimatnya, dadanya sesak.

​"Tapi setelah apa yang dia lakukan tadi... setelah dia berdiri di depanku dan mengakui bahwa dia melepaskanku hanya agar aku tidak disakiti lagi oleh ibunya... aku sadar betapa bodohnya aku."

​Siska menghela napas panjang.

"Kenapa kamu merasa bodoh, Nak?"

​"Karena sebenarnya... aku tidak menginginkan perceraian ini lagi, Bu," aku Aira dengan suara yang pecah.

"Di saat ingatanku mulai kembali sedikit demi sedikit, di saat aku mulai merasa aman hanya dengan mendengar suaranya, dia justru pergi. Aku yang mendorongnya menjauh, tapi saat dia benar-benar pergi, aku merasa seperti kehilangan duniaku untuk kedua kalinya."

​Aira meremas sprei kasurnya.

"Dulu aku takut menjadi bebannya. Tapi sekarang, hidup tanpanya terasa jauh lebih berat daripada menjadi beban."

​ Siska menarik Aira ke dalam pelukannya. Aira menyandarkan kepalanya di bahu wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu itu.

​"Aira, dengarkan Ibu," ujar Siska tenang.

"Terkadang, cinta bukan tentang memiliki di satu atap. Bara sedang berkorban, dan kamu juga sedang berkorban. Jika kamu bersamanya sekarang, ibunya tidak akan pernah berhenti. Bara ingin kamu sembuh, bukan hanya fisikmu, tapi jiwamu."

​"Lalu aku harus bagaimana, Bu? Menunggunya? Dia bahkan tak ingin melihatku lagi."

​Siska menjauhkan sedikit tubuh Aira, menatap wajahnya dengan lekat.

"Jangan menunggu dengan meratap. Hiduplah. Bara ingin melihatmu menjadi Aira yang kuat. Jika memang panti ini adalah tempatmu pulang, maka mengabdilah di sini. Jadilah 'Ibu' bagi anak-anak yang senasib denganmu. Biarkan waktu yang bekerja. Jika Tuhan menuliskan namamu dan Bara di satu garis yang sama, sejauh apapun dia pergi, dia akan menemukan jalan pulang."

​Aira menyeka air matanya dengan punggung tangan. Ia menatap ke arah jendela yang menampilkan pantulan dirinya sendiri. Wanita dengan luka di wajah, namun ada secercah tekad baru di matanya.

​"Ibu benar," kata Aira lebih tegas.

"Aku akan berhenti menangisi surat cerai ini. Aku akan mengabdi untuk panti. Aku akan membuat tempat ini menjadi rumah yang paling aman, supaya jika suatu saat dia kembali, dia melihat aku bukan lagi sebagai 'beban' yang dia tinggalkan, tapi sebagai wanita yang tegak berdiri karena cintanya."

​Siska tersenyum haru.

"Itu baru anak Ibu."

​"Mulai besok, aku ingin mengajar kelas anak-anak lagi, Bu. Aku ingin melupakan rasa sakit ini dengan memberikan kasih sayang pada mereka yang tidak punya siapa-siapa. Seperti aku... dan seperti mas Bara."

***

Norma berjalan mondar-mandir di ruang tamu yang luas, napasnya masih memburu. Puspa, adik perempuan Bara, duduk di sofa sambil memperhatikan ibunya dengan tatapan dingin dan lelah.

​"Anak itu benar-benar sudah dicuci otaknya!" seru Norma tanpa menoleh pada Puspa.

"Bayangkan, Puspa! Bara mengancam akan membuang Ibu hanya demi perempuan cacat dan yatim piatu itu! Kurang apa Ibu padanya? Ibu hanya ingin dia punya istri yang setara, bukan yang botak dan linglung!"

​Puspa menghela napas panjang, ia meletakkan majalah yang dipegangnya.

"Cukup, Bu. Apa Ibu tidak lelah terus-menerus memaki kak Aira?"

​"Kenapa kamu malah membela dia?"

Norma berhenti melangkah, menatap putrinya dengan tajam.

"Ibu melakukan ini juga untuk nama baik keluarga kita. Untuk kamu juga!"

​Puspa berdiri, menatap ibunya dengan sorot mata yang dalam dan bergetar.

"Ibu bilang Ibu melakukan ini demi aku? Bu, coba Ibu lihat aku baik-baik."

​Norma mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

​"Aku ini perempuan, Bu. Sama seperti kak Aira," suara Puspa mulai serak.

"Suatu saat nanti, aku akan menikah. Aku akan menjadi istri seseorang. Bagaimana kalau setelah menikah nanti, aku mengalami kecelakaan? Bagaimana kalau aku jatuh sakit, kehilangan ingatanku, atau kehilangan kecantikanku?"

​Puspa maju selangkah, menantang mata ibunya.

"Apa Ibu mau ibu mertuaku nanti melakukan hal yang sama seperti yang Ibu lakukan pada kak Aira? Apa Ibu rela melihatku ditarik jilbabnya, dihina karena aku yatim—padahal Ibu tahu kak Aira tidak memilih lahir tanpa orang tua—dan dipukul sampai pingsan hanya karena aku dianggap 'beban'?"

​Wajah Norma mendadak pucat. Ia terdiam seolah lidahnya kelu.

​"Kak Aira itu punya perasaan, Bu. Dia punya rasa sakit yang sama denganku," lanjut Puspa dengan air mata yang mulai menggenang.

"Kalau Ibu memperlakukan anak perempuan orang lain seperti binatang, jangan salahkan Tuhan kalau suatu saat nanti anak perempuan Ibu sendiri yang diperlakukan seperti itu oleh orang lain. Apa Ibu mau melihatku hancur seperti kak Aira?"

​Hening menyergap ruangan itu. Kata-kata Puspa barulah yang benar-benar menembus dinding pertahanan Norma. Bayangan Puspa—putri kesayangannya—terbaring bersimbah darah dan dihina oleh orang lain, mendadak melintas di pikirannya. Ia teringat wajah Aira yang ketakutan di dapur panti tadi siang.

​Norma terduduk lemas di kursi. Tangannya gemetar.

"Ibu... Ibu tidak bermaksud begitu, Puspa. Ibu hanya ingin yang terbaik untuk Bara..."

​"Terbaik untuk Ibu, bukan untuk Mas Bara," ralat Puspa.

"Sekarang lihat hasilnya. Mas Bara pergi. Dia merasa Ibunya adalah monster."

​Norma mulai panik. Rasa bersalah yang selama ini ia tekan kini muncul ke permukaan, mencekiknya.

"Ibu harus bicara pada Bara. Ya, Ibu harus minta maaf. Ibu akan bilang kalau... kalau Ibu akan mencoba menerima Aira."

​Dengan tangan yang masih gemetar, Norma mengambil ponselnya di atas meja. Ia mencari nama 'Bara' dan segera menekan tombol panggil.

​“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...”

​"Mati. Ponselnya mati," bisik Norma.

Ia mencoba lagi, berkali-kali, namun hasilnya sama.

"Dia benar-benar pergi, Puspa. Bara benar-benar meninggalkan Ibu."

​"Sini, biar aku yang coba pakai ponselku," ujar Puspa.

​Puspa mendial nomor kakaknya. Nada sambung terdengar.

Tut... tut...

"Masuk, Bu. Ponsel Mas Bara aktif," kata Puspa.

​Norma merebut ponsel itu dengan harapan besar.

"Halo? Bara? Bara, ini Ibu, Sayang..."

​Namun, suara di seberang sana bukan suara Bara. Melainkan suara operator yang menyatakan panggilan dialihkan. Puspa mengambil kembali ponselnya, memeriksa sesuatu, lalu menatap ibunya dengan wajah pucat.

​"Bukan ponselnya yang mati, Bu," bisik Puspa pelan.

​"Lalu kenapa tidak diangkat?"

​Puspa menghela napas berat.

"Mas Bara memblokir nomor Ibu. Dia tidak memblokir nomorku, tapi dia memutus akses untuk Ibu. Dia... dia sepertinya benar-benar butuh waktu untuk jauh dari Ibu."

​Norma melepaskan ponsel itu hingga jatuh ke karpet. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan mulai terisak. Kebisuan di ruangan itu kini hanya diisi oleh suara tangis penyesalan seorang ibu yang baru menyadari bahwa dalam usahanya "menjaga" sang anak, ia justru telah kehilangan anak itu sepenuhnya.

1
falea sezi
bara plin plan males deh cowok kayak gini.. mending Aira kasih jdoh lain yg ortunya nrima Aira thor biar nyesel di bara yg nurut aja kata emak. nya
Happy Kids: skalipun dipaksain yg ada sakit ati. si norma jg pengen ngebet jd kaya 🤭
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Cahaya Tulip: siap kak.. msh on progress yg ini.. di up hari ini .. 🙏🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!