Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni SMA
Enam bulan udah lewat sejak pertemuan terakhir sama Gilang. Enam bulan yang Nayara pakai buat sembuh pelan-pelan.
Aldi sekarang udah setahun. Udah bisa jalan walau masih limbung-limbung. Udah bisa manggil mama dengan jelas. Giginya udah lumayan banyak. Lucu banget kalau senyum.
Nayara juga udah mulai stabil. Kerjaan freelance-nya makin banyak. Sekarang penghasilannya udah sepuluh juta sebulan. Cukup buat hidup sama Aldi tanpa bergantung sama nafkah Gilang.
Bahkan Nayara udah mulai nabung dikit-dikit. Rencana mau pindah ke rumah kontrakan kecil biar gak ngerepotin orang tua terus.
Pagi itu sabtu. Nayara lagi nyuapin Aldi bubur ayam di teras depan sambil main hp baca-baca grup alumni SMA.
Ada pengumuman tentang reuni. Reuni angkatan 2010 SMA 5 Jakarta.
"Halo temen-temen! Akhirnya kita reuni lagi setelah berapa tahun ya? Hehe. Acaranya tanggal 15 Maret besok di Resto Sari Rasa jam 7 malem. Yang bisa dateng tolong konfirmasi ya! Kangen kalian semua!"
Nayara natap pengumuman itu lama. Reuni ya? Udah berapa lama dia gak ketemu temen-temen SMA? Sepuluh tahun mungkin lebih.
"Nak mau ikut gak ya?" Nayara nanya sama Aldi yang lagi sibuk mainin sendoknya.
Aldi cuma ketawa. Gak ngerti mamanya nanya apa.
Bu Siti keluar dari dalam rumah. "Nayara, ada rencana besok malem?"
"Ada pengumuman reuni SMA Bu. Tapi aku bingung mau ikut atau enggak," Nayara jawab sambil nunjukin layar hp-nya.
"Ikut aja Nak! Kapan lagi ketemu temen lama? Udah lama kan kamu gak ngumpul sama temen?" Bu Siti nyemangatin.
"Tapi Aldi gimana Bu? Mau ditinggal?"
"Ya sama Ibu aja. Ibu jagain. Kamu pergi santai aja," Bu Siti senyum.
Nayara mikir sebentar. Sebenernya dia pengen sih ikut. Kangen juga sama temen-temen lama. Tapi dia takut nanti ditanya-tanyain tentang Gilang, tentang perceraiannya.
"Gak usah mikirin omongan orang Nak. Kamu dateng, senyum, nikmatin acaranya. Kalau ada yang tanya yang aneh-aneh, jawab seperlunya terus alihkan topik," Bu Siti kayak bisa baca pikiran Nayara.
Nayara akhirnya ngangguk. "Baiklah Bu. Aku ikut."
Besok malemnya Nayara bersiap. Dia pake gamis abu-abu yang simpel, hijab putih, makeup tipis biar gak keliatan terlalu pucat. Sepatu flat hitam.
"Mama cantik!" Aldi tiba-tiba bilang sambil plok-plok tangan.
Nayara ketawa. "Terima kasih sayang. Mama pergi bentar ya. Nanti balik lagi."
Nayara cium Aldi berkali-kali sebelum pergi. Bu Siti anter sampe depan pintu.
"Hati-hati ya Nak. Jangan pulang terlalu malem."
"Iya Bu. Paling jam sepuluh udah balik."
Nayara naik ojek online ke resto. Perjalanan setengah jam. Sepanjang jalan dia deg-degan. Gugup. Takut awkward ketemu temen-temen lama.
Sampe di resto, udah ada beberapa orang di dalem. Nayara kenal beberapa muka walau udah berubah. Ada yang gendutan, ada yang kurusan, ada yang udah pake jilbab, ada yang masih sama kayak dulu.
"NAYARA!" seseorang teriak dari sudut ruangan.
Nayara noleh. Dinda. Sahabatnya dulu waktu SMA.
"DINDA!" Nayara langsung lari kecil peluk sahabatnya itu.
Mereka pelukan sambil loncat-loncat kayak anak kecil. Ketawa-ketawa seneng.
"Astaga Nayara kamu masih cantik! Gak berubah!" Dinda bilang sambil pegang kedua tangan Nayara.
"Kamu juga! Malah makin cantik!" Nayara jawab.
Mereka duduk bareng di meja. Ngobrol seru. Nayara ketemu temen-temen lain. Rizki yang dulu cowok paling jail. Sari yang dulu ketua kelas. Andi yang dulu jagoan basket.
Semua udah berubah. Udah dewasa. Punya kehidupan masing-masing.
"Nayara kamu sekarang ngapain? Kerja dimana?" Rizki nanya sambil makan kerupuk.
"Aku kerja freelance. Jadi admin medsos sama bikin konten buat online shop," Nayara jawab santai.
"Wah keren! Zaman sekarang emang zamannya digital ya," Rizki manggut-manggut.
"Kamu udah nikah belum?" Sari nanya. Pertanyaan yang Nayara takuti dari tadi.
Nayara senyum tipis. "Udah. Tapi udah cerai sekarang."
Hening sebentar. Semua yang denger langsung kaget.
"Oh, maaf Nayara. Aku gak bermaksud," Sari langsung minta maaf.
"Gak papa kok. Udah lama juga cerainyanya. Udah move on," Nayara jawab sambil senyum walau hatinya sedikit ngilu.
"Punya anak?" Dinda nanya hati-hati.
"Iya. Satu. Cowok. Namanya Aldi. Udah setahun," Nayara jawab sambil keluarin hp, nunjukin foto Aldi.
"Lucuuuu!" semua pada bilang sambil liat-liat foto Aldi.
"Kamu kuat banget ya Nayara. Jadi single mom gak gampang," Sari ngomong dengan nada kagum.
"Terpaksa kuat. Demi anak," Nayara jawab jujur.
Mereka ngobrol lagi tentang hal-hal lain. Ngomongin guru-guru dulu yang galak. Ngomongin kenakalan waktu SMA. Ngomongin first love yang gak jadian.
Ketawa-ketawa seru.
Tiba-tiba pintu resto kebuka. Masuk seorang cowok tinggi, pake kemeja putih lengan panjang, celana bahan hitam, sepatu pantofel mengkilat. Rambutnya rapi disisir ke samping. Wajahnya, wajahnya familiar banget.
"BIMA!" Rizki langsung berdiri. "Anjir lo dateng juga!"
Bima.
Bima Argantara.
Temen sekelas Nayara dulu. Cowok yang dulu suka banget main basket. Yang suka minjem contekan Nayara pas ulangan matematika. Yang pernah nraktir Nayara es krim waktu ultah Nayara.
Nayara natap Bima yang jalan mendekat sambil senyum lebar. Astaga, dia makin ganteng. Makin dewasa. Aura sukses banget.
"Halo semuanya! Maaf telat. Abis dari kantor," Bima bilang sambil salaman sama yang cowok, salam-salam sama yang cewek.
Begitu sampe di depan Nayara, Bima berhenti. Natap Nayara lama.
"Nayara? Nayara Salsabila?"
Nayara berdiri. "Iya. Hai Bima."
Bima senyum lebar. "Astaga kamu masih sama kayak dulu! Gak berubah!"
"Kamu juga. Eh enggak, kamu malah makin ganteng," Nayara bilang jujur terus langsung ngerasa malu. Kenapa dia bilang gitu sih?
Bima ketawa. "Terima kasih. Kamu juga makin cantik."
Mereka salam tangan. Tangan Bima hangat dan besar. Genggamannya lembut tapi kuat.
"Duduk sini aja Bim. Sama kita," Dinda ngajak sambil nunjuk kursi kosong di samping Nayara.
Bima duduk di samping Nayara. Jarak mereka deket tapi gak terlalu deket. Cukup buat ngobrol nyaman.
"Kamu sekarang kerja dimana Nayara?" Bima nanya sambil tuang air putih ke gelas.
"Aku freelance. Bikin konten medsos," Nayara jawab.
"Wah keren. Kreatif berarti. Cocok sama kamu yang dulu suka gambar-gambar," Bima masih inget ternyata Nayara dulu suka corat-coret buku.
"Kamu masih inget?" Nayara ketawa.
"Ya iyalah. Kamu kan sering gambar di buku catatan terus aku pinjam buat nyontek," Bima ikut ketawa.
Mereka ngobrol makin seru. Ngomongin masa lalu. Ngomongin guru matematika yang galak. Ngomongin waktu Bima pernah jatuh dari ring basket terus Nayara yang bantuin ke UKS.
"Waktu itu sakit banget kaki gua. Tapi gua seneng sih dibantuin sama kamu," Bima ngaku sambil senyum.
"Masa sih? Emang kenapa seneng?" Nayara nanya polos.
Bima natap Nayara. Ada sesuatu di tatapannya. Sesuatu yang bikin Nayara deg-degan.
"Karena kamu baik. Dan cantik," Bima jawab jujur.
Nayara langsung salting. Mukanya panas. "Ah kamu bisa aja."
"Serius. Dulu gua sebenernya suka sama kamu. Tapi gua gak berani ngomong," Bima ngaku dengan santai.
Nayara shock. "Serius? Kok aku gak tau?"
"Ya karena gua gak pernah bilang. Malu. Takut ditolak," Bima ketawa.
"Terus sekarang? Kamu udah nikah?" Nayara ganti nanya.
"Belum. Masih single. Fokus bangun bisnis dulu," Bima jawab. "Kamu?"
"Aku udah. Tapi udah cerai," Nayara jawab sambil senyum tipis.
"Oh." Bima ngangguk. Gak nanya lebih lanjut. Sopan.
"Punya anak?" Bima nanya lagi.
"Iya. Satu. Cowok," Nayara jawab.
"Pasti lucu. Mirip kamu," Bima bilang.
"Mirip bapaknya sebenarnya," Nayara tertawa kecil.
Mereka ngobrol lagi tentang kerjaan. Bima cerita dia sekarang punya perusahaan properti. Bisnis rumah sama apartemen. Udah punya proyek di beberapa kota.
"Wah hebat banget kamu Bim. Sukses," Nayara ngomong dengan nada kagum.
"Alhamdulillah. Usaha keras sih. Dari nol juga. Papa Mama gak punya duit. Jadi harus berjuang sendiri," Bima cerita dengan humble.
Nayara suka sama sikap Bima. Gak sombong walau sukses. Masih rendah hati.
Acara berlangsung sampe jam sepuluh malem. Mereka makan bareng, foto-foto bareng, nyanyi-nyanyi bareng. Seru banget.
Nayara lama gak ngerasa seneng kayak gini. Ketawa lepas. Tanpa beban.
Pas acara mau selesai, Bima ngedeketin Nayara lagi.
"Nayara, boleh aku minta nomormu?"
Nayara kaget. Jantung deg-degan. "Eh, buat apa?"
"Pengen ngobrol-ngobrol lagi. Temenin aku. Gak ada maksud apa-apa kok. Cuma temen lama yang pengen ngobrol," Bima jelasin dengan senyum ramah.
Nayara ragu sebentar. Di kepalanya muncul Gilang. Tapi dia langsung beresin pikiran itu. Gilang udah masa lalu. Dia gak boleh terkungkung sama bayangan Gilang terus.
"Baiklah. Ini nomerku," Nayara kasih nomornya.
Bima ketik di hp-nya. Terus ada notifikasi masuk di hp Nayara.
"Udah aku save. Nanti aku chat ya," Bima bilang.
"Oke," Nayara ngangguk sambil senyum.
Mereka bubar jam setengah sebelas. Nayara pulang naik ojek online lagi. Sepanjang jalan dia senyum-senyum sendiri.
Seneng. Deg-degan. Bingung.
Kenapa ya? Kenapa dia seneng banget ketemu Bima? Kenapa dia deg-degan waktu Bima minta nomer? Kenapa?
Apa dia mulai suka sama Bima?
Enggak ah. Masa sih secepat itu?
Tapi hatinya gak bohong. Dia seneng banget hari ini.
Sampe rumah, Bu Siti masih melek nunggu.
"Gimana acaranya? Seru?"
"Seru banget Bu! Ketemu temen-temen lama. Seru," Nayara jawab sambil senyum lebar.
"Alhamdulillah. Mama seneng lihat kamu senyum kayak gini. Udah lama gak lihat," Bu Siti peluk Nayara.
Nayara peluk ibunya balik. "Terima kasih Bu. Terima kasih udah nyemangatin aku buat ikut."
Malemnya Nayara susah tidur. Pikirannya kemana-mana. Ke Bima. Ke obrolan mereka. Ke senyum Bima. Ke tatapan mata Bima.
Ada perasaan aneh di dadanya. Perasaan yang udah lama gak dia rasain.
Perasaan suka.
Tapi dia takut. Takut salah lagi. Takut sakit lagi.
"Ya Allah, ini perasaan apa? Tolong tunjukin aku jalan yang bener," Nayara berdoa pelan sebelum tidur.
Dan tanpa dia tau, ini adalah awal dari babak baru dalam hidupnya.
Babak yang akan penuh dengan kejutan yang manis, dan mungkin juga kejutan yang pahit.
Tapi apapun itu, Nayara harus siap, karena hidup terus berjalan. Dan dia gak bisa berhenti di satu titik selamanya.
begitu lah kalau org candu judi🤭
nayara jg keras kepala ngapain takut gagal lgi emang sdh nasib jln satu2 nya lebih baik plg ke rmh ibu dari pada mati di tangan bima kasian aldi trauma seumur hidup 🤭🤣🤣🤣
langsung kabur plg ke rmh ibu nya 🤭
bima tak bakal berubah nama jg sdh kecanduan judi 🤭
nayara plg aja ke rmh ibu tinggal kan aja bima biar tau rasa 🤭