"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Gema di Lorong Al-Azhar
Di Ambang Batas
Gurun ini tak lagi terasa asing,
Meski rindu seringkali datang membising.
Kau telah pulang ke tanah yang hijau,
Meninggalkanku di sini, meredam risau.
Kitab-kitab ini kini menjadi temanku,
Ejaan-ejaan Arab yang membentuk mimpiku.
Aku bukan lagi gadis pantai yang sekadar menanti,
Aku adalah pejuang ilmu yang berjanji pada hati.
Pesawat yang membawa Gus Zidan telah lama membelah awan, meninggalkan langit Kairo yang gersang menuju tanah Jawa yang selalu dirindukan. Seiring dengan kepergian sosok itu, Bungah merasa ada bagian dari dirinya yang ikut terbawa, namun ada pula kekuatan baru yang tertanam di jiwanya. Perasaan rindu yang tadinya menyesakkan, kini ia ubah menjadi bahan bakar untuk membuka setiap lembar kitab Tafsir dan Hadis.
Pagi itu, Kairo disambut dengan badai pasir tipis yang membuat langit berwarna kuning tembaga. Bungah duduk di pojok perpustakaan Al-Azhar yang sunyi. Di depannya, bertumpuk-tumpuk referensi untuk persiapan ujian termin pertama di tahun kedua. Ia tak lagi main-main. Jika dulu ia belajar karena ingin dipuji oleh "Kak Zidan", kini ia belajar karena ia sadar bahwa ilmu adalah martabatnya.
"Adek, sudah makan?" sebuah suara berat menginterupsi konsentrasinya.
Bungah mendongak. Mas Azam berdiri di sana dengan dua cup kopi hangat dan roti Aish Baladi. Wajah Mas Azam nampak sedikit lelah, namun sorot matanya selalu penuh perlindungan untuk adik bungsunya itu. Mas Azam adalah pilar kekuatannya di sini. Kakak keduanya ini sudah berada di Kairo sejak Bungah masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Belasan tahun Mas Azam menghabiskan waktu di tanah para nabi ini, mulai dari tingkat sarjana hingga kini berhasil menyandang gelar Doktor (S3). Meski studinya sudah selesai, Mas Azam memilih tetap tinggal untuk membimbing Bungah sekaligus mengabdi di lingkungan akademis Al-Azhar.
"Belum, Mas. Sedikit lagi, bagian I'rab ini susah sekali," jawab Bungah sambil membetulkan letak cadarnya yang sedikit bergeser.
Mas Azam menarik kursi di hadapan Bungah. "Jangan terlalu dipaksakan. Kamu sudah belajar dari jam empat pagi. Gus Zidan memang menyuruhmu jadi 'Mentari', tapi bukan berarti kamu harus membakar dirimu sendiri sampai habis.".
Bungah tersenyum di balik kain hitamnya. "Bungah cuma nggak mau mengecewakan, Mas. Bungah di sini bawa nama besar keluarga, juga bawa janji yang baru saja diikat kemarin."
Mas Azam menyesap kopinya perlahan. Ia teringat bagaimana dulu ia sering menelepon rumah saat Bungah masih SMP, mendengar rengekan adiknya yang malas belajar. Kini, transformasi itu nyata di depan matanya. "Adek tahu tidak? Sebenarnya Mas kagum sama kamu. Mas ingat dulu waktu kamu nangis karena pertama kali haid, kamu bilang kamu nggak mau dewasa. Sekarang, lihat dirimu. Kamu sudah benar-benar menjadi mahasiswa Al-Azhar yang sesungguhnya."
Pujian Mas Azam membuat hati Bungah menghangat. Namun, tantangan di Kairo bukan hanya soal pelajaran. Hidup sebagai mahasiswi asing di tengah hiruk-pikuk kota tua ini membutuhkan mental baja. Bungah harus terbiasa dengan desak-desakan di bus kota yang penuh sesak, menghadapi pedagang pasar yang kadang bicara dengan nada tinggi, hingga harus tetap fokus belajar saat suhu Kairo menyentuh angka yang sangat dingin di musim dingin.
Bulan-bulan berikutnya, sosok Zidan benar-benar "menghilang" dari keseharian Bungah secara fisik. Sesuai kesepakatan, mereka meminimalkan komunikasi. Zidan ingin Bungah mandiri, dan Bungah ingin membuktikan bahwa ia bisa. Mas Azam pun sangat tegas menjaga adiknya; ia tidak ingin konsentrasi Bungah pecah oleh urusan asmara sebelum waktunya tiba.
Kini, hari-hari Bungah dipenuhi dengan halaqah-halaqah ilmu. Ia seringkali menghabiskan waktu di Masjid Al-Azhar, duduk bersimpuh di atas karpet merah yang tebal, menyimak penjelasan dari para Syeikh besar. Ia mulai dikenal sebagai mahasiswi yang gigih. Meskipun cadarnya menutupi identitas wajahnya, kecerdasan dan ketajaman pertanyaannya saat diskusi kelas seringkali membuat para pengajar terkesan.
Suatu sore, saat ia sedang berjalan pulang menuju asrama melewati jalanan berbatu di Khan el-Khalili, seorang teman mahasiswi dari Malaysia bertanya padanya.
"Bungah, kenapa kamu rajin sekali? Bukankah kamu sudah punya calon di Indonesia? Biasanya yang sudah punya calon tinggal menunggu waktu pulang saja untuk menikah."
Bungah berhenti sejenak, menatap menara-menara masjid yang menjulang tinggi ke angkasa. "Justru karena aku punya seseorang yang hebat menungguku di sana, aku harus menjadi pantas untuknya. Aku tidak mau ketika pulang nanti, aku hanya membawa diri. Aku ingin membawa cahaya yang bisa membantu perjuangannya di pesantren."
Perkataan itu bukan sekadar basa-basi. Di tahun kedua ini, Bungah mulai mengambil spesialisasi yang cukup berat. Ia mendalami hukum-hukum kewanitaan dalam Islam secara mendalam. Ia ingin suatu saat nanti, jika ia menjadi istri seorang Gus, ia bisa menjadi rujukan bagi para santriwati di sana.
Malam-malam di Kairo ia lewatkan dengan ditemani lampu belajar yang temaram. Terkadang, rasa lelah menyerangnya. Saat-saat seperti itu, ia akan membuka laci mejanya, menyentuh kotak cincin pemberian Zidan tanpa membukanya, lalu menutupnya kembali. Sentuhan itu sudah cukup untuk membangkitkan energinya kembali. Mas Azam yang sering mampir ke asrama untuk membawakan makanan atau sekadar mengecek hafalan adiknya selalu memberikan dukungan moril.
"Adek," panggil Mas Azam suatu malam saat mereka sedang makan malam bersama.
"Kenapa, Mas?"
"Apa menurut Mas, Bungah bisa lulus dengan predikat Mumtaz (Istimewa)?"
Mas Azam menaruh sendoknya, menatap adiknya dengan serius. "Ilmu itu bukan soal nilai di atas kertas, Dek. Tapi soal seberapa dalam ia meresap ke dalam akhlakmu. Tapi kalau kamu tanya soal kemampuan, Mas saksinya. Kamu sudah di sini bersama Mas, melihat bagaimana Mas berjuang dari S1 sampai S3. Darah pejuang itu ada di kamu juga. Asal kamu tidak berhenti bergerak, predikat itu pasti akan mengikutimu."
Bungah mengangguk mantap. Ia tahu, bab-bab selanjutnya dalam hidupnya di Kairo akan semakin berat. Ujian sesungguhnya bukan lagi soal rindu pada Zidan, melainkan soal bagaimana ia menaklukkan tumpukan kitab dan egonya sendiri di negeri para Nabi ini.
Bagi Bungah, setiap baris hafalan adalah satu langkah lebih dekat menuju kepulangannya. Setiap pemahaman baru adalah kado yang ia siapkan untuk masa depannya nanti. Di bawah langit malam Kairo yang bertabur bintang, Bungah terus mengeja mimpinya, sendirian tanpa Zidan, namun dengan doa yang selalu menyatu dalam setiap napasnya dan bimbingan setia dari Mas Azam yang tak pernah lelah menjaganya.