"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Abdi melangkah keluar dari gedung kantor Disa dengan kaki yang terasa seperti dipasung beton. Surat di tangannya bukan sekadar kertas, tapi bom waktu yang siap menghancurkan satu-satunya kebanggaan Mama Ratna. Sepanjang jalan pulang, telinganya terngiang-ngiang suara tawa Disa yang penuh kemenangan.
Begitu sampai di rumah, suasana yang awalnya tenang langsung pecah. Mama Ratna dan Amel sudah menunggu di teras dengan wajah penuh harap, mengira Abdi membawa kabar pencabutan laporan polisi.
"Gimana, Di? Disa sudah setuju cabut laporannya, kan? Dia takut kan setelah tahu kamu bakal dibantu Rini?" tanya Mama Ratna antusias matanya berbinar menatap map di tangan Abdi.
Abdi tidak menjawab tapi dia menyerahkan map cokelat itu ke tangan Mamanya dengan tangan gemetar. "Disa nggak mau cabut laporan Mah, dan ini... ini adalah kejutan dari Disa."
Mama Ratna mengerutkan kening, membuka map itu dengan cepat. Begitu membaca barisan kalimat hukum dan melihat alamat rumahnya tercantum di sana sebagai objek sita jaminan, wajah Mama Ratna mendadak pucat pasi.
Tangannya gemetar, napasnya mulai tersengal-sengal.
"Apa ini, Abdi?! Sita jaminan?! Maksudnya apa?! Ini rumah Mama! Mama yang punya sertifikatnya!" teriak Mama Ratna histeris suaranya melengking hingga terdengar ke tetangga sebelah.
"Disa punya bukti aliran dana Mah, Disa itu seorang auditor. Dia bisa melacak setiap rupiah gaji Abdi yang masuk ke pembangunan rumah ini," sahut Abdi dengan nada putus asa. "Dia bilang, ini harta bersama yang digelapkan. Secara hukum rumah ini dibangun pakai hak anak istri aku Mah."
"Gila! Disa beneran gila!" Amel ikut menjerit saat membaca dokumen itu. "Terus gimana nasibku, Mas? Kalau rumah ini disita, kita tinggal di mana? Dan laporanku gimana?!"
Di tengah kepanikan itu mobil merah Rini kembali berhenti di depan pagar. Rini turun dengan gaya anggunnya yang biasa, namun kali ini tatapannya berubah saat melihat suasana kacau di teras.
"Ada apa ini? Kok sampai teriak-teriak?" tanya Rini, matanya langsung menangkap map cokelat yang tergeletak di lantai teras.
Mama Ratna langsung memburu Rini, berlutut dan memegang kaki janda kaya itu. "Jeng Rini, tolong! Disa mau menyita rumah ini! Tolong bantu Abdi bayar pengacara atau apa saja supaya rumah ini selamat!"
Rini mengambil map itu, membacanya pelan. Matanya yang tajam langsung menangkap celah hukum yang dibuat Disa. Senyum manja yang biasanya ada di wajah Rini perlahan menghilang, berganti dengan tatapan pragmatis seorang pengusaha.
"Waduh, Jeng Ratna... kalau urusannya sudah sita jaminan harta bersama begini, ceritanya beda," ujar Rini dengan suara dingin. Ia melirik Abdi yang tampak hancur. "Saya mau bantu Mas Abdi untuk urusan Amel karena itu masalah uang jajan bagi saya. Tapi kalau saya harus ikut campur urusan sengketa rumah tangga yang serumit ini... sepertinya saya harus berpikir ulang."
"Maksud Jeng Rini apa?" tanya Mama Ratna shock.
"Saya mau cari suami untuk hidup enak, bukan untuk cari masalah hukum yang bisa menyeret aset-aset saya nantinya," jawab Rini sambil merapikan tas mahalnya. "Mas Abdi, urus dulu masalah istrimu yang luar biasa itu. Kalau urusan rumah ini sudah beres, baru hubungi saya lagi. Saya nggak mau toko emas saya ikut-ikut diperiksa pengadilan gara-gara aliran dana kamu."
Tanpa menunggu jawaban Rini berbalik dan masuk ke mobilnya. Mobil mewah itu melesat pergi, meninggalkan debu yang menerpa wajah Mama Ratna yang kini terduduk lemas di lantai.
Abdi tertawa getir. "Lihat kan, Mah? Itu 'malaikat' pilihan Mama. Begitu ada masalah, dia lari."
Tiba-tiba, dari ujung jalan, sebuah mobil dinas pengadilan dengan beberapa petugas berseragam muncul. Mereka membawa papan pengumuman besar. Mama Ratna yang melihat itu langsung menjerit sebelum akhirnya tubuhnya ambruk, pingsan di atas lantai teras rumah yang sebentar lagi bukan miliknya lagi.