NovelToon NovelToon
Rahasia Prajurit Li

Rahasia Prajurit Li

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7.Mencari sendiri.

Yun Lan melangkah keluar dari balik pohon dengan wajah yang sudah kembali tenang.

Tenang yang dipaksakan.

Tenang yang dibangun di atas kenangan pahit yang hanya ia sendiri yang tahu.

Ayah aku tidak akan membiarkan dirimu pergi.

Ia menarik napas dalam, menghapus sisa air mata di pipinya, lalu berjalan memasuki halaman rumah seolah tidak ada apa-apa.

Seolah ia tidak melihat ayahnya memegang gulungan titah kekaisaran.

Seolah ia tidak tahu siapa tamu yang berdiri di sana.

Seolah hidup mereka masih sama seperti kemarin.

“Ayah, ada tamu?” tanyanya ringan, suaranya dibuat polos seperti biasa.

Ayahnya, Li Jian, menoleh. Senyum lembut yang selalu sama itu muncul lagi di wajahnya.

Senyum yang dulu berhasil menipunya.

Senyum yang sekarang terasa begitu menyakitkan di dadanya.

“Hanya utusan dari kota,” jawabnya singkat. “Membawa pesanan alat besi.”

“Wah, kita bisa makan daging untuk beberapa hari. ”ucapnya Yun lan sambil tersenyum penuh arti.

Alasan sederhana.

Masuk akal.

Kebohongan yang sama seperti kehidupan sebelumnya.

Ia tidak bertanya lebih jauh.

Tidak mendekat.

Tidak menunjukkan rasa ingin tahu.

Karena ia tahu.

Jika ia bertanya terlalu banyak, orang tuanya akan semakin berhati-hati menyembunyikan semuanya.

Dan Yun Lan tidak ingin itu.

Ia ingin mereka merasa dirinya tahu tentang rahasia mereka.

Biarkan rahasia itu tersembunyi dengan sempurna.

Seperti dulu.

Ia melangkah masuk ke rumah, melewati ibunya yang berdiri di ambang pintu. Mata ibunya sekilas bertemu dengannya.

Dan Yun Lan hampir kehilangan kendali di sana.

Mata itu.

Mata yang dulu hanya ia pahami sebagai lelah.

Sekarang ia melihatnya dengan jelas.

Kekhawatiran.

Ketakutan.

Kesedihan yang sudah muncul bahkan sebelum apa pun terjadi.

Ibunya tersenyum kecil.

“Kamu dari mana saja,dari pagi sudah keluyuran?.”

“Aku habis dari kuil sebentar. ”lanju Yun lan sambil memegang perut gembulnya. “Ibu aku lapar, apa sarapannya sudah siap?. ”

“Sudah ibu sisikan untuk mu di dapur, kamu makan dulu. Ibu mau pergi ke ladang sebentar. ”ucapnya sambil tersenyum penuh kepura-puraan.

Yun Lan mengangguk dan masuk tanpa berkata apa-apa lagi.

Tetapi dari sudut matanya, ia terus memperhatikan.

Memperhatikan ayahnya kembali duduk di depan tungku, memukul besi panah dengan palu besar.

Tang.

Tang.

Tang.

Bunyi itu ritmis.

Keras.

Tetapi di sela-selanya…

Batuk itu muncul lagi.

Dalam.

Berat.

Menyayat.

Ayahnya memalingkan wajah setiap kali batuk itu datang, seolah ingin menyembunyikannya dari dunia.

Dari ibunya.

Dari Yun Lan.

Tetapi Yun Lan sekarang mendengar setiap detailnya.

Ia melihat sesuatu yang dulu tidak pernah ia sadari.

Kaki ayahnya.

Sedikit pincang.

Hampir tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama.

Dulu ia mengira ayahnya hanya lelah.

Sekarang ia tahu.

Itu bekas luka lama.

Luka perang.

Tang.

Tang.

Batuk.

Tang.

Batuk lebih keras.

Palu berhenti sesaat.

Ayahnya terdiam, menahan napas, lalu kembali memukul besi seolah tidak terjadi apa-apa.

Yun Lan mengepalkan tangannya di bawah meja.

Dulu ia tidak melihat ini.

Dulu ia tidak tahu apa-apa.

Sekarang, semuanya terlihat begitu jelas.

Yun lan berlari kedapur mengambilkan minuman untuk ayahnya, yang dari tadi terus batuk.

“Ayah, minum ini dulu. ”sambil mengarahkan gelas minum kearah ayahnya.

Ayahnya menatap Yun lan sambil tersenyum dan mengelus rambut putrinya. “Putri ayah sudah dewasa sudah bisa berbakti pada ayahnya. ”

“Ayah... sudah mujinya. Cepat minum!. ”

“Iya.., terimakasih nak. ”ucap ayahnya sambil mengambil gelas di tangan Yun lan.

Ayahnya meminum air yang di bawakan anaknya, Yun lan hanya bisa menatap sambil menahan air matanya.

“Yu lan, mau kedapur dulu ambil sarapan. Jika ayah butuh sesuatu panggil Yun lan. ”

“Iya.”

Pagi itu Yun lan sudah bertekad untuk mencegah ayahnya berangkat, dan bagaimana caranya masih Yun lan pikirkan.

Sore itu Yun lan duduk di teras rumahnya, ia memalingkan wajah sambil menatap ibunya.

Ibunya sedang duduk di sudut ruangan, menjahit pakaian lama yang sudah berkali-kali ditambal.

Tetapi jarum di tangannya beberapa kali berhenti di udara.

Pandangan ibunya bukan pada kain.

Tetapi pada punggung suaminya yang masih bekerja.

Mata itu tidak bisa berbohong.

Rapuh.

Takut.

Dan berusaha mati-matian terlihat biasa.

Persis seperti kehidupan sebelumnya.

Persis seperti malam-malam ketika ibunya menangis tanpa suara.

Menyembunyikan kesedihan agar putrinya tidak tahu apa-apa.

Yun Lan menunduk.

Dadanya terasa berat.

Ia ingin memeluk ibunya.

Ingin berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Tetapi ia tidak bisa.

Karena jika ia melakukannya, semuanya akan berubah.

Dan sekarang belum saat yang tepat.

Belum saat ini.

Malam pun tiba perlahan.

Langit berubah gelap lebih cepat dari biasanya.

Ayahnya akhirnya berhenti bekerja.

Batuknya semakin sering.

Ibunya mendekat dengan wajah yang tidak bisa lagi menyembunyikan kekhawatiran.

“Kita ke rumah tabib,” katanya pelan.

Ayahnya ingin menolak, tetapi batuk berikutnya membuatnya tidak bisa berbicara.

Akhirnya ia hanya mengangguk.

Sebelum pergi, ibunya menoleh ke arah Yun Lan.

“Kami tidak lama. Jaga rumah, ya.”

Yun Lan mengangguk patuh.

Pintu ditutup.

Langkah kaki mereka menjauh.

Dan untuk pertama kalinya sejak pagi, rumah itu benar-benar sunyi.

Sunyi yang berat.

Sunyi yang penuh kenangan.

Yun Lan berdiri di tengah ruangan beberapa saat.

“Jika bukan hari ini kapan lagi. ”ucapnya pada dirinya sendiri.

Lalu perlahan… ia bergerak.

Langkahnya pelan, hati-hati.

Menuju kamar orang tuanya.

Kamar yang dulu tidak pernah ia masuki tanpa izin.

Tangannya menyentuh gagang pintu.

Dengan sentuhan ringan, agar bisa mengontrol kekuatannya.

Dinginnya kayu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia tahu persis apa yang ia cari.

Karena di kehidupan sebelumnya… ia pernah melihat ayahnya menyimpan sesuatu di sana.

Ia membuka pintu pelan—sangat pelan dan hati-hati.

Kamar itu sederhana.

Rapi.

Berbau kayu dan minyak obat.

Yun Lan langsung menuju lemari kayu tua di sudut ruangan.

Ia membuka laci paling bawah.

Kosong.

Ia menyingkirkan pakaian.

Tangannya menyusuri bagian belakang lemari.

Dan ia menemukannya.

Ruang kecil tersembunyi.

Jari-jarinya bergetar ketika menyentuh gulungan kertas berwarna kuning keemasan itu.

Persis seperti yang ia ingat.

Gulungan titah kekaisaran.

Napasnya terasa berat.

Ia membawanya ke tempat tidur.

Duduk perlahan.

Lalu membuka gulungan itu.

Tulisan tinta hitam dengan stempel merah kekaisaran memenuhi pandangannya.

Perintah resmi.

Pemanggilan Jenderal Li Jian kembali ke medan perang.

Tidak ada permintaan.

Tidak ada pilihan.

Hanya perintah.

Dan kalimat yang membuat tangan Yun Lan gemetar—

“…demi mempertahankan perbatasan timur dari serangan musuh, Jenderal Li Jian diwajibkan memimpin pasukan mulai awal musim dingin…”

Awal musim dingin.

Persis.

Persis seperti kehidupan sebelumnya.

Air mata Yun Lan jatuh tanpa suara.

Ia memegang kertas itu erat-erat.

Seakan ingin merobeknya.

Menghancurkannya.

Menghapus takdir yang tertulis di sana.

Tiba-tiba—

Pintu kamar terbuka.

Yun Lan dan ibunya sama-sama terkejut.

Mata mereka bertemu.

Waktu seolah berhenti.

Ibunya berdiri di ambang pintu.

Wajahnya pucat.

Pandangan matanya langsung jatuh pada gulungan emas di tangan Yun Lan.

Dan dalam satu detik itu… semua rahasia runtuh.

“Kau…” suara ibunya gemetar.

Yun Lan berdiri perlahan.

Jantungnya berdegup keras di telinga.

Ia tidak sempat menyembunyikan apa pun.

Tidak sempat berpura-pura.

Mereka hanya saling menatap.

Lama.

Sunyi.

Dan di mata ibunya, Yun Lan melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Bukan marah.

Bukan terkejut.

Tetapi… ketakutan.

Ketakutan terbesar seorang ibu.

Bahwa anaknya akhirnya tahu.

“Apa ini, Ibu?” tanya Yun Lan sambil memegang surat istana itu.

Suaranya sengaja dibuat polos.

Seperti ia tidak mengerti.

Seperti ia baru saja menemukan sesuatu yang asing.

Ibunya melangkah masuk.

Menutup pintu pelan di belakangnya.

Tangannya gemetar ketika mendekat.

“Kembalikan!,itu tidak baik nak…”

Suaranya pelan, hampir seperti bisikan.

Yun Lan menunduk, memandang surat itu lagi.

“Sampai kapan kalian membohongi aku!.”nada Yun lan mulai meninggi dengan marah yang lama dia tahan.

Malam itu dua wanita dengan kekhawatiran yang sama berhadapan di kehidupan baru ini, yang satu menuntut kebenaran tentang surat itu.

Dan seorang ibu yang tidak mampu berkata, hatinya terasa sakit melihat putrinya terlihat marah pada dirinya.

1
Nurhasanah
suka bangett cerita mu thor .... rajin2 up ya thor semangattt 🥰🥰🥰💪💪💪💪
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
kau bukan tidak berguna tapi kau terlalu berharga untuk anak yang sudah kau besarkan Jendral Li
Nurhasanah
makin seru .. semangatt thor 🥰🥰🥰
Nurhasanah
lanjut thor ... semangattt 💪💪💪🥰🥰🥰🥰
Nurhasanah
karya bagus gini semoga banyak yg baca ya thorr semangatt ... suka bangett ceritanya 🥰🥰🥰🥰🥰
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir dulu aku
azka aldric Pratama
hadir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!