Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.
Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.
Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...
baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 - Pesan Yang Membingungkan
-~-Retakan yang Tidak Terlihat
Pagi datang tanpa matahari.
Kabut tipis masih menggantung di perkemahan, seolah dunia ragu apakah ia ingin melanjutkan hari atau berhenti di titik semalam. Para prajurit Florence bergerak lebih pelan dari biasanya. Tidak ada teriakan perintah, tidak ada tawa ringan hanya suara langkah dan logam yang saling bergesek.
Arthur berdiri sendirian di tepi bukit.
Ia tidak tidur.
Bukan karena mimpi buruk, melainkan karena tidak ada mimpi sama sekali hanya kekosongan panjang, seolah pikirannya dijeda oleh sesuatu yang lebih besar darinya.
Lucien mendekat perlahan. Wajahnya pucat, namun langkahnya lebih stabil dibanding hari-hari sebelumnya. Itu seharusnya kabar baik, tapi justru terasa salah.
“Kau merasakan itu?” tanya Lucien.
Arthur tidak menoleh. “Seperti dunia sedang… mendengarkan.”
Lucien terdiam sejenak. “Itu bukan perasaan. Itu reaksi.”
Arthur akhirnya menoleh. “Reaksi terhadap apa?”
“Terhadapmu.”
Angin berembus pelan, membawa bau tanah basah dan besi tua. Arthur menghela napas.
“Kalau aku ini poros atau pewaris atau apa pun istilah mereka,” katanya datar, “kenapa aku tidak diberi pilihan?”
Lucien tersenyum pahit. “Karena sistem yang memilihmu dibangun untuk bertahan, bukan untuk adil.”
Arthur mengepalkan tangannya. Untuk sesaat, tanah di bawah kakinya bergetar ringan hampir tak terasa, tapi Lucien melihatnya.
“Kau mulai mempengaruhi struktur,” ucapnya pelan.
Arthur tersentak. Ia melangkah mundur. Getaran itu berhenti.
“Sejak kapan?” tanyanya.
Lucien ragu. “Sejak kau menolak mereka.”
Keheningan kembali turun.
Dari kejauhan, Hendry datang tergesa menaiki kuda. Wajahnya tegang bukan panik, tapi fokus.
“Kabar dari mata-mata Borein,” katanya tanpa basa-basi. “Ada yang aneh.”
Arthur berbalik penuh. “Jelaskan Hendry.”
“Dua hari terakhir, tuan muda” lanjut Hendry, “logistik Duke New Gate kacau total. Bukan karena sabotase biasa. Perintah tidak sampai. Komandan bertentangan satu sama lain. Seolah… mereka melihat peta yang berbeda.”
Arthur dan Lucien saling pandang.
“Efek lanjutan,” gumam Lucien.
Arthur menelan ludah. “Aku tidak melakukan apa pun.”
“Belum,” balas Lucien jujur. “Tapi dunia mulai menyesuaikan diri dengan keberadaanmu. Sistem lama retak. Informasi jadi tidak stabil.”
Hendry mengernyit. “Kalian bicara apa?”
Arthur menatap sahabatnya. Untuk pertama kalinya, ia ragu harus menjawab seberapa jauh.
“Perang ini,” kata Arthur akhirnya, “mungkin tidak lagi dimenangkan dengan pedang.”
Hendry menegang. “Maksudmu tuan muda?”
Arthur menatap ke arah peta di meja komando. Garis-garis wilayah terasa berbeda sekarang bukan sekadar tanah, tapi titik-titik tekanan.
“Aku ingin mencoba sesuatu,” katanya pelan. “Dan kalau aku salah…”
Lucien menyela. “Maka retakannya akan terlihat oleh semua orang.”
Hendry menatap mereka bergantian. “Arthur, katakan saja satu hal kau masih berpihak pada Florence, kan?”
Arthur mengangkat kepalanya. Matanya tajam, lebih tenang dari sebelumnya.
“Selama aku masih memilih,” katanya, “iya.”
Lucien menunduk, seolah menerima batas itu.
Tiba-tiba, seorang kurir berlari masuk ke perkemahan, wajahnya pucat pasi.
“Marquis Florence mengirim pesan darurat!” serunya. “Benteng kediaman… mengalami gangguan aneh. Menara jam berhenti, meriam tidak bisa diarahkan, dan..”
Ia menelan ludah.
“Beberapa prajurit mengaku melihat simbol bercahaya di dinding benteng.”
Arthur merasakan dadanya kembali panas.
Simbol yang sama.
Lucien memejamkan mata. “Mereka sudah mulai menandai titik-titik penting.”
Arthur berbisik, hampir pada dirinya sendiri, “Jadi ini bukan tentang menggantikanku…”
Ia mengangkat kepala.
“Ini tentang menguji apakah aku layak dipertahankan.”
Di kejauhan, awan bergerak melawan arah angin.
Dan di Wilayah Pusat Kekaisaran Valerion jauh dari medan perang sebuah mekanisme kuno yang telah lama diam…
…berbunyi sekali.
[D--DING!... ANALYSIS...]
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥