Alisa Putri adalah seorang guru TK yang lembut dan penuh kasih, sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk keceriaan anak-anak.
Namun, dunianya yang berwarna mendadak bersinggungan dengan dunia dr. Niko Arkana, seorang dokter spesialis bedah yang dingin, kaku, dan perfeksionis.
Niko merupakan cucu dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja dan memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga reputasi keluarganya.
Pertemuan mereka bermula lewat Arka, keponakan Niko yang bersekolah di tempat Alisa mengajar.
Niko yang semula menganggap keramahan Alisa sebagai hal yang "tidak logis", perlahan mulai tertarik pada ketulusan sang guru.
Sebaliknya, Alisa menemukan bahwa di balik dinding es dan jubah putih Niko, tersimpan luka masa lalu dan tanggung jawab berat yang membuatnya lupa cara untuk bahagia.
Bagaimana kelanjutan???
Yukk baca cerita selengkapnya!!!
Follow IG: @Lala_Syalala13
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panjat Sosial
Alisa melirik ke arah Niko yang kini sedang fokus memundurkan mobil.
Ia bisa melihat telinga pria itu sedikit memerah, sebuah tanda kecil yang menunjukkan bahwa dokter Niko Arkana yang perfeksionis sedang merasa tertangkap basah.
"Terima kasih Niko, ini sangat... manis." ucap Alisa tulus.
"Ini sehat, bukan manis." ralat Niko cepat, mencoba mengembalikan wibawa dokternya.
Perjalanan menuju sekolah Pelangi Bangsa berlangsung hangat, namun suasana berubah drastis begitu mereka sampai di area parkir.
Berita tentang Alisa yang makan malam di rumah sakit bersama Niko dan bertemu dengan Tuan Aris Arkana ternyata telah menyebar secepat virus di musim penghujan.
Beberapa ibu-ibu wali murid yang sedang mengantar anak mereka tampak berbisik-bisik sembari menunjuk ke arah sedan hitam itu.
Alisa menarik napas panjang, mencoba menyiapkan mentalnya.
Begitu Alisa turun, dia disambut oleh Bu Maya di lobi dan wajah Bu Maya tampak cemas.
"Alisa hati-hati, gosipnya sudah sampai ke telinga kepala sekolah dan katanya ada wali murid yang protes karena merasa guru di sini punya hubungan istimewa dengan pemilik yayasan medis besar, takutnya ada perlakuan beda untuk murid tertentu." tutur bu Maya.
Alisa tertegun.
"Tapi Arka diperlakukan sama seperti yang lain bu Maya, hubungan saya dengan Pak Niko tidak ada hubungannya dengan nilai atau perlakuan di kelas." bantah Alisa.
"Aku tahu Alisa, tapi kamu tahu sendiri bagaimana mulut orang tua murid yang tidak senang melihat orang lain beruntung." bisik Bu Maya.
Niko yang ternyata belum beranjak karena sedang membantu Arka mengeluarkan tas ranselnya yang tersangkut pun mendengar percakapan itu.
Ia melangkah maju dan berdiri di samping Alisa. Aura dominasinya seketika membuat beberapa ibu-ibu yang bergosip tadi mendadak sibuk dengan ponsel mereka.
"Jika ada yang merasa keberatan dengan integritas Bu Alisa mereka bisa bicara langsung denganku." ucap Niko dingin.
Matanya menyapu lobi dengan tatapan yang sanggup menghentikan detak jantung.
"Niko tolong jangan." bisik Alisa sambil menarik lengan baju Niko.
"Ini masalah sekolah, biarkan aku yang menyelesaikannya secara profesional." ucap Alisa.
Niko menatap Alisa sejenak lalu mengembuskan napas panjang.
"Baiklah, tapi aku tidak akan membiarkan siapa pun merendahkanmu hanya karena mereka iri." seru Niko.
Jam istirahat pun tiba, Alisa sedang duduk di ruang guru, mencoba menikmati overnight oats pemberian Niko yang memang terasa sangat enak, ketika Pak Satria masuk dengan wajah yang tidak bersahabat.
Ia meletakkan peluitnya di meja dengan suara keras membuat Alisa ikut terkejut.
"Wah sarapannya saja eksklusif ya sekarang? Bekal dari RS Medika Utama?" Satria menyindir, matanya menatap tas pendingin perak di meja Alisa.
Alisa menutup wadah makanannya.
"Pak Satria kalau ada masalah tolong sampaikan dengan jelas, jangan menyindir terus." seru Alisa jengah sekali.
Satria mendekat, tangannya bertumpu di kursi Alisa.
"Masalahnya adalah kamu bu Alisa, kamu guru favorit di sini tapi sejak Dokter itu muncul kamu jadi sulit diajak bicara, kamu tahu tidak? Di luar sana orang bilang kamu sedang panjat sosial lewat pamannya Arka." seru pak Satria.
Wajah Alisa memucat.
"Itu fitnah Pak Satria, saya tidak pernah meminta apa pun dari Pak Niko." seru Alisa tidak terima dituduh seperti itu.
"Tapi kamu menerima semuanya kan? Antar jemput, makanan, bahkan kamu berani masuk ke ruang pribadinya di rumah sakit, kamu tidak sadar kalau kamu cuma jadi mainan sementara buat orang kaya seperti dia?" ucap pak Satria.
Plak!
Alisa tidak menampar Satria, namun ia menggebrak meja dengan sangat keras hingga botol minum Satria terjatuh.
Alisa berdiri dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh keberanian.
"Cukup Pak Satria, saya menghargai Anda sebagai rekan kerja, tapi Anda tidak punya hak untuk menghina saya atau Pak Niko. Apa yang kami jalani bukan urusan Anda, dan jika Anda merasa terganggu itu adalah masalah rasa percaya diri Anda sendiri bukan masalah saya." sahut Alisa dengan sedikit meninggikan suaranya karena dia tidak terima dengan tuduhan yang diberikan oleh pak Satria.
(Ada yang kesel juga gak sih sama Satria ini, mentang-mentang kalah saing malah serang Alisa.)
Alisa segera keluar dari ruang guru meninggalkan Satria yang tertegun di tempatnya.
Namun begitu sampai di taman belakang sekolah yang sepi tangis Alisa pecah.
Kata-kata "panjat sosial" dan "mainan sementara" benar-benar melukai hatinya, ia sadar inilah badai yang Niko maksud.
Perbedaan dunia mereka bukan hanya soal angka di rekening bank, tapi soal persepsi kejam orang-orang di sekitar mereka.
Sore hari Niko datang menjemput tepat waktu, ia menyadari ada yang salah begitu melihat mata Alisa yang sembab meski sudah ditutupi dengan riasan tipis.
Niko tidak langsung menyalakan mesin mobil tapi ia menatap Alisa dengan intens.
"Siapa yang membuatmu menangis?" tanya Niko.
Suaranya rendah, berbahaya, dan penuh tuntutan.
"Tidak ada Niko, hanya kelelahan." dusta Alisa sembari mencoba tersenyum.
Niko tidak percaya, ia meraih dagu Alisa dan memaksa wanita itu menatap matanya.
"Alisa, aku seorang dokter dan aku tahu perbedaan antara mata lelah dan mata yang habis menangis karena terluka, apa Satria mengganggumu lagi?" tebak Niko.
Alisa akhirnya menyerah, ia menceritakan apa yang dikatakan Satria dan bagaimana gosip-gosip itu mulai menyerang integritasnya sebagai guru.
Niko mendengarkan dalam diam namun rahangnya mengeras dan tangannya mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih.
"Aku akan bicara dengan kepala sekolahmu besok." ucap Niko.
"Jangan! Niko, tolong." Alisa memegang tangan Niko.
"Jika kamu campur tangan maka orang akan makin berpikir kalau aku berlindung di balik kekuasaanmu, biarkan aku membuktikan lewat kinerjaku, aku hanya... butuh waktu untuk tidak mendengarkan mereka." sahut Alisa.
Niko menatap tangan Alisa yang menggenggamnya, kemarahannya perlahan mereda digantikan oleh rasa iba dan kekaguman atas harga diri wanita ini.
Ia melepaskan kemudi lalu menarik Alisa ke dalam pelukannya, ini adalah pertama kalinya Niko memeluk Alisa secara sadar dan emosional.
"Maafkan aku." bisik Niko di telinga Alisa.
"Aku membawa badai ini ke hidupmu yang tenang, aku lupa kalau duniaku memang berisik." lanjutnya.
Alisa menyandarkan kepalanya di bahu Niko, menghirup aroma maskulin yang menenangkan itu.
"Bukan salahmu, ini adalah risiko dari benih yang kita tanam kan?" ucapnya.
Niko melepaskan pelukannya namun tetap memegang bahu Alisa, ia mengambil sebuah kotak kecil dari dashboard mobil.
"Tadi aku mampir ke toko buku dan aku membelikanmu ini untuk menemanimu malam ini." ucap Niko.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...