Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raden Wijaya
Kamar kos Ferdy, pukul 21.47
Cahaya dari layar laptop menerangi wajahnya yang tegang. Di sebelah kanan, tiga cangkir kopi instan kosong tertumpuk. Di sebelah kiri, mouse wireless dan wadah berisi kabel-kabel yang kusut. Di layar, Lightroom terbuka dengan deretan foto-foto dari museum—ratusan gambar yang ia pindai satu per satu, mencari yang punya "jiwa".
Ada satu foto yang membuatnya berhenti lama: close-up sebuah keris tua, dengan pamor (pola logam) yang membentuk gambaran seperti ombak di lautan.
Cahaya dari jendela museum menyorot bilahnya dengan sempurna, menciptakan gradien dari hitam pekat ke abu-abu berkilau. Tapi yang menarik perhatian Ferdy adalah refleksi samar di permukaan bilah—sebuah bayangan seperti sosok manusia, terlalu buram untuk dikenali, tapi ada.
"Bagus," gumamnya sendiri, memberi rating lima bintang pada foto itu.
Tapi pikirannya tidak sepenuhnya fokus. Sejak tadi ia terus mengendus-endus udara.
Wangi bunga.
Masih ada. Tidak hanya masih ada—bahkan semakin kuat di dalam kamar ini. Padahal jendela dan pintu tertutup rapat sejak ia pulang.
Udara di kamar kosnya yang biasanya berbau campuran debu, kertas cetak, dan sisa makanan instan, kini harum seperti kebun melati di tengah musim bunga.
Ferdy berhenti mengedit, memutar kursi plastiknya yang sudah reyot. Matanya memindai ruangan 3x4 meter itu dengan teliti.
"Darimana asalnya?" bisiknya.
Ia bangun, mulai memeriksa dengan sistematis seperti detektif. Pertama, kolong tempat tidur lipatnya—hanya tumpukan kardus berisi arsip foto lama dan beberapa sepatu butut. Tidak ada bunga.
Lalu lemari pakaian dua pintu yang kayunya sudah melengkung—ia buka lebar-lebar. Hanya baju-baju lusuh, jaket, dan beberapa celana jeans. Tidak ada parfum atau pengharum ruangan.
Ia bahkan membungkuk memeriksa celah-celah lantai keramik yang sudah retak di beberapa tempat. Tidak ada.
Hatinya mulai berdebar lebih kencang. Ingatannya kembali ke siang tadi, saat penjaga museum tua itu—Pak Mardi, 67 tahun—bercerita sambil iseng sebelum mereka masuk.
"Tempat ini banyak 'penghuni'-nya," kata Pak Mardi dengan suara serak, sambil mengunyah sirih.
"Benda-benda pusaka kan punya sejarah panjang. Ada yang senang ditempatin, ada yang nggak. Tapi hati-hati... kadang-kadang mereka bisa ikut pulang sama pengunjung yang bikin mereka tertarik."
"Serius, Pak?" tanya Roni saat itu, wajahnya langsung pucat.
Pak Mardi tertawa terkekeh, menunjukkan gigi yang sebagian sudah hilang.
"Nggak usah takut. Asal niatnya baik, biasanya aman. Tapi kalau ada yang ikut... ya udah, anggap aja dapat temen baru."
Saat itu Ferdy hanya tersenyum, menganggapnya sebagai cerita rakyat belaka. Tapi sekarang...
"Jangan-jangan..." gumam Ferdy, merinding dari ujung kepala sampai kaki. Ia merasakan bulu kuduknya berdiri.
Ruangan yang biasanya terasa panas karena sirkulasi udara buruk, tiba-tiba terasa dingin. Dingin yang berbeda—seperti masuk ke ruangan ber-AC setelah seharian di luar panas.
Dari sudut kamar, tepatnya di atas lemari tempat ia baru saja memeriksa, Dasima tersenyum. Ia duduk di sana dengan posisi santai, kaki terjuntai ke bawah. Kebaya biru tuanya tampak samar-samar dalam cahaya redup, seperti ilusi optik. Rambut hitam bergelombangnya mengalir bebas di bahu dan punggung.
Dasima mengamati setiap gerakan Ferdy dengan mata penuh kasih. Kekhawatiran di wajah Ferdy, alis yang berkerut, cara ia menggigit bibir bawah saat berpikir keras—semuanya mirip sekali dengan Raden Wijaya dulu, saat memikirkan strategi perang atau menyusun diplomasi dengan kerajaan tetangga.
Sama persis, pikir Dasima, hatinya berdesir. Bahkan cara berjalanmu, cara kamu mengamati sesuatu... semua sama.
Pikirannya melayang, tertarik arus nostalgia yang kuat...
---
Jawa, 500 tahun yang lalu. Musim kemarau.
Dasima, masih manusia berusia 19 tahun, berlari kecil menyusuri jalan setapak di pinggir hutan. Rambutnya yang panjang diikat sederhana, kain kebayanya yang sederhana sudah sedikit kotor oleh debu jalanan. Di tangannya, keranjang anyaman berisi ramuan-ramuan herbal: kunyit, temulawak, sirih, dan beberapa akar yang hanya dikenal oleh tabib.
"Ayah, aku pulang!" teriaknya saat mendekati gubuk kayu beratap ilalang di tepi hutan.
Tapi yang keluar dari gubuk bukan ayahnya, melainkan seorang pemuda dengan wajah pucat dan tubuh penuh luka.
Ia bersandar di pintu, napasnya tersengal-sengal. Baju kebesarannya yang mewah—kain sutra berwarna coklat dengan sulaman emas—sudah robek-robek dan bernoda darah.
"Tolong..." bisik pemuda itu sebelum ambruk.
Dasima bergegas, menyangga tubuhnya. Berat. Dan darah—banyak darah.
Ia membopongnya masuk ke dalam, membaringkannya di tempat tidur bambu sederhana. Dengan tangan terampil, ia mulai membersihkan luka-luka itu: sayatan di bahu, tusukan di perut, memar di sekujur tubuh.
Tiga hari kemudian, pemuda itu membuka mata.
"Di mana aku?" suaranya parau.
"Di rumah tabib, Tuan," jawab Dasima sambil menyuapinya air hangat.
"Ayahku sedang mencari akar tertentu untuk menyembuhkan luka dalam Tuan."
"Kau... tidak takut padaku?" tanya pemuda itu, matanya—warna madu yang sama dengan mata Ferdy—menerawang. "Aku bisa saja penyamun. Atau musuh kerajaan."
Dasima berhenti sejenak, menatap mata itu. "Karena mata Tuan tidak seperti mata para bangsawan lain yang pernah saya lihat," katanya perlahan, jujur.
"Mata Tuan masih punya kejujuran. Dan kesedihan. Saya tidak takut pada kesedihan."
Pemuda itu terdiam lama. "Namaku Raden Wijaya. Dan kau?"
"Dasima."
Minggu-minggu berikutnya adalah tarian halus antara dua dunia. Raden Wijaya, pangeran muda yang terluka bukan hanya fisik tapi juga jiwa—dikhianati oleh orang dekat dalam perjalanan diplomatik.
Dasima, anak tabib sederhana yang pengetahuannya tentang obat melebihi usianya, yang kecerdasan dan kelembutannya membuat Raden lupa akan istana dan politik.
Suatu sore, saat Dasima mengganti perban di dada Raden, tangannya tanpa sengaja menyentuh kulit pria itu. Keduanya diam. Udara di gubuk itu terasa berat.
"Dasima," bisik Raden. "Jika aku selamat dari semua ini... jika aku bisa kembali..."
"Jangan janji-janji, Tuan," potong Dasima, matanya rendah. "Dunia Tuan dan dunia saya terlalu jauh."
Tapi cinta tidak peduli pada jarak. Ia tumbuh diam-diam, seperti tanaman liar di sela-sela batu. Saat Raden sudah cukup kuat untuk berjalan, mereka mulai berjalan-jalan di pinggir hutan saat senja.
Raden bercerita tentang beban sebagai pangeran, tentang ambisi ayahnya, tentang pernikahan politik yang menunggunya.
Dasima mendengarkan, sesekali bercerita tentang kehidupan sederhana sebagai tabib, tentang bahasa tanaman dan obat-obatan.
"Saat semua ini selesai," kata Raden suatu malam, tangannya memegang tangan Dasima. "Aku akan kembali. Aku akan membawamu."
Dasima hanya tersenyum sedih. Ia tahu itu tidak mungkin.
Tapi konspirasi istana menjangkau lebih jauh dari yang mereka duga. Sahabat Raden, Mahesa—prajurit kepercayaan—diam-diam mencintai Dasima dan cemburu.
Tunangan Raden, Putri Kirana dari Kerajaan Sunda—wanita cantik tapi licik yang haus kekuasaan—tahu tentang Dasima dan melihatnya sebagai ancaman.
Malam itu datang dengan cepat. Raden Wijaya diundang makan malam di kediaman salah satu punggawa. Dasima punya firasat buruk. Ia memohon Raden tidak pergi.
"Harus, Dasima. Ini urusan politik," kata Raden, mengenakan pakaian kebesarannya yang terbaik.
"Tapi..."
"Percaya padaku."
Dasima tidak percaya. Ia menyelinap mengikutinya dari kejauhan. Dan ia melihat: Putri Kirana, dengan senyum manis, menuangkan anggur untuk Raden. Mahesa, berdiri di sudut dengan wajah tegang. Dan Raden... meminumnya.
Racun bekerja cepat. Raden terjatuh. Mahesa bergegas maju, tapi Kirana menghentikannya dengan tatapan dingin. "Biarkan. Demi tahta."
Dasima tidak berpikir. Ia berlari, menerjang masuk. Tangisannya memecah kesunyian malam. Ia memeluk tubuh Raden yang sudah kejang-kejang.
"Maaf... Dasima..." bisik Raden, darah mengalir dari sudut mulutnya. "Aku... janji... kita akan..."
Kalimatnya tak selesai. Mata madu itu kosong.
Kirana tertawa kecil. "Bawa mayatnya. Dan bunuh perempuan ini."
Tapi Dasima sudah tidak peduli. Dengan pisau kecil yang selalu ia bawa untuk memotong herbal, ia menikam jantungnya sendiri. "Kita akan bertemu lagi, Raden," bisiknya, sebelum kegelapan menyergap.
Tapi kegelapan itu tidak abadi. Ia terbangun—atau lebih tepatnya, menyadari dirinya masih ada—di tempat yang sama.
Tubuhnya sudah tidak ada, tapi kesadarannya utuh. Seorang petapa tua berdiri di depannya, wajahnya penuh belas kasihan.
"Hasratmu terlalu kuat untuk pergi, anakku," kata petapa itu. "Cintamu mengikatmu ke dunia."
"Apa yang terjadi pada saya?" tanya Dasima—atau roh Dasima.
"Sekarang kau adalah jin. Kau akan hidup panjang, sangat panjang. Mungkin suatu hari kau akan menemukannya lagi—rohnya akan kembali ke dunia. Tapi ingat,"
suara petapa itu menjadi serius, "dunia manusia dan jin tidak boleh bersatu terlalu dalam. Ada hukum alam yang tidak boleh dilanggar. Jika kau terlalu jauh campur tangan... konsekuensinya besar."
"Berapa lama saya harus menunggu?"
Petapa itu menghela napas.
"Mungkin seratus tahun. Mungkin tiga ratus. Siapa tahu?"
Dan petapa itu menghilang, meninggalkan Dasima sendirian—sebuah roh tanpa tubuh, dengan cinta yang terlalu besar untuk dibawa mati, dan janji yang terlalu kuat untuk dilupakan.