NovelToon NovelToon
Jerat Sumpah Sang Mantan

Jerat Sumpah Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Ibu susu / Mantan
Popularitas:66.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.

Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.

Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.

Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.

Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?

"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Bayang Sang Penghasut

     Pagi itu, Saliha bangun lebih awal, perlahan ia melepaskan diri dari dekapan Daviko yang semalaman menjadi sumber kehangatannya. Saliha menatap wajah Daviko yang tertidur lelap di samping Kaffara yang membuat pertahanannya sempat goyah. Namun, ia segera menepis perasaan itu. Ia harus bersiap untuk acara kolega Daviko siang ini.

     ​Acara tersebut diadakan di ballroom utama resort yang disulap menjadi ruang perjamuan mewah. Tamu yang hadir bukan hanya dari kalangan perwira militer berseragam lengkap, tetapi juga para pengusaha papan atas yang menjadi mitra strategis instansi tersebut.

     Saliha melangkah di samping Daviko dengan balutan gaun elegan yang dipilihkan Daviko, sederhana namun memancarkan keanggunan seorang wanita berkelas. Saliha benar-benar sangat cantik pagi itu. Membuat Daviko terpesona.

     ​"Jangan jauh-jauh dariku, Saliha," bisik Daviko posesif sambil sesekali membetulkan posisi gendongan Kaffara yang ia ambil alih.

     ​Saliha hanya mengangguk pelan. Ia berusaha bersikap profesional sebagai pengasuh, meski tatapan tamu lain seolah membenarkan ucapan resepsionis semalam bahwa mereka adalah pasangan suami istri.

     ​Namun, ketenangan itu hancur saat seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas mahal berjalan mendekat ke arah mereka. Langkah pria itu santai, namun bagi Daviko dan Saliha, setiap derap sepatunya terdengar seperti detak bom waktu yang siap meledak.

     ​"Lama tidak jumpa, Kapten Daviko. Atau sekarang sudah naik pangkat?" Suara itu terdengar lembut namun sarat akan nada sinis.

     ​Saliha membeku. Suara itu... suara yang empat tahun lalu yang menghancurkan hidupnya. Ia perlahan mengangkat wajah dan matanya bertabrakan dengan sosok Hendra. Pria yang dulu mengaku sebagai kakak, namun nyatanya adalah ular yang menyebarkan racun hasutan di telinganya.

     ​Hendra tersenyum tipis, matanya beralih menatap Saliha dengan binar yang sulit diartikan. "Saliha? Tidak kusangka kita akan bertemu di sini. Kau terlihat... jauh lebih cantik dari terakhir kali aku melihatmu menangis karena pria kaku ini."

     ​Rahang Daviko mengeras seketika. Urat-urat di tangannya menonjol saat ia mempererat pegangannya pada gendongan Kaffara. Memori pahit empat tahun lalu menyeruak masuk seperti air bah. Hendralah orangnya. Pria yang terus-menerus menghasut Saliha bahwa Daviko adalah tentara yang kasar, kaku, dan tidak punya masa depan untuk wanita lembut seperti Saliha.

     ​Puncaknya adalah saat Hendra menjebak Saliha dalam sebuah situasi yang membuat Daviko salah paham besar. Daviko melihat mereka bersama dalam kondisi yang terlihat intim, disaat Hendra mengusap rambut Saliha di dalam mobilnya, dan itulah yang memicu sumpah serapah Daviko serta keputusan gegabah untuk memutus hubungan mereka dengan penuh kebencian.

     ​"Mau apa kau ke sini, Hendra?" suara Daviko rendah, namun penuh akan ancaman.

     ​"Hanya menyapa kawan lama." Hendra tertawa kecil, mengabaikan hawa membunuh dari Daviko. Ia mendekat ke arah Saliha, mengabaikan jarak yang diperingatkan oleh Daviko. "Saliha, apa kau masih ingat perkataanku dulu? Tentara hanya tahu cara memerintah, bukan cara mencintai. Lihat dirimu sekarang, masih terjebak di bawah bayang-bayangnya?"

     ​Saliha merasa dunianya berputar. Kemarahan, penyesalan, dan rasa sesak bercampur menjadi satu. Ia teringat betapa bodohnya ia dulu karena sempat mendengarkan bisikan Hendra yang meragukan kesetiaan Daviko.

     Jika saja ia lebih percaya pada Daviko, mungkin mereka tidak akan pernah terpisah. Mungkin ia tidak akan pernah merasakan hancurnya disumpah serapahi oleh pria yang ia cintai.

     ​"Jangan bicara padaku, Hendra," suara Saliha bergetar hebat. "Kau tidak punya hak bicara soal cinta setelah apa yang kau lakukan empat tahun lalu."

     ​"Aku hanya menyelamatkanmu, Saliha. Tapi sepertinya kau lebih suka menjadi tawanan di sangkar emas Kapten ini," sindir Hendra lagi.

     ​Daviko melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Saliha, menghalangi pandangan Hendra. Matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Satu kata lagi keluar dari mulutmu, dan aku pastikan kau keluar dari ruangan ini dengan cara yang tidak menyenangkan. Pergi dari hadapan kami, sekarang!"

     ​Keadaan menjadi sangat canggung dan kaku. Beberapa kolega bisnis mulai memperhatikan ketegangan tersebut. Hendra, menyadari dirinya menjadi pusat perhatian, hanya mengangkat bahu dan tersenyum licik sebelum berbalik pergi.

     ​Sepanjang sisa acara, Saliha tidak bisa fokus. Pikirannya terbang ke masa lalu, ke saat-saat ia terjebak dalam fitnah yang diciptakan Hendra. Ia merasa sangat bersalah. Ternyata, selama ini ia juga punya andil dalam kehancuran mereka karena sempat memberi celah pada orang asing seperti Hendra untuk masuk ke hubungan mereka.

     Setelah acara itu selesai, mereka kembali ke kamar hotel, suasana jauh lebih mencekam daripada semalam. Daviko meletakkan Kaffara yang tertidur di ranjang dengan gerakan yang masih kasar karena emosi. Ia berbalik dan menatap Saliha yang berdiri mematung di dekat jendela.

     ​"Kenapa kau diam saja tadi, Saliha? Kenapa kau tampak begitu terpukul melihatnya?" tanya Daviko, suaranya parau menahan kecemburuan dan luka lama.

     ​Saliha menoleh, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. "Saya menyesal, Pak. Saya menyesal karena dulu saya begitu bodoh mendengarkan hasutannya. Saya menyesal telah membuat Bapak curiga dan akhirnya mengeluarkan sumpah serapah itu."

     ​Daviko tertawa getir, ia mendekati Saliha dan mencengkeram bahu wanita itu. "Kau menyesal sekarang? Setelah empat tahun aku hidup dalam kebencian yang menyiksa? Setelah aku menikahi wanita lain karena ingin melupakan pengkhianatan yang kau buat bersama pria itu?"

     ​"Saya tidak pernah berkhianat, Pak! Itu semua fitnah Hendra!" teriak Saliha di tengah isakannya.

     ​"Ok, mungkin benar itu fitnah. Tapi pada saat itu, egoku sebagai tentara yang kau sebut kaku ini lebih besar dari logikaku!" Daviko ikut berteriak, suaranya tertahan di tenggorokan. "Melihatnya lagi hari ini membuatku sadar betapa hancurnya aku dulu. Dan kamu...terlihat begitu salah tingkah di depannya. Apa kamu masih punya perasaan padanya?"

     ​Saliha menggeleng kuat-kuat. "Tidak! Saya benci padanya! Saya benci pada diri saya sendiri! Seandainya hari itu saya tidak menemuinya, seandainya saya tidak mendengarkan omong kosongnya tentang Bapak, kita tidak akan pernah ada di situasi ini."

     ​Rasa bersalah Saliha kembali timbul ke permukaan, jauh lebih berat dari sebelumnya. Ia jatuh terduduk di lantai, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Kehadiran Hendra seolah membuka paksa luka lama yang belum kering.

     ​Daviko menatap Saliha yang rapuh di bawah kakinya. Amarahnya perlahan menguap, karena rasa iba dan cinta itu masih sama besarnya. Ia ikut berlutut di depan Saliha, menarik wanita itu ke dalam pelukannya.

     ​"Cukup, Saliha... sudah. Dia sudah tidak ada di sini. Yang aku inginkan saat ini adalah, kamu selalu berada di samping kami, aku dan Kaffara," bisik Daviko, meski hatinya sendiri masih terasa sakit.

1
cecla9
sukaaa
Nasir: Mksh banyak Kak.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
❤️❤️❤️
Nasir: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
Berbahagialah Saliha..❤️
Ai Oncom
koq blm up kak..?
Nasir: Nanti agak siang ya Kak. Kmrn bentrok sama kesibukan di rumah. Maaf ya... 🙏🙏🙏
total 1 replies
Anonymous
greget dengan alur yang mendayu-dayu..... bagus bgttttt.....lain dari yang lain.semangat thorrrr..... sekuelnya sampai Kafarra married ya
Nasir: Iya Insya Allah ya Kak... doakan idenya lancar..... 😄😄🙏🙏
total 1 replies
Eva Tigan
Habis ini Kapten Daviko pasti candu sama tubuh istrinya..ternyata Pak Kapten yg bekas..kal9 Saliha masih perawan..menang banyak kan Pak Kapten😄
Nasir: Banyak bgt dia Kak. Belum lagi pernah berpikir hasutan Huda. Dia memang kayak dpt durian runtuh dpt Saliha.
total 1 replies
Ai Oncom
jangan tamat dulu ya kak.. ceritanya lanjut sampe Saliha punya anak..🙏🤭
Nasir: Wkwkwkw.... takut bosan. Doakan sy idenya byk ya... 🙏🙏
total 3 replies
Eva Tigan
Eeehhh...malah tidur..aku kira ada malam pertama yg indah dan berbunga bunga🥰
kalo mau bulan madu ke Bali dan Lombok.. sekalian bawa bi tita dan kaffra ..biar sekalian jalan2 keluarga 😊
Eva Tigan: okey👍🙏
total 2 replies
Arin
Akhirnya sah......
Ayo..... kondangan. Jangan lupa amplopnya🤭🤭🤭🤭
cecla9: mantan mertua Dan mantan ipar Di undang Kan ...wajib biar pingsan wkwkwkwkw
total 3 replies
Ai Oncom
Alhamdulillah..❤️
Siti Maimunah
yaa sakit hati lah,di sumpahin emg lw.siapa viko???!!! TUHAN??!!!
Ai Oncom
❤️❤️❤️
Arin
Sebelum sampai hari H.... perlu diamankan dulu tuh mantan mertua sama mantan adik ipar biar tak mengacaukan pernikahan
Ariany Sudjana
memang seperti itu peraturan menikah dengan anggota TNI, saya tahu, karena saya juga anak anggota TNI
Nasir: Iya Kak.... 🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Farid Atallah
doubel up dong Thor 😥
Ariany Sudjana
dasar jalang murahan ga tau diri kalian berdua itu, harus dibinasakan
Nasir: Setuju Kak...
total 1 replies
Arin
Kan mana pernah jera mereka..... Sebelum mereka mendapat kan apa yang mereka ingin kan. Yaitu Tari harus bersanding dengan Daviko. Menggantikan Amara sebagai ibu sambung Kaffara
Eva Tigan
saatnya berbahagia..sudah cukup drama sedih dan luka nya selama ini
Nur Haswina
penantian 2 bulan serasa 2 tahun lama dan pasti banyak rintangannya, semoga saja mbak author tdk kasih rintangan yg menguras tenaga
Nur Haswina: masih slalu menunggu bab selanjutnya thor
total 2 replies
Arin
Jangan sampai menjelang pernikahan ada gangguan dari si Nenek Sihir dengan anaknya datang mengacau. Karena kurang setuju Daviko menikahi Saliha. Karena yang merasa berhak bersanding dan pantas adalah adik dari Amara
Arin: Soalnya yang bikin rumah Daviko rame selain tangisan Kaffara, ya itu si Ibu Ratna😁😁😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!