Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menanggalkan Mahkota
Kehancuran Hediva sudah di depan mata. Saat ia berdiri dengan amarah yang meluap di restoran itu, siap untuk melakukan tindakan nekat, sebuah suara langkah kaki yang mantap terdengar. Bukan polisi, melainkan seorang wanita tua dengan tongkat berlapis perak dan aura yang menggetarkan ruangan.
Grandmother Vandermere.
"Cukup, Hediva!" suaranya menggelegar.
Hediva membeku.
"Nenek? Kenapa Nenek di sini?"
Tanpa sepatah kata pun, sang Nenek mendekat dan PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi cucu kesayangannya itu. Bukan tamparan kebencian, melainkan tamparan kekecewaan yang mendalam.
"Aku membesarkanmu untuk menjadi singa yang memimpin, bukan ular yang merangkak di kegelapan untuk mencuri kebahagiaan orang lain," ucap sang Nenek dengan suara bergetar.
"Kamu sudah mempermalukan nama Vandermere. Kamu menyelamatkan bayi itu hanya untuk menjadikannya alat? Itu menjijikkan."
Hediva tertunduk. Semua ego dan ambisinya runtuh seketika di hadapan satu-satunya orang yang ia cintai. Keheningan menyelimuti ruangan itu saat Hediva perlahan jatuh berlutut di depan Odelyn dan Gavin.
"Maafkan saya," bisik Hediva.
Suaranya pecah.
"Saya terlalu terobsesi untuk menang. Saya pikir jika saya memiliki Odelyn, saya akan menjadi sempurna. Saya lupa bahwa cinta bukan soal kepemilikan, tapi soal pengorbanan."
Hediva berdiri, menatap Gavin dengan mata yang kini kembali jernih.
"Gavin, semua proyek yang saya sabotase... saya sudah menginstruksikan tim saya untuk memulihkannya sepuluh kali lipat. Saya juga mengalihkan 5% saham pribadi saya di Vandermere atas nama Arsa sebagai dana perwalian. Itu adalah penebusan dosa saya karena sudah membahayakan nyawanya."
Gavin terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia tidak lagi melihat Hediva sebagai musuh, melainkan sebagai pria yang sedang tersesat.
"Pergilah, Hediva. Benahi diri lo."
..
Satu tahun kemudian.
Di sebuah kafe di London, Hediva duduk sendirian sambil menyesap kopinya. Di atas meja, terdapat sebuah foto kecil Arsa yang dikirimkan Odelyn setiap bulan—sebuah tanda bahwa persahabatan mereka telah pulih meski dengan batasan yang jelas.
Seorang wanita muda, seorang arsitek berbakat yang sedang bekerja sama dengan Vandermere Group, mendekat ke mejanya.
"Mr. Vandermere? Dokumen ini butuh tanda tangan Anda."
Hediva mendongak. Wanita itu tersenyum manis, senyum yang berbeda dari Odelyn, namun memiliki kehangatan yang baru bagi Hediva.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Hediva tidak membandingkan wanita itu dengan Odelyn.
"Terima kasih, Sofia. Silakan duduk, kita bahas ini sambil makan siang," ucap Hediva ramah.
Jauh di lubuk hatinya, bayangan Odelyn tetap ada—sebuah ruang suci untuk cinta pertamanya yang tak tersampaikan.
Namun, pintu hatinya kini tidak lagi terkunci. Ia mulai belajar bahwa dunia tidak berakhir hanya karena ia tidak mendapatkan "Sang Ratu".
...
Kembali ke Singapura, di tepi pantai saat matahari terbenam. Arsa yang sudah mulai bisa berjalan kecil berlari-lari di atas pasir, mengejar bayangan kakinya sendiri. Gavin dan Odelyn berjalan berdampingan, tangan mereka bertautan erat.
"Ternyata, ujian paling berat itu bukan dari musuh, ya Lyn?" ucap Gavin sambil menatap istrinya.
Odelyn tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Gavin.
"Ujian paling berat itu adalah mengalahkan ego kita sendiri. Dan kita berhasil, Gavin."
Mereka berhenti melangkah, memperhatikan Arsa yang tertawa riang.
Tidak ada lagi monitor tersembunyi, tidak ada lagi rencana balas dendam, tidak ada lagi ketakutan.
Hanya ada sepasang suami istri yang telah melewati neraka dan memutuskan untuk membangun surga mereka sendiri di atas bumi.
Keputusan itu mengejutkan dunia bisnis Asia. Odelyn Wijaya dan Gavin Danu secara resmi mengumumkan pengunduran diri mereka dari operasional harian perusahaan masing-masing. Mereka menunjuk jajaran direksi profesional yang paling terpercaya untuk menjalankan roda bisnis.
"Lo yakin, Lyn? Kita cuma bakal jadi 'hantu' di balik layar?" tanya Gavin saat mereka menandatangani dokumen pengalihan tugas.
Odelyn menutup pulpennya dengan bunyi klik yang memuaskan.
"Gue capek liat angka di monitor, Vin. Gue pengen liat senyum Arsa tanpa harus kepikiran meeting jam dua siang. Passive income kita udah cukup buat tujuh turunan. Sekarang, waktunya kita hidup buat diri sendiri."
Alih-alih membangun gedung pencakar langit lagi, mereka membeli sebuah bangunan tua dua lantai di sudut jalan yang tenang di kawasan Katong, Singapura.
Bangunan itu mereka sulap menjadi sebuah coffeeshop bernama "The Hidden Corner".
Desainnya adalah perpaduan antara kemewahan minimalis Odelyn dan sisi hangat Gavin.
Lantai 1: Area kopi dengan aroma biji kopi pilihan dari seluruh dunia. Ada banyak tanaman hijau, furnitur kayu ek yang hangat, dan jendela besar yang membiarkan cahaya matahari masuk dengan sempurna.
Lantai 2: Perpustakaan mini dan area bermain khusus untuk Arsa. Di sudut ruangan, tetap ada satu meja kerja elegan dengan tiga monitor tipis—tempat Odelyn memantau pergerakan saham dunia secara santai selama satu jam sehari, sebelum kembali menjadi "Barista".
Pemandangan di Hidden Corner selalu menarik perhatian pelanggan. Mereka sering melihat seorang pria tampan (Gavin) dengan kaos polo sederhana, sangat telaten meracik latte art sambil sesekali bercanda dengan pelanggan.
Di sudut lain, seorang wanita cantik dengan aura berkelas (Odelyn) sering terlihat sedang menata kue-kue buatan rumah atau sekadar duduk membaca buku sambil mengawasi Arsa yang belajar berjalan di karpet bulu.
"Ada yang percaya nggak ya kalau yang bikin kopi mereka itu mantan penguasa G-Corp?" bisik Gavin sambil mengantarkan secangkir Cappuccino ke meja Odelyn.
Odelyn menyesap kopinya, matanya berbinar.
"Nggak perlu ada yang tahu, Vin. Di sini, kita cuma Gavin dan Odelyn.
Bukan 'Mastermind' dan 'Pewaris'."Suatu sore yang hujan, lonceng di pintu kafe berbunyi. Seorang pria dengan trench coat basah masuk. Tanpa perlu menoleh, Odelyn sudah tahu siapa dari aroma parfumnya.
"Satu Long Black, tanpa gula," ucap tamu itu.
Gavin mendongak dan tersenyum lebar. "Hediva! Baru sampai dari London?"
Hediva duduk di bar kayu, menatap sekeliling kafe dengan kagum. "Nenek benar. Kalian terlihat jauh lebih 'hidup' di sini daripada di ruang rapat yang dingin itu."
Hediva mengeluarkan sebuah undangan kecil. Bukan undangan bisnis, tapi undangan pembukaan galeri seni miliknya di London.
"Saya mulai belajar mengoleksi lukisan, bukan cuma mengoleksi perusahaan. Ternyata melihat sesuatu yang indah itu lebih menenangkan daripada melihat grafik hijau di bursa efek."
Mereka bertiga tertawa, sebuah tawa yang bersih tanpa ada strategi tersembunyi di baliknya.Setelah kafe tutup, Gavin mengunci pintu depan. Arsa sudah tertidur di gendongan Odelyn. Mereka berdiri sejenak di depan kafe, menatap papan nama kayu yang bergoyang tertiup angin malam.
Gavin merangkul bahu Odelyn. "Dulu kita perang buat dapetin dunia, ya Lyn?"
"Iya," jawab Odelyn pelan. "Tapi ternyata dunia yang kita cari selama ini cuma seluas kafe ini, Vin. Cukup ada lo, Arsa, dan kopi yang enak."
Odelyn menyandarkan kepalanya di bahu Gavin. Di lantai dua, monitor sahamnya menunjukkan angka-angka yang terus bertambah, memberikan mereka keamanan finansial yang tak terbatas. Tapi bagi Odelyn, kekayaan aslinya ada di genggaman tangan Gavin saat ini.