Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
nemlikur (26)
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah atap jerami yang bolong, jatuh tepat di wajah Han Jia. Gadis itu membuka matanya, mengerjap beberapa kali, lalu menghela napas panjang yang terdengar sangat dramatis.
"Hera..." panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur. "Tampilkan saldo asetku."
[Saldo Saat Ini: 11.000 Poin Sistem & 1.100 Tael Perak.]
Han Jia menatap angka itu, lalu menatap dinding gubuknya yang terbuat dari anyaman bambu lapuk yang sudah dimakan rayap. Ia menatap lantai tanah yang becek sisa teleportasi gagal kemarin. Ia menatap Feng Shura yang tidur mendengkur di pojokan beralaskan tikar pandan yang sudah robek.
"Ironi yang menyedihkan," gumam Han Jia sambil bangkit berdiri. "Aku memiliki likuiditas kapital yang cukup untuk membeli separuh desa ini, tapi aku masih tidur di tempat yang... emmm... tempat yang ventilasi udaranya terlalu berlebihan ini."
Han Jia menendang kaki Shura pelan. "Bangun, Asisten Kuli Menengah! Hari ini kita tidak akan ke hutan. Hari ini kita akan melakukan... emmm... Akuisisi Aset Properti!"
Shura terbangun dengan kaget, tangannya refleks mencari gagang pedang. "Siapa? Serangan fajar?"
"Bukan serangan, tapi perluasan!" Han Jia melangkah keluar gubuk dengan gaya bossy. "Cuci mukamu. Aku butuh tenagamu untuk memasang patok pembatas."
Di luar, Han Jia berdiri berkacak pinggang menatap hamparan tanah kosong di sekeliling gubuknya. Tanah di sini terkenal tandus, keras, dan berwarna hitam pekat. Itulah sebabnya warga desa tinggal jauh di sisi utara yang lebih subur, membiarkan Han Jia terasing di sini.
Bagi orang lain, ini tanah mati. Bagi Han Jia, ini adalah kanvas kosong yang murah meriah.
"Hera, buka menu 'Ekspansi Wilayah'. Tampilkan peta topografi radius satu kilometer dari titik koordinat ini."
Sebuah peta hologram hijau muncul melayang di udara. Han Jia menggeser-geser jarinya di udara, memperbesar dan memperkecil gambar.
"Tanah di sekeliling Anda berstatus 'Tanah Tak Bertuan' atau 'Wasteland', Profesor," jelas Hera. "Harganya sangat murah karena kadar ph tanahnya yang kacau balau. 100 Poin per 500 meter persegi."
"Sempurna," Han Jia menyeringai lebar. "Orang-orang bodoh itu tidak tahu bahwa tanah hitam ini mengandung mineral vulkanik purba. Dengan sedikit sentuhan kimia, aku bisa mengubahnya menjadi surga botani."
Han Jia mulai menunjuk-nunjuk area di peta hologram.
"Aku mau area ini... ini... dan ini. Tarik garis lurus sampai ke tepi sungai di timur, dan tarik garis ke belakang sampai batas hutan di selatan."
"Total luas area: 2 Hektar. Biaya: 4.000 Poin. Konfirmasi pembelian?"
"Beli! Transfer sekarang!" perintah Han Jia tanpa ragu.
[Ding! Transaksi Berhasil. Hak Guna Lahan telah didaftarkan dalam Sistem.]
[Bonus: Surat Tanah Palsu (tapi terlihat asli dan legal di mata hukum kerajaan) telah ditambahkan ke inventaris.]
"Bagus. Sistem ini memang tahu cara bermain birokrasi kotor," puji Han Jia.
Shura keluar dari gubuk sambil mengunyah sisa apel raksasa kemarin. Ia melihat Han Jia tersenyum-senyum sendiri pada udara kosong.
"Kau beli tanah lagi?" tanya Shura dengan mulut penuh. "Han Jia, tanah yang sekarang saja belum habis kita tanami. Kenapa kau serakah sekali?"
"Ini bukan serakah, Shura. Ini adalah... emmm... Manajemen Tata Ruang Strategis!" Han Jia berbalik, matanya berkilat-kilat. "Kau pikir aku mau terus-terusan tidur satu atap dengan bahan-bahan kimia yang mudah meledak? Kau mau suatu malam kita terbangun di akhirat karena aku tidak sengaja menendang botol Nitrogliserin saat tidur?"
Wajah Shura memucat. "Kau menyimpan barang seperti itu di bawah kasurmu?"
"Tentu saja! Di mana lagi? Lemarinya sudah penuh baju kotormu!" Han Jia menunjuk ke arah lahan kosong di belakang gubuk.
"Dengar baik-baik rencanaku. Area tempat kita berdiri sekarang akan menjadi Zona Domestik. Kita akan bangun rumah yang layak di sini. Rumah dengan tembok batu, atap genteng, dan kasur empuk."
Han Jia menunjuk ke arah timur, dekat sungai. "Di sana, akan menjadi Zona Agrikultur. Kita akan tanam bibit-bibit baru yang aneh-aneh di sana. Apel Raksasa, Wortel Paha, dan entah apa lagi yang dijual sistem nanti."
Lalu jarinya menunjuk jauh ke belakang, ke arah yang paling sepi dan dekat hutan.
"Dan di sana... itu akan menjadi Zona Bahaya Biologis Level 4."
"Zona apa?" tanya Shura bingung.
"Laboratoriumku!" seru Han Jia dengan mata berapi-api. "Aku akan membangun gedung terpisah khusus untuk riset. Di sana aku akan mengolah racun, membedah monster, dan meracik pupuk peledak. Jika tempat itu meledak, setidaknya rumah kita aman dan kita cuma perlu... emmm... perlu mencari asisten baru kalau kau kebetulan sedang ada di dalam sana."
Shura menelan ludah. "Kenapa jadi aku yang dikorbankan?"
"Itu risiko pekerjaan, Shura. Sudahlah, ayo pasang patoknya!"
Mereka berdua menghabiskan waktu berjam-jam berkeliling memasang kayu-kayu pembatas di area seluas 2 hektar itu. Shura yang memiliki kekuatan fisik Buruh Tani Menengah bertugas memukul pasak kayu ke tanah yang keras, sementara Han Jia sibuk mengukur dengan presisi milimeter menggunakan benang.
Kegiatan mereka tentu saja menarik perhatian. Beberapa petani yang lewat di jalan setapak jauh di depan ladang berhenti untuk menonton. Bahkan Kepala Desa, seorang pria tua gendut dengan kumis tebal, datang menghampiri dengan wajah masam.
"Hei! Gadis Han!" teriak Kepala Desa dari kejauhan. Ia tidak berani mendekat karena rumor tentang 'pagar petir' sudah menyebar luas. "Apa yang kau lakukan?! Kau mematok tanah desa sembarangan!"
Han Jia berhenti bekerja. Ia membetulkan letak sarung tangannya, lalu berjalan mendekati batas pagar listrik tak terlihatnya. Ia mengeluarkan gulungan kertas (Surat Tanah dari sistem) dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Maaf, Pak Tua!" teriak Han Jia dengan suara lantang yang mengandung arogansi intelektual. "Tanah ini bukan lagi tanah desa! Berdasarkan hukum agraria pasal... emmm... pasal pembelian tunai yang sah, tanah seluas dua hektar ini sekarang adalah properti pribadi atas nama Han Jia!"
"Omong kosong! Siapa yang menjualnya padamu?!" Kepala Desa melotot. "Itu tanah mati! Tidak ada yang mau membelinya!"
"Kalau begitu anggap saja aku orang bodoh yang kaya raya!" balas Han Jia pedas. "Sekarang, aku minta kalian mundur sejauh sepuluh meter dari garis patok itu. Area ini akan segera menjadi... emmm... Zona Konstruksi Tertutup. Debu dan residu materialnya bisa menyebabkan gangguan pernapasan akut pada paru-paru tua kalian!"
"Kau... kau gadis kurang ajar!" Kepala Desa gemetar menahan marah, tapi ia melihat Shura berdiri di belakang Han Jia sambil mematahkan batang kayu tebal dengan satu tangan seolah itu ranting kering. Nyali Kepala Desa langsung ciut.
"Awas kau! Jangan menangis kalau tanah itu membuatmu bangkrut!" teriak Kepala Desa sebelum pergi dengan langkah hentak-hentak kaki.
Han Jia mendengus, melipat kembali surat tanahnya. "Bangkrut? Dia tidak tahu kalau di bawah tanah ini aku mendeteksi deposit sulfur yang cukup untuk membuat kembang api satu kekaisaran."
Han Jia berbalik menatap Shura.
"Area sudah diamankan. Surat legalitas sudah dipamerkan. Sekarang tahap selanjutnya, Shura."
"Membangun rumah?" tanya Shura penuh harap.
"Bukan!" Han Jia menggeleng tegas. "Rumah itu urusan belakangan. Kita bisa tidur di tenda kalau perlu."
Han Jia menatap sekeliling lahannya yang luas dan terbuka itu dengan tatapan paranoid.
"Kita tidak bisa membiarkan orang-orang desa itu mengintip eksperimen kita. Kita tidak bisa membiarkan mereka melihat Apel Raksasa kita. Privasi adalah kunci dari inovasi!"
Han Jia merentangkan tangannya lebar-lebar.
"Kita akan membangun Tembok. Tembok Besar. Tembok yang lebih tinggi dari orang dewasa. Tembok yang akan membuat tempat ini tertutup rapat seperti benteng rahasia penjahat... eh, maksudku benteng ilmuwan!"
Shura menatap luasnya lahan 2 hektar itu. "Membangun tembok keliling seluas ini? Dengan tenaga kita berdua? Han Jia, tanganku bisa putus!"
Han Jia tersenyum manis, senyum yang menjanjikan kerja paksa.
"Jangan khawatir, Shura. Aku baru saja membeli item 'Semen Instan Kualitas Dewa' dari sistem. Kau hanya perlu mengaduk, dan aku yang akan... emmm... merancang arsitekturnya. Percayalah, tembok ini akan menjadi mahakarya!"
Shura menghela napas panjang, menatap langit sore. "Selamat tinggal hari libur... selamat datang kerja romusha."