Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.
Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.
Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Pagi di rumah itu tidak berubah banyak setelah akad. Mereka masih menjalani hari-hari seperti biasa tanpa menuntut penyesuaian besar. Yang berubah hanya satu hal status mereka kini jelas, dan dunia berhenti bertanya dengan nada mencurigakan.
Nara bangun lebih dulu. Ia duduk di tepi ranjang, menunggu rasa mual yang biasanya datang seperti gelombang kecil dari dalam perut. Hari ini tidak sekuat kemarin. Ia menarik napas pelan, lalu berdiri dengan hati-hati.
Di ruang depan, Albi sudah duduk bersila di tikar. Bukan tidur, bukan sepenuhnya terjaga. Ia seperti orang yang terbiasa menjaga, bahkan saat tak ada yang memintanya.
“Kamu bangun?” tanyanya saat mendengar langkah kaki.
“Iya,” jawab Nara singkat. “Mau ke dapur.”
“Jangan lama berdiri,” ujar Albi. “Aku nyusul.”
Tidak ada nada memerintah. Tidak juga nada manis. Hanya kalimat yang terdengar seperti keputusan yang sudah dipikirkan.
Di dapur, Nara mencuci beras perlahan. Gerakannya masih kikuk, tubuhnya belum sepenuhnya ia kenali kembali sejak hamil. Saat ia hendak mengangkat panci, tangan Albi sudah lebih dulu mengambil alih.
“Biar aku,” katanya.
Nara refleks menahan. “Aku bisa.”
“Aku tahu,” jawab Albi. “Tapi aku juga bisa.”
Kalimat itu membuat Nara diam. Ia mundur selangkah, bukan karena kalah, tapi karena tidak perlu berjuang sendirian.
Mbah Narsih masuk membawa sayur dari kebun. Ia tersenyum melihat mereka berdiri berdampingan, tanpa jarak yang canggung, tanpa juga kelekatan yang berlebihan.
“Ora usah rebutan,” katanya ringan. “Omah iki saiki wis ana sing ngatur bareng.”
Nara menunduk, tersenyum kecil. Kata bareng itu masih terasa asing, tapi tidak menakutkan.
Mereka akhirnya berbagi tugas memasak, Albi yang menamak nasi, sementara Nara masak menu lainnya, tidak ada yang istimewa tapi menu sederhana itu mampu mengguncang perut yang kelaparan.
Satu jam kemudian masakan sudah matang dan terhidang, lesehan diatas tikar, Albi mengambil nasi, dan lauk, begitu juga dengan Nara, tidak ada percakapan yang berlebihan, namun pria itu langsung menghabiskan masakan Nara, dan hal itu mampu membuat Nara lega.
"Ra, nanti masak tonseng kangkung lagi ya," ucapnya pelan.
Nara mengangguk kecil. "Iya pasti aku masakin yang lain, gak tonseng kangkung terus," sahut Nara.
Albi tersenyum, tidak ada kata-kata romantis yang keluar dari mulut pria itu, hanya perlakuan yang ia tunjukkan, dan itu sudah lebih dari cukup untuk Nara.
Albi beranjak dari duduknya, ia mulai membantu Nara mengambil piring kotor dan juga menaruh kembali sisah lauk yang mereka makan tadi.
"Ra, jangan terlalu capek ya," pesan Albi, disaat Nara hendak mencuci piring.
Enggak kok, ini hanya cuci piring sedikit saja, lagian nanti, kalau Mbah pulang biar tinggal makan," sahut Nara.
Albi mengangguk pelan. "Ya sudah kalau gitu aku berangkat kerja dulu," kata Albi lalu tatapannya tertuju pada perut Nara yang sedikit menonjol. "Tapi sebelum aku berangkat, boleh gak elus perut kamu," pinta Albi yang akhirnya berani ia keluarkan.
Nara tertegun, ia tidak sampai hari jika Albi akan seperhatian itu dengan anak yang ia kandung. "Boleh, Bi. Bahkan tanpa ijin pun gak jadi masalah, karena kamu ayah yang dipilih untuk menemaninya," ucap Nara.
Karena mendapatkan ijin Albi langsung merunduk mensejajarkan wajahnya dihadapan perut Nara. "Halo dedeknya Bapak, kurang tiga bulan lagi kamu bertemu sama kita, baik-baik ya di dalam," ucapnya halus sambil mengelus perut Nara.
Nara tersenyum simpul, hatinya menghangat, di saat ucapan itu terdengar dari mulut pria yang siap menemani hidupnya.
"Makasih banyak ya, sudah hadir untuk dia," kata Nara.
Albi kembali berdiri, ia langsung menatap wajah Nara dari dekat. "Tidak perlu berterima kasih, aku melakukan ini atas kesadaran aku sendiri," sahut Albi, lalu berpamit untuk ke ladang.
☘️☘️☘️☘️
Setelah pernikahan itu hidup Nara perlahan berjalan lancar, tidak terlalu mencolok, namun ia merasakan sendiri, jika ketenangan itu ada.
Albi tetap pergi ke ladang seperti biasa. Ia tidak pamit berlebihan, tidak juga memberi larangan. Tapi suatu pagi, Nara menemukan secarik kertas di meja makan. Tulisan tangan Albi, rapi dan singkat.
Jadwal bidan hari Rabu. Vitamin diminum setelah makan. Kalau pusing, jangan ditahan.
Tidak ada tanda tangan. Tidak ada embel-embel perhatian. Tapi Nara membaca catatan itu lama, lebih lama dari yang ia kira. Ia menyadari, Albi memperhatikannya tanpa perlu diumumkan.
"Ya Allah terima kasih banyak, akhirnya setelah sekian lama, penderitaan itu, kau bayar dengan kehadiran orang lain, bukan yang mengatasnamakan cinta." batin Nara.
☘️☘️☘️☘️
Hari-hari setelahnya berjalan stabil. Nara lebih sering duduk di teras, mengerjakan hal-hal ringan yang tidak membuat tubuhnya kewalahan. Sesekali warga lewat dan menyapa. Pertanyaan yang dulu membuatnya menegakkan bahu kini tidak lagi datang. Tidak ada lagi nada menyelidik. Status yang jelas tidak menghapus masa lalu, tapi cukup untuk menghentikan orang-orang mengorek lebih dalam.
Suatu kali, seorang ibu bertanya tentang usia kandungannya. Nara menjawab singkat. Percakapan berhenti di situ. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada jeda yang membuat udara terasa berat. Saat itu Nara baru benar-benar paham keamanan tidak selalu datang dalam bentuk pembelaan keras. Kadang ia hadir sebagai keheningan yang tidak menghakimi.
Albi tidak pernah banyak bicara soal tanggung jawabnya. Tapi setiap kali pulang, ia selalu bertanya satu hal yang sama.
“Kamu gimana?”
Bukan “kenapa”, bukan “kok bisa”, bukan “harusnya”. Hanya itu. Dan ketika Nara menjawab seadanya, Albi akan mencatatnya dalam diam. Kadang dengan segelas air hangat yang tiba-tiba sudah ada di meja. Kadang dengan menggeser kursi agar Nara tidak perlu berdiri lama.
Tidak ada pembagian peran yang diumumkan. Mereka berjalan dengan batas yang disepakati tanpa perlu diulang. Albi tetap tidur di ruang depan. Nara tetap punya ruang sendiri. Keheningan di antara mereka bukan jarak, melainkan jeda yang aman.
Pernah suatu waktu, Nara berkata pelan, hampir seperti mengakui kesalahan, bahwa ia takut menjadi beban.
Albi menghentikan kalimat itu sebelum selesai.
“Aku di sini bukan karena kasihan,” katanya tenang. “Aku di sini karena memilih.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada meyakinkan, seolah ia sedang membujuk. Justru karena itu, Nara mempercayainya.
Di saat-saat tertentu, ketika hujan turun atau tubuhnya terasa lebih berat dari biasanya, Nara masih dihampiri ketakutan lama. Tentang dunia yang mudah bertanya. Tentang anaknya yang kelak harus menghadapi bisik-bisik.
Dan setiap kali ketakutan itu muncul, Albi selalu menjawab dengan kalimat yang sama, tanpa perubahan.
“Aku bisa berdiri di sampingmu,” katanya.
“Kalau dunia bertanya siapa ayahnya.”
Tidak ada janji cinta di sana. Tapi ada kehadiran yang konsisten. Dan bagi Nara, itu jauh lebih nyata daripada kata-kata besar.
Pelan-pelan, Nara berhenti merasa harus pantas terlebih dahulu untuk dijaga. Ia belajar bahwa pernikahan ini tidak menuntutnya menjadi siapa-siapa. Ia hanya diminta untuk ada. Untuk bertahan. Untuk tidak berjalan sendirian.
Dan Albi, dalam caranya yang sunyi, membangun rumah itu bukan dengan suara, melainkan dengan pilihan-pilihan kecil yang terus ia ulang—tanpa menjadikannya kebiasaan yang dipamerkan.
Hubungan mereka tidak melaju cepat. Tidak pula berputar di tempat. Ia bergerak maju dengan langkah yang nyaris tidak terdengar.
Tapi kokoh.
Bersambung ....
.