NovelToon NovelToon
Digodain Pocong

Digodain Pocong

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor
Popularitas:26.6k
Nilai: 5
Nama Author: Irawan Hadi Mm

Kata pepatah 'mulutmu adalah harimaumu' mungkin itu yang terjadi pada sebuah keluarga yang merasa dirinya tinggi maka bisa merendahkan orang lain.
Hal itu terjadi pada Yusuf dan keluarganya. Kesombongan mereka membuat mereka hidup tak tenang karena ada yang sakit hati pada mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irawan Hadi Mm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Entah gimana caranya, tubuh si pocong. Makhluk astral yang diperintahkan ki Semprul sebelumnya. Kini sudah tergeletak diatas meja, usai menerobos dinding bilik bambu. Di antara Wati, ki Semprul dan pocong lain yang akan di nikahkan dengan Wati.

Untuk kesekian kalinya, ki Sempul kehilangan fokus. Bahkan ritualnya bisa dibilang gagal total dari tamu yang gak ia undang. Gak ada lagi bakaran kemenyan, gak ada lagi wadah kendi berisikan air dan kembang tujuh rupa.

Yang ada hanya tubuh si pocong yang melintang di atas meja, tubuhnya menimpa kendi dan bakaran kemenyan.

“Uggghhhhhh!” rintih si pocong, dengan wajah yang menyeramkan, aneh jika ia masih bisa merasakan sakit.

“Akkkkkkkhhhhhhh!” Wati menjerit sejadi jadinya, kejadian aneh namun nyata kini ada di hadapannya. Jantungnya berdegup dengan kencang, bak orang yang habis berlari jauh.

Wajah ki Semprul merah padam, hatinya dipenuhi amarah, detak jantungnya bahkan gak bisa lagi terkendali.

“Akkkhhhh sialan! Siapa yang berani ngerusak ritual gua hah!” teriak ki Semprul.

Pria bergelar dukun itu menoleh ke arah dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Bilik yang kini gak berbentuk usai di terobos tubuh makhluk piaraannya. Dimana berdiri seorang pria yang gak kalah tua dari usianya, dalam balutan kemeja putih panjang, dan celana hitam sepanjang mata kakinya.

“Ritual lu gak akan berjalan dengan lancar dukun keparat!” sentak suara pria yang amat dikenal Wati.

“Cing! Itu cing Aziz? Tolongin Wati, cing!” beo Wati dengan tatapan berbinar senang, saat melihat pria itu.

Belum sempat Aziz menjawab, suara lain kembali mengalihkan perhatian semua orang termasuk pocong yang ada di samping Wati.

Dugh.

“Aduuuh ki! Tolong saya! Sakit ini ki!” pekik Sifa, hanya suaranya yang terdengar.

Tubuh Sifa terhempas ke lantai beralaskan tanah. Saat si pocong terhempas, usai tubuh astralnya menerobos dinding dari bilik bambu dan tubuhnya berada di atas meja. Kedua kaki pocong itu membentang di tepian bale, menghalangi Sifa yang hendak beranjak dari posisinya.

Ki Semprul beranjak dari duduknya, mengabaikan Sifa.

“Siapa lu? Gua kaga kenal lu! Ngapain lu ngacauin ritual ka win gaib antara Wati dan piaraan gua hah! Manusia lak nat!” herdik ki Semprul, menatap tajam Aziz.

“Lu yang manusia lak nat, dukun keparat! Mana bisa lu kawi nin ponakan gua ama demit! Dasar dukun sin ting lu!” timpal Aziz dengan nada gak santai.

Sementara makhluk berwujud pocong, yang ada di samping Wati. Ia mengerang kesal, seakan mengerti arah pembicaraan ki Semprul dan Aziz.

“Uugghhhhhh! Kamu tetap istri manusia ku, Wati!” serunya dengan mata melotot, meski wajahnya gak lagi hitam tapi wajah pucatnya gak kalah menyeramkan untuk di lihat. Dengan area mata berlingkar hitam, mata menyala merah.

Wati menoleh dengan tatapan takut, ia bahkan mencondongkan tubuhnya. Berusaha menjauh dari si pocong.

“Gak, a- aye kaga mau punya suami pocong kaya lu! A- aye kaga mau jadi bini lu!” beo Wati dengan takut.

“Terus lu ngapain masih diam bae di situ? Buru sini ke cing kalo lu kaga mau ama itu si demit ya, Ti!” timpal Aziz, dengan tangan yang terus menggulir tasbih di tangan kanannya.

“Badan aye kaga bisa bergerak cing! Kaki Wati kaya mati rasa, cing!” serono Wati, netranya gak lepas dari si pocong yang terus menatapnya galak.

“Mending lu pergi dari sini! Sebelum gua kerahin pasukan demit gua, buat kurung jiwa lu dimari!” sentak ki Semprul, mengacungkan jari telunjuknya ke arah Aziz.

Aziz menatap sengit ki Semprul, “Lu cuma manusia sesat! Gak seharusnya lu bertindak jauh ke Wati!”

“Gua sesat bukan urusan lu! Urusan gua cuma kawi nin ono perempuan sama demit piaraan gua!” beo ki Semprul, melirik sekilas Wati.

“Sekarang jadi urusan gua!” sentak Aziz, dengan sikap siaga.

“Oke! Kalo itu mau lu! Mam pus lu di tangan gua, da sar manusia sialan!” seru ki Semprul, sebelum menyerang Aziz.

Bugh dugh dagh bugh.

Kedua jiwa pria yang gak lagi muda itu, kini terlibat perkelahian yang sengit. Ki Semprul dengan jiwa yang dikuasai kemurkaan, berusaha menjatuhkan, dan melenyapkan lawannya.

Sementara Aziz, dengan daya dan upaya, berusaha bertahan dari serangan brutal lawannya. Sesekali Aziz melawan, berusaha mengalahkan pria yang lebih tua beberapa tahun darinya.

Tuing.

Si pocong yang sejak tadi duduk menekuk kakinya di sisi Wati. Kini berdiri dengan sempurna.

“Hahahha kita itu emang udah berjodoh, Wati! Bini manusia ku!” kekeh pocong, dengan tubuh semakin condong ke Wati. Seakan siap menenggelamkan tubuh Wati dengan tubuh nya.

“Ciiiiing! Tolongin Wati dulu apa cing! Ngapa pada berantem si!” jerit Wati dengan wajah pias.

Brugh.

***

Bersambung...

1
Lanisa nisa
keren banget
Lanisa nisa
serunya cerita novel ini
Dede hamsa
keren banget ceritanya
Bluende
tetap semangat buat up
Bluende
semangat terus
cantik
semangat terus buat up
Saputra
di tunggu bab berikut nya
Deki Arisandi
mantap banget ceritanya
Deki Arisandi
keren di tunggu bab berikutnya
hamba allah
semangat terus kak di tunggu up nya
astutiq
semangat terus buat author
Uswatun Chasanah
jangan lupa up thor
Jafar Hafso
lanjutkan terus up thor
Farlan
semangat terus kak
Ina
jangan lupa up thor
Ina
lanjutkan thor
Ina
keren banget
hamba allah
mantap ceritanya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!