NovelToon NovelToon
Anak Untuk Rayyan

Anak Untuk Rayyan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Nikahmuda / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.

Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.

Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.

Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 - Rayyan dan Alana

2 tahun lalu.

“Alana!”

Alana menoleh ke belakang. Kayla berlari menyusul dirinya yang hendak pergi ke lapangan untuk mengikuti upacara bendera.

Alana tersenyum tipis saat Kayla berjalan di sampingnya. 

“Lihat deh, Na. Bandana baru gue cocok nggak?” tanya Kayla antusias sambil memamerkan bandana kuning yang dipakainya.

Alana menatap bandana itu sebentar, lalu berkata, “warna kuning nggak cocok buat lo yang cool tone, Kay. Warna biru atau lavender bakalan lebih cocok buat lo.” 

Satu sudut bibir Alana tertarik lebih tinggi. “Lagipula warna kuning yang lo pakai itu… norak.”

Kayla terdiam sejenak, kemudian mengulas senyum ceria. “Ohya? Oke kalau gitu gue mau beli yang warna lain aja yang lo bilang.”

Kayla melepas bandana yang dipakainya.

Alana mengangguk. “Lo kabarin aja kapan lo mau beli. Biar gue pilihin dan beliin yang banyak buat lo.”

“Serius, Na?”

Alana mengangguk singkat.

“Thanks, Na. Lo baik banget sama gue,” ucap Kayla sambil memeluk Alana erat, namun Alana tidak membalas pelukannya.

Kayla melepaskan pelukannya. Tersenyum pada Alana.

Alana melanjutkan langkahnya menuju lapangan. Dia berdiri di barisan paling depan kelas 11, seperti biasa. Kayla mengikuti di sebelahnya.

“Gue denger-denger ada cafe yang baru buka di deket sekolah. Katanya vanilla latte nya enak banget. Nanti kita kesana yuk!” ajak Kayla dengan sangat antusias.

“Nanti pulang sekolah gue mau belajar buat olimpiade minggu depan,” jawab Alana tenang.

Kayla menghela napas kecewa.

“Tapi nggak papa.” Alana menoleh pada Kayla. “Setengah jam aja.”

Kayla mengulas senyum lebar. “Iya, Na.”

Saat petugas upacara sedang bersiap untuk memulai upacara, di depan barisan, beberapa cowok datang bersama guru BK. Mereka adalah Rayyan, Irfan, Jerry, dan Thomas, empat serangkai yang biasa menjadi langganan masuk ruang BK karena ulahnya. Kali ini mereka datang terlambat dan tidak mengenakan atribut upacara secara lengkap. Rayyan, misalnya, tak memakai dasi dan bajunya dikeluarkan dari celana. Sikapnya acuh tak acuh seperti biasa.

Guru BK berdiri dengan wajah merah padam, matanya menatap tajam ke arah Rayyan dan tiga temannya. Suaranya meninggi, penuh amarah.

“Kalian ini mau jadi apa kalau setiap hari bikin ulah?! Kalian itu udah kelas 12. Harusnya siap-siap buat ujian masuk kuliah!”

Rayyan mengangkat bahu santai, senyum nakal tersungging di bibirnya.

“Hei, Bu, santai dong. Masa muda itu cuma sekali, nggak ada salahnya santai-santai menikmati hidup yang nggak akan keulang.”

Irfan menimpali sambil mengepalkan tangan seolah siap bertarung. “Bener itu! Lagipula gue merasa lebih keren gini. Gaya dikit, biar beda dari yang lain.”

“Gue setuju bro! Dari sini gue bisa pamer otot bisep yang udah gue bentuk tiap hari ke semua temen-temen.” 

Jerry menggulung lengan bajunya sedikit lebih tinggi untuk memamerkan lengannya, lalu menaikkan satu alis dengan gaya sok keren. 

Thomas tersenyum kecil. Wajahnya tampak lebih cool dibanding 3 temannya yang lain.

Guru BK menghela napas panjang, berusaha tetap tenang. “Kalian itu ada aja ulahnya tiap hari! Bikin pusing!”

“Kalau kita nggak berulah nanti Ibu nggak ada kerjaan.” Rayyan cekikikan.

“Makan gaji buta dong!” sahut Jerry yang disusul gelak tawa dari empat cowok itu.

Alana yang melihat itu, mendengus sinis. Tatapannya tajam. 

“Mereka itu bener-bener nggak ngerti gimana caranya bertanggung jawab, menghargai waktu dan aturan,” ucap Alana pelan.

Kayla menoleh pada Alana ketika mendengar suaranya. Dia mengikuti arah pandang Alana pada empat cowok itu. 

“Kan udah bisa mereka berulah kayak gitu. Langganan setiap senin, kan,” komentar Kayla.

Alana menoleh pada Kayla. “Cowok-cowok nakal dan kekanakan kayak gitu itu nggak bisa sukses hidupnya. Harusnya kalau emang nggak niat sekolah, nggak usah sekolah,” komentar Alana lagi.

Kayla yang tidak tahu harus berkata apa, hanya mengangguk singkat.

...***...

Kantin itu ramai dan penuh sesak dengan siswa siswi yang sedang makan siang. Alana melangkah menuju salah satu meja di bagian sudut ruangan.

Itu adalah meja tempat Alana dan Kayla biasa duduk.

Tapi kali ini, di meja itu sudah ada dua orang yang sedang menyantap makan siang. Rayyan dan Manda.

“Ray, pindah yuk,” ajak Manda saat melihat Alana mendekat ke meja itu.

“Kenapa sih? Gue belum selesai makan ini. Santai aja kali,” jawab Rayyan santai sambil tetap memakan mie ayam pangsit yang dibelinya.

“Alana kesini,” bisik Manda dengan suara tertahan. Wajahnya semakin panik.

Rayyan menoleh pada Manda. Satu alisnya terangkat. “Terus?”

Manda justru menunduk ketika melihat Alana sudah berdiri di samping meja itu.

Rayyan melirik Alana, lalu menghela napas. Dia bukannya tidak tahu jika meja itu biasa dipakai Alana.

Rayyan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Bersikap santai sekolah tidak terjadi apa-apa. “Kalau mau duduk, duduk aja. Masih muat kok,” ucapnya santai.

“Ini tempat kita, jadi mending lo pergi dari meja ini,” ucap Kayla. 

Alana tetap diam, menatap dan mengamati Rayyan.

Rayyan mengerutkan kening, kemudian mencari-cari di sekitar meja. “Nggak ada tandanya tuh kalau meja ini tempat kalian.”

Rayyan tersenyum. “Ini tempat umum, jadi siapapun boleh duduk disini. Kalian kalau mau duduk ya duduk aja.”

Manda menarik lengan baju Rayyan memintanya untuk pergi saja, tapi Rayyan tidak menanggapinya. 

“Lo pergi dari sini. Gue sama Alana mau duduk.”

“Kalau gue pergi, gue harus duduk dimana? Lo nggak lihat semua meja disini udah penuh?” Rayyan mengedarkan pandangannya.

Kantin yang tadinya ramai, sekarang menjadi senyap. Semua orang menatap meja tempat pertengkaran itu terjadi.

“Itu urusan lo. Ini meja gue sama Alana!” Nada suara Kayla naik satu oktaf.

Rayyan menatap Alana tajam. “Bener ini meja punya lo?”

“Iya, ini meja punya kita!” balas Kayla.

“Gue nggak ngomong sama lo. Gue ngomong sama dia.” Rayyan menunjuk Alana dengan tatapan matanya.

“Lo ngeyel banget sih dibilangin,” sahut Kayla lagi.

“Lo nggak punya mulut sampai temen lo ini yang harus ngomong wakilin lo?”

Alana tersenyum miring, sinis.

“Gue kira lo cewek paling pinter di sekolah ini, ternyata nggak bisa ngomong,” sindir Rayyan sambil terkekeh pelan.

“Gue mau duduk,” ucap Alana dingin dan tenang.

“Ya udah duduk aja. Itu masih ada kursi kosong di meja ini,” balas Rayyan santai.

“Gue nggak mau duduk sama lo,” balas Alana tegas.

Rayyan mendengus. Terlihat tidak terganggu dengan ucapan Alana. “Kalau gitu cari tempat lain.”

“Gue biasa duduk disini.”

“Tapi hari ini, gue duluan yang duduk disini.”

Alana tersenyum miring. Tatapannya semakin tajam. “Lo cari tempat lain, gue bayarin makanan lo hari ini.”

Rayyan tertawa keras sampai memukul meja.

“Lucu banget! Orang-orang kayak gini yang biasanya merasa punya segalanya. Lo pikir semua bisa dibeli pakai uang?” 

Rayyan balas menatap Alana tajam. Sorot matanya menantang. “Simpen aja duit bokap lo itu, karena gue nggak mau pergi dari sini.”

Suasana kantin makin menegang. Tidak ada seorangpun di ruangan yang besar itu berani berbicara sedikitpun. Udara dingin yang tidak nyaman segera menyelimuti.

Alana tidak langsung membalas kata-kata Rayyan. Dia menatapnya lama dengan tatapan yang bukan sekadar dingin, tapi juga tajam.

Kayla melangkah maju, hendak membuka mulut lagi, tapi Alana mengangkat tangan kecil menyuruh Kayla berhenti bicara.

Kayla langsung diam.

Alana mendekat setengah langkah, sedikit menunduk. Senyum tipis menghiasi bibirnya.

“Lo sengaja, ya?” bisiknya tajam. “Nyari gara-gara.”

Rayyan menatap balik, sama tajamnya. Nafasnya teratur. “Nggak. Tapi kalau lo nganggep duduk di meja umum itu sebagai serangan pribadi… ya itu masalah lo.”

Jerry yang ada di ruangan itu buru-buru mendekat. Dia menepuk bahu Rayyan dan berbisik di telinganya.

“Bangun buruan! Nggak usah cari masalah!” desisnya tajam.

“Apaan sih lo?” balas Rayyan kesal.

“Lo nggak inget terakhir kali lo berantem sama dia, lo hampir diskors dari sekolah?” Suara Jerry semakin tajam dan penuh penekanan.

Rayyan berdecak pelan. “Gue-

“Udah! Bangun buruan!” Jerry menepuk bahu Rayyan lagi, lalu mengambil mie ayam pangsit milik Rayyan.

“Ayo, Man,” ucap Jerry pada Manda. 

Manda langsung menurut dan ikut menyusul Jerry.

Rayyan menghela napas panjang, lalu bangun. Tatapannya pada Alana masih tajam.

“Lo itu bikin suasana disekitar lo jadi nggak nyaman dengan sikap superioritas lo itu,” ucap Rayyan sebelum berjalan meninggalkan meja itu.

Rayyan berjalan menuju meja tempat Jerry duduk.

Alana mengedarkan pandangan. Semua orang yang tadi menatap dirinya, buru-buru menunduk, berusaha sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

“Akhirnya, dia pergi juga. Ayo duduk, Na,” ucap Kayla.

Namun, Alana berbalik badan dan berkata, “gue udah nggak nafsu makan.”

...***...

Rayyan duduk dengan hentakan kecil di kursi di meja Jerry.

Wajahnya mendung. Rahangnya mengeras.

Jerry dan Manda saling pandang. Mereka tahu ini bukan pertama kalinya Rayyan terpancing emosi karena Alana.

Manda duduk di samping Jerry, sementara Thomas dan Irfan sudah menunggu dengan tatapan yang jelas-jelas penuh gosip.

“Gila,” gumam Rayyan sambil menyibak rambutnya ke belakang.

“Cewek itu emang hobi banget bikin hidup gue ribet. Apa coba?”

Rayyan menunjuk ke arah meja Alana tadi. “Dia nongol, minta tempat, sok punya otoritas, padahal gue duluan yang duduk!”

Irfan terkekeh sambil menyilangkan tangan. “Tapi lo juga sih, Ray. Biasanya orang kalau lihat Alana mendekat langsung ngacir. Lo malah ngelawan.”

“Terus kenapa gue harus pergi?”

Manda membuka mulut, hendak menenangkan, tapi Rayyan sudah lanjut mengomel.

“Terus pas gue pergi,” Rayyan menirukan nada Alana dengan gaya sinis, “‘Gue udah nggak nafsu makan.’ Lah! Terus tadi ngotot mau duduk buat apa?”

Dia memukul udara di sekitarnya dengan kesal.

Irfan menahan tawa. “Udah, bro. Lo kesel banget sampai urat leher nongol.”

Thomas sudah nyaris terbatuk.

“Dia tuh… dia tuh—”

Rayyan mengibaskan tangan, frustasi mencari kalimat yang pas. “—nggak jelas! Bikin panas! Bikin orang lain nggak nyaman! Tapi orang tetep takut sama dia. Kenapa coba? Karena dia Alana, karena dia siswa paling berprestasi, anak pemilik yayasan, duh!”

Manda akhirnya bersuara pelan, “Ee… Ray, jangan terlalu marah. Bahaya lo ngomong gitu depan umum.”

Jerry menyikut Rayyan, lalu nyengir lebar. “Biasanya kalau orang terlalu benci… ujung-ujungnya jadi cinta.”

Rayyan langsung menatap Jerry jijik.

“Amit-amit! Mending gue hidup sendiri sampe tua. Mending gue jadi biksu. Mending gue tidur sama cicak tiap malam. Daripada sama dia.”

Teman-teman Rayyan tertawa keras.

“Sumpah, kalau suatu hari gue suka sama dia, tolong tampar gue sampe sadar.”

...----------------...

1
Retno Harningsih
up
Nadiaaa
doubel up kk🤭
Chillzilla: yahhh udah aku set satu² kak😁
total 1 replies
Nadiaaa
semangat nulisnya kak 💪 lanjut terus sampe tamat💗
Chillzilla: makasih kak🤗🤗
total 1 replies
Nadiaaa
👍
Nadiaaa
kpn lanjut kak
Chillzilla: nanti sore kakk
total 1 replies
Nadiaaa
suka❤️‍🔥
Nadiaaa
lanjut
Nadiaaa
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!