Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Di Sekolah DHS
Sekolah itu berdenyut hidup, hiruk-pikuk siswa dan siswi membanjiri halaman. Suara deru mobil dan motor menggema, memadati parkiran luas seolah tak ada celah tersisa.
Wajah-wajah berlalu-lalang, sebagian memancarkan senyum cerah penuh harapan, tapi tak sedikit pula yang mengerutkan dahi, langkahnya berat membawakan beban tak terlihat di balik tatapan mereka.
Suasana sekolah pagi itu bukan sekadar rutinitas, melainkan panggung di mana kisah dan perasaan saling bertabrakan dalam diam yang bergejolak.
Inti Code Black sudah berkumpul di parkiran sekolah, menanti bel pelajaran berbunyi. Di antara tawa dan obrolan ringan, Arion menatap Galaxsi dan Abi dengan mata penuh maksud.
"Nanti malam kalian datang, kan? Ke Acara jamuan makan malam amal nanti," ujarnya, suaranya serius tapi penuh harap.
Galaxsi lantas membusungkan dada, senyum lebarnya merekah seperti lampu panggung. "Tentu saja, tidak ada yang lebih membanggakan selain diundang oleh keluarga Draco. Ini suatu kehormatan sekaligus ajang pamer!"
Arion tak tahan dan menendang kaki Galaxsi, "Lebay banget sih kamu!"
Tawa pecah di antara mereka, Araina dan yang lain ikut tertawa, tapi di balik riuh rendah itu, semangat mereka menyala sebuah pertemuan yang menyimpan janji malam penuh kejutan.
...****************...
Sunyi seketika merayap di udara saat sosok yang selama ini diabaikan muncul tiba-tiba.
"Hai, Arion," sapa Anjani dengan bibir yang mengukir senyum, pandangannya melekat malu-malu pada Arion.
Namun, tatapan Arion dingin dan kosong, seperti benteng yang tak tergoyahkan, dia tak sudi membalas sapaan itu.
Tapi Anjani, yang dikenal nekad dan penuh percaya diri menolak menyerah. Suaranya naik, menggema dengan keberanian yang hampir melewati batas,
"Mmm... Arion, malam ini aku akan datang ke acara itu. Sepertinya keluargamu bakal membicarakan soal pertunangan kita." Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
Entah mendapatkan kepercayaan diri dari mana, Anjani berbicara seperti itu.
Sedangkan Orang-orang yang ada di sekitar mendengar hal itu mematung, terbelalak.
Araina, saudara kembar Arion, menatap Anjani dengan mata yang berkilat, lalu tanpa bisa menahan diri, ia meledak dalam tawa keras yang menusuk hati.
"Anjani oh Anjani... apakah kau benar-benar lupa? Kau bukan darah daging keluarga Harvey! Dan dengan percaya diri kau berani bicara soal pertunangan dengan keluarga Draco?" Araina melayangkan tatapan penuh ejekan, tajam seperti pedang, langsung menodai kepercayaan diri Anjani yang hampir meluap itu.
Anjani menggeram penuh kemarahan, wajahnya membara seperti bara api yang siap meledak. "Kau..." suaranya terputus, tersekat oleh amarah yang menggelegak di dadanya.
Dalam hati, Anjani berkata “Kalau bukan karena darah keluarga Draco yang mengalir dalam tubuhnya, sudah ku hancurkan mulutnya itu!”
Aruna yang berdiri di sampingnya, pipinya membara merah, antara malu dan marah. Tanpa berkata sepatah kata, ia menarik Anjani dengan erat, menjauh dari kerumunan itu, seolah ingin melindungi adiknya dari badai yang siap menerjang.
Di sudut lain, Aurora yang mendengar ucapan penuh api itu tak kuasa menahan tawa kecilnya. "Astaga, sungguh memalukan," gumamnya sinis, matanya berkilat penuh ejekan.
...****************...
Suasana mendadak pecah menjadi kegaduhan begitu Anjani dan Aruna pergi.
“Astaga, bagaimana mungkin keluarga Harvey masih saja mempertahankan Anjani? Padahal jelas-jelas darah daging mereka sudah kembali!” Galaxsi menggeleng, matanya penuh kecewa dan tak percaya.
Bulan menambahkan, nadanya panas, “Yang bikin aku bingung, kenapa Aruna malah pilih membela orang lain, bukan Aurora adiknya sendiri”
Abi menenangkan, suaranya berat dan penuh waspada, “Biarlah urusan keluarga mereka. Kita bukan siapa-siapa untuk ikut campur.”
Tapi Araina tak bisa menahan amarah yang membara dalam dadanya. “Kalau sudah menyangkut harga diri dan batas kesabaran, kita harus bertindak. Aku tak rela melihat Aruna dan Anjani terus menerus menyakiti Aurora!”
Kegelisahan menggantung di udara, menuntut pilihan: diam membiarkan atau berani mengusik gelombang konflik yang tengah menggerogoti persaudaraan.
Mata Arion seketika berbinar saat menatap Aurora yang berdiri tak jauh dari sana. Segera, tanpa peduli pandangan orang lain, dia melangkah cepat mendekat dengan senyum penuh arti yang menggoda.
"Hai, Aurora," sapanya dengan nada tengilnya.
Aurora, yang tadinya ingin terus berjalan menuju kelas, terhenti di tempatnya. Matanya menyipit, menatap Arion dengan dingin yang menusuk. "Ada apa?" tanyanya singkat.
"Nanti malam kamu datang, kan?" Tanya Arion dengan penuh harap.
Aurora menggeleng pelan, suaranya datar tapi tegas, "Tidak. Aku ada urusan penting."
Dengan langkah pasti, dia meninggalkan Arion yang berdiri terpaku, wajahnya berubah sayu, terpenuhi keputusasaan yang tak bisa disembunyikan. Harapan yang tadi berkobar kini memudar dalam sekejap.
Teman-temannya menghampiri Arion yang diam menatap Aurora dengan raut kecewa.
...****************...
Sekolah DHS begitu ramai, riuh membicarakan soal amal tahunan yang biasa di selenggarakan oleh Draco menjadi perbincangan hangat di antara murid, entah di Koridor. Setiap kelas atau bahkan forum sekolah.
"Kalian dengar tidak?" salah satu Siswi berbisik lirih di sela-sela makan siangnya.
"Apa?" yang lain bertanya sebab ingin sekali mendapatkan berita panas di sela-sela pelajaran yang mencekik mereka.
"Katanya di acara amal kali ini Draco akan membahas pertunangan antara Arion dan Harvey," ucapnya.
"Hah? Yang benar? Apa Arion akan di jodohkan dengan Aruna atau Aurora?" mereka saling menebak.
"Anjani pasti," yang satu berceletuk.
"Hey, apa kau lupa siapa Anjani?"
"Memang ada yang salah? Siapa tahu Arion memilih Anjani, kan? Kita tahu bagaimana mereka kenal sejak kecil," yang lain memberikan pengertian yang cukup memungkinkan.
"Tapi aku dengar Arion pernah mendapatkan hukuman untuk pergi ke kampung halaman sang Nenek."
"Kau dapat berita itu dari mana?"
"Berita ini sudah ramai menjadi perbincangan jadi sudah bukan berita rahasia lagi," dia menjawab cuek sebab berita tentang pengasingan Arion Draco hari itu menjadi berita hangat beberapa media.
"Wah, aku kira Anjani dan Arion kenal sejak kecil?"
"Tentu tidak, Arion sekolah di kampung dari SMP dan ya jelas dia tinggal di sana sejak lulus sekolah dasar," jelasnya lagi.
"Kau tahu banyak tentang Arion Draco, Jangan-jangan kau stalker ya?" mereka semua menaruh curiga pada satu gadis berambut kepang dua itu.
"Enak saja, aku ini putri pemilik siaran berita jadi tentu aku tahu apapun yang menjadi berita viral beberapa tahun lalu dan kronologinya," dia membantah tuduhan sebab ia memang putri pemilik penyiaran berita paling tersohor di kota itu.
Suara sepatu menggema saling beradu seperti irama nada, bersahutan seperti ramai orang yang mendekat.
Mereka melihat inti Code Black dan geng Araina masuk kedalam kantin tentu dengan sikap elegant yang membuat siapapun terpukau ketika melihat mereka.
selalu d berikan kesehatan😄