NovelToon NovelToon
Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Rumahhantu / Matabatin / Misteri / Tumbal / Hantu
Popularitas:22.5k
Nilai: 5
Nama Author: Stanalise

Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.

Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.

Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.

Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.

.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.


[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 018 : Labirin Patung Bernapas (Firasat Kematian)

Malam di pinggiran Roma tidak pernah benar-benar sunyi, namun di sebuah ruang bawah tanah tersembunyi yang luput dari jangkauan hukum, kengerian sedang dipahat dengan presisi yang gila.

 Ruangan itu lembap, berbau karat darah yang bercampur tajam dengan aroma bahan kimia pengawet, formalin, dan semen basah yang belum mengering.

Di sinilah "The Sculptor" menghabiskan waktunya, di sebuah studio kematian yang ia sebut sebagai galeri keabadian.

Sang pembunuh berdiri di depan korbannya yang keenam—seorang pemuda bernama Leonardo yang kini tak lagi menyerupai manusia.

Pemuda itu masih bernapas, meskipun matanya melotot ngeri tanpa bisa berkedip karena kelopak matanya telah dilem secara permanen ke dahi dengan cairan perekat industri.

Seluruh tubuhnya telah dilapisi oleh cairan putih menyerupai semen cair yang dicampur dengan serbuk marmer halus. Cairan itu mulai mengeras, memberikan tekstur kaku yang mengunci setiap sendi korbannya.

"Do you feel it, Leonardo? The immortality? Most people rot and disappear into the dirt. But you... you will be a god,"

(Apakah kau merasakannya, Leonardo? Keabadian itu? Kebanyakan orang membusuk dan menghilang di dalam tanah. Tapi kau... kau akan menjadi dewa,)

Bisik sang pembunuh. Suaranya serak, seolah tenggorokannya telah lama tidak tersentuh air atau mungkin telah rusak oleh uap kimia di ruangan itu.

Tangannya yang panjang dan kurus memegang sebuah alat pahat perak yang sangat tajam. Dengan gerakan yang sangat halus, hampir seperti seorang seniman yang sedang memberikan sentuhan akhir pada kanvas mahakarya, ia mulai menyayat bagian pipi korbannya.

 Tidak ada teriakan yang pecah. Sang pembunuh telah memotong pita suara korbannya terlebih dahulu melalui sebuah prosedur bedah amatir yang brutal, agar simfoni kesakitan itu hanya terdengar melalui deru napas yang tersengal dari lubang hidung yang dipenuhi debu semen.

"Shh... don't struggle. Blood is just wasted paint, a mess I don't need. I need to drain it slowly so your skin stays pale, like the statues of the saints in the Vatican. You are going to be my masterpiece,"

 (Sst... jangan meronta. Darah hanyalah cat yang terbuang, kekacauan yang tidak kubutuhkan. Aku harus mengurasnya perlahan agar kulitmu tetap pucat, seperti patung para santo di Vatikan. Kau akan menjadi mahakaryaku.)

Ia menusukkan kateter kecil ke pembuluh vena di leher korban. Cairan merah itu mengalir lambat, setetes demi setetes, ke dalam wadah kaca di bawahnya.

Sementara darah terkuras, sang pembunuh mulai "memahat" pola otot pada lapisan semen yang menyatu dengan kulit manusia itu. Setiap sayatan alat pahatnya menembus hingga ke dermis, memicu rasa sakit yang sanggup meruntuhkan kesadaran manusia biasa.

Namun, cairan kimia pengeras itu langsung menutupinya, mengunci rasa sakit luar biasa itu di bawah lapisan putih yang dingin. Korban itu mati perlahan dalam kondisi terjaga, menyaksikan dirinya sendiri perlahan berubah menjadi batu bernapas.

"In a few hours, your heart will stop, but your beauty... it will last a thousand years. People will look at you and weep, not knowing that you are still in there, frozen in perfection,"

 (Dalam beberapa jam, jantungmu akan berhenti, tapi kecantikanmu... akan bertahan seribu tahun. Orang-orang akan melihatmu dan menangis, tanpa tahu bahwa kau masih ada di dalam sana, membeku dalam kesempurnaan,)

Ucap sang pembunuh sambil mencium dahi korbannya yang dingin dengan penuh kasih sayang yang menyimpang.

Sementara itu, di kamar hotel, suasana tidak kalah tegang. Rachel duduk bersila di tengah ranjangnya.

Matanya terpejam rapat, namun bola matanya bergerak cepat di balik kelopak, menunjukkan aktivitas otak yang luar biasa berat. Napasnya teratur, namun keringat dingin membasahi kausnya hingga tembus.

Di sampingnya, Adio duduk berjaga dengan wajah cemas. Tangannya memegang pergelangan tangan Rachel, menghitung denyut nadinya secara manual sembari sesekali melirik jam tangan.

 "Chel, kalau detak jantungmu tembus seratus empat puluh, aku akan menghentikan ini secara paksa. Aku tidak peduli kamu marah atau tidak," bisik Adio serius.

Rachel tidak menjawab secara fisik. Kesadarannya sedang terpecah, mengikuti setiap sahabat ghaibnya yang ia sebar seperti jaring laba-laba ke penjuru Roma.

 Ia memonitor melalui Anako, Barend, dan lainnya. Fokus utamanya tertuju pada Anako yang sedang membayangi Cak Dika dan Rara.

Tiba-tiba, Rachel yang duduk di ranjang hotel berseringai tipis.

Bibirnya bergerak tanpa suara, namun melalui frekuensi astral, suaranya menggelegar di telinga Anako.

"Ya... kita menemukan jejaknya. Ini adalah calon korban ketujuhnya. Anako, lihat ke gang sempit di antara dua gedung bata merah itu. Ada pintu besi berkarat yang sedikit terbuka... di sana dia menyembunyikan cucu Sofia!"

Anako segera memberikan isyarat. Cak Dika dan Rara segera berlari menerjang gang sempit yang bau dan pengap. Begitu sampai di depan pintu besi itu, Cak Dika menendang pintu itu hingga jebol.

 Namun, ruangan itu sudah kosong. Hanya ada aroma busuk belerang yang tertinggal.

"Sial! Kita telat sedikit saja!" umpat Cak Dika sambil meraba sisa hangat di kursi tempat korban tadi diikat.

Melalui monitor batinnya, Rachel melihat sosok pria jangkung sedang menyeret sebuah karung besar keluar melalui pintu rahasia.

"Dia lari! Dia menuju ke arah selatan! Peterson! Bella! Potong jalurnya di Via Appia! Dia membawa karung besar, dia tidak akan bisa lari jauh jika kalian cepat!" perintah Rachel dari kamar hotel.

Aksi kejar-kejaran pecah di bawah sinar rembulan. Peterson dan Bella berlari sekuat tenaga, melompati pagar dan menerjang semak belukar.

 Di depan mereka, sosok "The Sculptor" bergerak dengan cara yang aneh—kakinya tampak memanjang dan gerakannya patah-patah seperti boneka.

"Dia bukan manusia biasa, Bella! Lihat kakinya!" teriak Peterson sambil mengatur napasnya yang mulai terasa seperti api.

Rachel di hotel mulai gemetar hebat. Darah segar mulai merembes dari hidungnya. Adio langsung panik.

 "Chel! Cukup! Kamu perdarahan!"

"Diam, Yo! Sedikit lagi..." gumam Rachel dengan gigi terkatup.

Di lapangan, tim akhirnya menyatu di sebuah persimpangan menuju sebuah gereja tua yang setengah hancur di puncak bukit kecil.

 Sosok pembunuh itu berhenti tepat di depan gerbang gereja, menatap tim Gautama dengan mata yang bersinar kuning pucat dalam kegelapan. Ia mengangkat karung berisi bocah itu, lalu menghilang masuk ke dalam kegelapan pintu gereja.

"Jangan masuk sembarangan! Di dalam sana energinya berputar seperti pusaran!" peringatan Rachel terdengar parau di telinga mereka.

Namun, Cak Dika dan tim tetap menerjang masuk demi menyelamatkan nyawa bocah itu. Begitu mereka masuk, pintu besar di belakang mereka terbanting menutup.

Rachel di hotelnya mendadak lemas.

 Kesadarannya ditarik paksa kembali ke raga. Namun, sebelum matanya terpejam sepenuhnya, sebuah penglihatan mengerikan melintas di benaknya.

Ia melihat sebuah kilatan pisau pahat yang mengincar leher seseorang yang ia kenali.

Marsya.

Rachel mencengkeram lengan Adio dengan sisa-sisa kekuatannya yang terakhir. Matanya melotot, menatap Adio dengan tatapan horor yang belum pernah dilihat Adio sebelumnya.

"Yo... hubungi... hubungi Inspektur Luca. Polisi harus... harus ke sana sekarang juga..." suara Rachel tercekat oleh darah yang keluar dari tenggorokannya.

"Hel, tenanglah! Kamu harus istirahat!" Adio mencoba menenangkannya.

"Dengarkan aku!" Rachel berteriak meski suaranya lemah.

"Ada yang akan mati... di markas itu. Kalau bantuan tidak datang sekarang, salah satu dari mereka akan mati. Marsya... aku melihat Marsya bersimbah darah, Yo! Panggil polisi sekarang!"

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Rachel mencoba mengumpulkan kesadarannya lagi, mencoba menarik energi dari alam sekitar untuk kembali melindungi adiknya.

 Namun, tubuhnya sudah mencapai batas. Nihil. Tidak ada energi yang tersisa. Rachel pun terkulai lemas, pingsan sepenuhnya di pelukan Adio dengan air mata yang mengalir di sudut matanya yang terpejam.

1
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Rachel kok di lawan🤣🤣
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Yang lagi takut kenapa napa dengan Rachel ini🤭
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
apa yang dibilang Rachel sangat benar banget lho
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
cieee Adio berani jujur tidak kamu nantinya 😁😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Untung Rachel selamat. semoga nanti bisa bertemu lagi dengan Thoriq kamu
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
tak bisa membayangkan lagi aku, serem banget 🤭🤭
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Rachel kamu sangat luar biasa, jiwamu sangat pemberani 👍👍
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Sabar Marsya, kamu harus kuat supaya misi kalian bisa terselesaikan
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
haduuuh dimakan apa ini maksudnya
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
menyeramkan tapi bikin penasaran ingin tahu 😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
uhuk uhuk uhuk .. cie cie cie 🤣🤣
Ela Jutek
ikut petualangan lagi nie
Ela Jutek: ngokeh deh😉
total 4 replies
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Nah baru tahu kan kamu😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Semoga Rachel berhasil mengembalikan sukma klaus ini
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Ayo Marsya senangat bermain cantik juga ya😁😁😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Hantu luar negeri bikin tambah penasaran kan🤣🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Dio dapat lampu hijau tuh, gass lah😉
Lexy¹⁰⁵
meskipun di roma, hal serem tetap ada
Lexy¹⁰⁵
merinding disko bacanya
Dony ¹⁰4
lanjut thor, semangat buatmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!