Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.
Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.
Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.
Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.
Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"
Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan Ke Pesantren
Pesantren Al Hadid
Di Pesantren Al-Hadid setiap paginya selalu dimulai dengan suara riuh rendah santri yang sedang mengaji. Namun bagi Zahwa, pagi ini sedikit lebih sibuk. Sejak subuh tadi, ia sudah berada di dapur bersama Ummi Maryam. Sesuai pesan Abah, mereka menyiapkan jamuan terbaik untuk menyambut Kepala Desa yang baru.
Zahwa dengan telaten menata piring-piring berisi kue-kue yang ummi buat dibantu dirinya dan beberapa santriwati. Di sebuah teko besar, ia telah meramu teh melati dengan gula batu minuman kegemaran tamu-tamu Abah.
"Sudah semua, Ummi," ujar Zahwa sambil merapikan letak taplak meja di ruang tamu utama.
"Alhamdulillah. Terima kasih, Neng. Kamu tidak ikut menyambut?" tanya Ummi lembut.
Zahwa menggeleng pelan. "Zahwa sudah cukup banyak bicara dengan Pak Kades di luar, Mi. Sekarang Pak Kades kesini, untuk sowan ke Abah. Biar Abah saja yang menemui secara resmi. Zahwa mau cari keringat sebentar di belakang."
Setelah berpamitan pada Ummi, Zahwa berganti pakaian. Ia menanggalkan gamis rumahannya dan mengenakan setelan training longgar berwarna biru dongker dengan kerudung instan hitam yang praktis. Ia meraih busur panah kesayangannya dan satu tabung berisi anak panah. Baginya, memanah adalah cara terbaik untuk menenangkan pikiran.
Di sisi lain, sebuah mobil hitam memasuki gerbang pesantren dengan perlahan. Arka duduk di kursi kemudi dengan perasaan yang campur aduk. Ia mengenakan kemeja koko putih yang rapi, tampak sangat berwibawa. Di sampingnya, Pak Sugeng memangku sebuah keranjang besar berisi buah-buahan segar kualitas impor sebagai buah tangan.
"Pak Sugeng, apa saya terlihat rapi dan pantas?" tanya Arka tiba-tiba. Suaranya terdengar sedikit ragu, sesuatu yang jarang terjadi pada seorang Arka Baskara.
Pak Sugeng tertawa kecil. "Sangat rapi dan pantas, Pak Kades. Bapak terlihat seperti menantu idaman para Kiai. Tenang saja, Kiai Hasan itu orangnya sangat terbuka."
Arka menghela napas panjang. Ia memarkirkan mobilnya di area parkir yang teduh di bawah pohon sawo, di parkiran depan pesantren. Saat turun dari mobil, ia menghirup udara pesantren yang bersih. Ia belum pernah menginjakkan kaki di sini sebelumnya. Baginya, pesantren adalah tempat yang khidmat dan asing.
"Pak Kades, Kiai sepertinya masih ada tamu di dalam. Bagaimana kalau kita lewat samping dulu? Katanya ada taman baru yang dibangun santri," ajak Pak Sugeng.
Arka mengangguk. Ia mengikuti Pak Sugeng berjalan menyusuri jalan setapak di samping bangunan utama. Langkah mereka membawa mereka ke sebuah area terbuka yang cukup luas, berbatasan dengan kebun pinus yang asri.
Namun, baru saja Arka melangkah melewati batas pagar tanaman hias, terdengar suara desingan tajam tepat disamping bahu kanan nya.
Wusss! Jleb!
"Awas, Pak!" teriak Pak Sugeng spontan.
Arka membeku. Matanya terbelalak saat melihat sebuah anak panah berujung tajam menancap dengan getaran yang masih terasa di sebuah batang pohon mangga. hanya berjarak beberapa sentimeter dari bahu kanannya. Jika ia melangkah satu detik lebih cepat, anak panah itu mungkin sudah melukai lengannya.
"Siapa yang memanah sembarangan?" Arka berseru dengan nada otoriter khas pejabatnya yang muncul karena kaget.
Dari balik sebuah papan sasaran yang berjarak sekitar dua puluh meter, seorang gadis muncul. Ia memegang busur besar dengan posisi yang masih siaga. Saat melihat siapa yang berdiri di sana, mata gadis itu membulat.
"Pak Kades?"
Zahwa segera menurunkan busurnya dan berlari kecil menghampiri mereka. Wajahnya tampak pucat karena terkejut.
"Astagfirullah... Pak Kades! Saya minta maaf, saya tidak tahu kalau ada orang yang lewat jalur samping. Biasanya santri-santri dilarang lewat sini kalau saya sedang latihan, di depan sudah ada papan peringatan nya"
Arka mengatur napasnya yang sempat tertahan. Ia menatap gadis di depannya dengan saksama. "Mbak Zahwa? Anda... latihan di sini?"
Arka menoleh ke arah Pak Sugeng, lalu kembali ke arah Zahwa. Pikirannya mencoba mencerna kejadian yang baru saja terjadi. Selama ini, ia mengira Zahwa adalah warga desa biasa, atau mungkin aktivis mahasiswa yang kebetulan sedang pulang kampung dan sering meminjam tempat di pesantren untuk berlatih.
"Mbak Zahwa ini memang sering latihan di sini, Pak Kades," ujar Pak Sugeng sambil terkekeh melihat wajah bingung Arka.
"Wajar saja, kan ini rumahnya" susul Pak Sugeng.
Jantung Arka seolah berhenti berdetak sesaat. "Rumahnya?"
"Iya, Pak Kades," sahut Zahwa, kini suaranya sudah kembali tenang meski ada nada canggung.
"Maaf atas sambutan dari anak panah tadi Pak.. Saya tidak bermaksud mencelakai tamu Abah."
"Abah?" Arka mengulangi kata itu dengan suara lemah. "Maksud Anda... Kiai Hasan Al-Hadid adalah ayah Anda?"
Zahwa mengangguk pelan. "Benar, Pak Kades. Saya Zahwa, putri tunggal Kiai Hasan. Sepertinya pertemuan kita di warung Bu Sari dan Balai Desa kemarin membuat Bapak tidak sempat mengenal latar belakang saya."
Arka terdiam seribu bahasa. Ada rasa malu yang menjalar di tengkuknya. Ia teringat betapa ia sempat bersikap dingin dan sedikit meremehkan vokalitas Zahwa di Balai Desa kemarin. Ia menganggap Zahwa hanyalah warga desa yang vokal.
"Saya... saya minta maaf, Mbak Zahwa. Saya benar-benar tidak tahu," ucap Arka tulus. Ketegasannya seolah luruh seketika digantikan rasa hormat.
Zahwa tersenyum tipis, senyum yang kali ini terlihat lebih lembut dan sopan di mata Arka.
"Tidak apa-apa, Pak Kades. Di luar sana saya adalah warga Bapak, tapi di sini saya adalah tuan rumah. Mari, Abah sudah menunggu di dalam".
Arka berjalan di samping Zahwa menuju pintu utama. Ia memperhatikan samping wajah Zahwa. Gadis ini terlihat sangat berbeda hari ini. Tanpa jaket jeans birunya, hanya dengan setelan olahraga yang sederhana, ia memancarkan aura kekuatan sekaligus keanggunan. Keahliannya memanah tadi benar-benar meninggalkan kesan mendalam bagi Arka.
Sesampainya di ruang tamu, Kiai Hasan sudah menyambut dengan tangan terbuka. Arka mencium tangan Kiai dengan takzim, sebuah pemandangan yang membuat Zahwa tertegun sejenak di ambang pintu. Ia tidak menyangka pria kota yang terkesan angkuh itu bisa bersikap serendah hati itu di hadapan ayahnya.
"Silakan duduk, Pak Kades. Zahwa, tolong suguhkan teh dan kue yang tadi sudah disiapkan," perintah Kiai Hasan.
Zahwa hanya mengangguk, lalu ia pun menuruti perintah abahnya.
Di sudut lain, Arka mencoba fokus pada pembicaraan mengenai program desa, namun matanya sesekali melirik ke arah dapur, menantikan sosok gadis pemanah yang baru saja meruntuhkan dinding prasangkanya.
Arka menyadari satu hal, kunjungannya ke pesantren yang awalnya ia hindari karena merasa bukan dunianya, kini justru menjadi momen yang paling mendebarkan dalam hidupnya. Ia bukan lagi sekedar Kepala Desa yang sedang bertugas, melainkan seorang pria yang baru saja menyadari bahwa seseorang yang membuat hatinya berbeda kali ini ternyata ada di balik gerbang kayu Pesantren Al-Hadid.
"Jadi, Pak Kades," suara Kiai Hasan memecah lamunan Arka.
"Apa benar anak saya, Zahwa, sempat membuat repot Bapak di Balai Desa beberapa hari lalu?"
Arka tersenyum kecil, kali ini senyumnya tulus. "Tidak merepotkan, Kiai. Justru putri Kiai adalah pengingat yang paling tajam bagi saya agar tidak lupa pada amanah rakyat."
Zahwa yang baru saja masuk membawa nampan teh, mendengar kalimat itu. Langkahnya terhenti sesaat, matanya bertemu dengan mata Arka yang kini menatapnya hangat, sangat berbeda saat mereka pertama kali bertemu di warung Bu Sari.
...🌻🌻🌻...