NovelToon NovelToon
Kembalikan Cintaku Dokter

Kembalikan Cintaku Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cintapertama / One Night Stand / Konflik etika / Obsesi / Dokter
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ALAT UNTUK MENYAKITI KU

Suasana di balkon yang dingin seketika berubah tegang. Harvey melepaskan pelukannya, lalu tertawa hambar. "Kita lihat saja, Melisa. Seberapa kuat prinsipmu itu bertahan di bawah kendaliku."

​Tepat saat itu, bel apartemen berbunyi nyaring. Harvey mengerutkan kening, merasa terganggu karena ia tidak mengharapkan tamu. Ia melangkah menuju pintu dengan gusar, sementara Melisa mencoba mengatur napasnya yang sesak.

​Begitu pintu terbuka, sesosok wanita cantik dengan gaun merah yang sangat berani berdiri di sana. Rambutnya pirang tertata rapi, dan aroma parfum mahal langsung menyeruak masuk.

​"Surprise, Harvey!" ucap wanita itu dengan suara manja yang dibuat-buat.

​"Natasha? Sedang apa kamu di sini?" Harvey tampak terkejut, namun matanya sekilas melirik ke arah Melisa yang baru saja muncul dari arah balkon. Sebuah ide licik melintas di benak Harvey.

​Natasha, wanita yang dijodohkan oleh keluarga besar Harvey, masuk tanpa izin. Ia tahu nomor apartemen ini dari Ibu Larasati, ibu Harvey, yang memang sangat mendukung perjodohan ini. "Tante Laras bilang kamu sendirian, jadi aku membawakanmu makanan. Tapi sepertinya..." Natasha menghentikan ucapannya, matanya yang tajam menatap Melisa dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan merendahkan. "...kamu sedang bersama pelayanmu?"

​Harvey tidak membantah. Ia justru tersenyum tipis dan menarik Natasha masuk lebih dalam. "Kebetulan sekali, Melisa baru saja selesai memasak. Kamu mau mencobanya?"

​Melisa terpaku. Ia mengenali tatapan itu—tatapan seorang wanita yang merasa memiliki. Namun yang lebih menyakitkan adalah bagaimana Harvey menjadikannya tontonan.

​Harvey, yang biasanya selalu menghindar dari Natasha bahkan sering membatalkan janji dinner secara sepihak, malam itu bersikap sangat berbeda. Ia ingin menguji sejauh mana Melisa bisa bertahan melihatnya dengan wanita lain. Apakah Melisa akan cemburu? Ataukah ia akan tetap kaku seperti patung?

​"Duduklah, Sayang," ujar Harvey lembut pada Natasha, sebuah panggilan yang belum pernah ia gunakan sebelumnya.

​Mereka duduk di ruang makan. Harvey mempersilakan Natasha mencicipi masakan Melisa. Natasha hanya mencicipi sedikit lalu mencibir, "Agak terlalu hambar untuk seleraku, Harvey. Tapi tidak apa-apa, mungkin seleranya memang murahan."

​Harvey tidak marah. Sebaliknya, ia justru mulai bermesraan di hadapan Melisa. Natasha yang merasa mendapat lampu hijau semakin menjadi-jadi. Ia bergelayut di lengan Harvey, mengusap rahang pria itu dengan jarinya yang lentik.

​"Harvey, kenapa kamu sulit sekali dihubungi akhir-akhir ini?" bisik Natasha cukup keras agar terdengar oleh Melisa yang sedang merapikan meja.

​"Aku hanya sedang mencari hiburan baru, Nat," jawab Harvey sambil menatap tajam ke arah Melisa. Ia membalas setiap sentuhan Natasha, bahkan ketika wanita itu dengan berani duduk di pangkuan Harvey.

​Awalnya, Harvey merasa jijik. Sentuhan Natasha terasa hambar dibanding kehadiran Melisa. Namun, saat ia melihat jemari Melisa yang memegang piring bergetar hebat dan wajahnya yang memucat, Harvey justru semakin gencar. Ia memeluk pinggang Natasha erat, membiarkan wanita itu mencium lehernya tepat di depan mata Melisa.

​"Melisa," panggil Harvey dengan nada memerintah. "Ambilkan wine baru di gudang. Sekarang."

​Melisa berbalik, matanya berkaca-kaca namun ia berusaha keras tidak menumpahkan air matanya. Ia melihat suaminya yang sedang berjuang untuk hidup di rumah, dan kini ia harus menyaksikan pria yang memegang kendali atas nyawa suaminya itu bercumbu dengan wanita lain.

​"Baik, Tuan," suara Melisa bergetar.

​Saat Melisa melangkah menjauh, Harvey baru menyadari sesuatu. Melisa tidak menunjukkan amarah atau cemburu layaknya seorang kekasih; yang ia lihat di mata Melisa hanyalah kehancuran dan rasa jijik yang mendalam—bukan kepada Natasha, tapi kepada Harvey.

​"Harvey... kamu melamun?" tanya Natasha sambil mencoba mencium bibir Harvey.

​Harvey tiba-tiba merasa muak. Ia mendorong Natasha pelan hingga wanita itu berdiri dari pangkuannya. "Sudah cukup untuk malam ini, Nat. Aku ada urusan mendadak."

​"Tapi Harvey..."

​"Keluar," perintah Harvey dingin, sifat aslinya kembali muncul.

​Setelah Natasha pergi dengan perasaan kesal, apartemen kembali sunyi. Harvey berjalan menuju dapur, menemukan Melisa yang terduduk lemas di lantai sambil memegang botol wine.

​"Kenapa? Kamu sakit hati melihatnya?" tanya Harvey ketus.

​Melisa mendongak, ada tawa getir di wajahnya. "Aku tidak sakit hati karena kau dengan wanita itu, Harvey. Aku merasa kasihan padanya. Dia mencintaimu, tapi dia hanya kau jadikan alat untuk menyakitiku. Kau benar-benar tidak punya hati."

Rahang Harvey mengeras. Ketenangan Melisa adalah penghinaan baginya. Dengan gerakan kasar, Harvey mencengkeram rambut Melisa, menariknya hingga kepala wanita itu mendongak paksa ke arahnya.

"Kasihan?" desis Harvey tepat di depan wajah Melisa. "Jangan pernah berani mengasihaniku, Melisa. Kamu tidak punya hak untuk itu."

Cengkeramannya semakin kuat, membuat Melisa merintih tertahan. Mata Harvey yang biasanya dingin kini berkilat penuh kemarahan dan frustrasi yang tidak bisa ia jelaskan.

"Ingat posisimu!" Harvey menekankan setiap kata dengan penuh penekanan. "Di sini, kau bukan siapa-siapa. Kau hanya pelayan. Pelayan nafsuku. Kau sudah menjual dirimu demi pria lemah itu, jadi jangan pernah bersikap seolah-olah kau punya martabat untuk menilaiku."

Melisa menatap mata Harvey. Meskipun air mata mulai menggenang karena rasa sakit di kulit kepalanya, ia tidak memalingkan wajah. Keberanian itu justru membuat Harvey semakin meradang. Dalam hatinya, Harvey berteriak: Kenapa kamu tidak marah? Kenapa kamu tidak memaki karena aku bermesraan dengan Natasha? Apakah cintamu padaku benar-benar sudah mati hingga tidak ada lagi sisa cemburu di sana?

"Kau ingin aku marah, Harvey?" suara Melisa terdengar serak namun tenang. "Kemarahan hanya untuk orang yang peduli. Dan aku... aku sudah tidak punya rasa apa pun untukmu, selain kewajiban untuk melunasi utang nyawa suamiku."

Kata-kata itu seperti tamparan keras bagi Harvey. Ia melepaskan jambakannya dengan sentakan kasar hingga Melisa terhuyung. Harvey merasa kalah, meskipun dialah yang memegang kendali. Ia benci menyadari bahwa meskipun ia bisa memiliki tubuh Melisa, ia kehilangan akses menuju hati wanita itu.

"Keluar dari sini," perintah Harvey, suaranya kini terdengar rendah dan berbahaya. "Pergi ke kamar. Pakai baju yang sudah kusiapkan di atas tempat tidur. Aku akan menunjukkan padamu apa artinya menjadi seorang 'pelayan' yang sesungguhnya."

***

Bersambung...

1
Dede Dedeh
oke lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!