“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Lorong rumah sakit malam itu dipenuhi bau antiseptik dan langkah tergesa. Lampu-lampu putih menyilaukan, namun tak ada satu pun yang mampu menenangkan hati Sky yang berdegup liar.
Pintu IGD terbuka keras.
Sky masuk dengan langkah lebar, rahangnya mengeras, matanya merah menahan amarah. Begitu melihat Yura duduk di bangku besi, tubuhnya gemetar, tangan penuh noda darah bukan darahnya tetapi Sky langsung berlari.
“Yura!”
Yura mendongak, begitu melihat Sky, pertahanannya runtuh.
“Sky…” suaranya serak.
Sky memeluk Yura tanpa ragu, erat dan terlalu erat seolah takut gadis itu menghilang jika dilepaskan. Tangannya menyentuh rambut Yura yang masih gemetar.
“Kamu kenapa? Mereka ngapain kamu?!” suaranya meninggi, nyaris berteriak.
Yura menggeleng cepat. “Aku nggak apa-apa … tapi ibu Hans—”
Belum sempat Yura menyelesaikan kalimatnya, pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah serius.
“Keluarga pasien Nyonya Larasatri Wijaya?”
Sky melepaskan Yura perlahan, menatap dokter itu dengan sorot dingin.
“Bagaimana keadaannya?”
“Pasien mengalami benturan cukup keras. Kami sedang berusaha menghentikan pendarahan internal. Kondisinya kritis.”
Kata kritis menghantam Sky seperti palu godam.
Yura kembali gemetar. “Dia mendorong aku … mobil itu—”
Sky langsung menoleh. “Mobil apa?”
“Mobil keluarga Wijaya,” jawab Yura lirih. “Platnya … aku hafal.”
Detik itu juga, sesuatu dalam diri Sky runtuh.
Wajahnya berubah kelam. Tangannya mengepal, urat lehernya menegang. Ia berbalik dan melangkah cepat menuju lorong lain, napasnya berat dan berantakan.
“Sky!” Yura bangkit hendak mengejar. Namun, Sky sudah kehilangan kendali. Ia menghantam dinding dengan tinjunya.
Duachk!
Beberapa perawat menjerit kaget.
“Siapa yang berani sentuh dia lagi?!” teriak Sky, suaranya menggema di lorong rumah sakit. “Keluarga Wijaya sudah kelewat batas!”
Petugas keamanan rumah sakit mendekat, mencoba menenangkan.
“Tuan, mohon tenang—”
“Menjauh!” Sky menghardik, sorot matanya membuat semua orang ragu mendekat.
Sky mengeluarkan ponselnya, jarinya bergetar menekan nomor.
“Cari mobil Wijaya yang keluar dari basement Lartika sore tadi,” katanya dingin, tanpa basa-basi.
“Aku mau nama pengemudi, rekaman CCTV, dan lokasinya sekarang juga.”
Ia memutus panggilan, lalu berbalik menatap Yura.
“Mulai detik ini,” ucap Sky dengan suara rendah namun penuh ancaman, “tidak ada satu pun dari keluarga itu yang boleh mendekatimu. Aku yang akan hadapi semuanya.”
Air mata Yura jatuh. “Sky … aku nggak mau ada korban lagi karena aku.”
Sky melangkah mendekat, menunduk agar sejajar dengan wajah Yura. Tangannya menggenggam bahu gadis itu dengan lembut kontras dengan amarah yang barusan meledak.
“Dengar aku,” katanya tegas. “Kamu bukan penyebab apa pun. Kamu korban, dan aku bersumpah, siapa pun yang mencoba menghancurkan hidupmu…”
Sky berhenti sejenak, menahan emosi yang hampir tak terbendung.
"Akan menyesal telah dilahirkan.”
Langkah kaki Hans bergema di lorong rumah sakit saat ia berlari, napasnya terengah. Wajahnya pucat begitu melihat lampu merah ruang operasi masih menyala.
“Ibu—” gumamnya panik.
Namun, sebelum Hans sempat mendekat, sebuah tinju mendarat keras di rahangnya.
Dug!
Tubuh Hans terhuyung ke belakang, hampir terjatuh jika saja tembok tak menahannya. Darah terasa asin di sudut bibirnya. Hans mendongak, terkejut dan lalu menegang.
Sky berdiri di hadapannya.
Mata pria itu merah, penuh amarah yang tak disembunyikan. Tangannya masih mengepal, napasnya berat.
“Kenapa harus keluarga mu lagi!” suara Sky rendah namun mematikan, “dan aku pastikan kalian semua akan menyesal.”
Hans meluruskan tubuhnya, menahan sakit. “Apa maksudmu?! Aku baru dengar ibu kecelakaan—”
“Kecelakaan?!” Sky tertawa pendek, sinis. “Mobil keluarga kalian hampir membunuh Yura. Ibumu sekarang terbaring di ruang operasi karena melindungi gadis yang selama ini kalian injak-injak.”
Hans membeku.
“Apa?” suaranya bergetar.
“Yura?”
Sebelum Sky kembali bergerak, Yura berlari mendekat dan berdiri di antara mereka.
“Cukup!” suara Yura meninggi. Tangannya menahan dada Sky. “Sky, jangan di sini … tolong.”
Sky menatap Yura. Amarahnya masih menyala, namun pandangannya sedikit melunak.
Hans menatap Yura, perasaannya campur aduk, merasa bersalah, takut, dan panik. “Yura … aku—”
“Jangan,” potong Yura dingin. “Bukan sekarang.”
Sky menarik napas panjang, lalu menatap Hans dengan sorot yang membuat udara di lorong itu membeku.
“Dengar baik-baik,” ucap Sky pelan namun penuh ancaman.
“Urus Putri, sekarang!"
Hans mengerutkan kening. “Putri? Maksudmu—”
“Jangan pura-pura bodoh,” Sky mendekat setengah langkah. “Kalau besok aku masih dengar satu saja kabar Putri mendekati Yura—”
Sky berhenti tepat di depan Hans, menunduk agar sejajar.
“Aku yang akan turun tangan.”
Hans menelan ludah.
“Dan percayalah,” lanjut Sky tanpa emosi, “kalau aku yang bergerak, mungkin besok Putri tidak akan bisa bernapas lagi.”
Yura memejamkan mata, napasnya gemetar. “Sky…”
Sky menghela napas, lalu mundur satu langkah. “Aku tidak mengancam. Aku memperingatkan.”
“Aku akan urus Putri,” katanya akhirnya, suara serak. “Aku janji … dia tidak akan mendekati Yura lagi.”
Sky menatapnya lama, lalu berbalik tanpa berkata apa pun dan kembali ke sisi Yura.
Hans berdiri terpaku di lorong rumah sakit, sementara di balik pintu ruang operasi.
Jujur, baru kali ini, saya baca tanpa Skip ❤️😃😘
Jalan ceritanya sederhana tanpa banyak Drama yang bikin nampol😩🤣🤣🤣
Ceritanya bagus, karakter Yura bukan wanita lemah, lebay, plin plan, manja / jadi Goblok karna bucin. 👍👍
😭 kali ini bikin Arga + Putri menyesal sampai berdarah darah 😡
Harusnya kalau memang pemeran wanita nya pintar, uang 100M tidak ada artinya. Tapi ya gitu lah.. Terserah Author aja.. 😃
Palingan saya bacanya banyak di Skip aja.. 🙄🤔
apa yg di cari Yura selain donor untuk ayah nya sedangkan sebagai lartika dia org berpengaruh+ bergelimpangan
Karya Abian yng mana yak ?? 🙏
endingnya hepi semua
terima kasih