Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.
Jenara menolak akhir itu.
Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.
Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.
Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.
Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.
Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ceraikan Aku
Mendengar tuduhan Seran yang dilontarkan dengan nada dingin, amarah Jenara langsung menyala. Dadanya naik turun, bukan karena lelah semata, melainkan karena tersinggung sampai ke harga dirinya yang paling dalam.
Jenara menoleh tajam. Matanya yang semula sayu kini mengeras, seolah ingin menembus dada pria di hadapannya.
“Kau pikir aku wanita macam apa?” suara Jenara bergetar oleh desakan emosi.
Seran menatapnya tanpa ekspresi, membuat amarah Jenara justru semakin menjadi.
“Aku lebih suka bekerja daripada berurusan dengan pria. Apalagi, yang angkuh, tidak tahu diri, dan bermulut pedas," tegas Jenara dengan nada tinggi.
"Sekarang lepaskan aku! Aku bisa ke tempat tidur sendiri.”
Jenara berusaha mendorong dada Seran untuk menyingkir, ingin melepas pegangan pria itu. Namun Seran sama sekali tidak bergerak mundur.
Sebaliknya, tangan pria itu justru menguat. Dalam satu gerakan cepat, ia mengangkat tubuh Jenara seolah berat wanita itu tak berarti apa-apa.
“Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" pekik Jenara kaget sambil mencengkeram baju suaminya.
Seran tidak menjawab. Rahangnya mengeras, langkahnya mantap membawa Jenara ke ranjang. Ia menurunkannya dengan hati-hati, meski sikapnya tetap kaku dan dingin.
“Kalau sedang sakit, tidak usah sombong," tukasnya datar.
Tak ingin mendapat bantuan Seran, Jenara hendak bangkit. Namun, punggungnya yang kembali berdenyut nyeri membuat Jenara mendesis pelan.
“Buka bajumu,” perintah Seran singkat.
“Apa?” Mata Jenara terbelalak lebar. Spontan, ia menarik kainnya ke bawah. “Kau mau apa? Jangan sentuh aku!”
Seran melirik Jenara sekilas, sorot matanya tidak bisa ditebak.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Seran meraih botol minyak urut di meja, lalu mengacungkannya ke arah Jenara.
“Punggungmu memar. Kalau tidak diurut, besok kau tidak bisa bangun.”
Jenara terdiam. Wajahnya memanas, bukan karena malu semata, tetapi karena situasi ini terlalu intim bagi hubungan mereka yang ambigu.
Meski enggan disentuh, Jenara tahu bahwa apa yang dikatakan Seran memang benar. Akhirnya, Jenara terpaksa membuka bagian atas bajunya dan membalikkan tubuh.
Bahunya tegang, sementara punggungnya terekspos cahaya lampu minyak yang temaram.
Seran menuangkan minyak ke telapak tangannya, lalu mengoleskannya perlahan ke punggung Jenara. Sentuhan itu terasa mantap dan hangat, kontras dengan dinginnya kulit Jenara.
Tanpa sadar, Jenara bergidik. Otot-otot punggungnya menegang, napasnya tertahan setiap kali jemari Seran menekan bagian yang memar. Gerakan pria itu terkontrol dan tepat mengenai titik-titik nyeri yang tersembunyi.
“Tidur miring saja,” kata Seran singkat.
Jenara menurut, menarik bajunya kembali dengan cepat, seolah ingin segera menutup jarak yang barusan terbuka.
“Siapa yang melakukan ini?” tanya Seran tiba-tiba.
“Tidak usah dipikirkan." Jenara menjawab ketus seraya membelakangi Seran.
“Aku mau tidur. Terima kasih atas bantuanmu.”
Seran tidak langsung menjawab. Ia berbaring di samping Jenara dengan menjaga jarak, tetapi kehadirannya terasa mendominasi kamar.
“Tidak usah berterima kasih,” ucap Seran datar. “Aku hanya membayar apa yang pernah kau lakukan.”
Kalimat itu menghantam Jenara seperti palu. Ingatan asing tiba-tiba menyeruak tanpa izin, memaksanya melihat masa lalu yang bukan miliknya.
Hujan deras. Bau tanah. Luka berdarah. Seorang pria yang hampir mati di tepi hutan.
Pria itu adalah Seran. Dan Jenara, pemilik asli tubuh ini yang kebetulan lewat di hutan, telah menolong Seran. Ia menyeret pria itu dengan tubuh kecilnya, menyembunyikan dan merawatnya di pondok sederhana.
Beberapa hari kemudian, luka-luka di tubuh Seran mulai mengering. Dan, datanglah hari ketika pria itu cukup kuat untuk bangkit.
“Apa yang kau inginkan sebagai balasan?” tanyanya, dengan nada serius.
Di situlah kebenaran pahit muncul. Jenara asli baru saja ditinggalkan. Diputuskan secara sepihak oleh pria yang ia cintai, yaitu Kusala.
Ditambah lagi, ia tak punya uang, tak punya sandaran. Nama baiknya pun tercemar. Dalam dunia yang keras, seorang wanita sendirian nyaris tak punya pilihan.
“Aku ingin menikah denganmu," pinta Jenara dengan tatapan tajam.
Seran terkejut. Ia menatap Jenara cukup lama, walau tidak ada cinta di tatapan itu. Hanya rasa kasihan, tanggung jawab, sekaligus hutang nyawa.
“Ini bukan permintaan yang ringan. Aku sudah memiliki tiga anak."
“Aku tidak peduli,” jawab Jenara cepat. “Aku tidak memintamu untuk mencintaiku. Aku hanya butuh nama, perlindungan, dan tempat tinggal."
Permintaan nekat itu akhirnya disetujui oleh Seran. Maka terjadilah pernikahan tanpa cinta, tanpa janji bahagia. Hanya perjanjian tak tertulis: balas budi yang dibayar dengan ikatan.
Ingatan pahit itu berhenti mendadak. Jenara tersentak kecil di ranjang, napasnya memburu. Akhirnya, ia mengerti kenapa Seran bersedia menikahinya.
Pernikahan ini bukanlah takdir romantis, melainkan akibat dari paksaan seorang wanita yang putus asa, dan seorang pria yang merasa berhutang nyawa.
Jenara menggigit bibirnya, menahan getir yang naik ke tenggorokan. Ia tahu pola cerita seperti ini. Bahkan, ia hafal bagaimana kisah-kisah semacam ini berakhir.
Tokoh antagonis seperti dirinya akan disalahkan, perlahan-lahan tersingkir. Terlebih ketika tokoh utama perempuan muncul, semua akan menjadi jelas.
Cinta sejati. Jodoh tak tergantikan. Dia adalah Ranisya, wanita baik hati yang lembut dan murni. Sedangkan dirinya hanya seorang ibu tiri jahat yang dibenci.
Jenara menutup mata, membayangkan masa depan yang sudah tertulis rapi dalam novel. Seran akan semakin dingin padanya. Konflik akan bertambah.
Ia akan dituduh, dimusuhi, dibenci, lalu diceraikan begitu saja.
Tidak. Ia tidak mau menunggu sampai itu terjadi.
Jika akhir menyedihkan memang tak terelakkan, maka Jenara ingin menjalaninya dengan cara yang lebih terhormat.
Tiba-tiba, sebuah ide cemerlang muncul. Daripada dihancurkan oleh alur cerita yang kejam, lebih baik ia yang meminta cerai lebih dulu. Paling tidak, ia bisa keluar dengan kepala tegak dan harga diri yang tersisa, tanpa menunggu diusir dari kehidupan Seran.
Ketika Jenara masih tenggelam dalam pikirannya sendiri, Seran berbicara memecah keheningan.
“Anak-anak kurus. Kebun belakang rusak, dan ayam hanya tersisa tiga ekor. Apa kau menjualnya?” cecarnya tanpa jeda.
Jenara memejamkan mata. Tak disangka Seran akan menghakiminya lebih cepat dari perkiraan.
“Iya. Itu semua kesalahanku," pungkas Jenara, apa adanya.
Seran tidak langsung bereaksi. Seakan, ia menunggu penyesalan atau permintaan maaf yang tulus dari sang istri.
“Aku akan menebusnya,” lanjut Jenara lirih. "Aku akan bekerja keras. Mengganti semua kerugianmu."
Jenara menelan ludah kasar, lalu berkata dengan mantap. “Setelah itu kita akan bercerai. Aku akan pergi.”
Seran menoleh. Untuk pertama kalinya, ada keterkejutan yang tertahan di netra pria itu.
Beberapa detik berlalu, lalu suara Seran terdengar lebih parau.
“Apa yang bisa kau lakukan? Kau tidak pernah bekerja selama ini.”
Kalimat tersebut bukan sekadar pernyataan fakta atau penilaian. Kali ini, Seran sedang meremehkan kemampuannya.
Jenara menarik napas perlahan, menahan dorongan untuk membalas dengan emosi. Pria ini belum tahu bahwa ia bukan wanita yang pemalas. Ia datang dari dunia lain. Dunia yang menuntut bertahan hidup, dengan cara bekerja dan berpikir cerdas.
“Aku akan menjual makanan," sahut Jenara membuka mata. "Aku yakin itu bisa menghasilkan uang yang cukup untuk mengganti kerugianmu."