Shen Kuo Yu, bilioner wanita yang tewas di puncak kejayaannya karena kebocoran jantung, ia terbangun di tubuh Liu Xiao Xiao- gadis malang yang disiksa oleh keluarga angkatnya. Takdir pahit menantinya. Ia dipaksa menggantikan saudari tiri nya untuk menjadi pengantin pengganti dan menikahi Pangeran Keempat yang konon buruk rupa dan berhati kejam.
Shen Kuo Yu akan menaklukan Pangeran itu dan menjadikan nya bidak untuk membalas dendam pada Keluarga Liu yang memperlakukan nya seperti binatang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 : Utusan Permaisuri
Utusan Permaisuri turun dari kereta kuda dengan wajah angkuh. Ia adalah Kasim Li, orang kepercayaan Permaisuri yang dikenal bermulut tajam. Di belakangnya, beberapa pelayan membawa nampan berisi kain-kain sutra yang terlihat mahal.
Kasim Li berjalan mendekati gerbang Paviliun Teratai Hitam yang masih tertutup. Ia berdehem keras, menunggu pintu dibuka dengan segera.
"Buka pintu! Utusan Permaisuri datang membawa titah!" seru Kasim Li dengan suara melengking.
Mao yang berada di balik gerbang melirik ke arah Xiao Xiao dengan cemas. Namun, Xiao Xiao hanya memberikan isyarat agar Mao tetap tenang dan membuka pintu sedikit saja—hanya cukup untuk berbicara tanpa membiarkan mereka masuk.
Krieeet...
Pintu terbuka sedikit. Xiao Xiao berdiri di sana, masih dengan cadar tipis yang menutupi wajahnya agar identitas aslinya tetap terjaga di mata orang luar.
"Ada keperluan apa Kasim Li datang ke paviliun yang 'terlupakan' ini?" tanya Xiao Xiao dengan nada tenang, namun terselip sindiran halus.
Kasim Li terkejut karena "Liu Xiu" mengenali namanya, padahal ia baru beberapa hari di istana. Ia tidak tahu bahwa Xiao Xiao sudah mencatat setiap detail orang penting dari penjelasan Mao kemarin.
"Nyonya Muda, Permaisuri mendengar bahwa Anda memiliki ramuan yang luar biasa. Beliau ingin Anda menyerahkan seluruh sisa ramuan itu ke Istana Utama sekarang juga sebagai bentuk pengabdian," ujar Kasim Li sembari memberi kode agar para pelayannya maju membawa kain sutra. "Sebagai gantinya, ini ada sedikit kain untuk Anda."
Xiao Xiao melirik kain-kain itu, lalu tersenyum di balik cadarnya. "Kain sutra tidak bisa dimakan, Kasim Li. Dan pengabdian tidak bisa dibangun di atas perut yang lapar. Sampaikan pada Permaisuri, ramuan itu adalah milik pribadi dan saat ini stoknya sedang habis karena bahan-bahannya sangat mahal."
Wajah Kasim Li memerah. "Kau berani menolak permintaan Permaisuri? Kau tahu apa konsekuensinya?"
"Saya tidak menolak, saya hanya menyatakan fakta bisnis," balas Xiao Xiao santai. "Jika aliran dana untuk paviliun ini tidak segera dikembalikan, saya tidak punya modal untuk membuat ramuan lagi. Jadi, silakan bawa kembali kain sutra ini dan bawakan saya akta resmi pengembalian anggaran makanan kami."
Kasim Li menghentakkan kakinya dengan geram. "Lancang! Kau akan menyesali ini!" Ia berbalik dan segera naik ke kereta kudanya, merasa terhina oleh keberanian istri Pangeran Keempat itu.
Setelah utusan itu pergi, suasana paviliun kembali sunyi. Namun, dari balik bayangan pohon besar di halaman, Pangeran Wang Zhi Chen melangkah keluar. Ia menatap Xiao Xiao dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau baru saja mencari masalah besar dengan Permaisuri," ujar Zhi Chen. "Dia bukan Selir Lan yang bisa kau rayu dengan botol air bunga. Dia bisa menghancurkanmu dalam sekejap."
Xiao Xiao berbalik menghadap suaminya. "Dia tidak akan menghancurkanku, Pangeran. Dia justru akan semakin penasaran. Orang yang memiliki segalanya seperti Permaisuri paling takut pada satu hal: kehilangan kecantikannya karena usia. Semakin aku menahan ramuan itu, semakin tinggi nilainya di matanya."
Zhi Chen terdiam. Ia melihat betapa dingin dan terhitungnya setiap langkah gadis ini. "Lalu sekarang apa? Kita tetap tidak punya makanan untuk besok pagi."
Xiao Xiao tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah gerbang lagi. Benar saja, tak lama kemudian, sekelompok pelayan dari paviliun Selir Lan datang terengah-engah. Mereka tidak membawa kain sutra, melainkan membawa keranjang-keranjang besar berisi daging segar, sayuran, dan buah-buahan kualitas terbaik.
"Nyonya Muda! Ini kiriman dari Selir Lan! Beliau memohon agar Anda menerima ini sebagai tanda terima kasih, dan beliau berharap Anda bisa mengirimkan satu botol lagi besok pagi!" seru kepala pelayan Selir Lan dengan sangat sopan.
Xiao Xiao melirik ke arah Zhi Chen dengan tatapan menang. "Lihat, Pangeran? Masalah sarapan kita sudah selesai."
Namun, di tengah kegembiraan Mao yang menerima makanan itu, Xiao Xiao melihat ada sebuah surat kecil yang terselip di balik keranjang buah. Ia membukanya diam-diam. Wajahnya tiba-tiba berubah serius.
Surat itu berisi tulisan singkat tanpa nama: "Berhati-hatilah malam ini. Permaisuri tidak suka ditolak secara terang-terangan."
Malam itu, saat seluruh paviliun sudah tertidur lelap, Xiao Xiao merasakan sesuatu yang aneh. Bau asap tipis mulai masuk melalui celah pintunya. Bukan asap dupa, melainkan asap dari api yang mulai membakar bagian belakang paviliun.
***
Happy Reading❤️
Mohon Dukungan
● Like
● Komen
● Subscribe
● Ikuti Penulis
Terimakasih ^_^ ❤️