Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Bisa Berbalik
Laptop Tafana menyala sejak pagi, dan tetap menyala hingga sore merambat pelan ke malam. Meja kecil di sudut ruang tamu kini lebih sering ia tempati daripada sofa. Ada gelas kopi yang lupa dihabiskan, catatan warna berserakan, dan layar penuh layer desain yang saling bertumpuk—potongan kain virtual yang perlahan menemukan bentuknya.
Ia sedang mengerjakan koleksi baru untuk butik Sierra. Jemarinya lincah, matanya tajam. Tafana tahu persis apa yang ingin ia ciptakan: potongan sederhana dengan detail berani, warna yang tidak pasaran, siluet yang jujur pada tubuh perempuan. Samara—nama yang ia pilih diam-diam—mulai punya pembeli tetap. Dan itu membuat dadanya hangat oleh rasa puas yang sunyi.
Ia tidak menceritakan ini pada Ravindra. Bukan karena takut, bukan pula karena rahasia besar. Tafana hanya ingin satu ruang yang benar-benar miliknya. Satu hasil yang ia bangun dengan tangannya sendiri. Penghasilan yang masuk ia simpan rapi, seperti payung di musim kemarau—semoga tak perlu, tapi menenangkan untuk dimiliki.
Hari-hari berlalu dengan ritme baru. Deadline, revisi, pesan suara Sierra yang antusias.
Tafana sering berkata, “Nanti ya,” ketika Ravindra ingin bercerita panjang. Ia tidak sadar, perhatian yang dulu mengalir deras kini terpotong-potong oleh notifikasi.
Ia merasa baik-baik saja. Sibuk, produktif, hidup. Tak terpikir olehnya bahwa jarak bisa tumbuh bukan dari pertengkaran, melainkan dari kesibukan yang sama-sama dimaklumi.
-oOo-
Awalnya Ravindra tidak merasa ada yang berubah. Ia hanya merasa… lebih ringan.
Tafana sibuk. Laptopnya hampir selalu terbuka, headset sering terpasang. Ketika Ravindra pulang dan mulai bercerita tentang rapat yang melelahkan atau klien yang menyebalkan, Tafana akan menyahut sambil tetap menatap layar.
“Iya… terus?”
“Hah? Oh—iya, iya. Lanjut.”
Ravindra berhenti menjelaskan detail. Ia belajar menyederhanakan ceritanya. Anehnya, itu tidak menyakitkan. Justru memberi ruang kosong yang entah sejak kapan mulai terasa nyaman.
Di sela-sela itu, ponselnya lebih sering bergetar.
Yunika: "Kamu masih suka minum kopi pahit?"
Ravindra tersenyum kecil.
Ravindra: "Masih. Kamu masih suka nyolong kentang goreng orang?"
Yunika: "Fitnah. Aku cuma icip."
Candaan ringan. Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada yang perlu dijelaskan. Yunika tahu siapa Ravindra di masa lalu—anak laki-laki pendiam yang duduk di pojok kelas, mencatat rapi, dan diam-diam menyimpan banyak hal. Ia tidak bertanya mengapa Ravindra seperti sekarang. Tidak menuntut versi lengkap hidupnya.
Mereka sesekali membahas hal remeh. Guru SMP yang galak. Lapangan basket yang becek. Lagu-lagu lama yang entah kenapa masih hafal di luar kepala. Semua terasa… familier. Nyaman.
“Lucu ya,” gumam Ravindra suatu malam, menatap layar ponselnya. “Ngobrol sama kamu kayak nggak pernah berhenti di titik mana pun.”
Yunika hanya membalas, “Karena memang nggak perlu berhenti.”
Undangan reuni SMP datang seminggu kemudian. Grup lama mendadak hidup. Nama Yunika ada di daftar undangan inti.
Ravindra menatap undangan digital itu agak lama. Dadanya berdenyut pelan, seperti ada pintu tua yang berderit terbuka.
“Nostalgia aja,” katanya pada dirinya sendiri, seolah memberi izin.
Padahal jauh di dalam, ia tahu—ini bukan sekadar menoleh ke belakang. Ini langkah kecil ke arah yang belum ia beri nama.
-oOo-
Hari reuni itu datang dengan dua dunia yang berjalan berlawanan.
Pagi di rumah terasa lebih lambat dari biasanya.
Tafana meringkuk di atas ranjang, perutnya nyeri seperti diremas dari dalam. Haid selalu membuat tubuhnya lemas dan pikirannya lebih sensitif, tapi ia menolak larut. Ia menarik napas panjang ketika Ravindra masuk membawa botol kompres air hangat.
“Ini,” kata Ravindra pelan, menaruhnya di perut Tafana dengan hati-hati. Gerakannya telaten, seperti takut salah menekan. “Sakit?”
“Lumayan,” Tafana mengangguk, berusaha tersenyum.
Ravindra ragu. “Apa aku batalkan pergi?”
Pertanyaan itu menggantung sejenak.
Tafana menatap langit-langit, lalu menggeleng. “Nggak perlu. Ini biasa. Kapan lagi kamu kumpul bareng teman-teman SMP. Kamu kan menantikan reuni ini.”
Ravindra menghela napas, rasa bersalah menyelinap cepat. “Maaf.”
“Maaf diterima,” jawab Tafana ringan. Ia meraih tangan Ravindra sebentar. “Sana. Have fun.”
Ravindra pergi dengan kecupan singkat di keningnya. Tafana tersenyum sampai pintu tertutup. Senyum yang tenang—tanpa curiga, tanpa prasangka. Momen terakhir ia sepenuhnya percaya, tanpa jeda.
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. Panggilan dari Sierra.
“Fee lo udah gue transfer ya,” suara Sierra terdengar ceria.
Dada Tafana menghangat. “Serius? Terima kasih, Sierra sayang. Gue senang bisa punya kesibukan yang menghasilkan.”
“Justru gue yang senang, butik gue jadi semakin dikenal. Desain lo laris. Brand Samara mulai dilirik pasar!" Sierra bercerita antusias.
“Bahkan ada tawaran interview untuk lo sebagai desainer. Dari majalah mode, mau ya?” ia memberi tahu, setengah membujuk.
Tafana langsung menggeleng meski tahu tak terlihat. “Lo tahu gue nggak mau dikenal banyak orang. Cukup karya gue yang dikenal.”
“Oke. Gimana kalau online, tanpa wajah?” Sierra masih bersikeras.
Tafana tersenyum. “Kalau itu, boleh deh.”
Ia mematikan telepon dan menatap layar laptopnya. Ada sesuatu yang tumbuh pelan-pelan di hidupnya, sesuatu yang miliknya sendiri. Diam-diam, mantap.
Di waktu yang sama, di luar sana, Ravindra melangkah pergi. Tafana bergerak maju tanpa suara; Ravindra, tanpa sadar, melangkah mundur sedikit demi sedikit.
-oOo-
Aula kecil itu dipenuhi tawa yang terasa akrab, seperti waktu yang dilipat lalu dibuka kembali. Spanduk reuni SMP tergantung agak miring, musik lawas diputar terlalu keras, dan nama-nama lama berseliweran di udara.
Ravindra melangkah masuk di samping Yunika, langkah mereka seirama tanpa direncanakan.
“Eh! Itu Ravin, kan?” seru seseorang dari meja tengah. “Sama Yunika?!”
Belum sempat Ravindra menjawab, gelombang godaan datang.
“Akhirnya jadian juga!”
“Gila, nunggu belasan tahun!”
Ravindra tertawa kecil, refleks. Pipinya menghangat. Ia tidak menyangkal. Tidak juga menjelaskan. Hanya mengangguk samar, seperti menerima angin yang lewat. Yunika menoleh sekilas, tersenyum canggung namun tidak menarik diri.
Mereka duduk berdampingan. Terlalu dekat untuk sekadar teman lama, terlalu wajar untuk dipertanyakan.
Saat seorang teman menumpahkan minuman, Ravindra sigap meraih tisu, menepuk tangan Yunika pelan. “Hati-hati,” katanya otomatis.
Yunika berterima kasih dengan senyum yang membuatnya lupa menurunkan tangan.
Obrolan berputar ke kenangan mereka. Hukuman berdiri di lapangan, contekan matematika, guru galak. Ravindra tertawa lebih sering dari yang ia sadari.
Ketika Yunika hendak bangkit mengambil minum, ia berdiri duluan, membuka jalan di antara kerumunan. Protektif, tanpa diminta.
“Masih sama ya, Ravin,” celetuk seorang teman. “Kalau ke Yunika tuh beda.”
Ravindra kembali tersipu. Tidak membantah. Tidak mengoreksi. Diamnya terasa aman dan berbahaya.
Di mata mereka, ceritanya sederhana: dua sahabat lama akhirnya bersama. Ravindra masih sendiri hingga Yunika yang dulu kembali. Tidak ada yang bertanya lebih jauh, ia pun tak berusaha menjelaskan—karena ia membiarkannya begitu.
Di tengah riuh nostalgia, Ravindra memilih pasif. Namun pilihannya bekerja aktif: membiarkan asumsi tumbuh, membiarkan jarak lain menganga. Dan di situlah kesalahan itu mulai nyata, bukan karena apa yang ia lakukan, melainkan karena apa yang ia putuskan untuk tidak katakan.
-oOo-
Mobil melaju pelan menembus jalan yang mulai lengang. Lampu kota memantul di kaca, pecah menjadi garis-garis cahaya yang tak rapi. Yunika bersandar di kursi penumpang, kepalanya miring, napasnya beraroma alkohol tipis. Ravindra fokus ke jalan, terlalu fokus—seolah itu bisa meredam apa pun yang berdenyut di dadanya.
Sampai di depan rumah Yunika, mesin dimatikan. Sunyi turun seperti tirai. Ravindra menoleh, meraih sabuk pengaman. Tangannya sedikit gemetar ketika menarik sabuk itu dari samping bahu Yunika.
“Biar aku—” katanya, terhenti.
Yunika menangkap kerah kemejanya. Gerakannya mendadak, yakin. Bibir itu menempel lebih dulu—hangat, berani, tak meminta izin.
Ravindra tersentak. Sepersekian detik ia membeku, ragu berdesakan dengan ingatan dan wajah yang seharusnya ia pulangi.
Sepersekian detik itu berlalu.
Ia membalas.
Ciuman itu tidak tergesa, tidak juga lembut. Lama. Terlalu lama. Napas mereka bertabrakan, jantungnya berdegup keras sampai terasa di telinga. Dunia menyempit menjadi kabin mobil, menjadi rasa yang ia kenal dan seharusnya ia jauhi.
Ketika akhirnya mereka terpisah, tidak ada kata. Hanya helaan napas berat. Yunika menunduk, Ravindra menatap lurus ke depan, tangan masih menggenggam sabuk pengaman.
Sunyi kembali. Kali ini, lebih berat.
Ia tahu ini bukan nostalgia lagi. Ini langkah pertama yang tak bisa ia tarik kembali.
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅