Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.
Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Kedamaian yang Sempurna
Sore itu di Nagasari, langit berwarna jingga kemerahan. Arum menutup buku koperasi desanya dengan pelan. Ia bangkit dari kursi kayu di teras, meregangkan otot-ototnya yang terasa sedikit kaku. Baginya, menghitung selisih harga pupuk jauh lebih menenangkan daripada menghitung triliun dana gelap yang dulu sempat membuatnya jadi buronan.
"Sudah selesai pekerjaannya, Rum?" tanya Baskara. Ia baru saja kembali dari sungai, membawa seikat kangkung segar di tangannya.
Arum mengangguk sambil tersenyum manis. "Sudah, Mas. Semua laporan warga Nagasari sudah beres. Tidak ada satu rupiah pun yang lari ke kantong yang salah."
Baskara berjalan mendekat, lalu duduk di anak tangga teras. Ia menatap jalanan desa yang kini mulai ramai oleh anak-anak yang pulang mengaji. "Dunia di luar sana masih sibuk membicarakan siapa orang di balik terbongkarnya rahasia besar tahun lalu. Mereka menyebutnya 'Pahlawan Tanpa Nama'."
Arum ikut duduk di samping suaminya. Ia menyandarkan kepala di bahu Baskara yang kokoh. "Biarlah tetap seperti itu, Mas. Biarlah 'Pahlawan Tanpa Nama' itu tetap menjadi rahasia. Aku lebih suka dikenal sebagai Arum, istri mantan Pak Kades yang jago masak sayur asem."
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar cepat menuju rumah mereka. Itu Marno. Wajahnya tampak sedikit tegang, tapi bukan karena takut.
"Bu Arum! Pak Baskara!" seru Marno sambil terengah-engah. "Ada utusan dari kota. Mereka bilang mereka dari badan pengawas keuangan pusat. Mereka ingin belajar bagaimana sistem koperasi di Nagasari bisa begitu bersih dan transparan."
Arum dan Baskara saling pandang. Arum tersenyum tenang. Ia menyadari bahwa meskipun ia sudah menghancurkan mesin canggih di bawah sumur, semangat kejujuran yang ia mulai telah menular ke mana-mana.
"Suruh mereka duduk di balai desa, Marno," jawab Arum dengan nada yang sangat bersahabat. "Bilang pada mereka, kuncinya bukan pada komputer canggih, tapi pada keberanian untuk saling jujur antar tetangga. Nanti aku akan ke sana setelah selesai masak makan malam."
Marno mengangguk semangat lalu berlari kembali ke arah balai desa.
Baskara menggenggam tangan Arum dengan erat. "Kamu tidak keberatan mengajar mereka, Rum?"
"Tentu tidak, Mas. Audit yang sesungguhnya adalah ketika semua orang bisa menjadi penjaga bagi saudaranya sendiri. Aku hanya ingin memastikan benih yang kita tanam di Nagasari ini bisa tumbuh di desa-desa lain," jawab Arum mantap.
Malam mulai turun menyelimuti Nagasari. Lampu-lampu rumah warga mulai menyala satu per satu, menciptakan pemandangan yang hangat dan damai. Tidak ada lagi rahasia gelap, tidak ada lagi ketakutan. Di desa kecil ini, kebenaran telah menemukan rumahnya yang paling indah.
Arum melangkah masuk ke dalam rumah bersama Baskara, meninggalkan sumur tua di belakang yang kini hanya menjadi saksi bisu perjuangan mereka. Buku besar takdir Arum telah tertutup dengan hasil yang sangat seimbang: sebuah dunia yang lebih jujur, dan sebuah hati yang akhirnya merasa pulang.
Meskipun malam telah larut, suasana di teras rumah Nagasari itu masih terasa hangat. Arum dan Baskara masih duduk berdampingan, menikmati suara alam yang tenang. Perbincangan mereka beralih dari urusan dunia ke hal-hal yang lebih pribadi, sesuatu yang selama ini sering terabaikan karena kesibukan mereka berpindah dari satu konflik ke konflik lainnya.
"Mas," panggil Arum pelan, memecah keheningan. "Apa Mas pernah merasa menyesal karena hidup kita jadi penuh bahaya sejak aku mulai mengaudit dana desa dulu?"
Baskara terdiam sejenak. Ia memandang tangannya yang kini memegang cangkir teh yang sudah dingin. "Kalau dibilang takut, jelas aku takut, Rum. Tapi kalau menyesal, tidak pernah sama sekali. Melihat Nagasari yang sekarang—melihat orang-orang tidak lagi dibodohi—itu membuatku merasa semua pelarian kita kemarin ada harganya."
Arum tersenyum haru. Ia tahu suaminya telah mengorbankan ketenangannya demi mendukung langkah Arum. "Terima kasih, Mas. Tanpa Mas di sampingku, mungkin aku sudah menyerah di Antartika atau Sahara."
Tiba-tiba, Jaka muncul dari balik pintu rumah. Ia ternyata belum pulang ke penginapannya di kota dan memilih menginap di kamar tamu rumah Arum. "Bu Arum, Pak Baskara... maaf mengganggu momennya," ucap Jaka sambil membawa laptop kecilnya.
Arum sedikit waspada. "Ada apa, Jaka? Apa ada serangan lagi?"
"Bukan, Bu. Bukan serangan," Jaka tersenyum lebar. "Saya baru saja melihat data statistik di platform transparansi yang Ibu bagikan. Malam ini, ada lebih dari sepuluh ribu desa di berbagai negara yang mulai mengunggah laporan keuangan mereka secara sukarela. Mereka menggunakan sistem kita sebagai standar baru."
Arum menarik napas panjang. Rasa lega yang sebenarnya kini benar-benar menjalar ke seluruh tubuhnya. Kejujuran bukan lagi sesuatu yang harus dipaksakan dengan peretasan atau ancaman; kejujuran telah menjadi sebuah kebutuhan bagi orang banyak.
"Artinya, tugas kita benar-benar sudah selesai, kan?" tanya Baskara memastikan.
"Iya, Mas. Tugas sebagai 'hantu' sudah selesai," jawab Arum mantap. "Sekarang tugas kita adalah menjadi saksi bagaimana dunia ini memperbaiki dirinya sendiri."
Arum mengajak mereka semua masuk ke dalam. Di meja makan, sudah tersaji nasi hangat dan lauk sederhana. Di tengah suasana makan malam yang bersahaja itu, Arum menyadari satu hal penting: keajaiban terbesar bukanlah teknologi canggih di bawah sumur, melainkan keberanian manusia untuk berkata jujur, dimulai dari meja makan di sebuah rumah kecil di Desa Nagasari.
Buku besar kehidupan Arum kini benar-benar seimbang. Tidak ada utang budi yang tersisa, tidak ada angka yang tersembunyi. Hanya ada kedamaian yang mengalir jernih, sejernih air sumur di halaman belakang mereka.
Setelah makan malam yang sederhana namun penuh tawa itu selesai, Arum berjalan ke arah jendela dapur yang menghadap ke kebun belakang. Ia memandangi bayangan sumur tua di bawah cahaya bulan. Di sana, di tempat yang dulu penuh dengan ketegangan, kini hanya ada ketenangan.
Baskara mendekat, membawa dua cangkir kopi panas. Ia memberikan satu kepada Arum. "Apa yang kamu pikirkan, Rum? Sepertinya masih ada yang mengganjal di hatimu."
Arum menerima cangkir itu, merasakan hangatnya merambat ke telapak tangannya. "Aku hanya berpikir tentang integritas, Mas. Ternyata, menjaga kejujuran di desa sekecil Nagasari ini sama sulitnya dengan melawan korporasi global. Bedanya, di sini kita melawan diri kita sendiri setiap hari."
Baskara mengangguk paham. "Benar. Karena kejujuran bukan cuma soal angka di atas kertas, tapi soal bagaimana kita berani menatap mata tetangga kita besok pagi tanpa rasa malu."
Mereka berdua lalu keluar dan duduk kembali di teras. Arum melihat buku catatan koperasi di atas meja. Ia teringat kembali semua orang yang pernah ia temui—dari Profesor Rasyid yang tersesat dalam logikanya sendiri, hingga Kolonel Malik yang dibutakan oleh kekuasaan. Semua mereka kalah karena satu hal yang Arum miliki: rasa cukup.
"Mas, tahu tidak apa audit terbaik yang pernah aku lakukan?" tanya Arum tiba-tiba.
Baskara menggeleng sambil tersenyum. "Apa itu?"
"Audit terhadap keinginanku sendiri," jawab Arum pelan. "Aku sadar bahwa aku tidak butuh dunia yang memuja namaku. Aku hanya butuh dunia di mana aku bisa tidur nyenyak karena tahu aku tidak mengambil hak orang lain."
Suara angin malam berdesir di antara pohon-pohon bambu di pinggir desa Nagasari. Arum merasa hidupnya kini sudah utuh. Tidak ada lagi rahasia yang ia sembunyikan dari Baskara, dan tidak ada lagi beban yang ia simpan dari warga desa.
"Rum," panggil Baskara lagi, suaranya terdengar sangat tulus. "Terima kasih ya, sudah tetap menjadi Arum yang aku kenal. Arum yang sederhana, yang lebih peduli pada kebenaran daripada kekayaan."
Arum menyandarkan kepalanya di bahu Baskara. "Terima kasih juga sudah selalu jadi tempatku pulang, Mas."
Di langit, bintang-bintang bersinar dengan sangat jernih. Nagasari malam itu tampak seperti sebuah lukisan tentang kedamaian. Tidak ada lagi satelit yang memata-matai mereka, tidak ada lagi musuh yang mengintai di kegelapan. Hanya ada sebuah keluarga kecil yang hidup dengan jujur, di sebuah desa yang kini memegang kuncinya sendiri untuk masa depan yang lebih baik.
Arum menutup matanya perlahan, menikmati aroma tanah Nagasari yang wangi setelah hujan tadi sore. Ia tahu, esok pagi ia akan bangun dengan tugas-tugas baru di koperasi, tapi ia akan menjalaninya dengan hati yang ringan. Karena baginya, angka-angka itu kini bukan lagi musuh, melainkan teman yang menceritakan kebenaran.
menegangkan ..
lanjut thor..