Derasnya hujan malam ini, seorang gadis yang sedang merenungkan nasibnya sekarang, air mata terus berjatuhan tak ada niatan untuk di hentikan, bibirnya mengatup hanya ada isakan yang terdengar, matanya hanya tertuju pada satu benda dan kertas foto persegi kotak di tangannya dan seluruh tubuhnya bergetar hebat "Apa, yang harus aku lakukan." Jeritnya pilu.
Keputusan apa yang akan ia pilih. melepas atau menerimanya dan pergi menjauh ia butuh ketenangan.
Dan apa jadinya saat kehidupannya sudah tenang seolah olah takdir sedang mempermainkannya.
Ini tantangan hidup apakah ia bisa melawan traumanya karena masa lalu ataukah ia akan menemukan takdirnya bersamaan kembalinya dia dan orang orang masa lalu yang mulai hadir.
Heyy buat para reader semoga suka karena karya ini asli hasil imajinasi sendiri NO PLAGIAT NO CURI² MILIK ORANG LAIN, murni hasil berpikir sendiri 😁.
selamat membaca 💞
salam dari Author 💋😻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKSM 27
"Gino." Lucas berteriak memanggil Gino yang sedikit jauh jaraknya dari pintu masuk dan membuat orang orang di sekitar memandangnya dan itu membuat Camaro sang daddy malu.
"Lucas!" bisik Camaro menegur sang anak.
"Hehehe, maaf dad," ucapnya sambil cengegesan.
Gino saat mendengar ada yang meneriakinya mencari sumber suara ada di mana, saat ia tau siapa orangnya ia pun balas teriak.
"Lucas," teriak Gino.
"Yo," Lucas membalas lagi dengan teriakan.
Camaro hanya bisa menutup wajahnya karena baru beberapa detik sang anak baru minta maaf kini bikin ulah lagi.
"Kalian datang juga ternyata," ucap Camaro.
"Ya jelas, sahabat kami mau pamer karya karyanya masa sebagai sahabat kami gak datang," celetuk Callena. "Oya, kau datang sendiri aja sama Lucas tak membawa pasangan?" lanjut Callena bertanya tapi meledek.
"Kau sendiri mana pasangan mu, ngekori sahabat sahabat mu saja," ucap Camaro membalas ledekan Callena.
Si empunya yang dibalas malah manyun bibir maju lima senti dan itu membuat keisengan Camaro muncul untuk mencubit bibir Callena dengan jarinya.
"Awww, isss kau ni, kau pikir tak sakit apa," rajuk Callena.
"Hahahaha."
"Kalian ini, kenapa tidak jadi pasangan saja kalo dilihat lihat kalian serasi ko," goda Alexa.
"Tidak!!!" teriak mereka bersamaan.
Membuat para sahabat tertawa geli.
Sedangkan para anak anak terpisah dari orang dewasa kini ada di sebuah meja yang sudah disediakan tetapi mereka tetap dalam pengawasan orang orang Tarissa.
Saat ini Gino sedang mengawasi sesuatu di jam tangan yang sudah ia modif, ia sedang mengawasi sang mommy yang sebentar lagi menyelesaikan gaun yang dibuat.
○●□■
Ditempat Yashica sekarang, ia sedang menyelesaikan gaun yang ia buat di tahap akhir, beberapa saat kemudian.
"Hah, akhirnya selesai," ucap Yashica dengan senyum bahagia.
Ada beberapa gaun yang akan Yashica pamerkan mengunakan dua model dari rekanan madam Lu.
"Nona Yashica bisa ikut saya sebentar," ucap panitia yang tiba tiba datang menghampirinya.
"Ooh bisa," jawab Yashica. Yashica meninggalkan ruangannya sejenak karena ia yakin tak akan ada orang yang mau macam macam dengan gaunnya.
Tetapi beberapa saat kemudian saat Yashica mengikuti panitia ada seseorang yang masuk keruangan di mana gaun gaun indah Yashica berada.
Ia mengawasi sekitar sekirannya aman, ia melanjutkan langkahnya memasuki ruangan tempat Yashica menaruh gaun gaun cantiknya. Ia berbisik lirih "Aman,"
"Hem, gaun yang indah dan cantik," ujarnya seraya menyentuh gaun gaun itu. "Tetapi sayang sebentar lagi gaun gaun ini tak bisa ditampilkan karena sudah tak berguna," sambungnya dengan senyum licik. Lalu ia mengambil sebuah gunting dari dalam tasnya dan ia mulai menggunting gaun gaun yang sempurna itu menjadi tak beraturan tak hanya itu ia merobek dengan tangannya dengan penuh emosi.
"Yashica, Yashica, kasihani dirimu yang sebentar lagi tak akan bisa tampil dan aku yakin madam Lu pasti akan kecewa berat, hahahahaha," ujarnya dengan tawa akan kepuasan melihat karyanya yang berhasil merusak gaun gaun itu. "Seharusnya aku yang tampil bukan kau, kau hanya anak baru tapi kau sudah sok pintar, ya pintar mencari muka pada madam Lu dasar munafik kau Shica," sambungnya meracau marah.
Setelah ia puas melihat gaun gaun rancangan Yashica tak berbentuk lagi dan tak bisa di pakai karena ulahnya, ia pun keluar dari ruangan dan berlalu dari sana.
Di tempat Yashica sekarang terjadi kehebohan karena dua model yang seharusnya menjadi peraga gaun gaun Yashica tidak bisa hadir untuk jadi model busana.
Sebelumnya.
Seorang panitia mendapat kabar bahwa ada dua model untuk fashion madam Lu yang terkena musibah, mereka tidak langsung mengabarkan kepada yang bersangkutan tetapi mengabarkan ke madam Lu terlebih dahulu.
Saat madam sedang mengbriefing salah satu pegawainya yang juga ikut memamerkan busananya, salah satu panitia maju dan membisikan sesuatu.
"Apa!" teriak madam yang sempat kaget dan itu membuat orang orang di ruangan itu bertanya tanya setelah melihat madam pergi dengan panitia.
Setelah sampai di ruang panitia madam menanyakan perihal dua model yang akan jadi peraga busana salah satu pegawainya.
"Duhhh, kenapa tiba tiba jadi mendadak begini sih, " kesal madam Lu.
"Kami juga mendapat kabar dari asisten mereka masing masing madam, kami juga kurang tau, padahal kami sudah minta penjelasan tetapi mereka menerangkannya berkelit kelit," ujar ketua panitia.
"Kamu sudah kabari Yashica?" tanya madam Lu tunjuk salah satu panitia yang bertanggung jawab.
"Sudah madam, saya lebih dulu mengabarkan madam lalu setelahnya saya mengabarkan ke bersangkutan yang akan memakai dua model jadi peraganya," jelas panitia.
"Hem."
End.
"Madam," panggil Yashica sesaat tiba di ruang panitia ia melihat ada madam Lu.
"Shica," ucap madam seraya menghampiri Yashica.
"Ada apa madam?" tanyanya.
ketua panitia maju untuk menjelaskan perkaranya.
"Begini nona Yashica, dua model yang akan jadi peraga busana anda tidak bisa datang karena suatu hal, kami juga sudah meminta penjelasan kepada dua asisten para model tetapi penjelasan mereka berkelit kelit," jelas ketua panitia.
"Aduh, bagaimana ini, apalagi sebentar lagi giliran busana busana saya yang harus dipamerkan, bagaimana ini madam," tanya Yashica cemas.
"Kalian ada model cadangan tidak?" tanya madam pada ketua panitia.
"Kebetulan dua model cadangan kami sudah ada yang pakai madam, saat ini belum ada lagi model cadangan tapi sekarang sedang kami usahakan untuk mencari model buat nona Yashica," jelas panitia yang bertanggung jawab permodelan.
○●□■
Ansel sejak memasuki gedung acara sudah disambut dari pihak fashion Rich.
"Selamat datang dan selamat malam pak Ansel," sapa sang asisten fashion Rich.
"Hem."
"Silahkan ikuti saya," ucapnya.
Ansel dan Juno mengikuti kemana asisten Damien Richard itu melangkah.
"Silahkan ini meja dan kursi anda tuan Ansel dan tuan Juno meja ada ada di sebelahnya," ucapnya.
"Saya minta meja disatukan dengan asisten saya," pinta Ansel.
"Oh, baiklah akan saya siapkan," ujarnya.
Setelah meja Ansel diganti dengan meja yang agak besar, asisten Rich pamit undur diri untuk menyambut tamu undangan fashion Rich yang lain.
Tak disengaja sesama warna mata hijau hazel itu saling berpandangan saat matanya sedang memindai berbagai orang dari tamu tamu perusahaan lain.
"Deg." Jantung mereka saling sahut menyahut. Ansel merasakan ada getaran halus yang asing masuk ke dadanya. Ia mencoba mencari tahu apa gerangan yang ia rasakan seperti sesuatu yang asing tapi tak asing.
Mata mereka saling terkunci belum ada yang memutuskan pandangan mereka. Juno yang merasa tidak ada pergerakan dari tuannya pun menoleh, ia melihat pandangan tuannya tertuju pada seorang anak bermata hijau hazel yang mirip dengan tuannya Ansel.
"Siapa anak itu kenapa warna mata itu mirip sekali dengan tuan dan wajah itu sedikit agak mirip dengan tuan, apa anak itu yang ku lihat tadi, tapi warna matanya berbeda yang ku lihat bermata coklat madu sedangkan ini hijau hazel, ada apa ini," batinya bertanya dan insting tajamnya pun mulai bekerja.
Sedangkan Ansel masih memusatkan perhatiannya pada seorang anak yang mengingatkannya pada masa kecilnya.
"Siapa anak itu kenapa ia mengingatkan ku pada masa kecilku, aku melihat dia seperti bercermin pada diri ku sendiri ,mata dan wajah itu mirip sekali waktu aku kecil, siapa kamu?" batinya bertanya.
Saat mata Ansel masih bersitatap dengan anak itu tiba tiba ada seseorang yang menghalangi pandangannya.
"Hai, gak nyangka kita bakal ketemu di sini An," sapa seorang wanita yang datang menghampiri seorang diri di mana Ansel dan Juno duduk. "Ko, aunty Kiara gak ngasih tau aku ya kalo kamu juga ada di acara ini, tau gitu kan kita bisa pergi bersama," ujarnya sok akrab.
Sedangkan Ansel dan Juno memandang si wanita dengan datar dan dingin. Wajah Ansel semakin gelap karena kesenangannya sudah diganggu oleh wanita yang duduk di depannya ini sedangkan sang wanita tidak menyadari aura mencengkam dari pria yang ia coba dekati itu.
"Maaf nona, kita tidak saling mengenal dan seakrab itu untuk anda ikut bersama saya, jadi silahkan pergi atau cari meja untuk anda sendiri, silahkan," tutur Ansel dengan datar dan dingin serta tanpa perasaan, ia tak perduli apakah wanita itu tersinggung atau terluka dengan kata katanya, andai ia mengadu pun pada sang mommy ia tak mempedulikannya karena memang mereka tidak saling mengenal hanya sebatas ia anak dari teman arisan sang mommy.
Juno yang mendengar tutur kata yang tidak mengenakan dari sang tuan hanya tersenyum sinis serta menatap tajam si wanita.
Sedangkan si wanita yang mendapat penolakan langsung dari si empunya pun merasa sakit hati ini kedua kalinya ia di tolak oleh orang yang sama, ia pun bergegas berdiri seraya berkata "Baik lah, aku harus kembali ke teman teman ku dulu, nanti jangan lupa hubungi aku kalo kamu akan kembali ke negara A biar kita bisa berangkat bersama," ucapnya berpura pura tersenyum manis agar teman temannya tak curiga karena sedari awal ia melangkah ke meja Ansel berada mereka melihatnya sampai sekarang. Lalu ia pun melangkahkan kakinya ke meja di mana teman temannya berada.
"Wahhh kau keren Nya," ucap Wina bangga.
"Iya kau bisa kenal dengan pengusaha bertangan dingin, seorang Ansel Cullen Dominic. Padahal yang ku tau dia itu anti dengan namanya wanita, entah alasannya pun aku tak tau, tapi kau dengan mudahnya begitu akrab seperti teman lama," ujar shella.
"Iya dong, karena mommy aku dan aunty Kiara itu sahabatan jadi aku sama Ansel sudah dijodohkan, kalian tunggu saja undangan pertunangan kami," ucap Anya bangga.
"Tapi memang ko, kalo di lihat-lihat Anya dan Ansel pasangan yang serasi, dah gitu Anyanya cantik dan Anselnya tampan terus juga nama kalian sama-sama awalan A lagi, wahhh benar-benar jodoh kalian," sanjung Wina.
"Halah, kalian percaya dengan pembual besar seperti dia? Aku sih gak percaya, gak mungkinlah tuan Ansel kenal sama cewek modelan kayak kamu itu," ejek Doma.
"Kalo kamu tidak percaya ya sudah, lagi pula aku tidak minta untuk kamu percaya sama aku, toh aku juga tidak membuat kamu rugi," ujarnya penuh manipulatif.
"Cih, dasar munafik," decihnya sinis. Lalu Doma beranjak dari duduknya.
"Aishhh, bilang saja kalo dia iri sama Anya," cetus Wina.
"Doma kenapa sih, ko tiba tiba jadi ketus gitu sama kamu Nya?" tanya Shella.
"Entah, aku pun tak tau, mungkin dia sedang ada masalah," ucapnya.
"Ya kalo ada masalah seharusnya gak gitu caranya, masa kamu yang gak tau apa-apa jadi pelampiasan," ucap Shella perhatian.
"Sudah lebih baik kita fokus aja sama acara malam ini, untuk masalah Doma kita bahas nanti lagi saja," ujar Anya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Hem, ada apa dengan Doma kenapa dia tiba tiba terlihat tidak suka dengan ku, sepertinya ada yang tidak beres, aku harus segera cari tau," batinnya bergumam.
Akhirnya mereka fokus dengan acara peragaan, untuk masalah Doma mereka kesampingkan dulu, nanti pada waktu yang pas akan mereka tanyakan pada bersangkutan.