Dahlia seorang istri yang sangat dikecewakan suami yang sangat dicintainya. Namun Dahlia tetap memilih untuk bertahan mempertahankan rumah tangganya. Dahlia tidak mau seperti ibu dan kakaknya yang menyandang status janda juga. Dahlia pun lebih memilih melampiaskan kekecewaan dan rasa sakit hatinya dengan menjalin hubungan terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sembilan Belas
Obrolan santai di suatu pagi yang basah karena hujan sedang mengguyur deras.
"Mbak enak, ya, hamil nggak pake ngidam. Lah aku, mbak, benar-bentar uwe, bentar-bentar uwe, lemes tahu ni badan."
Keluh Ratna yang sudah dari tadi balok-balik ke kamar mandi.
"Kamu hamil juga, Na?. Aku baru tahu."
"Iya, mbak, rasanya nggak enak banget."
"Aku sih nggak ngidam apa-apa, Na, makan apa aja nggak pilih-pilih."
"Iya, kata mama itu hamil kebo, mbak."
Dahlia tertawa.
"Dari kapan ngidam, Na?."
"Awal-awal aku udah ngidam, mbak, kaya mbak gini lah. Yang paling aku pengen itu rujak serut, mba. Itu air liur aku banyak banget di mulut tapi pas udah makan langsung normal lagi itu air liur."
Dahlia meraba perutnya, dia memang tidak merasakan apa yang dirasakan Ratna, mamanya dan kakaknya saat hamil. Dia tidak memiliki keinginan yang aneh-aneh yang menandakan kalau dia hamil.
Mama yang baru pulang dengan Ryan langsung ikut nimbrung di sana sambil menyodorkan rujak serut pesanan Ratna.
"Mbak mau nyobain?."
Dahlia menggeleng, dia tidak suka aneka rujak tapi buah dia sangat suka sekali.
"Nanti ke mau periksa kandungan bareng aku aja, mbak."
"Nggak bisa! Dahlia udah punya dokter sendiri."
Ryan menolak ajakan adiknya yang menawarkan untuk ke dokter kandungannya.
"Yeee, kok mas ngegas. Kalau nggak mau ya udah."
Ratna mulai menyantap rujak serutnya sambil memegangi perutnya.
Ryan menarik tangan ke Dahlia masuk ke kamar.
"Sayang."
Ryan langsung memeluk Dahlia, mencium bibirnya dan tidak merespon. Ryan tidak mempermasalahkan yang penting dia bisa menyentuh istrinya.
Ryan semakin leluasa menyentuh tubuh Dahlia yang tidak menolak atau menerima. Sentuhan itu sudah sampai perut, di sana Ryan bermain cukup lama, menciumi perut Dahlia seakan menciumi anaknya.
Perlahan turun ke bawah, tangan Ryan berhasil meloloskan kain penutup terakhir yang ada pada tubuh Dahlia.
"Jangan!."
Dahlia menolak, menipis senjata Ryan yang akan memasuki tubuhnya. Bayangan bagaimana Ryan dan Liana bercinta tidak pernah pergi dari ingatannya.
"Ada apa, sayang?."
Ryan mencoba memasukkan lagi senjatanya yang masih on fire.
",Aku nggak mau!."
Dahlia menepisnya lagi.
"Sayang, aku belum menjenguk anakku semenjak dia ada di dalam rahimmu."
"Aku nggak mau! Jangan sentuh aku!."
Dahlia yang memunguti pakaiannya langsung ditarik paksa naik ke atas ranjang.
"Kamu harus mau melayaniku!."
"Nggak mau!."
Dahlia mencoba bangkit dan menjauh ke sisi ranjang satunya lagi dan mengenakan pakaian sedapatnya.
"Sayang, kamu istriku dan kewajiban kamu buat melayaniku."
Ryan melembut guna memenangkan pertarungan ini.
"Nggak! Dan nggak!."
Dahlia pun tetap menolaknya, matanya melirik pintu yang untungnya tidak dikunci.
"Aku sangat menginginkanmu, sayang."
Ryan merangkak mendekati Dahlia, dia tidak mau kasar karena takut Dahlia perginya.
"Aku tetap mau cerai! Cerai! Cerai!."
Lalu dia meraih ponselnya dan membuka pintu kamar, berlari semampunya dari rumah itu. Rumah yang ingin ditinggalkan. Walau yakin Ryan tidak akan mengejarnya karena tanpa busana tapi dia takut juga jika Ryan membawanya kembali ke rumah itu.
Sambil terus berlari dia menghubungi Pak Adnan, hanya pria itu yang ada dalam pikirannya.
"Pak, tolong aku!."
"Kamu kenapa, Ia?."
"Tolong jemput aku, Pak."
Kemudian tubuh Dahlia ambruk di atas trotoar dengan napas yang memburu setelah mengirim lokasinya saat ini.
Kurang dari dua puluh menit Pak Adnan sudah menemukan Dahlia, menggendong tubuh lelah itu masuk ke dalam mobil.
"Bawa aku ke mana aja, Pak."
Kemudian Dahlia memejamkan mata, memikirkan apa yang harus dilakukannya setelah ini.
Apa iya dia harus pergi tapi ke mana?.
Pak Adnan membawanya ke gedung kantor melalui lift lain tanpa diketahui security kantor yang nantinya dapat mengundang kehebohan.
Pak Adnan menaruh tubuh Dahlia di atas kasur empuknya, menutupnya dengan selimut.
"Jangan tinggalkan aku, Pak."
Dahlia membuka mata sembari memegangi tangan Pak Adnan.
"Istirahat aja, aku akan selalu di sini."
Kemudian Dahlia mengangguk, memejamkan matanya lagi.
Sambil menunggu Dahlia, Pak Adnan menyiapkan makanan untuk mereka. Membeli beberapa potong pakaian untuk Dahlia.
Pak Adnan menatap ponselnya yang menyala.
"Halo."
"Di mana, Nan?."
"Di luar, ada apa?."
"Aku mau bicara penting."
"Bicara aja sekarang, aku dengarkan."
"Kita bertemu, ya, Nan?. Di Cafe biasa."
"Oke."
Pak Adnan meninggalkan lantai di mana Dahlia sedang tidur nyenyak. Dia tidak akan lama.
Pak Adnan dan Vera sudah di Cafe.
"Kamu selalu mau tahu 'kan kenapa aku dulu aku minta cerai?."
"Sekarang aku nggak butuh tahu alasan di balik perceraian kita. Itu sudah terjadi, kita tetap cerai dan aku sekarang akan melanjutkan hidup karena aku ingin dan sadar aku menginginkannya."
Vera menundukkan kepalanya. Tapi dia harus menyampaikannya walau sudah terlambat.
" Kamu ingat saham perusahaan anjlok di pasaran yang hampir membuat keluargamu bangkrut. Itu karena kecerobohanku, Nan. Nenekmu sakit dan sampai meninggal dunia, ya, karena terus memikirkan itu dan keluargamu memintaku untuk bercerai darimu. Aku nggak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan mereka dari pada aku harus masuk penjara."
"Memang sangat pelik masalah saham itu, di sana ada banyak ribuan jiwa yang bergantung pada perusahaan. Kalau bangkrut bukan hanya keluargaku aja tapi mereka yang telah setia bekerja untuk perusahaan. Pada Kurniawan kamu bocorkan rahasia perusahaan?."
Vera mengangguk lemah.
"Semua udah lama berlalu, lupakan aja semuanya. Maaf, kalau keluargaku begitu keras sama kamu."
Tanpa Pak Adnan mau tahu ada hubungan apa di antara Vera dan Kurniawan dan karena apa.
"Aku mau kembali sama kamu, Nan."
"Maaf, sekarang aku ingin melanjutkan hidup."
Kemudian Pak Adnan pamit lebih dulu, dia punya bayi besar yang sedang tidur.
"Aaaaaaa...."
Pak Adnan yang baru menutup pintu langsung segera berlari menghampiri Dahlia. Pasti terjadi sesuatu kepada perempuan itu.
"Ada apa, Ia?."
"Aku pendarahan, Pak, banyak darah di sprei kasur, Pak. Tolong antar aku ke dokter, Pak."
Pak Adnan menatap sprei yang terdapat darah sudah hampir mengering. Lalu menatap bokong Dahlia yang dipenuhi darah juga.
"Ayo, Ia!."
Pak Adnan membawa Dahlia ke rumah sakit terdekat guna mendapatkan pertolongan segera.
Dengan setia Pak Adnan menemani Dahlia yang sedang diperiksa oleh dokter, bagian perut Dahlia dilakukan USG sampai dua kali agar supaya lebih memastikan lagi. Sejak pasiennya datang, terus saja dia mengatakan pendarahan dan keguguran.
Nyatanya hasilnya menyatakan lain.
"Bagaimana bayinya, dok?."
Sambil memegangi tangan Dahlia yang dingin.
"Apa bayiku masih selamat atau bagaimana, dok?."
Dahlia menatap sendu dokter yang menatapnya semakin heran.
"Tunggu! Sejak tadi anda mengatakan pendarahan dan keguguran."
"Iya, dok, itu yang tadi padaku sekarang 'kan?."
"Bagaimana bisa anda pendarahan dan keguguran kalau anda sebenarnya nggak hamil."
"Nggak hamil?."
Pak Adnan dan Dahlia saling pandang lalu menatap dokter.
"Anda hanya menstruasi biasa aja."
"Jadi aku nggak hamil?."
"Nggak, rahim ada masih kosong."
Mereka pun saling tatap lagi.
Apa mungkin Ryan memanipulasi mereka?