Keyvandi Orion Eduardo atau didunia entertainment lebih dikenal dengan nama Orion Key merupakan seorang musisi terkenal dengan berbagai macam prestasi yang ia miliki. Kehidupan yang jauh dari berbagai macam isu tidak mengenakkan serta keramahannya membuat lelaki berumur 25 tahun itu banyak disukai oleh berbagai kalangan.
Namun, bagaimana jika semua citra yang telah ia bangun itu mendadak sirna. Ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis SMA yang bahkan belum berumur 18 tahun. Perlahan berbagai macam fitnah dan isu buruk tentangnya mulai tersebar. Sehingga membuat ia dicap sebagai musisi dengan scandal terburuk sepanjang masa.
Disisi lain, seorang gadis SMA dengan nama Despina Elara Faye yang juga merupakan adik tiri dari salah satu musisi yang iri akan karir Keyvandi terpaksa menuruti perintah kakaknya untuk mendekati Keyvandi dan menghancurkan karirnya perlahan. Jika tidak, maka siksaan akan terus ia dapatkan.
Lalu, bagaimana kisah selanjutnya? Baca yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nevera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
"Saya ingin menarik pasien bernama Despina Elara Faye untuk dipindahkan ke rumah sakit lain. Saya tidak mau tau, segera atau saya akan membawa ini ke jalur hukum."
Para perawat dan pihak rumah sakit di sana tampak ketakutan mendengar itu.
"Siapa yang berani melakukan itu? Pasien yang sudah masuk dan dirawat di sini tidak ada yang boleh di tarik karena ini demi keselamatan pasien, jika anda masih bersikeras maka penuntutan anda akan sia-sia karena justru anda sendiri yang akan dianggap bersalah," ujar Anna, wanita paruh baya itu dengan pakaian dokternya terlihat sangat menawan.
Reza mengepalkan tangannya, urat leher lelaki itu terlihat menegang, wajahnya tampak memerah kontras dengan kulit putih lelaki itu, ia sedang menahan amarahnya. Lelaki itu menghampiri Anna diikuti oleh Leo yang ada di belakangnya, lelaki itu berusaha untuk menenangkan sahabatnya itu.
"Kau, apa maksudmu? Kami adalah pihak keluarga dari pasien, lantas apa hakmu melarang kami?"
Anna tersenyum, wanita paruh baya itu tampak begitu tenang, tidak ada ketakutan atau kata gentar dalam dirinya. "Hei anak muda, kami ini dokter, wajar jika kami memikirkan kebaikan pasien kami, tidka peduli jika kalian adalah pihak keluarga pasien, tapi jika tindakan kalian dapat membahayakan nyawa pasien maka kami akan bertindak," balas Anna, kemudian wanita itu beranjak dari hadapan Reza dan Leo diikuti oleh yang lainnya.
"Huh, kurang ajar! Apa yang harus kita lakukan sekarang Leo? Aku tidak bisa membiarkan Despina terus berada di eunb sakit ini, aku ingin melihatnya, aku ingin berada di sampingnya, bukan dengan larangan, bahkan aku tidak bisa hanya untuk sekedar menyapanya di dalam ruangan itu. Aku curiga, ada yang mereka sembunyikan, apa sebenarnya?"
Leo mengerutkan keningnya, ia sebenarnya berpikiran yang sama dengan Reza, "Kau benar, kita harus mencari tau secepatnya,"
Di lain tempat, Keyvandi dan juga Erlando sedang dibantu oleh beberapa perawat membawa Despina keluar dari rumah sakit keluarga milik Keana ibu dari Keyvandi itu. Keyvandi berencana memindahkan Despina ke rumah pribadi lelaki itu yang baru ia beli, ia akan menyewa dokter dan juga perawat secara pribadi demi kesembuhan dan keselamatan Despina, hal ini ia lakukan karena merasa jika di rumah sakit ini sangat tidak aman.
"Cepatlah! Kita harus bergegas sebelum Reza dan Leo kembali ke depan ruangan ini."
Beberapa perawat begegas mendorong brankar rawat Despina, mereka membawa Despina ke mobil ambulance yang sudah di siapkan oleh Keyvandi untuk membawa gadis itu. Keyvandi yang masih lengkap menggunakan Hoddie dan juga masker itu dibantu oleh Erlando.
"Sayang, kita akan pergi dari sini sebentar lagi, kau tenang saja, aku akan menjagamu dengan baik sayang."
Despina yang terlihat tampak masih lemah itu hanya tersenyum menanggapi kekasihnya itu. Wajah gadis itu masih terlihat pucat pasi, bahkan infus masih terpasang di tangan gadis itu.
"Biar aku saja," ujar Keyvandi ketika para perawat laki-laki yang membantunya itu ingin mengangkat tubuh Despina dan dipindahkan ke dalam ambulance.
Setelahnya, Keyvandi langsung ikut masuk ke dalam ambulance itu, "Er, urus semuanya, jangan sampai mereka tau di mana kita menyembunyikan Despina!" Perintah Keyvandi kepada sahabatnya itu.
"Ya, kau tenang saja, jaga Despina dengan baik Van, jangan sampai kau kehilangan dia lagi."
Keyvandi menganggukkan kepalanya, ia tentu saja tidak ingin jika sampai kehilangan Despina lagi, maka dari itu ia rela melakukan ini.
Ambulance yang mereka tumpangi itu telah berjalan jauh meninggalkan rumah sakit, Keyvandi tidak hentinya memegang tangan sang kekasih.
"Kak, kita akan kemana?"
Keyvandi tersenyum, lelaki itu mengecup tangan sang kekasih lembut. "Kita akan ke rumahku sayang, tenanglah, di sana akan aman, tidak ada yang berani mengusikmu lagi."
"Rumah Tante Keana dan Om Kelvin?"
Keyvandi lagi dan lagi tersenyum, ia tidak menjawab pertanyaan Despina, lelaki itu lebih memilih diam, ia tidak ingin sampai Despina terlalu banyak bicara, keadaan gadis itu masih belum terlalu baik, ia bahkan harus didampingi oleh suster ataupun dokter yang merawatnya. Oh ya, nantinya Despina akan dirawat oleh seorang dokter profesional dan juga perawat yang juga profesional. Keyvandi tidak ingin jika sampai Despina tidak mendapatkan hal yang memuaskan, gadisnya harus segera sembuh.
Beberapa saat kemudian, setelah perjalanan yang mereka tempuh selama kurang lebih satu jam itu, akhirnya ambulance yang ditumpangi Keyvandi dan juga Despina sampai di pinggiran kota. Pagar rumah dengan desain klasik dan terlihat begitu asri dengan banyaknya tanaman yang menghias itu menjadi hal yang menyenangkan untuk dilihat oleh mata.
Mobil ambulance itu memasuki halaman rumah, setelahnya mobil itu berhenti tepat di depan pintu masuk. "Kita sudah sampai sayang," ujar Keyvandi, lelaki itu tersenyum, ka mengelus rambut kekasihnya dengan sayang.
Despina merasa lega, akhirnya ia bisa sampai di rumah yang Keyvandi maksud, meskipun ada ketakutan tersendiri baginya, ia takut orangtua Keyvandi akan protes jika ia tinggal di rumah Keyvandi.
"Bantu aku menurunkan brankar ini."
Dengan sigap para perawat tadi dan juga petugas ambulance membantu Keyvandi untuk menurunkan brankar Despina.
"Langsung saja masuk ke dalam, ayo!"
Keyvandi berjalan perlahan, lelaki itu sengaja jalan lebih dahulu untuk menuntun para perawat membawa Despina masuk ke kamar gadis itu yang ada di rumah itu.
Rumah milik Keyvandi ini adalah rumah yang tidak terlalu besar, bentuknya yang unik dan juga estetik itu membuat siapa saja tinggal di dalamnya merasa nyaman, bahkan pelayan yang ada di rumah itu hanya sekitar 5 orang saja, Keyvandi sengaja hanya membayar 5 orang saja karena ingin Despina merasa nyaman dan tidak terganggu. Tapi Keyvandi membayar cukup bajyak bodyguard yang ia tugaskan untuk menjaga lingkungan rumah, hal ini ia lakukan agar Despina merasa aman.
"Aku saja yang akan memindahkannya." Axel dengan hati-hati mengangkat Despina dan memindahkan gadis itu ke atas ranjang tidur Queen size yang sudah Keyvandi siapkan. Setelah Despina sudah berada di posisi berbaringnya, perawat tadi langsung kembali membenarkan alat infus yang terpasang di tubuh gadis itu.
"Bagaimana?"
"Nona sudah lebih baik Tuan, mungkin untuk keadaan.lebih jelasnya kita menunggu dokter saja."
Keyvandi menganggukkan kepalanya, "Baiklah, kalian boleh kembali saja ke rumah sakit!" Perintah Keyvandi kepada para perawat yang ikut menemani Despina.
"Baik Tuan, jika begitu kami akan kembali terlebih dahulu."
Setelahnya, di kamar itu hanya ada Despnlina dan juga Keyvandi saja. Keyvandi tersenyum, "Aku akan melakukan apapun demi kebaikanmu sayang, aku berjanji."
Despina membalas senyuman Keyvandi dengan senyuman tipis, "Terimakasih kak, aku merepotkan kak Vandi lagi."
Cup
"Jangan mengatakan hal seperti itu lagi, aku mencintaimu, dan wajar jika aku melakukan semuanya untukmu, kau sangat berharga bagiku sayang."
Setelahnya hanya ada keheningan diantara keduanya, Keyvandi diam karena ia masih ingin memandangi wajah gadisnya itu, sedangkan Despina hanya melamun saja.
"Emb, Kak Leo dan Kak Reza bagaimana kak?" Tanya Despina, gadis itu penasaran dengan apa yang terjadi dengan kedua orang itu.
Keyvandi terkekeh pelan, rasanya ia ingin sekali tertawa jika mengingat bahwa ia membawa Despina pergi dari keduanya.
"Kakak kenapa?"
"Oh, tidak sayang, aku hanya membayangkan wajah panik mereka karena kehilanganmu."
Despina menghela napasnya pelan, "Dasar aneh," dalam hati gadis itu.
.
.
.
TBC