Ella adalah siswi teladan yang hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat rahasia cintanya kepada Rizki, sang ketua kelas populer, terbongkar secara memalukan di depan sekolah. Di tengah pengkhianatan dan kehancuran martabatnya, muncul Wawan—siswa berandalan yang secara mengejutkan hadir sebagai pelindung. Tanpa Ella ketahui, Wawan membawa amanah rahasia dari masa lalu untuk menjaganya, meski akhirnya ia sendiri jatuh hati pada gadis itu.
DISCLAIMER :
Karya ini adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah produk imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan orang sungguhan, hidup atau mati, atau peristiwa nyata adalah murni kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Camellia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10: Kecantikan yang Terhina
Area belakang sekolah yang biasanya hanya diisi oleh deru mesin motor dan aroma bensin, sore itu berubah menjadi panggung drama yang menyesakkan. Udara terasa berat, seolah oksigen di tempat itu telah habis terbakar oleh ketegangan yang memuncak. Di sana, di antara barisan motor yang terparkir rapi, Rizki dan Wawan berdiri dengan sisa-sisa napas yang memburu—sebuah simfoni kemarahan yang baru saja meledak dalam perkelahian fisik yang singkat namun brutal.
Wajah Rizki yang biasanya selalu tampak rapi dan sempurna, kini memiliki memar keunguan di tulang pipinya. Sementara itu, sudut bibir Wawan robek, mengalirkan setitik darah segar yang kontras dengan kulitnya yang sawo matang. Namun, keheningan yang mencekam itu tidak bertahan lama. Suara derap sepatu yang terburu-buru dan riuh rendah suara manusia mulai mendekat, menghancurkan isolasi mereka.
"Rizki! Apa-apaan ini?! Kenapa kamu sampai begini?!"
Lia muncul dengan wajah yang merah padam, urat-urat di lehernya tampak menegang karena emosi yang meluap. Di belakangnya, Nani dan geng-geng Lia mengekor dengan wajah yang dibuat-buat cemas, diikuti oleh segerombolan siswa yang haus akan skandal. Langkah Lia terhenti seketika saat matanya menangkap sosok Rizki yang babak belur. Tatapannya kemudian beralih pada Ella—gadis yang berdiri gemetar di antara dua raksasa yang baru saja bertarung demi dirinya. Seketika, rasa cemburu dan kebencian yang sudah mendarah daging berkilat di mata Lia.
"Kamu beneran teriak gitu tadi, Ki? Kamu bilang si kutu buku ini punya kamu?" Lia tertawa histeris, sebuah tawa yang terdengar sangat tajam, menyayat suasana sore yang semula hanya berisi suara angin. "Kamu gila ya, Rizki? Kamu sadar nggak sih, siapa kamu? Kamu itu Ketua Kelas! Kamu populer! Kamu adalah standar kesempurnaan di SMA Garuda! Dan kamu mau menukar posisimu, reputasimu, bahkan menukar aku... dengan... ini?"
Lia melangkah mendekat ke arah Ella dengan langkah yang mengancam, seolah setiap ketukan sepatunya adalah vonis hukuman. Ia menunjuk wajah Ella dengan jarinya yang gemetar karena amarah yang tidak lagi terbendung. Ella menyusut, ia merasa seolah jari Lia adalah belati yang siap menikam jantungnya.
"Lihat dia, Ki! Lihat baik-baik sebelum kamu benar-benar melakukan kesalahan fatal!" teriak Lia agar setiap telinga di parkiran itu mendengar. "Dia itu dekil! Lihat kulitnya, gelap dan sama sekali nggak terawat. Dia itu jauh banget kalau dibandingin sama kita semua di sini. Dia itu cuma bayangan, Rizki! Dia itu kusam, membosankan, dan tidak punya daya tarik! Kamu mau taruh dia di mana kalau kita lagi kumpul bareng anak-anak hits? Dia cuma bakal bikin kamu malu! Dia itu noda di antara kita!"
Nani, yang selalu menjadi bayang-bayang Lia yang setia namun berbisa, ikut menimpali dari belakang dengan nada sinis yang dibungkus keprihatinan palsu. "Iya, Ki. Ella itu memang pinter, semua orang tahu itu. Tapi penampilan itu segalanya di lingkungan kita. Dia nggak akan pernah bisa jadi ratu di samping kamu. Dia nggak punya aura, nggak punya kelas. Di samping kamu, dia cuma bakal terlihat seperti debu yang nggak sengaja menempel di sepatu mahal kamu."
Ella menunduk dalam-dalam, berharap bumi bisa terbelah dan menelannya bulat-bulat saat itu juga. Kata-kata Lia tentang kulitnya yang gelap, penampilannya yang kusam, dan sebutan "debu" menghantam bagian paling rapuh dalam jiwanya. Selama ini, itulah alasan terbesar mengapa Ella selalu bersembunyi di balik tumpukan buku-buku tebal dan kacamata besarnya—karena ia merasa dirinya adalah sebuah anomali yang tidak layak bersanding dengan cahaya. Ia merasa dirinya adalah noda hitam di atas kanvas putih yang indah. Air mata mulai menetes, jatuh satu demi satu di atas seragamnya yang sudah mulai kusam, menciptakan noda-noda basah yang seolah menjadi saksi bisu kehancurannya.
"Cukup, Lia! Berhenti bicara!" bentak Rizki. Suaranya pecah, ia mencoba berdiri tegak meski tubuhnya terasa lemas dan dadanya terasa sesak karena rasa bersalah yang tiba-tiba menyerang.
Tapi, bukan Rizki yang bergerak lebih dulu.
Wawan, dengan bibir yang masih berdarah dan mata yang menyala oleh amarah yang protektif, berdiri tegak tepat di depan Ella, menjadi perisai hidup bagi gadis itu. Ia menatap Lia dengan pandangan paling dingin yang pernah ada—sebuah tatapan yang sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya.
"Kulit gelap?" Wawan mengulang kalimat Lia dengan nada yang sangat meremehkan, sebuah senyum miring tersungging di bibirnya yang robek. "Lo bilang dia kusam cuma karena dia nggak pakai skincare mahal hasil minta duit orang tua kayak lo? Lo bilang dia nggak terawat cuma karena dia lebih milih pakai waktunya buat belajar daripada cuma dandan menutupi otak yang kosong?"
Wawan tidak berhenti di situ. Dengan gerakan yang sangat berani, ia meraih tangan Ella yang gemetar dan mengangkatnya tinggi-tinggi di depan semua orang yang menonton, seolah-olah ia sedang memamerkan harta paling berharga yang pernah ditemukan manusia.
"Kalian semua buta ya?" suara Wawan menggelegar, memenuhi area parkir. "Warna kulit Ella itu eksotis. Dia cantik justru karena dia nggak berusaha jadi orang lain, nggak berusaha pakai topeng bedak setebal tembok hanya untuk diakui! Di mata gue, warna kulitnya ini adalah bukti kalau dia nyata, dia hangat, dan dia punya otak yang jauh lebih bersinar daripada bedak tebal kalian yang bakal luntur kalau kena air mata!"
Wawan menatap Lia tepat di mata, membuat gadis populer itu tersentak mundur karena keberanian yang begitu murni. "Lo cantik di luar, Li. Tapi cara lo menghina fisik orang lain cuma buat meninggikan diri sendiri... itu bikin lo kelihatan menjijikkan di mata gue. Jauh lebih menjijikkan daripada debu yang lo maksud tadi. Debu itu alami, tapi hati lo? Hati lo itu sampah yang berbau busuk."
Rizki terdiam mematung di tempatnya berdiri. Ia merasa seperti ditampar oleh kenyataan yang menghujam jantungnya. Sekali lagi, Wawan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sejak dulu. Wawan memiliki keberanian untuk mengakui keindahan Ella tanpa syarat, sementara Rizki selama ini menyembunyikan perasaannya di balik status sosial dan sandiwara hubungannya dengan Lia. Rizki merasa sangat kecil di depan keberanian seorang Wawan yang sering ia sebut berandalan.
Rizki melangkah maju, perlahan namun pasti. Ia berdiri di sisi lain Ella, mengapit gadis itu dan menunjukkan bahwa ia tidak lagi berpihak pada kerumunan orang-orang populer tersebut.
"Lia, kita putus," ucap Rizki dengan suara yang sangat tegas dan jernih. "Detik ini juga, hubungan kita selesai."
Lia membelalak, mulutnya terbuka namun tak ada kata yang keluar.
"Dan buat kalian semua yang setuju sama omongan Lia... kalian sebenarnya tidak pantas ada di sekolah ini," lanjut Rizki sambil menatap kerumunan siswa di sekitarnya. "Ella memang berbeda dari kalian, karena dia punya sesuatu yang sama sekali tidak kalian miliki: Harga diri yang tidak perlu dibeli dengan barang bermerk. Dia punya kecantikan yang tidak akan luntur hanya karena dia tidak dandan."
Ella mendongak perlahan. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangannya yang masih dalam genggaman Wawan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya di SMA Garuda, Ella tidak merasa perlu untuk menunduk lagi. Ia tidak merasa malu lagi karena kulitnya yang tidak seputih Lia, atau karena kacamata besar yang bertengger di hidungnya.
Di bawah sinar matahari sore yang mulai memudar, Ella merasakan sesuatu yang baru mekar di dalam dadanya. Ia merasa berharga. Dan kesadaran itu bukan muncul hanya karena ia dibela oleh dua cowok paling berpengaruh di sekolah, tapi karena ia akhirnya sadar bahwa kecantikannya tidak ditentukan oleh standar sempit yang dibuat oleh Lia, Nani, atau siapa pun. Kecantikannya ada pada kecerdasannya, pada ketangguhan hatinya, dan pada kejujurannya menjadi diri sendiri.
Ella menatap Lia dan Nani dengan pandangan tenang, sebuah ketenangan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah berdamai dengan dirinya sendiri. Ia tidak lagi melihat mereka sebagai raksasa yang menakutkan, melainkan sebagai gadis-gadis malang yang harus menjatuhkan orang lain hanya untuk merasa tinggi.
Sore itu, di area parkir yang berdebu, kecantikan Ella yang selama ini terhina justru bersinar paling terang. Ia berdiri tegak, diapit oleh Rizki dan Wawan, namun ia menyadari bahwa pahlawan sejati bagi dirinya adalah jiwanya sendiri yang baru saja bangkit dari persembunyian selama bertahun-tahun.
"Ayo pergi, Wan, Rizki," suara Ella terdengar tenang namun penuh otoritas. "Tempat ini sudah terlalu berisik."
Ketiganya berjalan meninggalkan kerumunan yang masih terpaku membisu, meninggalkan Lia yang jatuh terduduk di aspal parkiran karena syok, malu, dan kehilangan segalanya dalam satu sore. Di koridor sekolah yang mulai temaram oleh bayang-bayang senja, Ella menyadari satu hal penting dalam hidupnya. Perjalanannya sebagai siswi berprestasi kini tidak akan lagi sama. Ia tidak lagi sendirian di balik tumpukan buku; ia kini berdiri di antara dua kutub yang sangat berbeda—Wawan sang berandalan yang memberikan perlindungan tanpa syarat, dan Rizki sang ketua kelas yang akhirnya berani melepaskan topeng popularitasnya demi kejujuran hati. Kali ini, Ella akan menjalani sisa hari-harinya di SMA Garuda dengan kepala tegak, tidak lagi sebagai gadis yang bersembunyi di balik bayangan, melainkan sebagai cahaya yang mulai menyadari betapa berharga dirinya yang sebenarnya.