Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Badai yang Mendekat
Debu yang beterbangan akibat kaburnya pasukan Lin Feng mulai mengendap, namun ketegangan di udara tidak lantas hilang. Jian Wuyou tahu betul hukum dunia kultivasi; memukul anjing kecil akan memancing anjing besar, dan melukai Tetua dari sebuah sekte berarti telah menabuh genderang perang.
Ia menoleh ke arah Li Hua yang masih mematung di ambang pintu kedaiannya. Wajah gadis itu pucat pasi, matanya yang jernih memandang Jian Wuyou seolah baru pertama kali melihatnya.
"Wuyou... siapa kau sebenarnya?" bisik Li Hua dengan suara bergetar.
Jian Wuyou tidak langsung menjawab. Ia bisa merasakan beberapa mata-mata dari sekte lain yang bersembunyi di kejauhan mulai bergerak untuk melaporkan kejadian ini. Desa Bambu bukan lagi tempat yang aman bagi Li Hua.
"Penjelasan butuh waktu, dan waktu adalah sesuatu yang tidak kita miliki saat ini," ucap Jian Wuyou.
Tanpa peringatan, Jian Wuyou melangkah maju dan menarik pergelangan tangan Li Hua dengan lembut namun tegas.
"Ikutlah denganku. Sekarang."
"Tapi... kedaiku? Barangnya belum dibereskan—"
"Biarkan saja. Keselamatanmu jauh lebih berharga dari apapun." potong Jian Wuyou. Ia tidak menunggu persetujuan lebih lanjut. Dengan satu gerakan halus, ia merangkul pinggang Li Hua dan membawanya melesat menuju kediaman besarnya di ujung desa.
Li Hua merasa dunia di sekelilingnya menjadi kabur sesaat, dan sebelum ia sempat berteriak, ia sudah berdiri di halaman tengah sebuah bangunan mewah yang belum pernah ia masuki. Lantainya terbuat dari batu giok putih, dan aromanya dipenuhi oleh wangi dupa yang menenangkan.
"T-tuan Wuyou! Ini... ini tidak sopan!" seru Li Hua sambil melepaskan diri dari rangkulan Jian Wuyou. Wajahnya memerah padam, antara terkejut dan malu. "Bagaimana bisa kau membawaku kemari secara tiba-tiba?"
Mei Lian muncul dari koridor samping sambil menggendong Jian Han. Ia tersenyum ramah, seolah sudah memprediksi hal ini akan terjadi. "Ah, selamat datang Nona Li Hua. Jangan takut, Tuan Wuyou hanya mengkhawatirkan keselamatan Anda."
Jiwu juga muncul dari balik pilar, tangannya bersedekap di dada dengan ekspresi serius. "Kak, kau bergerak lebih cepat dari dugaanku. Tapi kau benar, Sekte Awan Hitam bukan sekte yang suka bicara. Mereka akan datang dengan api dan pedang."
Li Hua memandang mereka bergantian dengan bingung. "Sekte Awan Hitam? Kenapa mereka harus menyerangku? Aku hanya penjual kue beras!"
Jian Wuyou berjalan mendekati Li Hua, menatap matanya dengan intensitas yang membuat Li Hua terdiam. "Karena mereka tidak bisa menyentuhku, mereka akan menyentuh apa yang berharga bagiku. Lin Feng adalah putra donatur terbesar sekte itu. Tetua Han yang baru saja kubuat pingsan memiliki seorang saudara yang menjabat sebagai Wakil Ketua Sekte."
Jian Wuyou berhenti sejenak, suaranya melunak. "Aku membawamu ke sini karena rumah ini telah dipasangi formasi pelindung. Selama kau berada di dalam tembok ini, tidak akan ada satu helai rambutmu pun yang akan jatuh."
Li Hua menatap sekeliling kediaman yang megah itu, lalu menatap Jian Wuyou. Ada rasa takut, namun di balik itu, ada rasa aman yang aneh yang mengalir di dadanya. "Wuyou... apakah kau benar-benar akan melawan seluruh sekte hanya untuk melindungiku?"
"Bukan hanya sekte," jawab Jian Wuyou sambil menatap langit yang mulai menghitam oleh awan mendung yang tidak alami. "Bahkan jika seluruh dunia ini ingin menyakitimu, aku akan menghancurkan dunia itu terlebih dahulu."
Di luar kediaman, langit Desa Bambu mendadak berubah gelap. Awan hitam yang pekat mulai berkumpul, berputar-putar tepat di atas gerbang desa. Suara lonceng pemanggil kematian terdengar berdenting dari kejauhan, dibawa oleh angin yang berbau busuk.
Itu adalah Lonceng Arwah milik Sekte Awan Hitam. Pertanda bahwa pembersihan besar-besaran akan segera dimulai.
Jian Wuyou melirik Jiwu. "Jaga formasi di dalam. Jangan biarkan Mei Lian dan Li Hua keluar dari aula utama."
"Lalu kau?" tanya Jiwu.
Jian Wuyou mengepalkan tangannya, memicu getaran energi Penyatuan Roh Level 10 yang membuat udara di sekelilingnya berderak. "Aku akan menyambut tamu kita di depan gerbang."